[Sahabat Nabi] Uqbah bin Amir Salah Satu Pelopor Berkembangnya Islam di Madinah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi uqbah bin amir

Uqbah bin Amir radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi saw dari kalang Anshar. Beliau termsauk 6 orang Madinah yang mula-mula baiat dan setelah beriman kemudian menyampaikan tabligh Islam di Madinah.

Biografi Uqbah bin Amir

Ayahanda beliau bernama Amir bin Naabi dan ibunda beliau bernama Fukaihah binti Sakan.

Uqbah bin Amir termasuk enam Sahabat Anshar yang pertama beriman di  Makkah. Beliau pun ikut serta pada Baiat Aqabah Pertama. Ibunda beliau pun mendapatkan taufik untuk baiat kepada Rasulullah saw.

Beliau ikut serta dalam Perang Badr, Perang Uhud, Perang Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw.

Uqbah Bin Amir meriwayatkan, “Saya membawa anak saya yang masih kecil lalu hadir ke hadapan Rasulullah saw. Saya berkata, “‘Demi Anda, wahai Rasul! Saya bersedia mengorbankan ayah dan ibu saya. Mohon ajarkanlah doa-doa kepada anak saya yang dengannya ia akan selalu berdoa kepada Allah ta’ala dan Dia mengasihinya.”

Rasulullah saw bersabda:

 قُلْ يَا غُلَامُ الْلَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِحَّةً فِي إِيْمَانٍ، وَإِيْمَانًا فِي حُسْنِ خُلُقٍ، وَصَلَاحًا يَتْبَعُهُ نَجَاحٌ

“Nak! Ikutilah dengan mengatakan, – ‘Ya Allah! Hamba memohon kesehatan kepada engkau dalam keadaan iman, aku memohon akhlak mulia beserta keimanan dan setelah mendapatkan kedamaian aku mengharapkan kesuksesan.”

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Ayyub Sungguh Beruntung, Rumahnya Ditempati Rasulullah

Termasuk 6 Orang yang Pertama Baiat

Pada masa-masa sulita dan berbahahaya bagi Rasulullah saaw dan umat Islam, dimana dari penduduk Makkah sama sekali sudah tidak ada harapan. Dalam keadaan seperti itu dari Yatsrib (Madinah) timbul secercah harapan.

Pada bulan Rajab tahun 11 Nabawi, Rasulullah saw bertemu dengan 6 orang dari  Madinah di Makkah. Pertemuan ini terjadi setelah Perang Bu’ats (Perang antar suku di Madinah sebelum Islam).

Ke 6 orang itu adalah, Abu Umamah As’ad bin Zararah dari Banu Najjar; Auf bin Harits bin Rifa bin Afra dari Bani Najjar; Rafi bin Malik bin Ajlan dari Banu Zuraiq; Quthbah bin Amir bin Hadidah dari Bani Salmah; Uqbah bin Amir bin Naabi bin Zaid dari Bani Haram dan Jabir bin Abdillah bin Ri-ab dari Bani Ubaid.

Setelah menanyakan silsilah keturunan, beliau saw mengetahui bahwa mereka adalah kabilah Khazraj yang datang dari Yatsrib.

Dengan nada yang penuh kasih sayang, Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Apakah Anda bersedia mendengarkan beberapa hal yang akan saya sampaikan?” Mereka menjawab, “Ya, silahkan.”

Beliau saw duduk lalu mengajak mereka kepada Allah, menawarkan ajaran Islam kepada mereka dan memperdengarkan beberapa ayat Al Quran.

Mereka saling melihat satu sama lain dan berkata, “Ini adalah kesempatan baik, jangan sampai Yahudi mendahului kita.” Setelah mengatakan itu, mereka semuanya baiat, masuk Islam.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abdullah bin Rawahah Mendapat Kesyahidan Sesuai Harapannya

Menyampaikan Tabligh Islam

Setelah itu mereka pamit kepada Rasulullah saw untuk pulang ke Madinah. Ketika hendak pergi, mereka mengatakan, ”Peperangan telah membuat kami lemah. Banyak sekali perselisihan pendapat diantara kami. Kami akan pulang ke Yatsrib untuk bertabligh kepada saudara-saudara kami. Betapa baiknya jika dengan perantaraan tuan, Allah Ta’ala dapat mempersatukan kami lagi. Kami akan selalu siap untuk membantu tuan.”

Setelah sampai di Madinah, mereka menyampaikan kabar tentang Nabi Muhammad saw dan mengajak mereka kepada Islam. Berkat mereka, Islam mulai menyebar di Madinah.

Dari sisi sarana lahiriah, pada tahun itu dihabiskan di Makkah oleh Nabi saw dalam keadaan mencekam dan antisipasi harapan terhadap orang-orang asal Yathrib. Beliau saw sering memikirkan, “Mari kita lihat apa yang tengah terjadi dengan mereka yaitu 6 orang Yatsrib yang baru baiat ini? Bagaimana akhir kehidupan mereka? Apakah ada harapan untuk mendapatkan keberhasilan di Yatsrib atau tidak?”

Bagi umat Muslim pun keadaan saat itu dari segi lahiriah merupakan masa-masa yang mencekam. Kadang ada secercah harapan dan terkadang juga diliputi rasa putus asa. Mereka menyaksikan para pemuka kota Makkah dan kota Taif dengan keras telah menolak misi Rasulullah saw. Kabilah-kabilah lain pun satu per satu menolaknya.

Di Madinah muncul secercah harapan. Namun, siapa dapat mengatakan secercah sinar ini dapat tegak dalam topan penderitaan, kesulitan dan penganiayaan?

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Dujanah Mendapat Kehormatan Menggunakan Pedang Rasulullah

Ikut Baiat Aqabah Pertama

Ketika tiba kesempatan musim Haji, Nabi saw  berangkat ke arah Mina di dekat Aqabah dan mengarahkan pandangan kesana-kemari. Tiba-tiba pandangan Nabi saw tertuju pada sekelompok kecil penduduk Yatsrib yang langsung mengenali beliau saw seketika mereka melihatnya. Lalu, mereka menemui beliau saw dengan penuh kecintaan dan ketulusan.

Saat itu mereka berjumlah 12 orang. Lima orang diantara mereka telah beriman pada tahun yang sebelumnya. Sedangkan 7 sisanya adalah orang baru yang berasal dari kabilah Aus dan Khazraj. Nama-nama mereka ialah Abu Umamah As’ad Bin Zararah, Auf ibn Harits ibn Rifa ibn Afra, Rafi ibn Malik ibn Ajlan, Quthbah Bin Amir ibn Hadidah dan Uqbah Bin Amir ibn Naabi.”

Selanjutnya ialah Muadz bin Harits berasal dari kabilah bani Najjar, Dzakwan bin Abdu Qais dari kabilah Banu Zuraiq. Abu Abdur Rahman Yazid bin Tsa’labah dari Bani Baliyy, Ubadah bin Shamit dari Bani Auf kabilah Khazraj, Abbas bin Ubadah bin Nadhlah dari Bani Salim, Abul Haitsam bin At-Tayyihan dari Banu Abdul Asyhal dan Uwaim bin Saidah dari Banu Amru bin Auf, kabilah Aus.

Rasulullah saw kemudian mengajak mereka ke suatu lembah. Beliau saw menanyai kedua belas orang itu perihal keadaan Yatsrib.

Keduabelas orang Madinah itu semuanya baiat masuk Islam di tangan beliau saw. Baiat tersebut merupakan batu pondasi berdirinya Islam di Madinah.

Baiat tersebut yaitu, “Kami akan meyakini bahwa Tuhan itu satu, tidak akan berbuat syirk, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh, tidak akan menuduh buruk kepada siapa pun dan akan selalu taat kepada engkau (wahai Nabi) dalam setiap amalan saleh.”

Setelah baiat Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian tetap teguh pada janji tersebut dengan sebenar-benarnya, maka kalian akan meraih surga. Namun jika memperlihatkan kelemahan maka urusannya dengan Allah Ta’ala, Dia akan memperlakukan sesuai dengan yang Dia kehendaki.”

Dalam sejarah baiat ini dikenal dengan Baiat Aqabah Pertama, karena tempat yang digunakan untuk mengambil baiat adalah Aqabah yang terletak diantara Makkah dan Mina. Arti kata Aqabah adalah jalan pegunungan tinggi.

Uqbah bin Amir mendapat karunia untuk hadir dan terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting itu, sebagai pondasi berkembangnya Islam di masa awal.

Referensi:

  1. Al-Bidayah wan Nihaayah, Ibn Katsir.
  2. Sirah an-Nabawiyah, Ibn Hisyam.
  3. Al-Ishabah fi Tamyizish Shahaabah, Ibn Hajar.
  4. Sirah Khataman Nabiyyin, Mirza Basyir Ahmad.
  5. Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, 11 Januari 2019

Baca juga: [Sahabat Nabi] Jabir bin Abdullah Bisa Melunasi Hutangnya Berkat Doa Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan