[Sahabat Nabi] Jabir bin Abdullah Bisa Melunasi Hutangnya Berkat Doa Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi jabir bin abdullah

Jabin bin Abdullah radhiyAllahu ‘anhu termasuk Sahabat awalin, beriman dari sejak kanak-kanak, beliau putra seorang Sahabat besar yang syahid di Uhud, Abdullah bin Amru.

Biografi Jabir bin Abdullah

Jabir bin Abdullah lahir 15 tahun sebelum peristiwa Hijrah dari suku Khazraj di Madinah. Beliau berasal dari keluarga yang miskin.

Beliau putra dari Abdullah bin Amru bin Haram radhiyAllahu ‘anhu, salah seorang Sahabat Nabi yang syahid di Uhud dan Ibunya bernama Nasiba binti Uqba bin Uddi.

Jabir bin Abdullah memeluk Islam ketika beliau masih kecil, yaitu saat beliau ikut baiat Aqabah Kedua, saat itu masih anak-anak.

Beliau ikut serta dalam Perang Badr (para ahli berbeda pendapat tentang ikut sertanya beliau dalam Perang Badr), dan berbagai peperangan lainnya bersama Rasulullah saw juga peperangangan dimasa setelahnya.

Pada saat perang Uhud, Jabir bin Abdullah tidak diizinkan oleh ayahnya untuk berjihad dikarenakan Jabir memiliki tujuh atau sembilan saudara perempuan dan ayahnya menginginkan Jabir untuk mengurus dan menjaga saudara-saudara perempuannya. Oleh karena itu, Jabir bertugas memberikan minum pada para prajurit yang kehausan.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abdullah bin Jahsy Dimarah Rasulullah Karena Melanggar Perintah

Berhutang Kepada Orang Yahudi

Jabir bin Abdullah begitu juga dengan ayah beliau, sepertinya biasa meminjam uang kepada seorang Yahudi untuk keperluan keluarganya.

Pastinya beliau selalu membayar hutang itu tepat waktu sesuai dengan perjanjian dengan si pemberi hutang. Beliau tidak pernah berniat untuk tidak membayar atau lari dari tanggung jawabnya.

Namun pada satu masa beliau merasa sangat hawatir tidak bisa melunasi hutangnya tepa waktu, disebabkan pada saat itu panen kurmanya kurang bagus. 

Jabir bin Abdullah menceritakan sediri pengalamnnya itu, beliau berkata:

Di kota Madinah ada seorang Yahudi yang setiap tahunnya memberikan hutang kepada saya yang dibayar dengan mengangsur sampai panen kurma tiba. Saya memiliki kebun kurma di dekat sumur Rumah. Suatu ketika kebun kurma saya tidak menghasilkan panen seperti biasanya sehingga saya pun terlambat mengangsur hutang.

Ketika itu, orang Yahudi itu pun datang pada waktu panen kurma. Saya pun berpikiran tidak akan dapat membayar hutang dan ingin memintanya memberikan kelonggaran. Namun, orang Yahudi itu menolak untuk memberikan tambahan waktu pelunasan.

Saya pun memberitahukan tentang kejadian itu kepada Rasulullah saw, maka beliau saw pun berkata kepada para Sahabat, “Mari kita pergi ke orang Yahudi itu untuk meminta kepadanya agar memberikan kelonggaran pelunasan hutang kepada Jabir!”

Mereka pun pergi ke kebun saya. Nabi saw secara pribadi berbicara dengan orang Yahudi itu dan memohon kepadanya agar memberikan beberapa waktu lagi kepada saya untuk melunasi hutang saya.

Akan tetapi, dengan sikap yang sedemikian rupa orang Yahudi itu menjawab, ‘Wahai Abu Qasim! Saya tidak akan memberikan tangguh sedikit pun.’ Melihat perilaku Yahudi tersebut, Rasulullah saw berdiri lalu berjalan mengelilingi kebun kurma tersebut satu kali. Kemudian beliau saw bertanya lagi kepada orang Yahudi itu, namun kembali sang Yahudi menolaknya.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ukkasyah bin Mihsan Kawan Rasulullah di Surga

Berkat Mukjizat Doa Rasulullah

Jabir bin Abdullah melanjutkan kisahnya, katanya, sementara itu saya mengambil beberapa buah kurma dari kebun dan menyerahkannya kepada Rasulullah saw yang kemudian dimakannya. Setelah itu beliau bersabda, “Jabir, dimanakah gubuk atau tempat yang biasa kamu gunakan untuk istirahat di kebun ini?’

Saya memberitahu beliau tempat tersebut, lalu beliau saw berkata, ‘Hamparkan tikar di sana, agar saya bisa beristirahat sebentar.” Saya pun mengikuti perintah beliau. Lalu Rasulullah saw tertidur di tempat tersebut.

Ketika terbangun, saya kembali memberikan beliau sejumput kurma. Beliau saw pun memakan beberapa buah. Beliau saw lalu berdiri dan menemui orang Yahudi itu sekali lagi agar memberikan keringanan. Namun, lagi-lagi orang Yahudi itu menolaknya.

Rasulullah saw kembali berjalan mengelilingi kebun dan berkata kepada saya, “Jabir, sekarang panenlah kurma-kurma tersebut dan lunasilah hutang Anda kepada Yahudi itu.” Saya mulai memanen buah-buah kurma di kebun saya itu, sementara Rasulullah saw tetap berdiri di tengah-tengah kebun kurma.

Dari hasil panen tersebut, akhirnya saya bisa melunasi hutang dengan orang Yahudi dan bahkan masih banyak yang tersisa. Saya memberitahukan kabar baik tersebut kepada Rasulullah saw dan beliau saw pun bersabda, “Aku bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah.” (Bukhari, hadits no. 5023/5443)

Begitu besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah saw kepada Sahabatnya, sehingga Jabir bin Abdullah akhirnya bisa melunasi hutangnya berkat mukjizat doa dari beliau saw.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan