Suami, Anak dan Adik Hindun binti Amru Syahid di Uhud

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

hindun binti amru

Hindun binti Amru binti Haram radhiyAllahu ta’ala ‘anha seorang sahabat Nabi dari kalangan kaum wanita (sahabiyah). Beliau kehilangan suamai, anak dan saudara sekaligus, mereka syahid saat perang Uhud.

Beliau adalah istri dari Amru bin Jamuh seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar dan merupakan pemuka dari bani Salamah. Mereka dikaruniai tiga orang putra, yaitu Mu’awadz, Mu’adz, dan Khallad. Beliau juga merupakan saudari dari Abdullah bin Amru bin Haram.

Ada juga putra beliau yang lain yaitu Abu Aiman. Namun terdapat riwayat yang menyebutkan habwa Abu Aiman merupakan hamba sahaya keluarga mereka yang dimerdekakan oleh Amru bin Jamuh. (Asadul Ghabah)

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Penghidmatan dalam Perang Badr

Amru bin Jamuh tidak ikut perang Badr, meskipun sebenarnya beliau ingin ikut. Beliau dilarang oleh putra-putranya.   

Disebabkan kaki Amru cacat, sehingga anak-anak beliau melarang beliau ikut perang Badr.

Allah Ta’ala pun memberikan keringanan kepada orang yang cacat dari mengikuti peperangan, karena itulah anak-anak beliau melarangnya dengan mengatakan, “Kami empat anak akan pergi berperang. Ayah tidak perlu lagi ikut serta dan Allah Ta’ala pun memberikan keringanan kepada ayah.”

Sementara itu, putra-putra beliau Mu’awadz, Mu’adz dan Khallad juga Abu Aiman semuanya ikut dalam perang Badr.

Baca juga: Maria Qibtiyah, Istri Rasulullah dari Kristen Koptik

Penghidmatan dalam Perang Uhud

Namun pada kesempatan perang Uhud, Amru bin Jamuh mengatakan kepada anak anak beliau: “Kalian tidak mengizinkan aku ikut dalam perang Badr. Sekarang ada kesempatan untuk ikut pada perang Uhud, kalian tidak dapat melarangku lagi, aku pasti berangkat dan ikut dalam perang Uhud.”

Anak-anak beliau ingin melarang ayahnya itu disebabkan oleh keadaan fisik yang tidak mendukung, namun kali ini beliau sendiri menghadap Rasulullah saw untuk langsung meminta izin dari beliau Saw.

Beliau menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Anak-anak saya kali ini juga ingin melarang saya ikut berjihad. Sebelum ini mereka telah melarang saya ikut perang Badr, begitu juga untuk perang Uhud. Saya ingin ikut serta bersama Huzur untuk berjihad. Demi Allah! Saya berharap semoga Allah Ta’ala menerima hasrat hati saya dan menganugerahkan mati syahid kepada saya, sehingga saya dapat masuk ke surga dengan kaki saya yang cacat ini.”

Rasulullah saw bersabda, “Wahai Amru! Memang Allah Ta’ala memberikan keringan atas keadaan anda sehingga jihad tidak wajib bagi anda.”

Rasulullah saw bersabda kepada anak-anak beliau, “Kalian jangan menghalangi beliau dari kebaikan! Jika memang beliau berhasrat demikian, biarkanlah beliau melakukannya. Semoga Allah Ta’ala akan menganugerahkan Syahadah (kesyahidan) kepada beliau.” (As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam)

Amru mengambil senjata lalu berangkat ke medan Uhud sambil berdoa, “Ya Allah anugerahilah hamba kesyahidan. Janganlah Engkau kembalikan hamba kepada keluarga hamba dalam keadaan gagal dan tanpa meraih cita-cita.” (Asadul Ghabah, jilid 7)

Satu keluarga, ayah dan anak-anaknya berangkat berjuang di jalan Allah. Hindun binti Amru pun mengikhlaskan sumai dan anak-anaknya untuk pergi berjihad juga saudaranya, Abdullah bin Amru bin Haram.

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Syahid di Perang Uhud

Perang Uhud terjadi satu tahun setelah Perang Badar. Lasykar kaum kufar Mekkah berjumlah tiga ribu parajurit mereka juga membawa serta kaum wanita mereka. Mereka berpengalaman dan memiliki persenjataan yang lengkap.

Sementara pasukan Islam hanya 700 orang saja, mereka tidak berpengalaman dan perelngakapn perang yang minim.

Saat pertempuran berlangsung pasukan Islam awalnya mampu menghalau pasukan musuh, namun diakhir pertempuran pasukan Islam terdesak dan cerai berai.

Hingga wujud suci Rasulullah saw pun terluka hingga pingsan bahkan dianggap telah gugur oleh pasukan musuh.

Sementara itu beberapa sahabat menjadi korban, mereka syahid dipertempuran itu. Diantara mereka yang syahid adalah orang-orang yang disayangi Hindun binti Amru, yaitu sumai, anak dan saudaranya. Amru, Khallad dan Abdullah.

Baca juga: Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Ketabahan Hindun binti Amru

Dikisahkan oleh Aisyah radhiyAllahu ta’ala ‘anha ketika beliau pergi bersama kaum wanita Madinah kearah Uhud untuk mencari berita perihal perang Uhud. Ketika Aisyah sampai di daerah Hurrah, beliau bertemu dengan Hindun Binti Amru. Hindun tengah menarik unta. Diatas unta tersebut terdapat jenazah suami, putra dan saudara beliau.

Aisyah bertanya, “Apakah anda mengetahui bagaimana keadaan orang-orang yang ada di belakang?” Aisyah berusaha mendapatkan informasi perihal medan perang.

Beliau tidak mengatakan perihal keluarga beliau yang gugur, tetapi beliau berkata, “Nabi saw baik-baik saja. Setelah mengetahui Rasulullah saw baik-baik saja, semua musibah terasa mudah.”

Lalu Hindun membaca ayat berikut, “Dan Allah telah mengembalikan orang-orang yang ingkar dalam kemarahan mereka dan mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. Dan Allah mencukupi orang-orang mukmin dalam perang itu. Dan Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” (Al-Ahzaab, 33: 26)

Kemudian Aisyah bertanya, “Jenazah siapa saja yang ada diatas unta ini?” Hindun menjawab, “Saudara saya, anak saya Khallad dan suami saya Amru Bin Jamuh.”

Aisyah kembali bertanya, “Akan anda bawa kemana jenazah ini?” Hindun menjawab, “Saya akan makamkan jenazah mereka di Madinah.”

Kemudian Hindun menarik untanya, namun unta itu tetap duduk di tempat. Aisyah mengatakan, “Mungkin bebannya terlalu berat.” Hindun menjawab, “Unta ini biasanya mampu mengangkat beban seberat dua unta. Namun saat ini malah sebaliknya.”

Hindun memarahi untanya, kemudian untanya bangun. Namun ketika diarahkan ke Madinah, unta itu malah duduk lagi. Ketika diarahkan ke bukit Uhud, unta berjalan dengan cepat.

Hindun kemudian menjumpai Rasulullah saw dan mengabarkan kejadian tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Unta ini telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk tidak pergi ke Madinah, melainkan ke Uhud.”

Rasulullah saw bersabda, “Apakah suami Anda mengatakan sesuatu sebelumnya pergi ke perang?” Hindun menjawab, “Ketika Amru akan berangkat ke Uhud, sambil menghadap ke kiblat beliau mengatakan, ‘Ya Tuhan! Janganlah Engkau kembalikan daku kepada keluargaku dalam keadaan malu, anugerahilah aku syahid.”

Rasulullah saw bersabda, “Karena itulah unta tidak mau berjalan tadi. Wahai golongan Anshar, diantara kalian terdapat orang-orang yang saleh sehingga jika mereka mengatakan sesuatu dengan bersumpah, maka pasti Allah akan menggenapi ucapannya. Adapun Amru Bin Jamuh adalah salah seorang diantaranya.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Hindund, “Wahai Hindun! Ketika saudaramu syahid, saat itu para malaikat menaunginya dan menanti dimana ia akan dikuburkan.”

Beliau saw juga bersabda, “Wahai Hindun! Amru bin Jamuh dan anakmu Khallad dan saudaramu Abdullah akan bersahabat di surga.”

Hindun berkata, “Ya Rasulullah saw! Doakan juga saya semoga Allah ta’ala menyertakan saya bersama dengan mereka.” (al-Maghazi; Subulul Huda war Rasyaad fi Siirati Khairil ‘Ibaad)

Hindun binti Amru telah kehilangan orang-orang yang dicintainya sekaligus dalam perang Uhud, namun beliau mengikhlaskannya dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Bahkan beliau bergembira karena Rasulullah dalam keadaan selamat.

Baca juga: Salim Maula Abu Hudzaifah Ditunjuk Rasulullah untuk Mengajarkan Al-Qur’an


0 Komentar

Tinggalkan Balasan