Ukkasyah bin Mihshan radhiyAllahu ‘anhu salah satu sahabat terkemuka dari kaum Muhajirin. Beliau mendapat karunia untuk terakhirkalinya mencium tubuh suci Rasulullah saw dan mendapat keistimewaan menjadi kawan Rasulullah saw di Surga.  

Biografi Ukkasyah bin Mihsan

Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais bin Murrah bin Kabir bin Ghanam bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah. Bani Ghanam keturunan Bani Asad bin Khuzaimah adalah sekutu Bani Abdu Syams di Mekkah.

Beliau termasuk sahabat yang baiat di awal masa dakwah Rasulullah saw. Karena itu, beliau juga tidak luput dari siksaan orang-orang kufar Mekkah.

Ukkasyah ikut dalam Perang Badr dan berbagai perang lain bersama Rasulullah saw. Hadhrat Rasulullah saw juga secara khusus mengutus Ukkasyah sebagai komandan dalam berbagai Sariyah (ekspedisi).

Misalnya, Rasulullah saw mengutus Ukkasyah sebagai komandan 40 orang pasukan Islam pada bulan Rabiul awwal tahun 6 Hijri untuk menghadapi kabilah Bani Asad. Kabilah ini berada di dekat sebuah sumber mata air bernama Ghamar yang berjarak beberapa hari perjalanan dari Madinah ke arah Makkah.

Pasukan Ukkasyah segera berangkat untuk menghadapi kabilah Bani Asad. Ketika mereka mengetahui kabar kedatangan pasukan Muslim, mereka pun berhamburan kesana-kemari.

Ukkasyah dan pasukannya kemudian kembali ke Madinah dan tidak terjadi peperangan, mereka berupaya untuk menghindari peperangan tanpa sebab.

Ekspedisi ini kemudian dikenal dengan nama Ekspedisi Ghamar atau Ekspedisi Ukkasyah bin Mihshan.

Baca juga: Muadz bin Jabal: Sahabat Nabi yang Menjadi Mubaligh

Senjata Kayu dari Rasulullah

Saat Perang Badr, Ukkasyah adalah Sahabat Nabi yang menunggang kuda. Pada kesempatan itu Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat, “Penunggang kuda yang terbaik di Arab sekarang bersama dengan kita.”

Sahabat bertanya, “Siapa gerangan, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Ukkasyah putra Mihshan.”

Pada perang itu pedang beliau patah. Mendengar hal itu, Rasulullah saw menghadiahi sebatang kayu kepada beliau, yang mana seolah-olah di tangan beliau, kayu iyu menjadi pedang besi yang tajam yang beliau gunakan dalam peperangan sehingga Allah Ta’ala menganugerahkan kemenangan.

Dengan pedang itu jugalah beliau menyertai Rasulullah saw dalam berbagai peperangan. Pedang kayu itu menyertai beliau sampai akhir hayatnya. Nama pedang itu Al-‘Aun.

Baca juga: Syammas bin Utsman: Sahabat Nabi yang Syahid di Uhud

Termasuk Ahli Surga Tanpa Hisab

Hadhrat Rasulullah saw memberikan kabar suka kepada beliau bahwa beliau akan masuk ke dalam surga tanpa hisab.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Satu kelompok dari antara umat saya sebanyak tujuh puluh orang ribu akan masuk surga tanpa hisab dan wajah mereka akan bersinar seperti bulan pada malam ke-14.’”

Mendengar sabda Rasulullah saw itu, Ukkasyah berdiri mengangkat penutup mukanya dan mengatakan, “Wahai Rasulullah saw! Doakanlah saya, semoga Allah Ta’ala memasukkan saya kedalam golongan tersebut.” Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah! Masukkanlah dia dalam golongan tersebut.”

Ada Sahabat lain dari kalangan Anshar yang berdiri mengatakan, “Wahai Rasulullah saw! Doakanlah saya, semoga Allah Ta’ala memasukkan saya kedalam golongan tersebut.” Rasulullah saw bersabda, سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ  “Ukkasyah telah mendahuluimu.”

Baca juga: Sa’id bin Zaid: Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Kawan Rasulullah di Surga

Abdullah bin Abbas juga Jabir bin Abdillah meriwayatkan satu peristiwa ketika surah An-Nashr turun kepada Rasulullah saw.

إذا جاء نصر الله والفتح () ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجا () فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا

Setelah ayat-ayat itu turun, Rasulullah saw memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat berjamaah.

Setelah shalat, beliau saw menyampaikan pidato yang dengannya pecahlah tangisan para Sahabat. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Wahai orang-orang! Nabi seperti apakah saya ini?”

Mendengar hal itu orang-orang menjawab, “Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran kepada anda, anda adalah nabi yang terbaik, layaknya seorang ayah yang penyayang bagi kami dan layaknya saudara yang mencintai dan tulus menasihati kami. Anda telah menyampaikan pesan dan wahyu Allah kepada kami  dan menyeru kami kepada jalan Tuhan engkau dengan hikmat dan nasihat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada anda ganjaran terbaik yang Dia berikan kepada para Nabi-Nya.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Wahai umat Muslim! Saya katakan kepada kalian dengan sumpah demi Allah jika saya pernah berbuat aniaya kepada salah seorang diantara kalian, silahkan bangkit dan balaslah terhadap saya.”

Namun tidak ada yang bangkit. Lalu beliau saw mengatakan lagi dengan bersumpah, namun tidak ada yang bangkit. Lalu beliau mengatakannya untuk yang ketiga kali, “Saya katakan kepada kalian dengan sumpah demi Allah jika saya pernah berbuat aniaya kepada salah seorang diantara kalian, silahkan bangkit dan balaslah terhadap saya sebelum saya dituntut pembalasan di hari Qiamat.”

Ditengah-tengah para Sahabat terdapat Ukkasyah bin Mihshan, beliau mendekat sampai berhadapan dengan Rasulullah saw dan berkata: “Demi ayah dan ibu saya, wahai Rasulullah saw, kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak akan berdiri.”

Kemudian Ukkasyah berkata lagi: “Sesungguhnya dalam banyak perang, saya bersama Anda, wahai Rasulullah. Pada masa itu saya mengikuti unta Anda dari belakang. Setelah dekat, saya pun turun dari unta saya menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium kaki Anda. Tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta Anda untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu cambuk itu mengenai saya. saya tidak tahu apakah Anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta tersebut.”

Hadhrat Rasulullah saw berkata: “Wahai Ukkasyah, demi Tuhan, tidak mungkin saya sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah saw berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.”

Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah dan berkata kepada Fatimah, “Wahai putri Rasulullah! Berikan tongkat Rasulullah padaku”. Kemudian Fatimah berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya, apakah ini hari peperangan bukan haji?.”

Berkata Bilal: “Sungguh engkau tidak tahu perihal ayah anda, Rasulullah. Beliau tengah menyampaikan perpisahan kepada orang-orang dan sebelum kewafatannya dan tengah meminta balasan dari orang-orang.”

Fatimah bertanya lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hati mau membalas kepada Rasulullah?”

Beliau juga mengatakan, “Wahai Bilal! katakan pada Hasan dan Husain untuk berdiri di hadapan orang itu dan meminta balasan dari orang itu.”

Maka, Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah saw. Setelah Rasulullah saw menerima tongkat tersebut dari Bilal maka beliau pun menyerahkan kepada Ukkasyah.

Melihat hal demikian maka Abu Bakr dan Umar tampil ke depan sambil berkata: “Wahai Ukkasyah, janganlah kamu balas Rasulullah balaslah atas kami berdua dan jangan katakan apa-apa kepada Rasulullah.”

Rasulullah saw berkata: “Wahai Abu Bakr! Wahai Umar! Duduklah kalian berdua, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatnya untuk Anda berdua.”

Kemudian Ali bangun, lalu berkata, “Wahai Ukkasyah! Saya adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah. Oleh karena itu, Anda pukullah saya dan janganlah membalas Rasulullah. Ini tubuh saya. Silahkan cambuki mau 100 kali pun”. Lalu Rasulullah saw berkata, “Wahai Ali duduklah. Sesungguhnya Allah telah menetapkan tempat Anda dan mengetahui isi hati Anda.”

Setelah itu, Hasan dan Husain bangun dengan berkata: “Wahai Ukkasyah, bukankah Anda tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah? Balaslah kepada kami sama jika Anda ingin memukul Rasulullah.”

Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah saw pun berkata, “Wahai qurrata ‘aini (buah hatiku)! Duduklah kamu berdua.”

Rasulullah saw kemudian bersabda, “Wahai Ukkasyah pukullah saya.”

Kemudian Ukkasyah berkata: “Ya Rasulullah, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah saw pun membuka baju. Setelah Rasulullah saw membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Mereka mengatakan, “Hai Ukkasyah, apakah kamu benar benar mau memukul Rasulullah saw?”

Setelah Ukkasyah melihat putih tubuh Rasulullah saw maka beliau pun segera membungkuk dan mencium perut beliau saw, Ukkasyah berkata, “Saya tebus engkau dengan jiwa saya, wahai Rasulullah, siapakah yang sanggup memukul Anda.”

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Anda akan memukul saya atau memaafkan saya?”

Ukkasyah menjawab, “Ya Rasulullah saw, saya telah memaafkan supaya Allah memaafkan saya pada hari kiamat nanti.”

Kemudian Rasulullah saw berkata, “Dengarlah Anda sekalian, sekiranya Anda hendak melihat kawan ahli surga, maka orang tua inilah.”

Kemudian semua para jemaah bangkit dan mencium kening Ukkasyah dan menyampaikan ucapan Mubarak (selamat) padanya dan mengatakan, “Berbahagianya Anda yang telah mendapatkan maqam tinggi dan kedekatan dengan Rasulullah saw di surga.”

Ukkasyah bin Mihsan sangat beruntung. Ketika Rasulullah saw mengabarkan perihal akan berpulangnya ke hadirat Ilahi, beliau memanfaatkan kesempatan tersebut untuk tidak hanya mengecup bahkan mencium tubuh Rasulullah saw.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah Rasulullah

Referensi:

  1. Sirat Khataman Nabiyyin – Mirza Basyir Ahmad
  2. Khutbah Jum’at – Mirza Masroor Ahmad, 1 Juni 2018.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan