[Sahabat Nabi] Ammar bin Yasir Tetap Teguh Keimanannya Meski Disiksa Habis-habisan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ammar bin yasir

Ammar bin Yasir radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi saw yang baiat dimasa awal dari kalangan kaum yang lemah dan miskin. Karena keimanannya beliau banyak mendapat siksaan namun beliau tetap teguh dalam keimananya.

Biografi Ammar bin Yasir

Terdapat seorang yang bernama Yasir, seorang keturunan Qahtani (Arab yang lebih tua dibanding Arab Musta’ribah yang keturunan Nabi Isma’il). Beliau berasal dari Yaman.

Pada suatu ketia, Yasir bersama kedua saudaranya, Haris dan Malik datang ke Mekkah untuk mencari seorang saudaranya. Haris dan Malik kemudian kembali ke Yaman, sementara itu Yasir memilih untuk menetap di Makkah dan menjalin hubungan persahabatan dengan Abu Huzaifah Makhzumi.

Abu Huzaifah kemudian menikahkan Yasir dengan hamba sahayanya yang bernama Sumayyah, dari mereka ini lah kemudian lahir Ammar.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah

Baiatnya Ammar bin Yasir

Ketika Rasulullah saw menyampaikan tabligh Islam maka Yasir, Sumayyah, dan anak-anak mereka, Ammar dan Abdullah segera beriman, menerima kebenaran Islam.

Bagaimana beliau baiat, Ammar bin Yasir sendiri menceritakan pengalamannya itu, “Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinaan di pintu Darul Arqam [rumah Arqam, tempat berkumpul umat Islam awal saat di Makkah]. Saat itu Rasulullah saw tengah berada di Darul Arqam. Saya bertanya kepada Suhaib, “Untuk tujuan apa anda ke sini?”

Lalu Suhaib balik bertanya, “Kalau anda?” Saya menjawab, “Saya berkeinginan untuk bertemu dengan Rasulullah saw dan mendengarkan sabdanya.” Suhaib mengatakan, “Tujuan saya pun sama seperti itu.”

Ammar mengatakan, “Kami hadir ke hadapan Rasulullah saw dan Rasulullah saw menjelaskan perihal Islam kepada kami lalu kami baiat. Kami berada di sana sampai sore setelah itu kami keluar dari Darul Arqam secara sembunyi-sembunyi.”

Ammar bin Yasir juga menceritakan, “Saat itu saya melihat Rasulullah saw hanya ditemani oleh 5 orang hamba sahaya, dua wanita dan Abu Bakar Siddiq.” (Sahih Bukhari, Kitab Fadhailish Shahabah)

Baca juga: Sahabat Nabi: Abu Usaid Petugas Keuangan yang Sangat Amanah

Disiksa Agar Keluar Dari Islam

Dari antara para pembesar Makkah yang beriman seperti, Abu Bakr, Ali, Hamzah, Umar dan Utsman radhiyAllahu ‘anhum. Meskipun begitu, mereka masih mendapat perlindungan dari keluarga besarnya masing-masing. Bahkan Rasulullah saw mendapat perlindungan dari paman beliau saw, Abu Thalib.

Berbeda nasibnya dengan para Sahabat Rasulullah saw dari kalangan orang-orang lemah dan miskin, seperti Zaid, Bilal, Samurah, Khabbab, Suhaib, Amir, Faqihah dan Ammar radhiyAllahu ‘anhum. Siapa pelindung mereka?

Mereka kebanyakan orang-orang pendatang yang tidak mempunyai kabilah di Makkah dan juga tidak mempunyai kekuatan dan pelindung. Mereka tergolong mustadh’afin (golongan rakyat kecil dan tertindas).

Karenanya, setelah mereka diketahui masuk Islam, tidak ada ampun, mereka disiksa habis-habisan oleh orang-orang kafir Quraisy supaya mereka keluar dari Islam.

Rupa-rupa penyiksaan ditimpakan kepada mereka oleh orang-orang kafir agar mereka membatalkan keimanannya.

Anehnya, sebegitu hebatnya pun siksaan yang mereka alami, mereka tetap teguh dalam keimananya, bahkan sampai mereka dibunuh sekalipun, mereka tetap dalam keadaan beriman.

Baca juga: Suami, Anak dan Adik Hindun binti Amru Syahid di Uhud

Siksaan yang Dialami Keluarga Ammar

Ammar dan ayah ibu beliau, Yasir dan Sumayyah, orang-orang lemah itu tidak luput dari siksaan kaum kufar. Macam-macam penganiayaan ditimpakan kepada mereka.

Bani Makhzum dimana Sumayyah pernah menjadi hamba sahaya mereka, sering menyiksa ketiganya. Begitu kejinya siksaan yang ditimpakan kepada mereka, tidak terbayang bagaiamana beratnya penderitaan yang mereka alamai.

Pada suatu peristiwa kaum musyrik telah membakar Ammar dengan api. Ketika itu Rasulullah saw lewat di dekat Ammar lalu sambil mengusap kepala Ammar, beliau saw bersabda,

“Wahai api, dinginlah engkau dan jadilah keselamatan bagi Ammar seperti perlakuan engkau juga dulu kepada Ibrahim.” (Thabaqat ibn Sa’d 249/3)

Utsman bin Affan meriwayatkan, “Saya beserta dengan Rasulullah saw tengah berjalan di lembah Makkah. Saat itu Rasulullah saw tengah memegang tangan saya. Kami datang menemui ayahnya Ammar, Ammar dan ibunda beliau yang saat itu tengah disiksa. Ayahnya Ammar (Yasir) mengatakan, ‘Apakah akan selalu seperti ini?’

Beliau saw bersabda kepada Yasir, “Bersabarlah!” Lalu memanjatkan doa,

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِآلِ يَاسِرٍ ، وَقَدْ فَعَلْتُ

“Ya Allah anugerahkanlah ampunan kepada keluarga Yasir dan aku yakin bahwa Engkau telah melakukannya.” (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada Rasulullah saw bahwa mereka telah diampuni disebabkan oleh kondisi penderitaan yang mereka alami ini.

Dalam riwayat lain Rasulullah saw tengah lewat di dekat keluarga Ammar yang mana mereka tengah dianiaya. Beliau bersabda:

 أَبْشِرُوا آلَ عَمَّارٍ، وَآلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

“Wahai keluarga Yasir! Wahai keluarga Ammar! Berbahagialah, karena pasti telah dijanjikan surga bagimu.”

Baca juga: Abu Hudzaifah Sahabat Nabi dari Keluarga Besar Penentang Islam

Yasir dan Sumayah Disyahidkan

Suatu saat, keluarga Yasir dan kaum Muslimin yang lemah itu mendapat siksaan dan secara kebetulan Rasulullah saw menghampiri, beliau saw melihat kearah mereka dan bersabda dengan nada yang perih,

 صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

“Wahai keluarga Yasir! bersabarlah Janganlah melepaskan kesabaran, karena tempat kembali kalian adalah surga. Akibat penderitaan-penderitaan kalian itu, Tuhan tengah menyediakan surga untuk kalian.” (Syi’bil Iman oleh al-Baihaqi, cabang XVI)

Doa Rasulullah saw tergenapi, meskipun Yasir disika habis-habisan beliau tetap tidak mau melepaskan keimanannya sedikit pun. Karena tidak kuat menanggung siksaan-siksaan itu,akhirnya beliau wafat.

Begitu juga dengan istri beliau, Sumayah, seorang wanita tua dan lemah itu berulang kali dianiaya oleh Abu Jahal. Namun keimanan beliau tidak goyah sedikitpun. Hal itu membuat Abu Jahal murka, orang zalim itu menusuk Sumayah dengan tombak, sehingga wanita yang tidak berdosa itu wafat seketika.

Penyiksaan kejam yang dialami oleh Yasir dan Sumayah hingga mereka wafat itu disaksikan sendiri oleh Ammar.

Baca juga: Bisyr bin Baraa, Sahabat Nabi yang Wafat Diracun

Ammar Tetap Teguh Dalam Keimanannya

Sekarang yang tersisa tinggal Ammar, beliau pun disiksa dengan kejamnya oleh mereka yang mengatakan, “Sebelum kamu mengingkari Muhammad, kami akan terus menyiksamu.”

Rasulullah saw selalu bersabar atas setiap kezaliman yang menimpa dirinya sendiri bagaimanapun bentuknya. Namun ketika melihat musibah yang menimpa para sahabatnya, beliau begitu larut dalam kesedihan. Orang-orang beriman yang miskin itu begitu dizalimi, ditangkap dan dibawa ke sahara lalu dijemur terlentang di bawah terik matahari dan diletakkan batu besar di atas dadanya, sehingga karena saking panasnya, lidah mereka terjulur keluar. Banyak sekali jiwa yang melayang karena siksaan itu.

Diantara orang-orang yang dizalimi itu salah satunya adalah Ammar yang telah bersabar dan bertahan dari kezaliman mereka. Dia diikat dan dijemur terlentang diatas tanah berbatu lalu di dadanya diletakkan batu besar dan diperintah untuk mengeluarkan cacian atas Rasulullah saw.

Karena begitu hebatnya siksaan itu, Ammar secara terpaksa mengucapkan sesuatu perkataan yang tidak sesuai sehingga mereka melepaskannya. Namun setelah itu Ammar langsung datang ke hadapan Rasulullah saw sambil menangis keras. Beliau saw bertanya: “Apa yang terjadi, Ammar?”

Beliau mengatakan: “Wahai Rasulullah saw! Binasalah aku! Begitu kejamnya siksaan yang ditimpakan orang-orang zalim itu padaku sehingga aku terpaksa mengatakan sesuatu mengenai anda yang keliru.”

Nabi bertanya: “Bagaimana kondisi hatimu sendiri?”

Beliau menjawab: “Hatiku tetap beriman seperti semula dan tetap dalam kecintanku kepada Allah dan Rasul-Nya.”

“Kalau begitu baiklah, Tuhan akan memaafkan kesalahan kamu ini.”

Jauh hari kemudian saat semunya telah berlalu, Muhammad bin Ka’ab al-Qurthubi mendapat kesaksiaan dari seseorang yang mengatakan tentang Ammar, katanya, “Saya melihat Ammar Bin Yasir tengah memakai baju piyama, nampak di punggung beliau banyak bekas luka. Saya bertanya, ‘Bekas luka apa ini?’

Ammar menjawab, “Ini adalah bekas-bekas luka siksaan ketika di Makkah dahulu yang ditimpakan padaku dibawah terik matahari.”

Pada akhirnya Ammar bin Yasir tetap teguh dalam keimananya, meskipun beliau mendapat bermacam siksaan yang begitu berat.

Baca juga: Sa’ad bin Ubadah Sahabat Nabi yang Suka Memberi Pertolongan

Referensi:

  1. Shahih Bukhari
  2. Musnad Ahmad ibn Hanbal
  3. Thabaqat, Ibn Sa’ad
  4. Syi’bil Iman,  al-Baihaqi
  5. Musnad Abi Ya’la
  6. Asadul Ghabah
  7. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain
  8. Sirat Khataman nabiyyiin, Mirza Bashir Ahmad

0 Komentar

Tinggalkan Balasan