Abdullah bin Rawahah radhiyAllahu ‘anhu salah satu Sahabat utama Nabi saw dari kalangan Anshar. Beliau mengalami rupa-rupa karunia dan keberkatan dalam berjuang di jalan Allah hingga akhirnya beliau syahid. 

Biografi Abdullah bin Rawahah

Nama Kunyahnya adalah Abu Muhammad, beliau berasal dari Bani Harits, kabilah Khazraj. Ibunda beliau bernama Kabsyah binti Waqid bin Amr bin al-Ithabah Haritsi.

Beliau termasuk dari duabelas orang yang ikut Baiat Aqabah Pertama. Beliau juga mengikuti Bai’at Aqabah Kedua.

Abdullah bin Rawahah ikut dalam Perang Badr, Perang Uhud dan peperangan lainnya dalam membela Islam.  

Setelah Perang Badr berakhir, beliau lah Sahabat yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menyampaikan berita kemenangan kepada penduduk Madinah.

Beliau salah satu Sahabat yang pandai membaca dan menulis. Baik sebelum maupun sesudah Islam, Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai penyair Arabia teramsyhur, beliau juga terkenal dengan julukan “Sang Penyair Rasulullah saw.”

Mengenai keistimewaan Abdullah bin Rawahah, janda beliau yang kemudian menikah setelah kesyahidan beliau meriwayatkan bahwa suaminya bertanya: “Coba beritahu saya apa kekhususan dari kesucian Abdullah bin Rawahah?”

Beliau berkata: “Abdullah bin Rawahah tidak akan meninggalkan rumah sebelum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Demikian pula hal yang paling pertama beliau lakukan setelah masuk ke rumah adalah berwudhu terus melaksanakan shalat sunnah dua rakaat.”

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Dujanah Mendapat Kehormatan Menggunakan Pedang Rasulullah

Ketaatan Kepada Rasulullah

Abdullah bin Rawahah memiliki keistimewaan dalam melaksanakan segala perintah Rasulullah saw.

Abdullah bin Abbas pernah menceritakan satu peristiwa saat beberapa sahabat, termasuk Abdullah bin Rawahah ditugaskan oleh Nabi saw untuk sebuah ekspedisi.

Kebetulan hari itu hari Jumat. Saat para sahabat lain berangkat beliau menunda keberangkatnya, beliau terlebih dahulu shalat Jumat berjamaah bersama Rasulullah saw,  setelah itu baru berangkat menyusul rombongan para sahabat lainnya.

Ketika shalat berjamaah telah selesai, Nabi saw melihatnya di Masjid, beliau saw pun bertanya, “Apa yang menghalangi Anda berangkat bersama para Sahabat yang lain?”

Beliau menjawab: “Saya ingin shalat berjamaah dengan Anda pada hari Jumat dan mendengarkan khotbah Anda lalu baru bergabung dengan mereka.

Nabi saw berkata: “Jika Anda mengorbankan apa yang ada di bumi semuanya, baru Anda akan menyadari kebajikan dari keberangkatan mereka, karena mereka mengikuti perintah.” (Sunan at-Tirmidzi, 527)

Sejak saat itu Abdullah bin Rawahah menjadi yang pertama berangkat ketika ditugaskan dan yang terakhir pulang.

Kemudian Abu Laila juga menceritakan perihal ketaatan Abdullah bin Rawahah terhadap perintha Rasulullah saw, katanya, suatu kali Nabi saw berpidato di dalam Masjid. Abdullah bin Rawahah tengah dalam perjalanan hendak masuk ke Masjid. Saat itu ia mendengar Nabi saw bersabda kepada para Sahabat di dalam Masjid, “Duduklah!” Abdulla bin Rawahah pun langsung duduk padahal masih di luar Masjid.

Ketika Nabi saw selesai berpidato lalu bersabda kepada Abdullah bin Rawahah, “Wahai Abdullah bin Rawahah! Semoga Allah meninggikan gairat ketakwaanmu kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Baca juga: [Sahabat Nabi] Jabir bin Abdullah Bisa Melunasi Hutangnya Berkat Doa Rasulullah

Panglim Ketiga di Perang Mu’tah

Saat persiapan menuju perang Mu’tah, Rasulullah saw memberikan instruksi, jika dalam pertempuran nanti Zaid bin Haritsa gugur maka yang akan memimpin pasukan adalah Jafar bin Abu Thalib. Kemudian, andai kata Jafar pun gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang harus memimpin pasukan. Dan jika Abdullah juga gugur, maka kaum Muslimin harus memilih sendiri panglima mereka.

Seorang Yahudi yang mendengar putusan itu berkata, “Wahai Abul Qasim, jika anda Nabi yang benar, ketiga-tiga perwira yang anda tunjuk itu pasti akan mati; sebab, Tuhan menyempurnakan kata-kata seorang Nabi.” Sambil menghadap kepada Zaid ia berkata, “Percayalah kepada kataku, jika Muhammad benar, kamu tidak akan kembali hidup-hidup.” Zaid, seorang mukmin sejati, menjawab, “Aku boleh pulang kembali hidup atau tidak, tetapi Muhammad adalah benar Rasul Allah.” (Halbiyyah, jilid 3, hlm. 75).

Zaid bin Arqam (seorang yatim piatu yang dinafkahi oleh Abdullah bin Rawahah) menyebutkan harapan Abdullah bin Rawahah untuk meraih kesyahidan.

Zaid berkata, “Saya mendengar satu malam Abdullah bin Rawahah mengulangi bait-bait puisi berikut, yang menyebutkan keluarganya dan mengatakan tidak akan kembali kepada mereka. Ia melantunkan bait-bait ini dengan kebahagiaan dan membicarakan istrinya:

Kamis malam tatkala kau menuntunku yang di atas punggung untaku untuk berjihad. Menempuh perjalanan jauh setelah meminum air segar di Hisaa’. Di dekatmu adalah kesenangan dan keberkahan… pada dirimu tidak ada kehinaan dan kerusakan. Namun, aku telah berada di medan perang. Dan tak akan kembali lagi kepadamu.

Seolah-olah bait-bait syair itu adalah pesan perpisahan bagi keluarganya tanpa mereka ketahui. Ketika anak bungsunya mendengar bait-bait syair ini, ia pun bersedih dan menangis.

Dengan lembut dipukulnya anak itu dan berkata, “Hai orang yang tak paham! Tidak ada kerugiannya padamu jika Allah Ta’ala menganugerahi saya kesyahidan. Bahkan, nanti engkau sendiri dengan nyaman akan menaiki saya sebagai tunggangan [menuju surga].” Beliau lalu bersiap untuk shalat malam. Di akhir shalat, beliau berdoa amat lama dan berkata kepada saya setelah itu, ‘Hai, Nak! Insya Allah saya syahid.’”

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abdullah bin Jahsy Dimarah Rasulullah Karena Melanggar Perintah

Semangat Abdullah bin Rawahah

Ketika pasukan kaum Muslimin itu tiba di perbatasan Siria, sungguh mengejutkan, mereka mengetahui bahwa mereka akan menghadapi 100.000 pasukan Romawi ditambah lagi dengan 100.000 pasukan yang berasal dari suku-suku Kristen Arab.

Dihadapkan kepada musuh yang begitu besar, kaum Muslim hampir saja berhenti di tengah perjalanan dan melaporkannya kepada Rasulullah saw di Madinah. Barangkali beliau saw dapat mengirimkan bala bantuan dan perintah-perintah baru.

Ketika para pemimpin pasukan bermusyawarah, Abdullah bin Rawahah bangkit dan dengan semangat menyala-nyala berkata:

“Saudara-saudaraku, saudara-saudara meninggalkan rumah saudara-saudara dengan tujuan mati syahid di jalan Allah, dan sekarang ketika kesyahidan sudah di ambang pintu, saudara-saudara nampak menjadi ragu-ragu. Kita sebegitu jauh tidak pernah bertempur karena lebih unggul daripada musuh dalam jumlah dan persenjataan. Pertolongan utama kita adalah keimanan kita. Jika musuh jauh mengungguli kita dalam jumlah dan perlengkapan, apa salahnya? Salah satu dari dua ganjaran pasti kita peroleh. Kita menang atau mati syahid di jalan Allah.”

Pasukan itu mendengar uraian beliau dan amat terkesan. “Ia benar,” kata mereka serempak. Pasukan Islam pun telah berketetapan hati untuk menghadapi musuh yang jumlahnya besar itu.

Pertempuran Mu’tah terjadi pada 5 Jumadil Awal 8 Hijriah atau 629 M, dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Yordan.

Pasukan Islam yang berjumlah hanya 3.000 orang harus melawan 200.000 orang pasukan gabungan Romawai Timur (Bizantium) dan suku-suku Kristen Arab. Bahkan kemungkinan pasukan musuh yang besar itu dipimpin langsung oleh sang Kaisar Romawi, Heraclius.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ukkasyah bin Mihsan Kawan Rasulullah di Surga

Tergenapinya Nubuwatan Rasulullah

Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, Zaid bin Haritsa sebagai panglima pasukan Islam gugur. Sebagaimana perintah Rasulullah saw, komando pasukan dipegang oleh sepupu Rasulullah saw sendiri yaitu Jafar bin Abu Thalib.

Jafar terpenggal tangan kanannya, tetapi panji perang dipegang erat dengan tangan kiri. Tangan kiri pun terpenggal pula dan kemudian, beliau menahan panji itu di antara kedua lengan buntungnya dan ditekankan ke dadanya. Akhirnya beliau pun syahid dalam pertempuran itu. Abdullah bin Rawahah, sesuai dengan perintah  Rasulullah saw, menyambut panji itu dan mengambil alih komando. Beliau pun kemudian syahid.

Apa yang Rasulullah saw sampaikan mengenai para panglima pasukan Islam menjadi kenyataan. Ketiganya berturu-turu gugur dan meraih kesyahidan dalam pertempuran itu.

Abdullah bin Rawahah memperlihatkan mutiara pengorbanan yang besar dalam medan pertempuran. Mush’ab bin Syabiah meriwayatkan setelah kesyahidan Zaid dan Ja’far, Abdullah bin Rawahah maju ke garis depan. Sebuah tombak melayang menghujam tubuh beliau, dan seketika itu juga darah mengucur keluar dengan derasnya. Beliau mengangkat tangan, menyeka darah tersebut dan melumurinya ke wajah beliau lalu terjatuh di tengah-tengah garis pertempuran musuh.

Namun sebagai panglima perang beliau bangkit dan terus memompa semangat umat Islam hingga nafas terakhir. Sambil meminta bantuan beliau membakar semangat umat Islam dengan mengatakan: “Lihatlah wahai umat Islam! Tubuh saudaramu ini tergeletak di depan musuh. Maju dan pukul mundur lah musuh tersebut dan lawan mereka.” Oleh karena itu, orang-orang Islam pun terus menerus melawan para musuh tersebut dengan begitu dahsyat. Dan Abdullah pun meraih kesyahidan.

Rasulullah saw juga memberikan kabar suka akhir yang baik. Beliau bersabda: “Berkenaan dengan para panglima perang yang syahid di perang Mu’tah, saya melihat mereka di Surga duduk diatas takhta emas.”

Itulah Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi saw yang gagah berani, beliau mengorbankan jiwanya dijalan Allah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan