[Sahabat Nabi] Hamzah bin Abdul Muthalib Sang Singa Allah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

hamzah

Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyAllahu ta’ala ‘anhu adalah sahabat Nabi, paman, sekaligus saudara sepersusuan Rasulullah saw. Beliau dijuluki “Singa Allah” (Assadullah) karena keberaniannya dalam membela Islam.

Biografi Hamzah bin Abdul Muthalib

Diperkirakan Hamzah bin Abdul Muthalib lahir hampir bersamaan dengan Rasulullah saw. Beliau putra dari Abdul Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah.

Hamzah bin Abdul Muthalib dikenal sebagai seorang yang cerdas dan memiliki pendirian yang kuat, beliau juga termasuk tokoh Quraisy yang disegani.

Beliau masuk Islam pada tahun keenam kenabian dan tahun ketujuh sebelum hijrah. Setelah beriman beliau senantiasa melindungi dan membela Rasulullah saw.

Mematuhi perintah Rasulullah saw, beliau pun hijrah ke Madinah bersama dengan keluarganya.

Berimannya Hamzah bin Abdul Muthalib

Pada sekali peristiwa, saat Rasulullah saw sedang istirahat di bukit Safa, di dekat Ka’bah. Seorang pemimpin Mekkah, Abu Jahal, musuh terbesar Rasulullah saw menghampiri beliau swa. Ia mulai melemparkan caci maki dan hinaan kepada kepada beliau saw. Rasulullah saw tak berkata apa-apa dan kemudian pulang.

Seorang hamba sahaya perempuan dari rumah-tangga beliau saw menyaksikan kejadian yang menyedihkan itu.

Sementara itu Hamzah bin Abdul Muthahlib, seorang gagah yang ditakuti dan disegani oleh orang-orang sekota, pulang dari berburu di hutan dan masuk ke rumah dengan megah, sedang busur bergantung pada pundaknya.

Hamba sahaya wanita itu tak lupa akan peristiwa tadi pagi. Ia merasa muak melihat Hamzah pulang dengan penampilan demikian. Ia mencelanya dengan mengatakan bahwa Hamzah boleh memandang dirinya gagah dan pergi kian kemari bersenjata, tetapi tidak tahu apa yang telah diperbuat Abu Jahal terhadap anak kemenakannya yang tak berdosa pagi tadi.

Hamzah mendengarkan penuturan peristiwa pagi itu. Walaupun belum beriman, Hamzah bertabiat ksatria. Boleh jadi saat itu beliau telah terkesan oleh ajaran Rasulullah saw, tetapi belum begitu jauh untuk mau masuk terang-terangan.

Ketika didengarnya serangan Abu Jahal yang kasar itu, beliau tak dapat menguasai dirinya lagi. Keraguraguannya mengenai ajaran itu lenyap. Beliau merasa sampai saat itu terlalu beranggapan mengenai urusan itu tidak penting.

Beliau langsung pergi ke Ka’bah, tempat para pemimpin Makkah biasa berkumpul dan berunding. Diambilnya busurnya dan dipukulnya Abu Jahal dengan keras.

“Anggaplah aku dari mulai saat ini pengikut Muhammad,” katanya. “Kamu berani memaki-makinya karena ia tidak mau menimpali. Jika kamu gagah berani, mari kita berkelahi.”

Abu Jahal tercengang membisu. Sahabat-sahabatnya bangkit hendak memberi pertolongan; tetapi, karena takut kepada Hamzah dan sukunya, Abu Jahal mencegah dengan perhitungan bahwa perkelahian terbuka akan terlalu merugikan. Memang, katanya, dalam kejadian tadi pagi ia bersalah. (Hisyam dan Tabari)

Pemimpin Para Syuhada

Setelah beriman Hamzah bin Abdul Muthalib senantiasa melindungi dan membela Rasulullah saw, beliau mengabdikan hidupnya untuk Islam.

Saat perang Badr, beliau bersama para sahabat lainnya bahu-membahu melawan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat banyaknya dari pada pasukan Islam. Dengan penuh keberanian dan adanya pertolongan dari Allah Ta’ala umat Islam pun akhirnya meraih kemenangan yang gemilang.

Sementara kaum kufar Makkah mengalaim kekalahan yang meyakitkan. Mereka berjanji akan kembali menyerang umat Islam.

Benar saja, tahun berikutnya mereka datang dengan persiapan yang lebih matang dan pasukan yang lebih banyak, bahkan kaum wanita mereka pun mereka bawa.

Peperangan itu kemudian dikenal sebagai perang Uhud, karena perang itu terjadi di bukit Uhud. Antara pasukan Islam menghadapi pasukan kufar Makkah.

Dalam pertempuran itu awalnya pasukan Islam dapat memukul mundur pasukan musuh, namun karena pasukan khusus pemanah yang ditempatkan di atas bukit oleh Rasulullah saw tidak sepenuhnya mematuhi perintah Rasulullah saw, kemenangan itu pun berubah menjadi kekalahan.

Tidak kurang dari 70 orang sahabat gugur dalam peperangan itu. Mereka semua dimakamkan di tempat itu juga sebagai syuhada Uhud.

Diantara mereka yang gugur itu adalah Hamzah bin Abdul Muthalib. Pahlawan Islam yang gagah berani itu syhaid. Beliau dibunuh dengan cara ditombak oleh seorang budak yang bernama Wahsyi bin Harb.

Sebenarnya dalam Perang Uhud, Hamzah berjuang dengan penuh keberanina, beliau  berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Namun karena strategi pasukan Islam tidak lagi seperti apa yang diperintahkan Rasulullah, sehingga pihak Islam terdesak dan dikalahkan musuh.

Hamzah bin Abdul Muthalib termasuk pasukan pemanah yang ditugaskan diatas bukit, sebagian besar pasukan khusus itu telah meninggalkan pos mereka, meninggalkan Hamzah dan beberapa orang yang tetap setia di atas bukit.

Saat Khalid bin Walid (saat itu belum beriman) dan pasukannya datang menyerang dengan tiba-tiba, Hamzah dan kawan-kawannya yang sedikti itu pun mereka keroyok dan mereka binaskan.

Setelah peperangan berakhir, Rasulullah saw dan para sahabat bersama-sama memeriksa jasad dan mengumpulkan tubuh para syuhada yang gugur. Saat melihat jasad Hamzah, Rasulullah saw amat bersedih.

Hamza bin Abdul Muthalib diperalkukan dengan sangat keji, mereka telah merusak jasad dan merobek dada beliau dan mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah itu, Seraya berkata,”Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”

Rasulullah saw pun sangat berduka atas syahidnya paman beliau itu dan beliau saw kemudian menjadikan Hamzah bin Abdul Muthalib sebagai Sayidu Syuhada – Pemipin para Syuhada.

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan