[Sahabat Nabi] Ubadah Bin Shamit Dipercaya Mengajarkan Al-Quran

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ubadah bin shamit

Ubadah Bin Shamit radhiyAllahu ta’ala ‘anhu seorang sahabat dari kalangan Anshar yang dipercaya oleh Rasulullah saw untuk mengajarkan Al-Quran.

Biografi Ubadah bin Shamit

Ayahanda beliau bernama Shamit Bin Qais dan ibunda beliau bernama Qurratul Ain binti Ubadah. Beliau memiliki seorang saudara laki-laki, yaitu Aus bin Samit.

Ubadah Bin Shamit adalah pemimpin Anshar Kabilah Khazraj keluarga Banu Auf Bin Khazraj yang dikenal dengan sebutan Qawaqil. Qawaqil adalah para pemimpin Madinah yang memberikan perlindungan.

Beliau memiliki putra bernama Walid dari istrinya yang bernama Jameelah Binti Abu Sha’sha’ah, putra kedua Ubadah bernama Muhammad, dari istri beliau yang bernama Ummi Haraam binti Milhaan.

Ciri-ciri fisiknya, Ubadah Bin Shamit digambarkan, berpostur tubuh tinggi dan bidang dan berwajah tampan.

Ubadah Bin Shamit sebagai salah satu tokoh Madinah yang disegani ikut serta pada Baiat Aqabah pertama dan Kedua. Dengan demikian beliau termasuk Sahabat yang baiat dimasa awal. 

Setelah peristiwa hijrah, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Ubadah Bin Shamit dengan Abu Martsad.

Ubadah Bin Shamit ikut serta pada Perang Badr, Perang Uhud, Perang Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw. Aus juga adalah sahabat Badr.

Tercatat, Ubadah Bin Shamit meriwayatkan hadits Rasulullah saw sampai berjumlah 181. Berbagai riwayat hadits yang beliau sampaikan yang mana perawinya dari antara sahabat besar dan Tabiin. Seperti Anas Bin Malik, Jabir Bin Abdillah, Miqdaam Bin Madi Karb dan lain-lain.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Sulaim bin Milhan Syahid Di Bir Maunah

Ahli Al-Qur’an

Pada zaman Nabi yang mulia saw, lima orang dari kalangan Anshar telah mengkompilasi Al-Quran. Mereka yaitu, Muadz Bin Jabal, Ubay bin Ka’b, Abu Ayyub Anshari, Abu Darda dan  Ubadah Bin Shamit

Beliau salah satu Sahabat yang dipercaya oleh Rasulullah saw untuk mengajarkan Al-Quran, hingga sampai pada masa Khalifah Umar Bin Khattab, Ubadah Bin Shamit diutus untuk mengajarkan Al-Quran hingga ke Palestina.

Ubadah Bin Shamit menceritakan satu peristiwa, katanya, “Rasulullah saw adalah seorang yang sangat sibuk. Jika ada orang dari kalangan Muhajirin datang ke hadapan Rasulullah saw, maka Rasulullah saw menyerahkannya kepada salah seorang dari antara kami untuk mengajarkannya Al-Quran dan ilmu agama. Suatu ketika Rasulullah saw menyerahkan seseorang kepada saya, lalu orang tersebut tinggal bersama saya di rumah dan ikut serta makan bersama dengan kami, saya mengajarkan kepadanya Al-Qur’an. Ketika orang tersebut akan pulang setelah selesai belajar, ia berpikiran untuk memberikan sesuatu hadiah kepada saya karena saya telah mengkhidmatinya dan mengajarnya Al Quran. Ia menghadiahkan sebuah panah kepada saya dan berkata bahwa panah ini terbuat dari kayu berkualitas tinggi, saya tidak pernah melihat panah yang lebih baik dari itu. Lalu saya hadir ke hadapan Rasulullah saw dan menanyakan pendapat Rasulullah saw bahwa ada yang memberikan hadiah seperti itu.”

Menjawab pertanyaan Ubadah Bin Shamit, Rasul bersabda:

 جَمْرَةٌ بَيْنَ كَتِفَيْكَ تَقَلَّدْتَهَا أَوْ تَعَلَّقْتَهَا

“Itu berarti bara api diantara dua pundakmu yang kau kenakan atau kau gantungkan” . (Musnad Ahmad bin Hanbal No. 21703)

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda,

 إِنْ سَرَّكَ أَنْ تُطَوَّقَ بِهَا طَوْقًا مِنْ نَارٍ فَاقْبَلْهَا

“Jika Anda senang menggantungkan bara api di leher, silahkan terima.” (Musnad Ahmad bin Hanbal No. 21632)

Hadiah panah tersebut merupakan imbalan karena telah mengajarkan Al-Qur’an dan perbuatan itu tidak disukai oleh Rasulullah saw.

Merupakan pelajaran bagi mereka yang secara pribadi menjadikan pengajaran Al Quran sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Basyir bin Sa’ad Berhasil Menjalankan Perintah Rasulullah

Pesan Ubadah Bin Shamit

Athaa meriwayatkan, “Saya bertemu dengan Walid, yang adalah putera dari Ubadah Bin Shamit, sahabat Rasulullah. Saya bertanya kepadanya, Apa wasiyat dari Ayah anda ketika meninggal?’

Ia menjawab, Beliau memanggil saya dan berkata, Wahai Anakku! Takutlah kepada Allah dan ketahuilah bahwa engkau tidak bisa bertakwa kepada Allah Ta’ala selama engkau tidak beriman kepada Allah Ta’ala dengan keimanan yang sempurna, dan beriman kepada segala taqdir yang baik maupun yang buruk… Jika engkau mati di atas akidah lain selain ini maka akan masuk ke dalam api. (Al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Bathah)

Diriwayatkan dari Junadah Bin Abu Umayyah, Kami pernah pergi menjenguk Ubadah yang sedang sakit. Kami berkata, ‘Semoga Allah memberikan kesehatan kepada anda. Ceritakanlah suatu hadits yang anda dengar dari Rasulullah sehingga memberikan manfaat kepada Anda.

Beliau berkata, Rasulullah sawmemanggil kami dan kami bai’at kepada beliau. Perkara-perkara yang atasnya beliau saw mengambil bai’at dari kami adalah, kami berbai’at untuk mendengar dan taat baik dalam suka maupun duka, baik dalam kesempitan maupun kelapangan, dan meskipun pemimpin itu mementingkan dirinya sendiri atas kami. Kami juga tidak akan menentang penguasa, kecuali kekufuran yang jelas, yang mengenainya ada hujjah dari Allah Ta’ala. Kecuali terpaksa karena kekufuran yang jelas dan terang-terangan maka ini adalah hal lain. Dan itu pun jika memiliki kapasitas untuk melakukan itu. (Muslim No. 3427)

Shunabihi meriwayatkan, Saya pergi kepada Ubadah Bin Shaamit ketika maut menjelang beliau.

Kemudian beliau berkata, Demi Allah! Setiap hadits yang saya dengar dari Rasulullah saw yang di dalamnya ada kebaikan untukmu, saya telah menyampaikannya kepadamu, kecuali satu hadits yang hari ini akan saya beritahukan kepadamu ketika kematian tengah menjelang. Saya mendengar dari Rasulullah saw bersabda,

 مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ مِثْلَهُ قَالَ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِ النَّارَ

“Siapa yang memberikan kesaksian bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah – yakni ia adalah seorang Muslim – maka Allah Ta’ala akan mengharamkan neraka baginya.”  (Musnad Ahmad bin Hanbal No.21653)

Baca juga: [Sahabat Nabi] Mushab bin Umair Tinggalkan Kemewahan Demi Keimanan

Wafat

Ubadah wafat pada tahun 34 Hijriah di Ramlah Palestina. Sebagian berpendapat, beliau wafat di Baitul Muqaddas dan dimakamkan di sana.

Berdasarkan satu riwayat, Ubadah wafat di Qabras, tempat mana beliau diutus oleh Khalifah Umar Bin Khattab sebagai Wali (Amir atau pemimpin daerah). Beliau wafat pada usia 72 tahun,

Sebagian berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 45 Hijriah pada masa Amir Muawiyah. Akan tetapi, pendapat sebelumnya lebih sahih yang menyatakan bahwa beliau wafat pada tahun 34 Hijriah di Palestina.

Itulah Ubadah Bin Shamit, Sahabat Nabi yang senantiasa ingat dan perpegang teguh keapda perintah Rasulullah saw.

Referensi: Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 30 Agustus 2019 & 06 September 2019 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Uqbah bin Amir Salah Satu Pelopor Berkembangnya Islam di Madinah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan