[Sahabat Nabi] Abu Ayyub Sungguh Beruntung, Rumahnya Ditempati Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

sahabat nabi abu ayyub

Abu Ayyub Al-Anshari radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi saw dari kalangan Anshar yang rumahnya ditempati oleh beliau saw selama 7 bulan lamanya saat pertama kali beliau saw sampai di Madinah.

Biografi Abu Ayyub

Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Abdu-Amr bin Auf bin Ghanam bin Malik. Beliau berasal dari suku Khazraj, kabilah Bani Najjar.

Ayahnya adalah Zaid bin Kulaib dan Ibunya adalah Hindun binti Sa’id bin Amr. Sedang Istrinya dikenal dengan nama Ummu Ayyub binti Qais bin Sa’id bin Qais.

Abu Ayyub Al-Anshari termasuk Sahabat awalin, beliau masuk Islam saat Baiat Aqabah Kedua. Setelah peristiwa Hijrah, Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan Mush’ab bin Umair.

Beliau ikut serta dalam semua ghazwah (peperangan yang diikuti Rasulullah saw). Juga peperangan lain hingga masa Umayyah.

Baca juga: Aamir bin Fuhairah Pelayan Rasulullah dan Abu Bakr ketika Hijrah

Rasulullah Memilih Rumah Abu Ayub

Ketika Rasulullah saw sampai di Medinah, tiap-tiap orang sangat mendambakan dapat meraih kehormatan menjadi tuan rumah beliau saw. Ketika unta beliau melewati sebuah lorong, keluarga-keluarga berjajar dalam deretan panjang menyambut beliau saw.

Mereka berharap sangat agar Baginda Rasulullah saw singgah dan memilih rumah mereka sebagai tempat tinggal beliau saw.

Bahkan banyak di antara mereka yang sangat bersemangat, maju ke depan dan memegang tali kekang unta Rasulullah saw dan mendesak beliau saw supaya turun dan masuk ke dalam rumah mereka.

Tetapi, Rasulullah saw dengan wajah yang ramah menolak sambil berkata, “Biarkan untaku. Ia ada dalam perintah Ilahi; ia akan berhenti di mana Tuhan menghendaki ia berhenti”.

Sampai akhirnya unta beliau saw berhenti tepat di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Tapi orang-orang merasa tidak puas dengan mengatakan unta itu dekat rumah mereka juga. Hingga akhirnya sekali lagi unta dilepas oleh Nabi saw, tapi tetap saja rumah Abu Ayub yang terpilih.

Abu Ayub Al-Anshari sangat beruntung mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah dan menerima Rasulullah saw saat hari-hari pertama beliau saw di Madinah setelah baru saja hijrah dari Makkah.

Rumah Abu Ayyub itu bertingkat. Beliau mempersilahkan Rasulullah saw mengambil tingkat atas. Tetapi Rasulullah saw lebih menyukai tingkat bawah, mengingat kemudahan untuk para pengunjung.

Abu Ayyub setuju Rasulullah saw mempergunakan tingkat bawah, tetapi menolak untuk tidur di bagian atas yang tepat di bawahnya Rasulullah saw tidur. Beliau dan istrinya merasa kurang hormat berbuat demikian.

Baca juga: Abu Hudzaifah Sahabat Nabi dari Keluarga Besar Penentang Islam

Mengeringkan Tumpahan Air

Pada suatu malam sebuah tempat air semacam tempaian atau kendi yang terbuat dari tanah liat pecah dan menumpahkan airnya ke lantai.

Karena hawatir air tumpahan tempaian itu merembes sehingga bisa mengenai Rasulullah saw yang ada di bawah, segera Abu Ayub dan istri beliau mengeringkannya dengan selimut mereka.

Beliau dan istrinya pun sepanjang malam itu mengelapnya hingga kering dengan kain selimut mereka.

Pagi harinya, beliau menceritakan kepada Nabi saw apa yang terjadi pada malam itu dan meminta beliau saw untuk tinggal di lantai atas. Beliau saw menyetujuinya untuk pindah ke lantai atas.

Baca juga: Haritsah bin an-Nu’man Menyerahkan Rumahnya untuk Rasulullah dan Fatimah

Melayani Rasulullah saw

Sekitar 6 atau 7 bulan Rasulullah saw tinggal di rumah beliau. Abu Ayyub Al Anshari dan istri beliau mendapatkan kesempatan untuk melayani Rasulullah saw.

Mereka menyiapkan dan menghidangkan makanan untuk Rasulullah saw. Beliau saw menyantap makanan yang dihidangkan oleh mereka dan Abu Ayyub makan sisanya.

Abu Ayyun Al Anshari dan istrinya selalu makan dari sisa makanan Rasulullah saw yang beberkat. Kedua suami istri ini biasa makan dari tempat dimana jari-jari Nabi saw pernah berada di makanan tersebut.

Sesudah beberapa hari lewat, orang-orang lain menuntut giliran menjamu makan Rasulullah saw, sehingga beliau saw selalu dijamu oleh penduduk Madinah secara bergantian. Kaum Anshar begitu bersemangat dan penuh keikhlasan dalam melayani Rasulullah saw.

Karena Abu Ayyub sering melayani keperluan makan Rasulullah saw, sehingga beliau menggetahui jenis makanan apa saja yang disukai dan yang tidak disukai oleh Rasulullah saw.

Suatu kali Rasulullah saw tidak makan makanan yang disediakan. Ketika ditanya oleh Abu Ayyub, kenapa tidak makan, beliau saw bersabda: “Saya tadi melihat ada bawang merah dan bawang putih (mentah) di masakan itu. Saya tidak suka, maka saya tidak memakannya.”

Abu Ayyub Al-Anshari lalu berkata: “Jika begitu apapun yang Rasulullah saw tidak sukai maka saya juga tidak akan sukai.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, hadits 23966, atau Shahih Muslim, no. 5356)

Inilah sebuah bentuk rasa cinta yang menakjubkan dari Abu Ayyub kepada yang mulia Rasulullah saw. Apa yang tidak disukai oleh Rasulullah saw Abu Ayub pun tidak menyukainya.

Begitu besar keberuntungan yang diperoleh Abu Ayub Al-Anshari dan istrinya, mereka menerima Rasulullah saw dan melayani beliau saw di rumah mereka.

Referensi:

  1. Riwayat Hidup Rasulullah saw – Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad
  2. Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, 16 Maret 2018

Baca juga: Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud


2 Komentar

eryndy · 28 April 2020 pada 7:32 pm

MasyaAllah, tabarakallah

    Muhammad Akram · 5 September 2020 pada 5:37 am

    Jazakumullah atas kunjungannya, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan