Shafiyah Binti Huyay Istri Nabi Dari Kaum Yahudi

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

aisyah-bewaramulia

Shafiyah binti Huyay  adalah istri ke-11 Rasulullahsaw , putri Huyay  bin Akhtab, kepala suku Bani Nadhir, salah satu suku Yahudi di sekitar Madinah.  Beliau memiliki kecintaan dan kesetiaan yang tulus kepada Rasulullahsaw dan Islam.

Masa muda

Hadhrat Shafiyah binti Huyayrha lahir sekitar tahun 610 M, sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah bi’tsah (kenabian). Beliau berasal dari suku Bani Nadhir, salah satu suku Yahudi yang saat itu bermukim di sekitar Madinah.

Beliau berasal dari keluarga bangsawan dan berpengaruh. Ayahanda beliau, Huyay bin Akhtab adalah kepala Suku Yahudi Banu Nadhir. Sementara itu, ibunda beliau bernama Barrah binti Samaual darin suku Yahudi Bani Quraizhah.

Sebelum menikah dengan Rasulullahsaw, Shafiyahrha pernah dua kali menikah, pertama dengan seorang pemipin suku Yahudi Bani Qurayzhah bernama Salam bin Abi Al-Haqiq (atau Salam bin Musykam).

Kemudian suami kedua beliau bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq, ia juga salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah yang diusir Rasulullahsaw pada peristiwa Perang Khaibar.

Baca juga: Ummu Habibah Ramlah Binti Abu Sufyan, Sangat Memuliakan Rasulullah

Pertempuran Khaibar

Meskipun ada tanda-tanda nyata untuk mendukung Nabisaw, orang-orang Yahudi memutuskan untuk menentang Nabisaw dan terus bersekongkol melawannya. Di antara mereka adalah ayah dari Shafiyah, Huyaiy bin Akhtab.

Karena ulah sukunya yang lebih menginginkan perang, Rasulullahsaw tidak punya pilihan selain menghadapi mereka.

Perang Khaibar terjadi antara pasukan Islam dengan laskar Yahudi di Khaibar. Karena kuatnya benteng-benteng yang dimiliki kaum Yahudi, pasukan Islam pun mengalaim kesulitan, namun akhirnya mereka dapat ditaklukan, umat Islam pun meraih kemenangan. 

Seharusnya mereka, kaum Yahudi itu dihukum berat atas kejahat-kejahat yang telah  mereka lakukan kepada umat Islam, namun Rasulullahsaw dengan kemurahannya tidak melakukan itu.

Suatu perjanjian damai ditandatangani. Syarat-syaratnya ialah, semua orang Yahudi, wanita, dan anak-anak, harus meninggalkan Khaibar dan mencari tempat tinggal yang jauh dari Madinah.

Harta-benda dan milik mereka jatuh ke tangan umat Islam. Siapa pun yang berusaha menyembunyikan harta benda atau persediaan mereka atau membuat pernyataan yang palsu, tidak akan dilindungi oleh perjanjian damai itu. Ia akan dijatuhi hukuman yang telah ditetapkan atas pelanggaran itu.

Untuk lebih lengkap mengenai Perang Khaibar dapat dibaca di sini

Dalam peperangan khaibar ayah, suami, dan saudara-saudara laki-laki Shafiyah terbunuh. Dalam keadaan yang menyedihkan Shafiyah menjadi tawanan perang.

Baca juga: Juwairiyah Binti Harits Tekun Beribadah Dan Mematuhi Perintah Rasulullah

Mimpi Bulan Jatuh Di Pangkuan Shafiyah

Sebelum perang, Saffiyahrha melihat mimpi bahwa bulan telah jatuh di pangkuannya. Ketika beliau menceritakan mimpinya ini kepada ayahnya, ia menegurnya karena ingin menikah dengan raja yang datang untuk mengepung mereka yaitu Nabisaw.

Mirza Bashir Ahmad dalam bukunya The Life & Character of the Seal of Prophets, Vol. 1, hlm. 236, menceritakan hal ini:

“Safiyyahrha, putri seorang kepala suku Yahudi dari Khaibar, Huyay bin Akhtab, melihat mimpi bahwa bulan telah jatuh ke pangkuannya. Ayahnya juga menafsirkan bahwa suatu hari, Shafiyahrha akan menerima ikatan pernikahan seorang Penguasa Arab.”

Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyah sehingga berbekas di wajahnya.

Rasulullahsaw melihat bekas di wajah Shafiyah dan bertanya, “Apa ini?” beliau menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Dinikahi Rasulullah

Setelah Bani Nadhir dikalahkan pada Perang Khaibar, Shafiyah menjadi tawanan perang. Para sahabat berkata kepada beliausaw bahwa putri ini selain dari pada Rasulullahsaw tidak ada yang layak memilikinya.

Nabisaw setelah memuliakan beliau, bersabda: “engkau memiliki pilihan untuk tetap pada agamamu, tetapi jika engkau memilih Allah Taala dan rasul-Nya maka itu adalah satu kebaikan untukmu.”

Hadhrat Shafiyah berkata: “Saya percaya bahwa engkau benar.” Nabisaw menjawab: “Tidak diragukan lagi aku memang orang yang benar, tetapi keputusan itu ada di tanganmu.”

Hadhrat Shafiyahrha akhirnya memilih Allah Taala, rasul-Nya dan Islam. Beliaurha lebih menyukai untuk dinikahi oleh Nabisaw dan demikian juga atas keridhaannya beliausaw menikahinya dengan mahar berupa kemerdekaannya.

Hadhrat Shafiyahrha berkata, “ketika aku dihadirkan di hadapan Nabisaw sebagai tawanan, saat itu tidak ada orang yang lebih aku benci selain beliausaw.”

Tetapi ketika beliausaw memberitahukan kepadanya apa-apa saja yang telah diperbuat oleh kaumnya kepada kaum muslimin, bapaknya, Huyay bin Akhtab telah memanggil seluruh Arab untuk memerangi Islam dan dia juga yang memprakarsai mereka untuk memerangi Rasulullahsaw, oleh karenanya dengan terpaksa harus berperang dengan kaumnya.

Setelah mendengar kebenaran ini, menerima keadilan, kebaikan dan kasih sayang yang telah diberikan oleh Rasulullahsaw kepadanya, telah memberikan pengaruh sedemikia besar kepadanya sehingga berkata: ”Ketika aku berlalu dari padanya, maka dalam pandanganku tidak ada orang yang lebih kukasihi selain dirinya.”

Hadhrat Shafiyah pun menerima tawaran pernikahan dari Rasulullahsaw dengan rela dan tanpa paksaan. Beliau melihat adanya kesucian dan kebenaran pada Rasulullahsaw.

Sebaliknya beliau melihat sendiri bagaimana kaumnya berlaku aniaya dan berkhianat terhadap Rasulullahsaw dan kaum Muslimin.

Maksud Rasulullahsaw menikahi Shafiyah bertujuan mulia, beliausaw bermaksud meredakan ketegangan antara orang Yahudi dan Muslim.

Ketika Bani Nadhir mengetahui putri pemimpin mereka menikah dengan Rasulullasaw, diharapkan permusuhan mereka akan sirna dan kedua belah pihak bisa hidup rukun dan damai.

Baca juga: Ummul Masakin – Ibu Orang-orang Miskin Zainab Binti Khuzaimah

Keturunan Yahudi

Setelah menikah dengan Nabi saw, Ummul Mu’minin Shafiyah binti Huyay satu-satunya istri Nabisaw yang memiliki keistimewaan untuk memiliki hubungan kekeluargaan dengan tiga nabi, Nabi Harunas, Nabi Musaas dan Nabi Muhammadsaw.

Rasulullahsaw menyadari persoalan ini, pada suatu kesempatan beliau menyuruh Shafiyahrha untuk menanggapi siapa pun yang mengejeknya karena berasal dari Yahudi dengan kata-kata berikut:

“Bagaimana bisa kau lebih baik dariku, sedangkan Nabi Harun seperti ayahku, Nabi Musa seperti pamanku dan Muhammad adalah suamiku!” (Sunan al-Tirmidzi)

Sejaka awal keberadaan Rasulullahsaw dan umat Islam di Madinah tidak disukai oleh Suku-suku Yahudi di Madinah. Mereka melakukan berbagai tipu muslihat dan penghianatan-penghianatan yang membahyakan Islam.

Mereka menyimpan kebencian kepada Rasulullahsaw, padahal keberadaan mereka di Madinah adalah dalam rangka menanti datangnya seorang nabi yang telah dinubuwatkan dalam kitab suci mereka, namun ketika nabi datang dalam wujud Rasulullahsaw mereka menolaknya dan memusuhinya.

Karena itu Hadhrat Shafiyahrha yang berasal dari Yahudi itu mendapat perlakuan yang tidak simpati dari istri Rasulullahsaw atau kaum Muslimin lainnya. Namun Rasulullahsaw dengan kasih sayang dan kesabarannya yang tanpa batas menerima Shafiyah sebagai istrinya.

Rasulullahsaw bertujuan mulia, ingin melenyapkan permusuhan dan kebencian.

Baca juga: Hafsah Binti Umar, Sang Penjaga Al Quran

Teladan yang Hebat

Pernikahan Shafiyahrha dengan Nabisaw adalah bukti kebenaran dan akhlak yang tinggi yang dimiliki beliausaw.

Hadhrat Shafiyahrha kehilangan suami dan ayahnya selama perang dan orang dapat memahami kebencian yang mungkin beliau miliki terhadap Rasulullahsaw dan Islam pada awalnya.

Namun, beliau sangat terkesan dengan kebaikan dan kasih sayang yang ditunjukkan Nabisaw kepadanya dan para penyintas kaum Yahudi, sehingga atas kemauannya sendiri, Shafiyahrha menyetujui pernikahan itu.

Pada saat kembali dari perang Khaibar, Rasulullahsaw sendiri yang membuatkan tempat (alas duduk) di atas punggung unta. Beliau membuka jubah panjang yang beliau pakai lalu melipatnya dengan baik kemudian menggelarnya untuk tempat duduk Shafiyahrha.

Pada saat menaikkannya di atas tunggangan lalu beliausaw menekukkan lutut beliau di hadapan Hadhrat Shafiyah sambil bersabda, “Naiklah ke atas unta dengan menginjakkan kaki di atas lututku ini”. (Bukhari Kitabul maghazi bab Ghazwah Khaibar)

Pada kesempatan lain, saat kembali dari tempat bernama Asfaan, unta yang ditunggangi Nabisaw tergelincir. Hadhrat Shafiyahrha juga duduk di sampingnya dan keduanya jatuh. Hadhrat Anasra menceritakan:

“Saat kembali dari Asfaan, unta tempat Nabi dan Shafiyah binti Huyay duduk tergelincir dan mereka jatuh. Abu Thalhahra melompat dari untanya dan berkata, “Ya Rasulullah! Semoga aku berkorban untukmu. Nabisaw menjawab, ‘Jaga wanita itu dulu.’ Jadi, Abu Thalhah menutupi wajahnya dengan pakaian dan pergi menemui Shafiyah dan menutupinya. (Sahih al-Bukhari)

Nabisaw mengakui warisannya dan keluarga asalnya dan oleh karena itu hanya pantas bahwa beliausaw akan menikahi wanita yang begitu mulia untuk memberinya penghormatan dan perlakuan yang layak yang pantas diterimanya.

Ketika Shafiyahrha menjalankan pardah (mengenakan hijab), para sahabat juga mengerti bahwa beliau sekarang telah menjadi salah satu ummul mu’minin (ibu orang beriman), yang merupakan tempat yang seharusnya.

Sikap kasih sayang dan perhatian seperti itulah yang memenangkan hatinya dan meninggalkan permusuhan apa pun yang beliau miliki sebelumnya dan menjadi seorang Muslimah yang taat dan istri yang setia.

Baca juga: Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Mencintai Dan Menyayangi Rasulullah

Ketika Nabisaw jatuh sakit sebelum beliau wafat, Ummul mu’minin Safiyyahrha, sebagai istrinya yang setia, sangat sedih dan berkata: “Aku berharap aku yang menderita, bukan engkau.”

Belas kasihnya Meskipun berasal dari keluarga yang berpengaruh, dia adalah wanita yang rendah hati dan selalu berusaha membantu orang lain selama tekanan.

Selama kekhalifahan Hadhrat Usmanra, ketika rumahnya dikepung dari pemberontak, Shafiyahrha langsung menghadapi bahaya untuk membelanya dan menenangkan orang banyak.

Meskipun beliau ditolak, itu adalah tindakan tanpa pamrih yang sangat berani. Beliau terus memberikan bekal kepadanya dan memberikan dukungan sebanyak yang beliau bisa.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Akhir Kehidupan Safiyah

Ummul Mu’minin Shafiyah binti Huyay wafat pada tahun 670 M, pada masa pemeintahan Amir Muawiyah bin Abu Sufyan.

Gubernur Madinah saat itu, Marwan bin Hakam memipin shalat janazahnya dan kemudian beliau dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan