Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

aamir bin fuhairah

Rasulullah salallahu a’laihi wassalam (saw) sangat sederhana dalam hal makan dan minum. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah makan sekenyang-kenyangnya, walaupun sekedar roti jawawut (Bukhari).

Ummul Mumini Aisyah radiallahu anha rah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw sampai hari wafat beliau tidak pernah sekali pun menikmati makan kenyang selama tiga hari berturut-turut.

Beliau memakan segala yang bersih dan halal, tetapi bukan untuk sekedar bersenang-senang atau menyebabkan orang lain tidak mendapat bagian.

Makanan beliau sehari-hari senantiasa amat sederhana, tetapi jika ada yang mempersembahkan kepada beliau suatu hidangan yang istimewa, beliau tidak menolaknya. Tetapi, beliau tidak mendambakan makanan lezat, walaupun beliau sangat gemar akan madu dan korma.

Mengenai korma beliau sering berkata bahwa ada perhubungan erat antara seorang Muslim dengan pohon korma, daunnya, kulitnya, dan buahnya yang masak maupun yang mentah, bahkan biji buahnya yang keras sekalipun, semuanya dapat dipergunakan untuk ini dan itu, dan tidak ada bagian yang tidak berguna.

Demikianlah keadaan seorang Muslim sejati. Tidak ada perbuatannya yang tanpa faedah dan apa saja yang dilakukannya akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia (Bukhari dan Muslim).

Beliau saw selalu berusaha mengetahui dari wajah mereka yang ada beserta beliau kalau-kalau di antara mereka ada yang memerlukan pertolongan.

Kisah Abu Hurairah

Abu Hurairah menceriterakan peristiwa berikut:

Sekali peristiwa ia pernah mengalami lebih dari tiga hari tanpa mendapat makan. Ia berdiri di pintu mesjid dan melihat Abu Bakar lalu ke dekat dia.

Ia bertanya kepada Abu Bakar arti ayat Al-Qur’an yang memerintahkan pemberian makan kepada fakir-miskin.

Abu Bakar pun menerangkan artinya lalu pergi. Abu Hurairah, saat ia menceriterakan peristiwa itu, biasa mengatakan dengan rasa kesal bahwa ia pun mengerti arti ayat Al-Qur’an tersebut seperti Abu Bakar.

Tujuan menanyakan kepadanya arti ayat itu ialah supaya Abu Bakar dapat menerka bahwa ia lapar dan menyediakan untuknya makanan.

Tak lama kemudian Umar lewat dan Abu Hurairah juga meminta kepadanya untuk menerangkan arti ayat itu. Umar pun menerangkan artinya dan terus berlalu.

Abu Hurairah, seperti hatinya Sahabat-Sahabat lainnya, amat tidak suka meminta secara langsung, dan ketika ia merasa bahwa usaha menarik perhatian orang kepada keadaannya gagal, ia sudah tak bertenaga.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Kasih Sayang Rasulullah

Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil dengan suara mesra dan penuh rasa cinta. Ketika menoleh ke arah datangnya suara itu, dilihatnya Rasulullah saw memandang kepadanya melalui jendela rumah beliau sambil tersenyum.

Beliau menanyakan kepada Abu Hurairah, “Adakah kamu lapar?” yang dijawab oleh Abu Hurairah. “Sesungguhnya, ya Rasulullah, saya lapar.” Rasulullah bersabda, “Di rumahku juga tidak ada makanan; tetapi ada orang yang baru saja memberi susu secawan kepada kami.

Pergilah ke mesjid dan periksalah, adakah juga di sana orang-orang lain yang lapar seperti kamu.” Abu Hurairah melanjutkan ceriteranya, “Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku begitu laparnya sehingga aku takkan cukup meminum susu secawan itu, tetapi Rasulullah saw masih meminta juga kepadaku agar mengundang orang-orang lain yang mungkin keadaannya sama seperti aku; ini artinya aku akan mendapat bagian susu sedikit sekali.”

“Tetapi aku harus melaksanakan perintah Rasulullah saw, maka aku pun pergi ke mesjid dan kudapati enam orang duduk-duduk di situ. Semua kubawa menghadap Rasulullah saw.”

“Beliau memberikan cawan susu itu kepada salah seorang dari mereka dan disuruhnya minum. Ketika ia sudah selesai dan cawannya telah dilepaskan dari mulutnya, Rasulullah saw masih mendesaknya minum lagi kedua kalinya dan ketiga kalinya sampai ia merasa kenyang betul.”

“Dengan cara demikian juga beliau mendesak tiap-tiap orang dari keenam sahabat itu untuk minum sekenyang-kenyangnya. Tiap-tiap kali beliau meminta kepada salah seorang untuk minum, aku merasa cemas dan khawatir bahwa hanya sedikit sekali yang masih tersisa untuk diriku. Sesudah keenam orang itu minum susu sekenyang-kenyangnya, Rasulullah saw menyerahkan cawan itu kepadaku dan kulihat di dalamnya terdapat masih banyak susu.”

“Kepadaku pun beliau mendesak untuk minum sekenyang-kenyangnya dan menyuruhku minum untuk kedua dan ketiga kalinya dan akhirnya beliau minum sendiri sisanya, kemudian membaca doa syukur dan akhirnya menutup pintu “ (Bukhari, Kitabal-Riqaq).

Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid

Secawan Susu Yang Mencukupi

Secawan susu yang dianggap sedikit oleh Abu Hurairah bahkan dirasa tidak cukup untuk melenyapkan rasa laparnya sendiri ternyata bisa membuat kenyang enam orang sahabat, dirinya dan Rasulullah saw sendiri.

Tujuan Rasulullah saw memberi giliran kepada Abu Hurairah terakhir sekali mungkin guna memberi pengertian kepadanya bahwa ia harus bertahan terhadap derita lapar itu dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dan sebaiknya tidak menarik perhatian orang kepada keadaannya, walaupun dengan cara yang tidak langsung.

Rasulullah saw sendiri lebih mengutamakan orang lain, beliau as mendahulukan para sahabatnya dibandingkan dirinya sendiri. Beliau tidak suka meliha para sahabat dalam kesusahan dan senantiasa memberi pertolongan kepada mereka sekalipun beliau sendiri dalam serba kekurangan.

Sumber referensi: Riwaya Hidup Rasulullah, Basyiruddin Mahmud Ahmad

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw


1 Komentar

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I - · 2 Maret 2020 pada 12:50 pm

[…] Baca juga: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat […]

Tinggalkan Balasan