[Sahabat Nabi] Khallad bin Amru Bersama Ayah dan Pamannya Syahid di Uhud

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi khallad bin amru

Khallad bin Amru radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi dari kalangan muda Anshar. Beliau ikut serta dalam Perang Uhud dan beliau meraih kesyahidan dalam pertempuran itu.

Biografi Khallad bin Amru

Ayahanda Khallad bin Amru bernama Amru bin Jamuh, seorang pemuka dari Bani Salamah, dan ibunda beliau bernama Hindun binti Amru bin Haram. Ibunda beliau adalah saudari dari Abdullah bin Amru bin Haram.

Khallad bin Amru merupakan saudara dari Mu’awadz, Mu’adz, dan Abu Aiman. Ada keterangangan yang menyebutkan bahwa Abu Aiman bukanlah saudara Khallad, melainkan hamba sahaya yang dibebaskan ayah beliau, Amru bin Jamuh. (Asadul Ghabah)

Khallad bin Amru termasuk Sahabat Badr. Beliau ikut serta dalam Perang Badr, bersama dengan saudara-saudaranya yaitu Mu’adz, Maudz dan Abu Aiman.

Sedangkan ayah beliau tidak ikut Perang Badr. Sebetulnya beliau ingin ikut, namun dikarenakan satu kaki beliau cacat dan sudah lanjut usia, sehingga Khallad dan putra-putranya yang lain melarangnya untuk ikut.

Khallad bin Amru, ayahanda beliau, paman beliau, Abdullah bin Amru dan Abu Aiman ikut serta dalam Perang Uhud. Dan dikabarkan mereka semuannya syahid dalam peperangan itu.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Mundzir bin Amru Berani Menyambut Kematian

Peghidmatan Keluarga Khallad bin Amru

Pada kesempatan Perang Uhud, Amru bin Jamuh mengatakan kepada anak anaknya: “Kalian tidak mengizinkan aku ikut dalam Perang Badr. Sekarang ada kesempatan untuk ikut pada Perang Uhud, kalian tidak dapat melarangku lagi, aku pasti berangkat dan ikut dalam Perang Uhud.”

Anak-anak beliau ingin melarang ayahnya itu disebabkan oleh keadaan fisik yang tidak mendukung, namun kali ini beliau sendiri menghadap Rasulullah saw untuk langsung meminta izin dari beliau Saw.

Beliau menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Anak-anak saya kali ini juga ingin melarang saya ikut berjihad. Sebelum ini mereka telah melarang saya ikut Perang Badr, begitu juga untuk Perang Uhud. Saya ingin ikut serta bersama Anda untuk berjihad. Demi Allah! Saya berharap semoga Allah Ta’ala menerima hasrat hati saya dan menganugerahkan mati syahid kepada saya, sehingga saya dapat masuk ke surga dengan kaki saya yang cacat ini.”

Rasulullah saw bersabda, “Wahai Amru! Memang Allah Ta’ala memberikan keringan atas keadaan anda sehingga jihad tidak wajib bagi anda.”

Rasulullah saw bersabda kepada anak-anak beliau, “Kalian jangan menghalanginya dari kebaikan! Jika memang ia berhasrat demikian, biarkanlah ia melakukannya. Semoga Allah Ta’ala akan menganugerahkan Syahadah (kesyahidan) kepadanya.” (As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam)

Amru bin Jamuh mengambil senjata lalu berangkat ke medan Uhud sambil berdoa, “Ya Allah anugerahilah hamba kesyahidan. Janganlah Engkau kembalikan hamba kepada keluarga hamba dalam keadaan gagal dan tanpa meraih cita-cita.” (Asadul Ghabah, jilid 7)

Satu keluarga, ayah dan anak-anaknya berangkat berjuang di jalan Allah. Hindun binti Amru pun mengikhlaskan sumai dan anak-anaknya untuk pergi berjihad juga saudaranya, Abdullah bin Amru bin Haram.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Muhammad bin Maslamah Mematahkan Pedang Pemberian Rasulullah

Syahid di Perang Uhud

Perang Uhud terjadi satu tahun setelah Perang Badr. Lasykar kaum kufar Mekkah berjumlah tiga ribu parajurit mereka juga membawa serta kaum wanita mereka. Mereka berpengalaman dan memiliki persenjataan yang lengkap.

Sementara pasukan Islam hanya 700 orang saja, mereka tidak berpengalaman dan perelngakapn perang yang minim.

Saat pertempuran berlangsung pasukan Islam awalnya mampu menghalau pasukan musuh, namun diakhir pertempuran pasukan Islam terdesak dan cerai berai.

Hingga wujud suci Rasulullah saw pun terluka hingga pingsan bahkan dianggap telah gugur oleh pasukan musuh.

Dalam peperangan itu terdapat sekitar 70 orang Sahabat yang gugur. Mereka betempur dengan penuh keikhlasan dan keberanian hingga akhirnya mereka meraih syahid.

Diantara mereka yang syahid adalah orang-orang yang disayangi Hindun binti Amru, yaitu, sumai, saudara dan putera beliau, Khallad bin Amru.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abdullah bin Rawahah Mendapat Kesyahidan Sesuai Harapannya

Ketabahan Hindun binti Amru

Setelah peperangan berakhir dan diketahui orang-orang yang disayangi Hindun binti Amru gugur, Rasulullah saw bersabda kepada Hindun, “Wahai Hindun! Ketika saudaramu syahid, saat itu para malaikat menaunginya dan menanti dimana ia akan dikuburkan.”

Beliau saw juga bersabda, “Wahai Hindun! Amru bin Jamuh dan anakmu Khallad dan saudaramu Abdullah akan bersahabat di surga.”

Hindun berkata, “Ya Rasulullah saw! Doakan juga saya semoga Allah ta’ala menyertakan saya bersama dengan mereka.” (al-Maghazi; Subulul Huda war Rasyaad fi Siirati Khairil ‘Ibaad)

Hindun binti Amru telah kehilangan orang-orang yang dicintainya sekaligus dalam Perang Uhud, namun beliau mengikhlaskannya dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Bahkan beliau bergembira karena Rasulullah dalam keadaan selamat.

Referensi:

  1. Sirah Khataman Nabiyyin – Hadhrat Mirza Basyir Ahmad.
  2. Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis aba, 11 Januari 2019, di Masjid Baitul Futuh, Morden UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan