Sulaim bin Milhan Al-Anshari radhiyAllahu ‘anhu Sahabat Nabi saw dari kalangan Anshar. Seperti saudaranya, Haram bin Milhan, beliau juga syahid di Bir Maunah.

Biografi Sulaim bin Milhan

Ayahanda Sulaim bin MIlhan bernama Milhan (Malik) bin Khalid dari Banu Adi bin An Najjar, dan Ibunda beliau bernama Mulaikah binti Malik bin Adi.

Haraam, Sulaim, Ummu Sulaim (Humaisha) dan Ummu Haraam adalah kakak-beradik putra dan putri Milhaan bin Khalid  dari Banu Adi bin An Najjar.

Ummu Haraam adalah istri Ubadah bin Samit sedangkan Ummu Sulaim istri dari Abu Talha al-Anshari. Putra Ummu Sulaim adalah Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw.

Sulaim bin Milhan ikut serta pada Perang Badr, Perang Uhud beserta dengan saudara beliau Haram bin Milhan. Beliau berdua syahid pada peristiwa Bir Maunah.

Baca juga: Haram bin Milhan: 1 dari 70 Sahabat Nabi yang Disyahidkan di Bir Maunah

Delegasi Dari Nejd

Kabilah-kabilah seperti Sulaim dan Ghathfaan yang terletak di tengah-tengah Arab bersekutu dengan bangsa Quraisy dalam memusuhi umat Muslim dan berusaha untuk menghancurkan Islam.

Secara perlahan kejahatan kabilah-kabilah yang jahat itu semakin meningkat dan berhasil menularkan racun permusuhan kepada orang-orang Arab untuk menentang Islam.

Dalam keadaan demikian itu seseorang bernama Abu Bara Amir bin Malik bin tokoh kabilah Arab kalangan Banu Amir datang menemui Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw menyampaikan tabligh Islam dengan penuh kelembutan. Meskipun pada lahiriahnya ia mendengarkan penyampaikan tabligh dengan serius tetapi tidak baiat.

Lalu ia memohon kepada Rasulullah saw, “Mohon utuslah beberapa sahabat bersama saya ke Nejd untuk bertabligh ke daerah Nejd. Mudah-mudahan penduduk Nejd tidak menolak Islam.”

Namun Rasulullah saw bersabda, “Saya tidak percaya dengan penduduk Nejd.” Abu Bara berkata, “Tuan tidak perlu khawatir, saya jamin keselamatannya.”

Karena Abu Bara adalah pemuka kabilah dan orang berpengaruh, Rasulullah saw meyakini ucapannya. Selanjutnya, beliau saw mengutus sekelompok Sahabat ke daerah Nejd.

Datang ke hadapan Rasulullah saw beberapa orang dari kabilah-kabilah Banu Ra’i, Dzikwaan, ‘Ushayyah dan lain-lain yang merupakan ranting kabilah Banu Sulaim yang terkenal.

Akhirnya Rasulullah saw pada bulan Shafar tahun 4 Hijriyah mengutus satu kelompok sahabat dibawah pimpinan Mundzir bin Amru.

Mayoritas mereka adalah Sahabat Anshar yang berjumlah 70 orang. Semuanya adalah Qurra Al-Quran yakni para ahli Al-Quran.

Ketika delegasi itu samapai di satu tempat yang bernama Bir Maunah (Sumur Maunah), mereka memasang kemah untuk istirahat di tempat itu.

Sementara mereka beristirahat, seorang Sahabat yaitu Haram bin Milhan, paman Anas bin Malik diutus untuk menemui Amir bin Thufail pemimpin kabilah Banu Amir, keponakan Abu Bara Amir bin Malik untuk menyampaikan tujuan kedatangan mereka.

Ketika Haram bin Milhan sebagai pengantar pesan Rasulullah saw sampai ke tempat Amir bin Tufail dan kawan-kawannya, mereka bersikap pura-pura menyambutnya secara baik, namun ketika Haraam bin Milhan terduduk tenang untuk mulai menyampaikan pesan Islam, sebagian dari antara orang jahat itu memberikan isyarat kepada salah seorang diantara mereka untuk menombak Haraam bin Milhan dari belakang sehingga beliau terjatuh di tempat.

Saat itu keluar kalimat dari mulut Haram ibn Milhan yang berbunyi,

 اللَّهُ أَكْبَرُ، فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ‏

“Allahu Akbar! Aku bersumpah demi Tuhan Pemilik Ka’bah bahwa aku telah sampai pada tujuan (aku telah berhasil).”

Baca juga: Haritsah bin an-Nu’man Menyerahkan Rumahnya untuk Rasulullah dan Fatimah

Syahid di Bir Maunah

Setelah berhasil membunuh Haram bin Milhan dengan keji, Amir bin Thufail kemudian mengajak kabilah Banu Amir untuk menyerang Munzir bin Amru dan para Sahabat lainnya yang sedang istirahat di Bir Maunah.

Namun kabilah Banu Amir menolak ajakan Amir bin Thufail, mereka mengatakan, “Kami tidak akan menyerang umat Muslim yang dalam tanggungjawab perlindungan Abu Bara Amir bin Malik.”

Kemudian Amir bin Thufail mengajak orang-orang Banu Sulaim, Banu Ra’l, Dzikwaan, ‘Ushayyah dan lain-lain.

Ternyata mereka menerima ajakan Amir bin Thufail untuk menyerang delegasi Islam yang sedang istirahat di Bir Maunah itu.

Padahal mereka sebelumnya yang mengirim utusan kepada Rasulullah saw meminta diutus orang-orang yang akan mengajarkan Islam kepada mereka.

Ketika delegasi Islam itu melihat orang-orang buas itu menghampiri mereka, mereka tidak lari menyelamatkan diri. Munzir bin Amru dan para Sahabat lainya berusaha menjelaskan tujuan  ditusnya mereka oleh Rasulullah saw.

Mereka mengatakan, “Kami datang ke sini tidak untuk berperang, melainkan diutus oleh Rasulullah saw untuk melakukan suatu tugas, tidak ada maksud untuk bertempur dengan kalian.”

Namun Amir bin Thufail dan orang-orang buas itu tidak mempedulikannya,  Mereka dengan kejamnya membunuh semua delegasi itu.

Ketika Sulaim bin Milhaan juga Hakam bin Kisaan dikepung, mereka mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنَّا لا نَجِدُ مَنْ يُبَلِّغُ رَسُولَكَ مِنَّا السَّلامَ غَيْرَكَ ، فَأَقْرِئْهُ مِنَّا السَّلامَ

“Ya Tuhan! Selain Engkau tidak kami dapati lagi Yang dapat menyampaikan salam kami kepada Rasulullah saw, untuk itu Engkau sampaikanlah salam kami kepada beliau.”

Umat Islam tidak ada yang mengetahui peristiwa pembantaian itu karena memang jaraknya yang jauh dari Madinah, namaun Malaikat Jibril menyampaikan kabar duka itu kepada Rasulullah saw. Mengetahui peristiwa itu Rasulullah saw pun amat berduka.

Sulaim bin Milhan dan para Sahabat lainnya yang berjumlah 70 orang itu menghadapi musuh dengan penuh keberanian meskipun mereka tidak membawa persenjataan karena memang mereka pergi bukan untuk berperang dan di tempat itulah mereka disyahidkan.

Referensi:

Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 25 Januari 2019, di Masjid Baitul Futuh, Morden UK.

Baca juga: Abdullah bin Jubair Taati Perintah Rasulullah Hingga Syahid


0 Komentar

Tinggalkan Balasan