Sunni (Ahlussunnah Wal Jamaah), Kelompok Islam Terbesar Di Dunia

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ahlussunnah-wal-jamaah

Islam Sunni adalah golongan atau kelompok Islam terbesar di dunia, mengalahkan rival terberatnya yaitu kaum Siyah. Apa dan bagaimana Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah itu sebenarnya, berikut penjelasan singkatnya.

Pengertian Sunni

Sunni identik dengan Ahlussunnah wal Jama’ah atau lebih sering disingkat Ahlussunnah. Sunni kadang-kadang juga disebut sebagai Salafush shaleh.

Secara bahasa, kata “Sunni” berasal dari kata sunnah yang berarti kebiasaan, amalan biasa atau tradisi. Dalam bahasa Arab, kata tersebut merupakan kata sifat yang secara harfiah berarti “berkaitan dengan Sunnah”. Penggunaan istilah ini mengacu pada ucapan dan kebiasaan hidup Rasulullahsaw.

Pada dasarnya tidak ada definis yang baku tentang apa itu Sunni. Untuk memudahkan, Sunni secara umum adalah lawan dari kelompok Syi’ah. Tapi dalam kesempatan lain, Sunni juga lawan dari kelompok Mu’tazilah.

Sunni mengakui adanya Khalifah Rasyidin setelah Rasulullahsaw, dari Khalifah Abu Bakarra hingga Khalifah Ali bin Abu Thalibra. Sementara itu Syiha hanya mengakui adanya Khalifah Alira dari kalanga Ahlul Bait.

Kurang lebih sederhanyanya seperti itu, walaupun tentu saja tidak sesederhana itu, terdapat perbedaan-perbedaan teologi dan idiologi diantara keduannya yang dalam.

Ahlussunnah Wal Jamaah

Adapun pengertian Ahlussunnah Wal Jama’ah secara bahasa yaitu, ahl artinya, aliran atau mazhab. Sedangkan Sunnah, maksudnya adalah perbuatan yang merujuk kepada Rasullahsaw dan juga para sahabatanya.

Adapun al-Jama’ah, berasal dari kata jama’a dengan derivasi yajma’u jama’atan yang berarti menyetujui atau bersepakat. Dalam hal ini, al-jama’ah artiya tidak berpecah dan berselisih.

Klaim mengenai Ahlusunnah wa al-Jama’ah biasanya dikaitkan dengan sabda Rasulullahsaw:

“Sesungguhnya Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semua adalah di neraka kecuali satu golongan, yaitu al-jama’ah”. (Sunan Ibnu Majah)

Kata al-Jama’ah dalam hadits di atas tidak bermaksud satu kelompok atau mazhab tertentu yang mengatas namakan Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah, tetapi al-jam’ah sebagai komunitas yang selamat dari api neraka.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari, paham Ahlussunnah wal Jama’ah versi Nahdlatul Ulama yaitu suatu paham yang mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam teologi mengikuti salah satu empat madzhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dan mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi dalam tasawuf.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Awal Mula Munculnya Sunni

Istilah Sunni, Ahlussunnah wal Jama’ah atau Ahlusunnah tidak dikenal pada zaman Rasulullahsaw, Khulafa’ ar-Rasyidin dan masa Bani Ummayah.

Diduga awal mula munculnya Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah ini terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah (750 M-1258 M).

Pada masa itu munculnya sebuah pemikiran yang dipelopori oleh  As’ariyah Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260 – 330 H/873–935) yang kelompoknya kemudian dikenal sebagai Asy’ariyah.

Paham pemikirina Asy’ariyah ini kemudian berkembang dan populer sebagai bentuk perlawanan atas pemikiran yang populer dikenal sebagai mazhab Mu’tazilah.

Mu’tazilah yang menggagas rasionalisme dan didukung oleh penguasa Bani Abbasiyah. Sebagai madzhab pemerintah, Mu’tazilah menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi lawan-lawannya.

Mereka memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama untuk berpendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an. Mereka melakukan cara-cara kekerasan dan diskriminasi untuk memaksakan pemahaman mereka.

Dominasi Mu’tazilah tidak berlangsung lama, seiring denga pergantian khalifah pengaruh mereka pun memudar dan digantikan oleh pemahaman Asya’riyah.

Mazhab-mazhab Teologis

Kelompok Islam Sunni tidak memiliki hierarki formal atau pemimpin utama seperti seorang pemimpin tertinggi atau Imam dalam Syiah, pemimpinnya bersifat informal.

Tidak ada sistem atau hukum baku yang menyatukan, atau juga tidak ada organisasi pemersatu yang menyatukan seluruh sekte, jamaah atau kelompok yang ada dalam Sunni.

Bahkan terkadang satu sekte, jamaah atau kelompok itu saling bermusuhan dan betentangan antara satu dengan lainnya.

Mirza Tahir Ahmad dalam bukunya Revelation, Rationality, Knowledge and Truth menyebutkan dan menjelaskan kelompok atau mazhab pemikiran utama dimasa awal perkembangan pemikirna Islam, sebagai berikut:

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Asy’ariyah

Aliran pemikiran As’ariyah bermula dari Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260 – 330 H/873–935) yang telah memberikan rona yang menonjol di antara berbagai aliran pemikiran yang ada. Masa itu adalah era ketika beberapa cendekiawan Muslim sedang bergegas condong ke arah rasionalisme, sehingga dirasa perlu adanya reaksi untuk menghadapi kecenderungan tersebut. Yang mengepalai gerakan reaksi ini adalah sosok terkenal Imam Ismail Al-Ashari.

Ironisnya guru Al-Asy’ari sendiri yaitu Al-Jubbai (wafat 303 H) adalah salah seorang cendekiawan rasionalis pada waktu itu. Imam Asy’ari tidak saja mengemukakan ketidak-setujuannya atas pandangan kaum rasionalis, tetapi secara meyakinkan mengungkapkan kekurangan dari sistem apa pun yang sepenuhnya hanya bersandar pada rasionalitas semata untuk melihat kebenaran.

Bagi kalangan Asy’ariyah, yang namanya rasionalitas tidak akan menuntun manusia kepada suatu pengetahuan atau pun kebenaran hakiki, bahkan mereka menganggapnya sebagai hal yang akan memunculkan lebih banyak keraguan dan kontradiksi.

Kaum Asy’ariyah menekankan bahwa pengetahuan hakiki hanya berkaitan dengan pengenalan dan pengakuan atas wahyu sebagai satu-satunya sarana guna mencapai kebenaran hakiki karena yang menjadi sumber dari kebenaran itu adalah Tuhan sendiri. Dengan demikian, menurut mereka satu-satunya cara untuk menggapainya adalah melalui wahyu Ilahi.

Dalam reaksi mereka terhadap rasionalitas, beberapa ulama Asy’ariyah bahkan sudah terlalu jauh menolak penjelasan apa pun dari ayat-ayat Al-Quran yang didukung oleh logika manusia. Mereka malah sudah terlalu jauh menolak sama sekali penafsiran figurative dari Al-Quran.

Imam Al-Asy’ari sendiri adalah seorang pemikir logis yang terampil. Argumentasi yang diajukannya untuk menentang penggunaan rasionalitas menariknya adalah karena juga didasarkan pada rasionalitas itu sendiri.

Patut dicatat bahwa Al-Asy’ari ketika menentang rasionalitas, beliau sendiri nyatanya menggunakan rasionalitas sebagai senjata. Karena itu tidak benar adanya jika dikatakan bahwa beliau sepenuhnya menentang rasionalitas.

Para pengikut aliran pemikiran ini seperti Imam Ghazali dan Imam Razi bersandar penuh pada argumentasi rasional guna memecahkan masalah-masalah dan menegakkan keimanan mereka.

Kemungkinan reaksi berlebihan terhadap kecenderungan rasionalitas tersebut muncul karena kekhawatiran terhadap filosofi baru yang sedang memasuki dunia Islam yang dianggap bisa merusak sudut pandang Islami. Dicurigai bahwa penggunaan nalar akan membawa umat kepada gerakan yang pada akhirnya menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

Karena itulah maka setiap gerakan dengan kecenderungan rasionalitas dicap sebagai Ilhadi atau karangan, yang merupakan istilah penghinaan karena mensiratkan penyimpangan dari jalan yang benar.

Kekhawatiran dari ulama ortodoks yang kaku tersebut tercermin dalam istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan para pendiri gerakan rasionalitas. Mereka disebut sebagai Mu’tazilah atau mereka yang telah melenceng dari jalan yang benar dan menjadi Ilhadi.

Baca juga: Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?

Maturidiyah

Didirikan oleh Muhammad Abu Mansur al-Maturidi (853-944). Maturidiyah menganggap bahwa wahyu harus diterima bagaimana adanya, untuk kemudian dicarikan penjelasan logikanya guna menopang wahyu tersebut. Mereka beranggapan bahwa wahyu memperkuat keimanan sedangkan penjelasan logis akan memberikan kepuasan lebih lanjut atas keimanan tersebut.

Kaum Asy’ariyah tidak sepenuhnya menolak penjelasan logis tetapi menganggapnya sebagai suatu yang berlebihan; jika ada, memang bagus, kalau tidak maka apa pun yang diterima melalui wahyu sudah cukup memadai walaupun tidak ditopang oleh logika dan rasionalitas.

Di sayap kanan dari gerakan Asy’ariyah ada suatu sekte yang kemudian mewujud yang dikenal sebagai Sulfiah (pengikut buta dari ulama masa lalu yang mapan). Menurut mereka, wahyu harus diterima tanpa dipertanyakan. Tidak ada penjelasan filosofis atau pun logis yang diizinkan karena dikhawatirkan hal itu akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.

Mu’tazilah

Kaum Mu’tazilah sendiri sebenarnya tidak menolak wahyu sebagai instrumen untuk menuntun manusia kepada kebenaran. Mereka hanya menekankan bahwa inti pesan dari wahyu tidak mungkin dimengerti secara semestinya tanpa menggunakan nalar.

Karena itu mereka melebihkan nalar di atas wahyu dengan pengertian bahwa jika keduanya terlihat bertentangan maka pemahaman rasionalitas harus dimenangkan, bukan sebagai alternative dari wahyu tetapi sebagai penjelasan murni dari pesan wahyu.

Mereka berpandangan bahwa amat sulit menggali kebenaran Al-Quran dan Sunnah tanpa menguraikan secara rasional berbagai tamsil, metafora dan simbol-simbol yang digunakan secara ekstensif di dalamnya.

Sebagai contoh, mereka mengemukakan bahwa ekspresi seperti tangan dan wajah Tuhan harus ditafsirkan sebagai kekuasaan dan rahmat-Nya. Al-Ashari sendiri menekankan bahwa rujukan dalam Al-Quran tersebut menggambarkan sifat-sifat hakiki dari Tuhan yang fitrat hakikinya tidak diketahui, meskipun ia sependapat bahwa tidak ada ciri-ciri phisikal yang dimaksud oleh istilah-istilah tersebut.

Meskipun gerakan Mu’tazilah kelihatannya mirip dengan pandangan aliran pemikiran Eropah dari abad ke sembilan sampai ke tujuhbelas, tetapi tidak mengarah kepada Ilhadi yang telah dilakukan rasionalisme Eropah dalam kemundurannya yang progresif.

Kaum Mu’tazilah selalu bersumber pada sumber-sumber Islami murni yaitu Al-Quran dan Sunnah untuk mendukung argumentasi mereka, selalu dekat dengan sumber-sumber tersebut dan tidak pernah membiarkan diri mereka menjauh daripadanya.

Sekarang ini sulit membedakan sudut pandang di antara Mu’tazilah dan Ashariyyah. Walaupun perspektif historis yang digambarkan di atas telah meninggalkan jejaknya pada pencarian keilmiahan dari generasi kontemporer cendekiawan Muslim, perbedaan tegas di masa lalu tidak lagi bisa ditetapkan secara jelas.

Cendekiawan sekarang ini lebih banyak mengemukakan pandangan pribadinya daripada tentang pandangan aliran pemikiran sektarial di masa lalu.

Hanya saja, sisa-sisa konklusi masa lalu tersebut masih bisa dicermati. Semuanya itu merupakan produk dari kompromi secara gradual yang berkembang di antara berbagai aliran pemikiran sepanjang sejarah.

Di antara mereka terdapat orang-orang yang sikapnya sudah mengarah kepada medieval (abad pertengahan) tetapi mereka tidak ada mengutip secara eksklusif dari aliran pemikiran masa lalu untuk mendukung sudut pandang mereka.

Mereka melompat-lompat dari satu ke lain sosok dalam pencarian cendekiawan mana dari aliran apa pun yang bisa dikutip sebagai bahan pendukung argumentasi mereka.

Bagi mereka ini tapal batas di antara berbagai sekte abad pertengahan tidak ada lagi tetapi pandangan medievalisme tetap saja berlanjut, yang menuntun jalan mereka. Hal yang sama juga berlaku sampai suatu titik tertentu pada kelompok yang disebut sebagai modernist.

Manakala cocok dengan tujuannya maka mereka tidak akan ragu-ragu mengutip dari cendekiawan masa lalu apa pun yang mendukung pandangan mereka, tetapi di samping itu mereka merasa bebas berinovasi di bidang lain menurut pandangan pribadi mereka sendiri.

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat

Sufisme

Aliran Sufisme amat populer di Turki, Iran dan negeri-negeri sebelah timur Amu Darya, suatu daerah yang secara historis disebut sebagai Trans-Oxus. Banyak umat Muslim dari bekas Rusia menjadi pengikut Sufisme yang telah memainkan peran penting guna menjaga Islam tetap hidup di negeri mereka saat pemerintahan Tsar dan Komunis.

Masalah yang amat ditekankan dalam Sufisme ialah bahwa di bawah bentuk agama, terdapat ruh wahyu yang beroperasi yang harus diberikan prioritas di atas bentuk tersebut. Apa yang dipahami oleh kaum Sufi sebagai ruh yang mendasari pada intinya adalah tujuan akhir yang dicari oleh semua agama.

Tujuan akhir ini digambarkan sebagai kecintaan kepada Tuhan dan komunikasi dengan Wujud-Nya. Karena itu menurut mereka, jika anda berhasil mencapai tujuan ini, dengan atau tanpa mematuhi bentuknya, tujuan telah tercapai dan hanya itulah memang yang diharapkan.

Memang tidak semua kaum Sufi lalu meninggalkan bentuknya sama sekali dan tetap saja menata diri mereka sejalan dengan Syariah Islam sebagaimana pemahaman mereka.

Namun mereka tidak akan menghabiskan enerji mereka pada upaya ibadah formal, dan hanya mengulang-ulang zikir sifat Ilahi siang malam untuk memfokuskan perhatian sepenuhnya pada ingatan tentang Tuhan.

Satu hal yang membedakan Sufisme dalam Islam dari praktek-praktek lainnya adalah kepercayaan teguh kaum Sufi kepada kesinambungan wahyu atau komunikasi mereka dengan Tuhan. Nyatanya semua tokoh Sufi dalam Islam menyatakan dirinya selalu berkomunikasi dengan Tuhan dan banyak wahyu yang telah mereka terima yang dicatat dalam buku-buku autentik.

Namun ada juga dari antara kaum Sufi yang melepaskan diri sama sekali dari dasar-dasar agama Islam. Bagi mereka tujuan suatu agama adalah menuntun manusia kepada Tuhan sehingga bentuk ibadah dengan demikian sudah tidak diperlukan lagi bagi mereka yang telah mencapai tujuan tersebut.

Mereka mengemukakan beberapa cara latihan mental dan spiritual yang dianggap cukup untuk menciptakan hubungan di antara manusia dan Tuhan, yang terkadang digambarkan sebagai kesatuan wujud dengan Dia.

Ada empat sekte Sufi yang mapan dan amat dihormati yang sebenarnya juga telah menyempal dari jalur Syariah dengan berjalannya waktu.

Namun para pendirinya sendiri sebenarnya tidak diragukan kesetiaannya kepada Al-Quran dan Sunnah dan mereka tidak mengenal kompromi. Keempat sekte besar ini adalah Chishtiyah, Suhrawardiyah, Qadiriyah dan Naqshbandiyah – yang kemudian terpecah-pecah lagi menjadi berbagai sub-sekte.

Mereka semuanya menekankan pentingnya menahan diri dan hidup sederhana guna mencapai kebenaran. Pada awalnya, praktek-praktek tersebut tidak menjadi substitusi dari pelaksanaan tradisional ibadah Islam, baru kemudian ditambah-tambahkan oleh mereka.

Secara berangsur pemahaman Sufi tentang hubungan mahluk dengan penciptanya mulai dipengaruhi oleh filosofi yang sebenarnya asing bagi Islam.

Sebagai contoh, pengaruh dari filosofi Yunani klasik bisa ditelusuri pada beberapa sekte Sufi. Pandangan pantheisme bangsa Yunani diadopsi dalam bentuk yang dimodifikasi oleh beberapa sekte Sufi, meski ditentang keras oleh yang lainnya.

Adapun tentang temperamen kaum Sufi, mereka ini jarang terlibat dalam perdebatan dengan kata-kata yang keras dan garang. Umumnya mereka melaksanakan hidup kebersahajaan dalam keimanan sambil juga menghormati dan bersikap toleransi terhadap pandangan yang berbeda dengan mereka.

Berbeda dengan kaum ortodoks yang secara progresif bertambah menjadi pencemburu. Karena itu banyak sekali dari sekte Sufi yang harus mengalami sikap permusuhan dari ulama ortodoks. Di kalangan ulama ortodoks sering sekali muncul gerak memusuhi kaum Sufi.

Setiap sekte Sufi sudah mengalami berbagai aniaya dari waktu ke waktu. Kaum Sufi yang menganut konsep Tuhan yang pantheistik adalah yang menjadi bulan-bulanan angkara murka ulama ortodoks.

Kadang kala mereka ini divonis hukuman mati dan dibunuh secara brutal. Protes mereka yang menyatakan bahwa filosofi pantheistik itu tidak mengkompromikan keesaan dan kebebasan sang Maha Pencipta tidak diterima dan mereka tetap saja didakwa mengakukan diri menjadi satu kesatuan bersama Tuhan. Untuk itu ulama ortodoks sering melakukan kejahatan aniaya terhadap mereka.

Baca Juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Peninggalan Islam Di Istanbul

Mazhab-mazhab Fiqih

Terdapat empat mazhab yang paling banyak diikuti dalam Islam Sunni. Perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental. Perbedaan mazhab bukan pada hal Aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tata cara ibadah.

Para Imam mengatakan bahwa mereka hanya ber-ijtihad dalam hal yang memang tidak ada keterangannya dalam Al-Qur’an atau untuk menentukan kapan suatu hadits bisa diamalkan dan bagaimana hubungannya dengan hadits-hadits lain dalam tema yang sama.

Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi ialah salah satu mazhab fiqh dalam Islam Sunni. Mazhab ini didirikan oleh Imam Abu Hanifah. Mazhab ini terkenal sebagai mazhab yang paling terbuka kepada ide modern.

Mazhab ini diamalkan terutama sekali di kalangan orang Islam Sunni Mesir, Libanon, Irak, Syria, Palestina, Turki, Pakistan, India, Bangladesh, Tiongkok dan sebagian Afrika Barat. Mazhab Hanafi merupakan mazhab terbesar dengan 30% pengikut.

Mazhab Maliki

Mazhab Maliki dianut oleh sekitar 15% umat Muslim yang kebanyakannya di Afrika Utara dan Afrika Barat. Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas.

Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk Madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup dan meninggal di sana dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Di Kairo

Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i dicetuskan oleh Imam Syafi’i pada awal abad ke-9. Mazhab ini memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia, kebanyakan dianut para penduduk Mesir selatan, Arab Saudi bagian barat, Suriah, Indonesia, Malaysia, Brunei, pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Imam Syafi’i menolak Istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun Mashalih Mursalah dari Imam Malik. Namun Mazhab Syafi’i menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik.

Meskipun berbeda dari kedua aliran utama tersebut, keunggulan Imam Syafi’i sebagai ulama fiqh, ushul fiqh, dan hadits pada zamannya membuat mazhabnya memperoleh banyak pengikut; dan kealimannya diakui oleh berbagai ulama yang hidup sezaman dengannya.

Mazhab Hambali

Dimulai oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.

Demikianlah penjelasan singkat tentang apa itu Sunni, pengertian dan sejarah yang melatar belakangi terbentuknya Islam Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Di Yerusalem


2 Komentar

Warsono Daryo · 16 Agustus 2020 pada 6:57 am

Artikel bagus. Jazakumullah.

    Muhammad Akram · 16 Agustus 2020 pada 10:34 am

    Jazakumullah ahsanal jaza pak, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan