Abu al-Yasar Ka’ab bin Amru radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi saw dari kalangan Anshar yang baiat dimasa awal. Beliau sangat hati-hati dalam menyampaikan Hadits Raulullah saw.

Biografi Abul Al-Yasar Ka’ab bin Amru

Dikenl dengan Abu al-Yasar, sedang nama aslinya adalah Ka’ab bin Amru. Beliau berasal dari Kabilah Banu Salma.

Ayah beliau bernama Amru bin Ubad dan ibunda beliau bernama Nusaibah binti al-Azhar dari kabilah Banu Salma.

Abul al-Yasar Ka’ab bin Amru menerima kebenaran Islam di tangan Rasulullah saat peristiwa Baiat Aqabah.

Satu putra beliau bernama Umair yang lahir dari Ummu Amru. Ummu Amru adalah bibi dari Jabir bin Abdillah. Putra beliau yang lain, Yazid bin Abu Yasar lahir dari Lubabah binti Harits. Putra beliau yang lain lagi, Hubaib yang ibunya bernama Ummi Walid. Dan  Putri beliau bernama Aisyah yang ibunya bernama Ummur Rauya.

Abu al-Yasar ikut serta dalam Perang Badr, Perang Uhud, Perang Khandak dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw.

Baca juga: Sa’ad bin Ubadah Sahabat Nabi yang Suka Memberi Pertolongan

Mendapat Bantuan Dari Malaikat

Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan bahwa pada saat Perang Badr, Abu al-Yasar berhasil menawan Abbas, paman Rasulullah saw.

Pada saat ikut dalam Perang Badr itu Abu al-Yasar baru berumur 20 tahun dan postur tubuhnya kurus kering, sedangkan Abbas berpostur tubuh tinggi besar.

Rasulullah saw bertanya kepada Abul Yasar, “Bagaimana kamu dapat menawan Abbas? Karena kamu kurus sedangkan dia tinggi besar.”

Beliau menjawab, “Wahai Rasul! Ada seseorang yang membantu saya saat itu, yang mana belum pernah saya melihat orang itu sebelumnya tidak juga sesudah itu.” Beliau lalu menggambarkan wajah orang tersebut.

Rasulullah saw pun bersabda,

 لَقَدْ أَعَانَكَ عَلَيْهِمْ مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya dalam hal ini seorang malaikat mulia telah menolongmu.”

Dalam riwayat lain yang berhasil menawan Abbas pada perang Badr adalah Ubaid Bin Aus.

Pada Perang Badr, Abu al-Yasar juga berhasil merampas bendera pihak dari tangan Abu Aziz bin Umair.

Baca juga: Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul: Putra Pemimpin Orang-orang Munafik yang Mukhlis

Berlaku Adil Kepada Hamba Sahaya

Ubadah bin Walid meriwayatkan, “Suatu ketika kami berjumpa dengan Sahabat Rasulullah saw bernama Abul Yasar. Saat itu beliau tengah bersama hamba sahayanya. Kami melihat mereka berdua masing-masing mengenakan kain burdah (Dhari, bergaris) dan Ma’afiri (Yamani).

Saya katakan padanya, “Paman! Mengapa Anda tidak mengambil jubah bergaris budak Anda dan memberinya jubah Ma’afiri Anda, atau mengambil jubah Ma’afiri dia dan memberinya jubah bergaris Anda? Maka dia akan memiliki pakaian lengkap dan Anda akan memiliki pakaian lengkap.”

Kemudian, Abul Yasar mengusap rambut saya kemudian berdoa. Ia lalu berkata, “Keponakanku! Mata saya ini telah melihat, telinga saya ini telah mendengarkan dan hati ini telah memberikan tempat di dalamnya bahwa Nabi saw selalu bersabda,

أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ، وَاكْسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ 

“Berikanlah makan kepada hamba sahaya kalian seperti yang kalian makan dan buatlah mereka mengenakan pakaian seperti yang kalian pakai.”

“Dengan demikian, saya menyukai jika diantara harta duniawi ini saya berikan bagian yang sama kepada hamba sahaya saya, daripada harus kehilangan ganjaran di hari kiamat nanti.” (Al-Adabul Mufrad, Imam Bukhari)

Baca juga: Abu Talhah Setia Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Membebaskan Orang Yang Berhutang

Pada suatu hari Abu al-Yasar pergi menagih hutang kepada seseorang dari Banu Haram yang meminjam uang padanya, setalah mengucapkan salam beliau bertanya “Kemana dia? Apakah ia ada di rumah?”

Keluarganya menjawab, “Tidak ada.” Namun Abu al-Yasar tidak percaya begitu saja, beliau kemudian bertanya kepada anak orang itu, “Ayahmu dimana?”

Anak itu berkata, “Ayah tadi mendengar suara Anda lalu bersembunyi di balik ranjang.”

Abu al-Yasar berkata kepada ayahnya, “Kemarilah karena saya sudah tahu dimana Anda.” Orang itu pun akhirnya keluar, beliau bertanya, “Kenapa Anda sembunyi dari saya?”

Orang yang berhutang itu menjawab, “Demi Allah, saya akan beritahu anda bahwa saya tidak akan berdusta pada anda. Demi Allah! Saya takut jika saya beritahu Anda, saya berdusta pada Anda lalu berjanji lagi lalu mengingkari janji lagi. Kemudian, saya datang dan berdusta lagi dengan mengatakan nanti aku bayar tanggal ini, hari ini, padahal saya tidak dapat memenuhi janji itu.”

Kemudian ia berkata, “Anda adalah sahabat Rasulullah saw. Demi Allah! Saya adalah orang yang memerlukan.”

Abu al-Yasar berkata, “Anda bersumpah demi Allah?”

Ia menjawab, “Iya.  Demi Allah.”

Abu al-Yasar katakan lagi, “Demi Allah?” beliau bertanya lagi, “Anda mengatakan demi Allah bahwa Anda orang yang memerlukan.”

Ia katakana, “Iya. Demi Allah!”

Untuk ketiga kalinya Abu al-Yasar bertanya lagi, “Demi Allah?”

Ia menjawab, “Iya. Demi Allah!”

Abu al-Yasar kemudian memerintahkan agar orang itu mengambil catatan hutangnya, beliau berkata, “Bawalah catatan hutang!”

Kemduian saat itu juga Abu al-Yasar dengan tangannya sendiri menghapus bukti catatan hutang orang itu. Beliau berkata, “Jika kamu mendapatkan taufik untuk melunasi, bayarlah, jika tidak kamu saya bebaskan dari hutang.”

Selanjutnya beliau menyampaikan, “Saya memberikan kesaksian, penglihatan kedua mata saya ini – sambil meletakkan jari pada kedua mata – dan pendengaran kedua telinga saya ini serta hati saya ini mengingat – sambil mengisyarahkan ke dada – saya bersumpah melihat Rasulullah saw bersabda,

 مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Siapa yang memberikan tenggang waktu kepada orang yang berkesempitan atau membebaskan segala beban hutangnya maka Allah Ta’ala akan memberikan naungannya. Maka dari itu, saya bebaskan hutangmu karena saya mencari naungan Allah Ta’ala.” (al-Mu’jam al-Kabir)

Itulah Abu al-Yasar Ka’ab bin Amru, Sahabat Nabi saw yang sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw dan beliau selalu berusaha mengamalkannya.

Referensi:

  1. Khutbah Jumat, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba, 25 Januari 2019, di Masjid Baitul Futuh, Morden UK
  2. Sirat Khataman Nabiyyin, Mirza Bashir Ahmad

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan