Sa’id bin Zaid ra termasuk kedalam kelompok sahabat nabi yang ba’at di masa awal (as Sabiqunal Awwalun) dari golongan Muhajirin. Beliau ra termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

Biografi Sa’id ra

Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail al-Adawi. Beliau ra adalah suami dari Fathimah binti Khattab, adik dari Umar bin Khattab ra.

Aya beliau, Zaid bin Amr bin Nufail bersama dengan Waraqah bin Naufal, Ubaidullah bin Jahsy, dan Utsman bin al-Huwairits tidak menyembah berhala seperti orang-orang Quraisy pada umumnya dimasa jahiliah, akan tetapi mereka meyakini keesaan Tuhan dan mengikuti agama Nabi Ibrahim as.

Zaid bin Amru sempat hidup sezaman dengan Rasulullah saw, namun ia wafat sebelum kenabian dan saat itu Rasulullah saw baru berusia 35 tahun.

Seperti ayahnya, dari sejak mudanya Sa’id tidak seperti teman-temannya yang suka melakukan hal-hal buruk seperti mabuk-mabukan dan berjudi, beliau juga tidak menyembah berhala. Dan Sa’id ra mengikuti agama ayahnya, yaitu agama Nabi Ibrahim as.

Baca juga: Syammas bin Utsman: Sahabat Nabi yang Syahid di Uhud

Ba’iatnya Sa’id ra

Ketika Rasulullah saw menyampaikan risalahnya, Sa’id ra dan istrinya langsung menyambut seruan Rasulullah saw dan ba’iat menerima kebenaran Islam.

Sa’id ibn Zaid bai’at ketika dimasa awal dakwah Rasulullah saw, sehingga beliau ra termasuk kedalam kelompok sahabat awalin (as Sabiqunal Awwalun) yaitu orang-orang yang mula-mula beriman.

Bai’atnya Hadhrat Umar bin Khattab ra

Berimannya Hadhrat Sa’id ra dan istrinya akhirnya diketahui oleh Hadhrat Umar ra, kakak iparnya itu yang dikenal galak dan saat itu masih memusuhi Islam.

Mengetahui hal itu Umar bin Khattab yang merencanakan akan membunuh Rasulullah saw menjadi murka. Umar pun segera mendatangi rumah Sa’id dan hendak memukulnya namun istri beliau (Fathimah binti Khattab), adiknya Umar bin Khattab sendiri mencegah dengan berdiri di hadapan suaminya sehingga ia terkena pukulan tersebut dan terluka.

Peristiwa itu memberikan kesan mendalam bagi Hadhrat Umar ra hingga akhirnya ia menjumpai Rasulullah saw, bukan untuk membunuhnya melainkan untuk ba’iat, beriman kepada Rasulullah saw.

Baca juga: Muadz bin Jabal: Sahabat Nabi yang Menjadi Mubaligh

Penghidmatan dalam Islam

Hadhrat Sa’id ra tidak ikut serta dalam perang Badr. Saat itu Rasulullah saw mengutus beliau untuk tugas mata-mata ke Syam bersama Thalhah bin Ubaidillah. Ketika kembali dari tugasnya, perang sudah selesai. Meskipun begitu, Rasulullah saw menetapkannya termasuk kedalam Ahlul Badr (veteran perang Badr) dan berhak atas harta rampasan perang.

Ada tujuh sahabat lainnya seperti Sa’id ra, tidak mengikuti perang Badar, tetapi Rasulullah saw menetapkan mereka sebagai Ahlul Badr.

Kecuali perang Badr Sa’id ra mengikuti semua peperangan yang diikiuti Rasulullah saw. Termasuk perang Yarmuk, yaitu penaklukan Damaskus, Syam.

Dijamin Masuk Surga

Hadhrat Sa’id bin Zaid ketika panggilan untuk jihad datang maka beliau terdepan dalam melaksankanya. Ketika masa-masa aman beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah.

Beliau tidak silau oleh jabatan dan harta kekayaan, juga popularitas. Bahkan dalam banyak peperangan yang diikiutinya, beliau lebih memilih menjadi prajurit biasa.

Dalam suatu pasukan besar yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ra, setelah menaklukan Damaskus, Sa’ad menetapkan dirinya sebagai gubernur di sana. Tetapi Sa’id bin Zaid meminta dengan sangat kepada komandannya itu untuk memilih orang lain memegang jabatan tersebut, dan mengijinkannya untuk menjadi prajurit biasa di bawah kepemimpinannya.

Sejak masa khalifah Umar ra, harta kekayaan datang melimpah-ruah memenuhi Baitul Mal. Khalifah Umar memberikan bagian lebih banyak daripada bagian sahabat yang memeluk Islam belakangan, yaitu setelah terjadinya Fathul Makkah. Namun, setiap kali Sa’id ra memperoleh pembagian harta, segera saja beliau ra menyedekahkannya lagi, kecuali sekedarnya saja.

Hadhrat Sa’id ra termasuk dalam kelompok sepuluh sahabat yang dijamin oleh Rasulullah saw akan masuk surga. Sembilan sahabat lainnya adalah, empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abu Ubaidah bi Jarrah.

Baca juga: Khabbab bin Al-Arat, Sahabat Nabi yang Disiksa karena Keimanannya

Sabar dalam Menghadaapi Fitnah

Pada masa pemerintahan Muawiyah, terjadi satu peristiwa yang memperlihatkan bagaimana sifat ghina (merasa cukup), khasy-yat (takut) kepada Tuhan dan kesabaran dari Hadhrat Sa’id ra.

Awalnya, Hadhrat Sa’id ra memiliki sebidang tanah yang biasa digunakan sebagai tempat mencari nafkah. Ada seorang wanita bernama Arwa binti Aus yang juga memiliki sebidang tanah yang berbatasan dengan milik beliau. Wanita tersebut mengklaim tanah Sa’id ra itu adalah miliknya dan menuduh beliau telah merebut tanahnya itu.

Hadhrat Said ra tetap bersabar dan menjawabnya bahwa beliau ra tidak ingin bertengkar mengenai hal tersebut, kemudian Beliau ra menyerahkannya kepada wanita itu sambil berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda,

 مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ

‘Jika seseorang secara tidak sah mengambil bahkan merampas tanah milik orang lain, nanti di hari pembalasan, ia harus menanggung beban tujuh tanah seberat bumi.’ Oleh karena itu, saya tidak ingin tuduhan tersebut jatuh kepada saya, serta saya tidak ingin bertengkar juga tidak ingin dunia ini menuduh saya bahwa saya telah merampas tanah milik orang lain. Apalah arti dan harga tanah ini.”

Beliau ra melepaskan tanah itu namun beliau melepaskan diri dari tuduhan dengan cara berdoa terhadap wanita penuduh tersebut. Doa beliau ra mustajab,

 اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَعَمِّ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا

“Ya Allah ya Tuhanku, kalau seandainya Arwa benar-benar berdusta, butakanlah ia dan binasakanlah ia di tanahnya sendiri.

Beberapa waktu kemudian Arwa menjadi buta, dan dalam keadaan seperti itu ia terjatuh ke dalam sumur (lubang) yang ada di tanah miliknya sendiri dan mati di dalamnya.

Baca juga: Abu Hurairah ra: Dari Ahli Shuffah Menjadi Gubernur Bahrain

Berkata Benar

Beliau termasuk orang yang berani berkata benar tanpa takut dicela. Suatu kali beliau berada di Masjid Jami’ Kufah bersama Gubernurnya yang menghormatinya dan memintanya duduk di sisinya. Seseorang berbicara mengenai Hadhrat Ali ra dengan kata-kata yang melecehkan.

Hadhrat Sa’id ibn Zaid ra mendengar hal ini dengan amat marah. Tanpa berpikiran bahwa lebih bijak untuk diam karena orang itu berbicara di depan Gubernur, dari pihak Muawiyah yang bersebrangan denga Hadhrat Ali ra. Hadhrat Sa’id ra berdiri dan berkata,

 أشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي سَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ: عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ: النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ,

“Saya bersaksi mendengar Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Sepuluh orang pasti masuk Surga: Nabi, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Malik dan Abdur Rahman bin Auf. Jika kalian mau, saya sampaikan yang kesepuluh.’”

فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَسَكَتَ, قَالَ: فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَقَالَ: هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ

Mereka berkata, “Siapakah dia?” Beliau ra diam. Mereka bertanya lagi, ‘Siapakah dia?” Beliau ra menjawab, “Dia adalah Sa’id ibn Zaid.” (saya sendiri).

Baca juga: Ahli Shuffah: Dicintai Rasulullah, Meraih Sukses dan Kemuliaan Ruhani

Wafat

Setelah peristiwa dengan Arwa bin Aus itu banyak orang yang mendatangi dirinya, untuk meminta doa dan lain sebagainya, beliau merasa tidak nyaman.

Karena itu beliau pindah ke daerah pedalaman, yakni di Aqiq, dan akhirnya beliau wafat di sana pada tahun 50 atau 51 H/671 M.

Tetapi jenazahnya dibawa pulang ke Madinah oleh Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar, keponakannya sendiri. Kemudian dimakamkan di Baqi, Madinah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan