Abu Usaid merupakan nama julukan (laqab), nama aslinya adalah Malik bin Rabiah as-Saidi radhiyAllahu ‘anhu, ada juga yang menyebut beliau dengan nama Hilal bin Rabiah.

Beliau sahabat Nabi yang berasal dari kaum Anshar, dari kabilah Banu Sa’idah cabang Khazraj.

Secara fisik, Abu Usaid digambarkan bertubuh pendek, rambutnya lebat, namun cepat memutih juga janggut beliau sudah putih. Ketika berusia lanjut, beliau menjadi tunanetra.

Abu Usaid ikut dalam perang Badr, perang Uhud, perang Khandaq dan peperangan setelah itu menyertai Rasulullah saw. Pada saat Fatah Makkah beliau memegang panji kabilah Banu Sa’idah.

Saat menikah Abu Usaid mengundang Rasulullah saw pada pernikahannya. Pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana, mengundang orang-orang dan pengantin sendiri tengah memasak masakannya. Pada saat itu istri beliau melayani Rasulullah saw dan para tamu, padahal sedang menjadi pengantin.

Ketika putra Abu Usaid lahir, dibawalah bayi itu ke hadapan Rasulullah saw. Beliau saw mendudukkan bayi itu di pangkuan beliau saw. Tidak lama kemudian Nabi yang mulia saw sibuk dengan urusan lain, sehingga Abu Usaid memerintahkan seseorang untuk mengambil bayi tersebut dari paha beliau saw.

Setelah urusan Rasulullah saw selesai, beliau bertanya, “Kemana anak itu?” Abu Usaid menjawab, “Ya Rasulullah saw, kami telah mengirimkannya pulang.” Beliau bertanya, “Apa nama yang diberikan untuk bayi itu?”

Abu Usaid menyebutkan namanya. Beliau saw bersabda, “Tidak! Namailah ia Munzir.”(Shahih al-Bukhari, Ktab Adab, hadits no. 6191) Pada hari itu Rasul menamai anak itu Munzir.

Rasulullah saw menamai anak Abu Usaid dengan nama Munzir karena nama saudara sepupu Abu Usaid adalah Munzir Bin Amru yang telah syahid di Bir Maunah. Jadi, nama itu diberikan karena terkesan dengan kebaikan sesorang supaya anak tersebut pun terbukti menjadi penerus yang baik. (Fathul Bari syarh Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, hadits no. 4094)

Baca juga: Abu Talhah Setia Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Berlaku Adil

Suatu ketika datang beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah saw, beliau saw melihat seorang perempuan menangis diantara mereka. Rasulullah saw bertanya padanya, “Apa yang membuat kamu menangis?”

Dia menjawab, “Dia telah memisahkan anak saya dari saya dengan menjualnya kepada Bani ‘Abs.”

Rasulullah saw memanggil pemilik tawanan, ternyata pemiliknya adalah Abu Usaid. Beliau bertanya, “Apakah kamu memisahkan dia dan anaknya?”

Beliau menjawab, “Perempuan ini tidak bisa berjalan. Dia tidak mampu lagi menggendongnya. Karena itu, saya menjual anak itu kepada Banu ‘Abs.”

Rasulullah saw bersabda, “Kamu sendiri pergi kepadanya, ambil lagi anak itu.” Lalu, Abu Usaid mengambil anak itu kembali dan mengembalikannya kepada ibunya. (Syarf al-Mushthafa, jilid 4, hadits 1649)

Rasulullah saw bersabda, “Apakah dia mampu atau tidak, namun seorang ibu tidak boleh dibuat menderita karena anaknya, apakah dia tawanan, hamba sahaya perempuan ataupun pelayan.”

Baca juga:Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul: Putra Pemimpin Orang-orang Munafik yang Mukhlis

Petugas Keuangan yang sangat Amanah

Gubernur Madinah, Marwan bin Al-Hakam pernah menunjuk Abu Usaid sebagai Amil sedekah, yaitu petugas yang mengumpulkan sedekah dan membagikannya. Ketika Abu Usaid sampai di pintu, lalu mendudukan unta dan membagikan semuanya kepada orang-orang. Barang terakhir yang dibagikan adalah cambuk. Sambil memberikannya beliau mngatakan, “Ini adalah harta kalian.”

Suatu ketika Abu Usaid datang untuk membagikan harta, lalu beliau membagikan semuanya dan pulang lagi ke rumahnya. Ketika tidur beliau bemimpi ada seekor ular yang melilit leher beliau. Beliau ketakutan lalu bangun dan mananyakan kepada istri atau pembantu, “Wahai fulanah! Apakah diantara harta yang harus kubagikan masih ada yang belum terbagikan?”

Dia menjawab, “Tidak ada.” Abu Usaid berkata, “Lantas kenapa saya bermimpi dililit ular? Coba periksa lagi mungkin masih ada yang tertinggal.”

Ketika diperiksa dengan seksama, orang itu mengatakan, “Iya, masih tersisa tali pengikat unta dengan kantong yang terikat.”

Lalu Abu Said segera pergi dan mengembalikan barang tersebut. (Syi’bil Iman, al-Baihaqi, no 3247)

Begitu rupa sangat amanahnya Abu Usaid dalam menjalankan tugasnya, hanya sekedar tali pengikat unta pun beliau serahkan karena itu memang bukan haknya. Dan karena ketaqwaanya Allah Ta’ala pun memberikan bimbingan kepada beliau melalu mimpi, sehingga beliau terhindar dari berbuat dosa.

Baca juga: Sa’ad bin Ubadah Sahabat Nabi yang Suka Memberi Pertolongan

Waafat

Abu Usaid penglihatnya rusak sehingga tidak dapat melihat lagi sebelum syahidnya (terbunuhnya) Khalifah Utsman.

Atas hal itu beliau selalu mengatakan, ”Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan saya penglihatan pada masa Rasulullah saw sehingga saya dapat melihat seluruh keberkatan itu dan ketika Allah Ta’ala ingin memasukkan orang-orang kedalam ujian, Dia mengambil penglihatan saya yang membuat saya tidak dapat melihat lagi sehingga saya tidak dapat melihat fitnah (keadaan yang buruk) ini.” (Al-Mustadrak, Kitab Ma’rifatush Shahabah, jilid 3, hadits 6189)

Beliau wafat di usia 75 tahun pada masa pemerintahan Amir Muawiyah pada tahun 60 Hijriyah (679 atau 680 Masehi, pada tahun itu Muawiyah juga wafat). Beliau adalah yang paling terakhir wafat diantara sahabat Anshar yang ikut perang Badr.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan