[Sahabat Nabi] Muhammad bin Maslamah Mematahkan Pedang Pemberian Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

muhammad-bin-maslamah

Muhammad bin Maslamah radhiyAllahu ‘anhu Sahabat Nabi saw dari kalangan Ansahar yang berpendirian lurus dan sangat taat. Beliau seorang yang dapat dipercaya sekaligus juga seorang pemberani.

Biografi Muhammad bin Maslamah

Nama pangilan beliau Abu Abdullah. Beliau berasal dari kabilah Aus, diperkirakan lahir 22 tahun sebelum Bi’tsah (pengutusan Nabi saw), berarti beliau 18 tahun lebih muda dibanding Rasulullah saw karena saat diangkat sebagi Nabi, Rasulullah saw berumur 40 tahun.

Ayahanda beliau bernama Maslamah bin Salma dan ibunda beliau dipanggil Ummi Sahm yang nama aslinya Khulaidah binti Abu Ubaid.

Pada masa itu penduduk Yahudi Madinah tengah menantikan seorang nabi yang telah dikabarkan kedatangannya oleh Nabi Musa. Mereka mengatakan bawa, nabi yang akan diutus itu bernama Muhammad.

Ketika penduduk Arab mendengarnya mulailah mereka memberikan nama anak-anak mereka dengan nama Muhammad. Karena itulah Muhammad bin Maslamah diberi nama Muhammad oleh orang tuannya.

Tidak hanya Muhamad bin Maslamah, banyak juga yang lain dimasa beliau yang diberi nama Muhammad.

Bahkan Abdul Wahab asy-Sya’rani menulis 15 nama orang yang bernama Muhammad yaitu, Muhammad bin Sufyan, Muhammad bin Uhaihah, Muhammad bin Humran, Muhammad bin Khuza’iy, Muhammad bin Adi, Muhammad bin Usamah, Muhammad bin Bar, Muhammad bin Harits, Muhammad bin Hirmaz, Muhammad bin Khauli, Muhammad bin Yahmad, Muhammad bin Yazid, Muhammad al-Usaidi, Muhammad al-Fuqaimi, dan Muhammad bin Maslamah.

Dari segi fisik Muhammad bin Maslamah digambarkan, mempunyai postur tubuh yang besar jika dibandingkan dengan para sahabat yang lain. Orangnya pendiam dan serius.

Beliau dikarunia keturunan yang terdairi dari 10 putra dan 6 putri diantaranya bernama Ja’far, Abdullah, Sa’d, Abdur Rahman dan Umar.

Muhammad bin Maslamah termasuk Muslim awalin. Beliau baiat di tangan Mushab bin Umair sebelum Sa’ad bin Mu’adz.

Setelah peristiwa Hijrah ke Madinah, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Muhammad bin Maslamah dengan Ubaidah bin Al Jarrah.

Baca juga: Aamir bin Fuhairah Pelayan Rasulullah dan Abu Bakr ketika Hijrah

Penghidmatan dalam Islam

Beliau ikut serta dalam Perang Badr, Perang Uhud, dan seluruh peperangan lainnya kecuali Perang Tabuk. Atas seizin Rasulullah saw, beliau tetap tinggal di Madinah pada saat Perang Tabuk.

Pada Perang Uhud, beliau tetap berdiri berjuang dengan berani di samping Rasulullah saw dengan sangat gigihnya. Rasulullah saw memberinya gelar sebagai “Pahlawan Rasulullah”.

Muhammad bin Maslamah dari sejak masa Rasulullah saw hingga para khalifah selalu medapatkan tugas-tugas penting dan jabatan tinggi. Hal itu dikarenakan beliau seorang yang memiliki integritas tinggi, ketaatan dan dapat dipercaya. 

Kerana sikap amanah, jujur dan tegas dalam menjalankan tugas, beliau diangkat sebagai pengawas oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam mengawasi perilaku dan kepribadian wakil khalifah di seluruh kekhalifahan.

Baca juga: Haritsah bin an-Nu’man Menyerahkan Rumahnya untuk Rasulullah dan Fatimah

Mematahkan Pedang Rasulullah

Muhammad bin Maslamah mendapatkan keberuntungan dan kehormatan, beliau diberi hadiah oleh Rasulullah saw berupa sebilah pedang.

Rasulullah saw berpesan kepada beliau, “Selama bertempur melawan orang-orang Musyrik, maka kamu harus terus memerangi mereka dengan pedang ini. Namun, ketika tiba waktunya saat orang-orang Islam saling berperang satu sama lain, kamu harus mematahkan pedang ini, dan tetap diam di rumah sampai seseorang membunuhmu atau kematian menghampirimu.”

Muhammad bin Maslamah melaksanakan nasehat Nabi saw tersebut dengan sebaik-baiknya. Hingga sampai pada peristiwa yang menyedihkan, terjadinya kerusuhan-kerusuhan hingga Khalifah Utsman bin Affan disyahidkan.

Setelah peristiwa itu, Muhammad bin Maslamah melaksanakan wasiat Rasulullah saw yang disampaikan kepadanya. Beliau patahkan pedang pemberian Rasulullah saw itu. Sebagai penggantinya beliau menggunakan sebilah pedang kayu untuk berjaga-jaga.

Seseorang bertanya kepada beliau: “Apa gunanya itu?” Beliau menjawab, “Ini untuk menimbulkan ru’ub (keseganan) di hati orang-orang saja. Saya telah melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Saya tidak akan membawa pedang besi sesuai dengan nasehat Nabi, tapi pedang kayu tidak akan menyakiti siapapun.”

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Hidup Mengasingkan Diri

Sejak syahidnya Khalifah Utsman hingga masa Khalifah Ali, fitnah dan bibit perpecahan terus melanda Umat Islam.

Guna menjaga diri beliau dari kerusuhan saat itu, maka beliau pergi mengasingkan diri di bukit Uhud. beliau berkata, “Jika kerusuhan ini tidak berakhir saya akan menghabiskan hidup saya di pengasingan.”

Beliau menghindarkan diri dari fitnah dan tidak ikut serta dalam perang Jamal dan Shiffin (dua perang sipil sesama Umat Islam di masa Khalifah Ali).

Dhubai’ah bin Hushain ats-Tsa’labi meriwayatkan, “Kami duduk di dekat Hudzaifah, beliau mengatakan, ‘Saya mengetahui satu orang yang fitnah tidak bisa mendatangkan kerugian kepadanya.’”

Kemudian Dhubai’ah bertanya, “Siapa dia?” Abu Hudzaifah menjawab, “Dia adalah Muhammad bin Maslamah Al-Anshari.”

Dhubai’ah pernah menjumpai Muhammad bin Maslamah di gubuknya, tempat beliau mengasingkan diri.

Ia berkata kepada Muhammad bin Maslamah, “Semoga Allah Ta’ala mengasihi anda. Saya melihat bahwa anda adalah termasuk diantara orang-orang Islam yang terbaik. Anda meninggalkan kota Anda, rumah Anda, sanak keluarga Anda dan tetangga Anda.”

Beliau berkata, “Saya meninggalkan semuanya dikarenakan kebencian saya terhadap keburukan…”

Saat para Sahabat berperang, alasan di balik peperangan mereka ialah karena musuh menyerang Islam, dan karena Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir yang berusaha memerangi Islam dan bermaksud untuk melenyapkannya.

Selama kaum Muslim didasarkan pada hal itu, mereka tetap kuat dan menang, akan tetapi ketika mereka mulai berperang di antara mereka sendiri karena tertipu oleh kata-kata orang munafik, maka mereka tidak lagi bersatu.

Pemerintahan Islam terlihat ada secara lahiriah namun perlahan melemah hingga hancur untuk selamanya. Akhirnya, Umat Islam  pun tercerai berai hingga saat ini. [madj]

Referensi: Khutbah Jumta, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, 16 Maret 2018,  07 Februari 2020 dan 14 Februari 2020

Baca juga: Bisyr bin Baraa, Sahabat Nabi yang Wafat Diracun


0 Komentar

Tinggalkan Balasan