Salim Maula Abu Hudzaifah Ditunjuk Rasulullah untuk Mengajarkan Al-Qur’an

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

salim maula abu hudzaifah

Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi yang ahli dalam membaca Al-Qur’an (qori), beliau juga merupakan satu dari empat Sahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah saw sebagai pengajar Al-Qur’an.

Biografi Salim Maula Abu Hudzaifah

Salim Maula Abu Hudzaifah, beliau biasa dipanggil Abu Abdillah, ayah beliau bernama Ma’qal. Beliau berasal dari suatu daerah di Iran bernama Isthakhar.

Salim adalah hamba sahaya Tsubaitah binti Ya’aar, istri Abu Hudzaifah. Tsubaitah kemudian memerdekakan Salim dengan kategori Saibah.

Saibah adalah budak yang dimerdekakan oleh pemiliknya lalu membebaskannya di jalan Allah. Artinya, jika budak tersebut wafat maka yang memerdekakannya tidak berhak atas harta peninggalannya.

Peraturan umumnya ialah jika seorang budak dimerdekakan dan budak yang telah merdeka itu wafat maka yang berhak sebagai pewaris harta peninggalannya adalah orang yang memerdekakannya.

Abu Hudzaifah bin Utbah menjadikan Salim sebagai anak angkat sehingga setelah itu Salim mulai mendapatkan sebutan Salim bin (anak) Abu Hudzaifah. Abu Hudzaifah juga menikahkan beliau dengan putri saudaranya yang bernama Fatimah binti Walid bin Utbah.

Diriwayatkan ketika Allah Ta’ala telah menurunkan ayat berikut ini:

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzaab, 33: 6)

Setelah dimerdekakan dan diangkat anak oleh Abu Hudzaifah, Salim dikenal dengan sebutan Salim bin Abu Hudzaifah, setelah ayat tersebut turun, mulailah Salim disebut dengan Salim Maula Abu Hudzaifah (Salim hamba yang dimerdekakan Abu Hudzaifah).

Beliau termasuk sahabat terkemuka dan terhitung Muhajirin. Beliau hijrah ke Madinah sebelum hijrahnya Rasul.

Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Salim dengan Muadz bin Ma’ish.

Muhammad Bin Ja’far meriwayatkan: Ketika Abu Hudzaifah dan Salim Maula Abu Hudzaifah hijrah dari Makkah ke Madinah, keduanya tinggal di rumah Abbad Bin Bisyr.

Baca juga: Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Penghidmatan dalam Islam

Ibni Umar meriwayatkan, “Ketika muhajirin awwalin hijrah ke Madinah, mereka menginap di daerah Ushbah dekat Quba. Salim biasa mengimami shalat bagi mereka, karena beliau memiliki pengetahuan Al-Qur’an yang paling dalam.” (Siyaar A’lamin Nubala)

Pada waktu perang Uhud, ketika Rasulullah saw terluka, Salim mendapatkan kehormatan untuk membersihkan noda luka beliau saw.

Salim Maula Abu Hudzaifah dikenal sebagai seorang Sahabat pemberani, diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru, “Dalam satu peperangan kami bersama dengan Rasul, peperangan semakin dahsyat sehingga menimbulkan sedikit rasa gentar bagi beberapa pasukan. Saat itu saya maju dengan membawa senjata. Pandangan saya tertuju pada Salim Maula Abu Hudzaifah yang tengah memegang senjata. Wajah beliau penuh wibawa dan tenang. Tidak tampak tanda-tanda gentar padanya yang tengah berjalan. Saya berpikiran untuk ikut di belakang orang saleh ini sehingga tibalah di hadapan Rasulullah saw dan kami duduk bersama Rasul.

Kemudian diceritakan oleh Abdullah bin Amru, Dengan nada marah Rasulullah saw bersabda, “Kenapa kalian tampak gentar dan ketakutan? Perlihatkanlah keberanian seperti yang diperlihatkan oleh dua orang mukmin ini. Tidak perlu gentar. Seperti halnya Salim dan bersama seorang lagi yang telah berjanji untuk tetap bertahan dalam keadaan genting tanpa rasa gentar.” (Al-Mustadrak ‘alash Shahihain)

Muhammad Bin Tsabit meriwayatkan, “Ketika umat muslim bercerai berai pada perang Yamamah, Salim berkata, ‘Kami bersama dengan Rasulullah saw tidak biasa melarikan diri seperti itu.’ Beliau menggali sebuah lubang lalu memasukkan kaki ke dalamnya dan berdiri di sana. Saat itu beliau membawa bendera Muhajirin. Setelah itu, beliau bertempur dengan gagah berani lalu syahid.” (Siyaar A’lamin Nubala)

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Seorang Qori

Salim bin Ma’qal atau Salim Maula Abu Hudzaifah seorang Sahabat Nabi yang tadinya berstatus budak yang kemudian dimerdekakan. Karena ketekunan dan kepandaiannya, menjadikan beliau seorang ahli ilmu Al-Qur’an.

Sebagian budak belian yang dimerdekakan beliau telah meraih martabat tinggi dan dalam bidang keilmuan, beliau dikenal sebagai ulama yang sangat istimewa di kalangan sahabat.

Beliau menjadi seorang qori yang bacaanya fasih dan merdu. Dan pengetahuan ilmu Al-Qur’annya mendalam.

Rasulullah saw telah menunjuk empat orang Sahabat sebagai pengajar Al-Qur’an dan memerintahkan para Sahabat lainnya untuk belajar Al-Qur’an dari mereka, salah satu dari empat Sahabat itu adalah Salim Maula Abu Hudzaifah.

Rasulullah saw bersabda, “Pelajarilah Al Quran dari empat sahabat tersebut, namanya sebagai berikut: pertama, Abdullah bin Mas’ud, kedua, Salim Maula Abu Hudzaifah, ketiga Ubay bin Ka’ab dan keempat, Mu’adz bin Jabal.” (Shahih al-Bukhari, no. 3808)‏‏.‏

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa, suatu ketika Aisyah radiallahu ‘anha datang terlambat ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw menanyakan alasan keterlambatan Aisyah. Beliau menjawab, “Ada seorang qari yang tengah menilawatkan Al-Quran dengan sangat merdu, lalu saya mulai menikmati lantunan tilawatnya.”

Rasulullah saw menutupkan kain lalu pergi dan melihatnya. Ternyata Salim yang tengah menilawatkan Al Quran. Rasulullah saw bersabda, “Puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah menjadikan qori sepertimu di dalam umatku.” (Asadul Ghabah)

Baca juga: Bisyr bin Baraa, Sahabat Nabi yang Wafat Diracun

Wafat pada Peristiwa Perang Yamamah

Ibrahim bin Hanzhalah meriwayatkan dari ayahnya “Pada perang Yamamah Salim Maula Abu Hudzaifah diperintahkan untuk menjaga bendera. Sebagian orang mengatakan, ‘Kami khawatir akan keselamatan jiwa Salim, untuk itu serahkan saja bendera kepada selain beliau.

Salim berkata, ‘Pengetahuan Al-Qur’an saya sangat dalam, lantas jika saya tidak mengamalkan ilmu yang saya miliki, sungguh sangat keliru yakni jika karena takut lantas tidak mengamalkan perintah Al-Qur’an, maka ilmu yang seperti itu tidak ada manfaatnya.’

Ketika tangan kanan Salim terpotong dalam peperangan, beliau memegang bendera dengan tangan kiri. Ketika tangan kiri beliau pun terpotong, bendera beliau tahan dengan leher lalu membaca,

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran ayat 145-147)

Ketika Salim terjatuh [sekarat karena diserang musuh], beliau bertanya kepada kawan-kawannya,  ‘Bagaimana kabar Abu Hudzaifah?’ Orang-orang menjawab, ‘Beliau telah syahid.’

Lalu beliau menanyakan kabar yang lainnya lagi. Dijawab bahwa orang tersebut pun telah syahid. Kemudian Salim berkata, ‘Baringkanlah saya diantara keduanya.’ (Asadul Ghabah)

Salim Maula Abu Hudzaifah syahid pada perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah, peristiwa ini terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar.

Zaid Bin Tsabit meriwayatkan “Ketika Salim syahid, orang-orang mengatakan, ‘Seolah-olah seperempat bagian Al-Qur’an telah hilang.’” (Al-Mustadrak‘alash Shahihain).

Salah satu dari empat orang Sahabat yang direkomendasikan Rasulullah saw untuk tempat mempelajari Al-Qur’an itu telah wafat. [madj]

Baca juga: Sa’ad bin Ubadah Sahabat Nabi yang Suka Memberi Pertolongan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan