[Sahabat Nabi] Mushab bin Umair Tinggalkan Kemewahan Demi Keimanan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat-nabi-mushab-bin-umair

Mushab bin Umair radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu termasuk Sahabat Nabi saw yang baiat dimasa awal dari kalangan pemuda Mekkah. Beliau berasal dari keluarga kaya dan hidup dalam kemewahan namun setelah beriman, semuannya beliau tinggalkan.

Biografi Mushab bin Umair

Nama kuniyahnya Abu Abdillah, selain itu dipanggil juga Abu Muhammad. Beliau berasal dari Quraisy, kabilah Banu Abdi Daar.

Ayahanda beliau Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Daar bin Qushay, dan Ibunda beliau bernama Khunas atau Hanas binti Malik, seorang hartawan wanita di Mekkah.

Sedangkan istri Mushab bin Umair bernama Hamnah Binti Jahsy yang merupakan saudari salah satu istri suci Rasul, Ummul Mukminiin Zainab binti Jahasy.

Mushab bin Umair merupakan salah satu diantara sahabat agung dan baiat pada masa awal lahirnya Islam. Beliau baiat ketika Rasulullah bertabligh di Darul Arqam, namun beliau menyembunyikannya karena khawatir akan ditentang oleh ibunda dan kaum beliau.

Beliau mendapatkan kehormatan melakukan hijrah dua kali yakni hijrah ke Habsyah dan Madinah.

Beliau adalah pemuda yang sebelum peristiwa Hijrah ke (Yasrib) Madinah ditetapkan oleh Rasulullah sebagai muballigh Islam pertama yang ditugaskan untuk menyampaikan tablligh Islam di Madinah, dengan perantaraannya Islam menyebar di Madinah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ukkasyah bin Mihsan Kawan Rasulullah di Surga

Dari Keluarga Kaya

Mushab bin Umair berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Orang tua beliau sangat mencintai dan memanjakannya. Segela keperluan dan kebutuhannya selalu terpenuhi.

Ibunda beliau membesarkannya dengan penuh kemewahan, memberinya makan yang enak-enak, pakaian yang berkualitas tinggi dan mewah. Beliau juga biasa memakai sepatu Hadhrami, yang biasa dipakain oleh para hartawan.

Selama masa mudanya Mushab bin Umair terlihat menawan. Beliau biasa mengenakan paiakan mewah dan menggunakan wewangian Mekah yang bermutu tinggi.

Singkatnya, kehidupan Mushab bin Umair sebelum beriman kepada Rasulullah saw dalam keadaan berkecukupan dan mewah.

Bahkan Rasululullah saw pernah bersabda tentang Mushab bin Umair, “Aku tidak pernah melihat di Mekkah orang yang lebih rupawan, lebih mewah dan mendapatkan berbagai fasilitas lebih lengkap daripada Mushab.” (Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitab Ma’rifatish Shahaabah)

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ammar bin Yasir Tetap Teguh Keimanannya Meski Disiksa Habis-habisan

Berimannya Mushab bin Umair

Akhirnya, ketika Rasulullah saw mendakwakan diri sebagai Nabi dan menyampiakan tabligh Islam, maka Mushab bin Umair yang masih muda itu pun tertarik dan kemudian baiat, beriman kepada pendakwaan Rasulullah saw.

Mushab bin Umair awalnya merahasiakan keimanannya, beliau khawatir orang tua dan keluarga besarnya tidak menyetujuianya. Beliau biasa hadir dihadapan Rasulullah saw secara sembunyi-sembunyi.

Namun, suatu ketika Usman bin Talha melihat beliau sedang shalat, ia pun langsung melaporkannya kepada keluarga Mushab.

Mengetahui kenyataan itu, ibunya pun menjadi murka dan mengizinkan orang-orang dari keluarganya sendiri untuk menyiksa Mushab bin Umair agar beliau melepas keimanannya. Namun beliau tetap teguh dalam keimanannya.

Sampai-sampai beliau kemudian dikurung, beliau dilarang pergi kemana-mana, apalagi menjumpai Rasulullah saw.

Ketika mendapatkan kesempatan, beliau kemudian melarikan diri, lalu pergi hijrah ke Habsyah bersama para Sahabat lain, sebagaimana himbawan Rasulullah saw.

Selang beberapa masa, ketika sebagian Muhajirin kembali dari Habsyah ke Mekkah. Ketika ibunda beliau melihat keadaan beliau yang penuh derita, ibunda beliau menghentikan penentangan dan membiarkan anaknya dalam keadaan demikian.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah

Keadaan Musahb bin Umair Seteleh Beriman

Setelah beriman kehidupan Mushab bin Umair berubah 180 derajat, kehidupan mewah dan bergelimang harta berubah menjadi kesusahan dan penderitaan-penderitaan, beliau hidup misikin dan serba kekurangan.

Saad bin Abi Waqqash berkata, “Saya telah melihat Mushab pada masa kemewahannya dan setelah keislamannya juga. Ia banyak menerima penderitaan di jalan Allah. Dahulu [saat belum Islam dan bersama orang tuanya], ia adalah pemuda yang bergelimang dalam kemewahan. Sekarang saya melihatnya berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Islam hingga saya pernah melihat kulitnya kering bersisik seperti sisik ular (pecah-pecah mengelupas) yang lalu muncul kulit baru.  (Siyaar A’lamin Nubala, adz-Dzhabi)

Pada suatu hari para Shahabat duduk-duduk bersama Rasulullah saw di masjid. Muncullah Mushab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan.

Ketika Rasulullah saw melihatnya, beliau saw pun menangis, teringat akan kenikmatan-kenikmayan yang Mushab dapatkan dahulu sebelum memeluk Islam dibandingkan dengan keadaannya setelah beriman.

Para Shahabat pun menundukkan kepala, karena mereka semua tahu dan menyaksikan sendiri keadaan Mushab saat dulu masih kaya raya dan penuh kenyamanan.

Sekarang kondisinya begitu melarat dan para Shahabat pun dalam keadaan yang sama-sama lemah untuk menolongnya. Mushab bin Umair lalu mendekat dan mengucapkan salam. Nabi saw dan mereka menjawab salamnya dengan penuh kecintaan dan sepenuh hati.

Nabi saw lalu menghiburnya dengan bersabda, “Segala pujian milik Allah, semoga orang-orang yang berusaha memperoleh harta benda duniawi dikabulkan. Aku dulu telah melihat Mushab saat ketika tidak ada seorang pun yang lebih kaya daripada dia di Mekkah. Ia merupakan anak kesayangan orangtuanya, ia menikmati semua jenis makanan dan minuman yang terbaik. Namun, kecintaannya kepada Rasul Allah membawanya kepada keadaan yang sekarang ini, dan ia mengorbankan semuanya demi meraih ridha Allah sehingga Allah pun menanamkan nur di wajahnya.” (Ath-Thabaqaat al-Kubra, Ibnu Sa’d)

Itulah Sahabat Nabi, Mushab bin Umair rela meninggalkan segala kekayaan dan kemewahan yang dimilikinya demi meraih ridha Allah Taala.

Referensi:

  1. Sirat Khataman Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad
  2. Khotbah Jumat, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 Februari 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK

Baca juga: Abdullah bin Jubair Taati Perintah Rasulullah Hingga Syahid


0 Komentar

Tinggalkan Balasan