[Sahabat Nabi] Muadz Bin al-Harits Pemuda Yang Ikut Menewaskan Abu Jahal

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi muadz bin al-harits

Muadz bin al-Harits radhiyAllahu ta’ala ‘anhu termasuk Sahabat Nabi dari kaum muda Anshar, beliau kemungkinan salaha satu Sahabat yang berperan dalam tewasnya Abu Jahal saat Perang Badr.

Biografi Muadz bin al-Harits

Muadz bin al-Harits berasal dari kalangan Anshar kabilah Khazraj, ranting Banu Malik bin Najjar. Ayahanda beliau bernama al-Harits bin Rafaah. Ibunda beliau bernama Afra binti Ubaid.

Muadz memiliki dua orang saudara, yaitu Muawwidz dan Auf. Selain kepada ayah, mereka bertiga dalam panggilan dihubungkan kepada ibunya dan ketiganya disebut dengan Banu Afra. Sehingga namanya menjadi Muadz bin Afra.

Muadz bin al-Harits termasuk kalangan Anshar yang beriman dimasa awal beriman, Muadz termasuk delapan Anshar yang beriman kepada Rasulullah saw pada kesempatan Baiat Aqabah Pertama. Beliau juga hadir pada Baiat Aqabah Kedua.

Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Muadz bin al-Harits dengan Mamar bin Harist.

Muadz bin al-Harits dan kedua saudaranya, Auf dan Muawwidz ikut serta pada Perang Badr. Kedua saudaranya syahid dalam peperangan itu. Sedang Muadz selamat dan ikut serta pada peperangan-peperangan setelahnya bersama Rasulullah saw.

Beliau memiliki empat istri, pertama, Habibah binti Qais yang terlahir seorang putra darinya bernama Ubaidullah. Istri kedua, Ummul Harits binti Sabrah darinya terlahir Harits, Auf, Salma Ummu Abdillah dan Ramlah. Istri yang ketiga, Ummu Abdillah binti Numair darinya lahir Ibrahim dan Aisyah. Dan Istri keempat, Ummu Tsabit Ramlah binti Harits darinya lahir Sarah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Khallad bin Amru Bersama Ayah dan Pamannya Syahid di Uhud

Kesaksian Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf menceritakan tentang satu kisah yang dialaminya saat perang badr, katanya, “Saya tengah berdiri di barisan dalam Perang Badr, mengarahkan pandangan ke kanan dan kiri, ternyata ada remaja lelaki Anshar. Saya pun berkeinginan andai saya berada diantara orang-orang yang lebih perkasa dari mereka berdua.”

“Tidak lama kemudian, salah seorang dari anak itu memegang tangan saya dan bertanya, ‘Paman, apakah paman mengenal yang mana Abu Jahal?’ Saya jawab, ‘Ya, apa urusanmu dengannya?”

“Anak itu menjawab, ‘Saya dengar Abu Jahal sering menghina Rasulullah saw. Demi Dzat yang jiwa saya berada di tangan-Nya, jika saya bisa melihatnya, mata saya dan matanya tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami ditakdirkan mati terlebih dulu.’”

“Saya heran dibuatnya. Anak remaja yang kedua memegang tangan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Tidak lama kemudian, saya melihat Abu Jahal tengah berkeliling diantara pasukan, saya berkata, ‘Itulah orang yang kamu tanyakan.’”

“Seketika mendengar itu, kedua anak itu langsung melesat ke arah Abu Jahal dengan mengangkat pedang lalu menyerang Abu Jahal dan berhasil menumbangkannya.”

Dua pemuda yang diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf itu kemungkinannya adalah Muadz bin Afra dan Mu’adz bin Amru bin Jamuh.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Mundzir bin Amru Berani Menyambut Kematian

Menumbangkan Abu Jahal

Setelah itu kedua anak itu kembali menjumpai Rasul dan mengabarkan kepada beliau. Rasul bertanya, “Siapa diantara kamu berdua yang membunuh Abu Jahal?’ Keduanya sama-sama mengatakan, ‘Saya telah membunuhnya.”

Rasul bertanya, “Apakah kalian sudah menyeka dan membersihkan pedang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Belum.”

Setelah melihat kedua pedang mereka, Rasul bersabda, “Kalian berdualah yang telah membunuh Abu Jahal.”

Walau bagaimanapun Nabi saw memutuskan Muadz bin Amru bin Jamuh mendapat salab (bagian) harta ghanimahnya. Dua orang anak muda yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah Muadz bin Afra dan Mu’adz bin Amru bin Jamuh.” (Hadits Bukhari)

Kemudian diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa ketika berakhirnya perang Badr, Rasulullah saw bersabda, “Apakah ada yang dapat memberikan kabar yang benar mengenai Abu Jahal?”

Abdullah bin Mas’ud lalu pergi dan mendapati Abu Jahal tengah terluka parah dan sekarat di medan perang. Dua pemuda – Muadz dan Muawwidz – kedua putra Afra yang telah membuatnya seperti itu. Abdullah bin Mas’ud sambil memegang janggutnya, berkata, “Apakah kamu yang bernama Abu Jahal?”

Abu Jahal menjawab, “Apakah kamu pernah membunuh seorang pemimpin yang lebih hebat dariku?” Atau mengatakan, “Apakah ada orang yang lebih hebat dariku yang telah dibunuh oleh kaumnya sendiri?”

Sayyid Zainal Abidin Waliyullah Syah memberikan sarah hadits pada riwayat Bukhari tersebt, “Di dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa kedua anak Afra, yakni Muawwidz dan Muadz-lah yang telah membuat Abu Jahl sekarat, setelah itu Abdullah bin Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal. Imam Ibnu Hajar mengemukakan kemungkinan bahwa setelah Muadz bin Amru bin al-Jamuh dan Muadz bin Afra, Muawwidz bin Afra pun ikut menyerangnya juga.”

Siapa saja yang ikut andil dalam menwasakan Abu Jahal? Berkenaan dengan ini didapatkan keterangan lengkap sebagai berikut, “Sejarawan Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Allamah Ibnu Ishaq bahwa Mu’adz bin Amru bin Jamuh memotong kaki Abu Jahal sehingga membuatnya terjatuh. Ikrimah putra Abu Jahl lalu menebaskan pedangnya ke tangan Muadz yang mengakibatkan putus tangannya. Kemudian Muawwiz bin Afra menyerang Abu Jahal yang membuatnya terjatuh, namun saat itu Abu Jahal masih bernyawa. Kemudian, Abdullah bin Mas’ud memenggalnya sehingga kepalanya terpisah dari leher.

Eksekusi tersebut terjadi setelah Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Mas’ud untuk mencari Abu Jahal diantara para korban yang terbunuh. Menurut Kitab Sahih Muslim kedua putra Afra menyerang Abu Jahal hingga mati. Begitu juga dalam Bukhari disebutkan sama pada Bab Qatl Abu Jahal.

Menurut Imam Qurtubi, pendapat yang menyatakan kedua putra Afra yang membunuh Abu Jahal adalah meragukan. Menurutnya, sebagian perawi yang merasa ragu berpandangan itu adalah Muadz bin Amru bin Jamuh. Artinya, bukan Muadz bin Afra. Orang yang dimaksud adalah Muadz bin Amru bin Jamuh sedangkan orang-orang menganggapnya Muadz bin Afra.

Allamah Ibnu al-Jauzi mengatakan, “Muadz bin Amru bin Jamuh bukanlah keturunan Afra. Muadz bin Afra termasuk orang yang membunuh Abu Jahl. Mungkin saja ada saudara atau paman Muadz bin Afra saat itu atau dalam riwayat disebutkan seorang putra Afra lalu perawi telah keliru menyebutnya kedua putra.”

Alhasil, Abu Umar mengatakan berkenaan dengan riwayat tersebut, “Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik lebih sahih yaitu Ibnu Afra (seorang putra Afra) telah membunuh Abu Jahal yang artinya hanya seorang putra Afra.”

Ibnu at-Tiin mengatakan, “Terdapat kemungkinan bahwa kedua Muadz yakni Muadz bin Amru bin Jamuh dan Mu’adz bin Afra adalah bersaudara dari garis ibu atau keduanya merupakan saudara sepesusuan.”

Alhasil, terdapat riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa tiga orang yang telah membunuhnya. Sebagian berpendapat dua orang. Disebutkan juga Muadz bin Amru bin Jamuh dan Muadz bin al-Harits.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ammar bin Yasir Tetap Teguh Keimanannya Meski Disiksa Habis-habisan

Wafat

Allamah Ibnu Al-Atsir menulis berbagai pendapat dalam bukunya Usdul Ghaabah berkenaan dengan kewafatan Muadz bin al-Harits, sebagai berikut:

“Menurut satu pendapat, Muadz bin al-Harits terluka pada perang Badr. Sepulangnya ke Madinah beliau wafat disebabkan karena luka luka tadi. Menurut pendapat lain, beliau wafat sampai masa kekhalifahan Usman. Menurut pendapat lainnya, beliau terus hidup sampai masa kekhalifahan Hadhrat Ali.” (Usdul Ghaabah)

Beliau wafat ketika terjadi peperangan antara Ali dan Muawiyah. (Al-Isti’aab) Perang yang dimaksud ialah perang Shiffin. Perang Shiffin terjadi pada tahun 36 atau 37 Hijriyah (sekitar 656 atau 657 Masehi). Muadz bin al-harits berperang dengan berada di pihak Ali.

Mengenai kewafatannya terdapat beragam riwayat. Dari itu dapat diketahui bahwa beliau berumur panjang. Begitu juga jika dilihat dari anak-anak dan para istri beliau, maka beliaulah orangnya.

Referensi: Khutbah Jumat, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 17 April 2020, di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan