[Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi abu salamah

Abu Salamah radhiyAllahu ‘anhu merupakan Sahabat awalin dari kalangan terpandang Mekkah. Beliau Sahabat yang sangat mukhlis dan banyak pengabdiannya untuk Islam.

Biografi Abu Salamah

Nama asli beliau adalah Abdullah bin Abdul Asad sedang Abu Salamah merupakan nama kunyah (panggilan) beliau. Beliau berasal dari Banu Makhzum. Ayah beliau bernama Abdul Asad dan ibunda beliau Barah binti Abdul Muthallib.

Abu Salamah bin Abdul Asad merupakan saudara sepupu Nabi saw. Beliau juga merupakan saudara sepesusuan Rasulullah saw dan Hamzah. Beliau disusui oleh hamba sahaya Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah.

Beliau termasuk Sahabat Nabi yang awal masuk Islam. Setelah sepuluh orang pertama baiat, selanjutnya adalah beliau.

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Abu Ubaidah bin Harits, Abu Salamah bin Abdul Asad, Arqam bin Abul Arqam dan Usman bin Mazh’un datang ke hadapan Rasulullah saw. Beliau saw menyeru mereka kepada Islam dan membacakan Al-Quran, yang karenanya mereka baiat dan memberikan kesaksian bahwa Rasulullah saw berada diatas petunjuk dan kebenaran.

Baca juga: Abdullah bin Jubair Taati Perintah Rasulullah Hingga Syahid

Hijrah ke Habsyah

Ketika penderitaan umat Islam masa awal di Mekkah sudah sampai pada puncaknya dan kaum kufar Quraisy semakin menjadi-jadi dalam penganiayaan, Rasulullah saw menyeru para Sahabat untuk hijrah ke Habsyah.

Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian keluar untuk hijrah ke Habsyah, niscaya kalian temui di sana seorang Raja adil dan menyukai keadilan. Dalam pemerintahannya tidak ada kezaliman kepada siapapun.”

Negeri Habasyah (Abbesinia atau Etiophia) letaknya berada di sebelah timur laut benua Afrika. Terletak tepat berhadapan dengan Arabia bagian selatan. Di tengah-tengah keduanya selain Laut Merah, tidak ada lagi.

Pada masa itu di Habsyah berdiri sebuah pemerintahan Kristen yang kuat dan rajanya disebut dengan gelar Najasyi (Negus), bahkan sampai saat ini penguasanya disebut dengan nama tersebut.

Habasyah dan Arabia memiliki hubungan dagang. Ibukotanya Aksum yang saat ini letaknya berdekatan dengan kota Adowa dan sampai saat ini didiami dan dianggap sebagai kota suci. Aksum pada saat itu merupakan pusat satu pemerintahan yang sangat tangguh. Najasyi yang memimpin saat itu bernama Ashamah yang merupakan seorang raja yang adil, bijak dan amat berkuasa.

Mendengar sabda Rasulullah saw tersebut pada bulan Rajab 5 Nabawi (sekitar 615 Masehi) 11 pria dan 4 perempuan berangkat hijrah ke negeri itu.

Diantara mereka Sahabat yang terkenal adalah Utsman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah putri Rasulullah saw, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Al Awam, Abu Huzaifah bin Utbah, Utsman bin Maz’un dan Mush’ab bin Umair.

Termasuk juga Abu Salamah bin Abdul Asad beserta istrinya, Ummu Salamah memenuhi seruan Rasulullah saw untuk hijrah ke Habasyah.

Merupakan hal aneh bahwa sebagian besar sahabat yang hijrah pada masa awal adalah orang-orang yang berasal dari kalangan pembesar (keluarga kaya dan terpandang) kabilah Quraisy sedangkan kalangan yang lemah jumlahnya kurang yang dengannya dapat diketahui dua hal. Pertama, umat Muslim dari kalangan pembesar pun tidak luput dari penganiayaan kaum Quraisy. Kedua, orang-orang lemah misalnya hamba sahaya dan lain-lain keadaannya sedemikian lemah dan tak berdaya, sehingga untuk hijrah pun mereka tidak mampu.

Ketika kaum kufar Quraisy mengetahui kabar hijrah tersebut, mereka sangat marah, mereka berupaya untuk mengejar dan membawa kembali para muhajirin itu, namun mereka tidak berhasil. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan kosong.

Sesampainya di Habsyah, para muhajirin dapat hidup dengan sangat damai dan bersyukur atas terlepasnya mereka dari tangan Quraisy.

Kemudian setelah beberapa lama Abu Salamah dan istrinya kembali ke Makkah. Saat perintah hijrah ke Madinah turun, Abu Salamah pun segera berangkat memenuhi seruan Rasulullah saw.

Baca juga: Sahabat Nabi: Abu Usaid Petugas Keuangan yang Sangat Amanah

Abu Salamah Gugur Saat Menjalankan Tugas

Kekalahan yang dialami umat Muslim pada perang Uhud membuat kabilah-kabilah Arab tambah berani untuk menganggu umat Islam. Bahkan duka dan luka-luka yang dialami kaum Muslimin pada perang Uhud belum lagi hilang dan pulih. Kaum Muslimin kembali harus mengadapi ancaman-ancaman dari kaum kufar.

Seperti, pada bulan Muharram tahun ke-4 Hijriyah Rasulullah saw di Madinah mendapatkan informasi bahwa pemimpin kabilah Asad, Talhah bin Khuwailid dan saudaranya Salamah bin Khuwailid tengah mempersiapkan orang-orang di daerahnya untuk menyerang umat Islam di Madinah.

Mengetahui adanya ancaman berbahaya seperti itu Rasulullah saw segera menyiapkan 150 pasukan terpilih dan menetapkan Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai komandan untuk memimpinnya.

Beliau saw memberikan instruksi kepada Abu Salamah dan anak buahnya untuk melakukan serangan secara tiba-tiba. Sebelum Banu Asad melampiaskan kebencian ini, kekuatan mereka harus dihancurkan.

Tuga dari Rasulullah saw dilaksanaka dengan sebaik-baiknya oleh Abu Salamah,  dengan cepat dan diam-diam beliau dan pasukannya bergerak. Ketika sampai di daerah pertengahan Arab, Qatan, pasukan musuh melihat pasukan Muslim yang datang tiba-tiba membuat mereka terkejut dan ketakutan, Banu Asad pun lari berhamburan. Setelah keadaan aman dan musuh pun tidak tampak, Abu Salamah dan pasukannya kembali ke Madinah.

Disebabkan perjalanan yang berat dalam misi tersebut, luka yang Abu Salamah dapatkan saat perang Uhud yang tampaknya sudah hampir sembuh, kembali memburuk. Meskipun diobati, kondisinya semakin parah. Disebabkan keadaan itu, sahabat mukhlis, awwalin dan merupakan saudara sepesusuan Rasulullah saw tersebut wafat.

Beliau gugur dan syahid saat bertugas dalam rangka melaksankan perintah Rasulullah saw, berjuang di jalan Allah.

Jenazah beliau dimandikan dengan air dari sumur Al-Yasirah yang berada di daerah Aliyah (tinggi) dan dimiliki oleh Banu Umayyah Bin Zaid. Pada masa jahiliyah sumur itu bernama Al-Abir lalu diganti oleh Rasulullah saw menjadi Al-Yasirah. Jenazah Abu Salamah kemudian dikuburkan di Madinah.

Rasulullah saw sendir memejamkan mata almarhum yang terbuka lalu beliau saw memanjatkan doa,

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ ‏.‏ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya ke dalam golongan hamba-hamba Engkau yang mendapat petunjuk kebenaran, berilah pengganti untuk keluarga yang ditinggalkannya dan ampunilah kami dan dia (wahai) Tuhan semesta alam. Ya Allah, luaskan dan terangilah alam kuburnya dengan nur.”

Dalam satu riwayat, ketika kewafatan Abu Salamah sudah dekat, Abu Salamah pernah berdoa, اللهم اجعل لأهلي خير خلف ”Ya Tuhan! Jadikanlah seorang pribadi terbaik sebagai pengganti hamba dalam keluarga hamba [suami yang lebih baik untuk istri yang ditinggalkannya karena ia akan wafat].”

Doa tersebut dikabulkan oleh Allah Ta’ala, Ummu Salamah kemudian dinikahi oleh Rasulullah saw.

Demikianlah kisah Sahabat Nabi yang bernama Abu Salamah atau Abdullah bin Abdul Asad. Seorang Sahabat mulia, yang mengabdikan hidupnya hingga akhir untuk kepenting agama.

Baca juga: Suami, Anak dan Adik Hindun binti Amru Syahid di Uhud

Referensi:

  1. Al-Isti’aab fi ma’rifatil ashhaab, penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002;
  2. Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.
  3. Al-Ishabah Al-Ishabah fi tamyizish shahabah, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2005.
  4. Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2003
  5. Sirah an-Nabawiyah Ibn Hisyam terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2001.
  6. Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A.
Abu Salamah by Mita Paramnuhara

0 Komentar

Tinggalkan Balasan