Abdullah bin Jahsy radhiyAllahu ‘anhu Sahabat Nabi yang masuk Islam sebelum Rasulullah saw menjadikan Darul Arqam sebagai pusat pertemuan umat Islam. Karena itu, beliau termasuk di antara Sahabat yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.

Biografi Abdullah bin Jahsy

Abdullah bin Jahsy lahir sekitar 40 sebelum Hijrah, ayahnya Jahsy bin Riyab bin Ya‘mur, keturunan Bani Ghanam bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah. Kabilah Bani Ghanam dari Bani Asad bin Khuzaimah adalah salah satu kabilah suku Quraisy.

Ibunda beliau bernama Umaimah binti Abdul Muthallib, saudari dari Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah saw.  Dengan demikian Abdullah bin Jahsy adalah saudara sepupu Rasulullah saw.

Beliau pernah dua kali hijrah, ke Habsyah dan ke Madinah. Saat ke Habsyah beliau hijrah bersama kedua saudara beliau, Abu Ahmad dan Ubaidulah, juga kedua saudari beliau Zainab binti Jahsy dan Hamnah binti Jahsy.

Abdullah bin Jahsy pulang ke Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Selanjutnya, dari Makkah beliau pergi ke Madinah dengan membawa serta seluruh anggota Qabilahnya, Banu Ghanam bin Dudan yang telah baiat masuk Islam.

Abdullah bin Jahsyi tercatat sebagai orang kedua yang hijrah setelah Abu Salamah. Beliau membuat kota Makkah kosong dari semua kerabatnya sehingga kawasan tempat tinggal mereka sepi.

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa, ketika Banu Jahsy bin Riyab hijrah dan mengosongkan rumah-rumah mereka, Abu Sufyan bin Harb menjual rumah-rumah mereka kepada Amr bin Alqamah. Ketika kabar penjualan ini sampai kepada Abdullah bin Jahsy di Madinah, beliau menyampaikan kejadian tersebut kepada Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abdullah! Tidakkah engkau ridha jika sebagai ganti rumah tersebut Allah menggantinya dengan sebuah istana di surga?” Abdullah bin Jahsy menjawab: “Ya, Rasulullah, saya ridha.”

Abdullah bin Jahsy ikut serta dalam perang Badr, perang Uhud dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ukkasyah bin Mihsan Kawan Rasulullah di Surga

Ekpedisi Nakhlah

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah Munawwarah, murka penduduk Makkah tidak berkurang sedikitpun, bahkan mereka mulai mengancam umat Islam, mereka bersumpah akan menyerang Madinah.

Mereka melakukan persiapan untuk menyerang Madinah. Karena itu, Nabi saw mengutus sekitar 12 orang Sahabat untuk menyelidiki pergerakan orang-orang kufar Mekkah, untuk memimpin pasukan itu Rasulullah saw memilih Abdullah bin Jahsy sebagai komandanya. Beliau saw bersabda, “Saya tetapkan Anda sebagai ketua grup yang saya utus.”

Dalam ekspedisi itu Rasulullah saw untuk pertama kalinya menyerahkan sebuah bendera Islam kepada Abdullah bin Jahsy dan menjuluki beliau dengan sebutan Amirul Mukminin (Pemimpin orang-orang beriman). Dengan demikian Abdullah bin Jahsy menjadi sahabat yang paling beruntung, beliau yang pertama dijuluki sebagai Amirul Muminin.

Saat berangkat dari Madinah, Abdullah bin Jahsy dan pasukannya tidak mengetahui misi apa yang akan mereka laksanakan. Rasulullah saw menjaga kerahasiaannya, beliau saw memberikan kepada mereka surat tugas dengan pesan, “Bukalah surat ini dua hari kemudian setelah perjalanan.”

Abdullah bin Jahsy pun mentaati perintah Rasulullah saw, beliau membuka surat tersebut dua hari kemudian, di dalamnya tertulis: “Kalian tinggallah sementara di Nakhlah, carilah informasi mengenai keadaan Quraisy lalu laporkan kepada kami.”

Jadi, beliau dan pasukannya medapatkan tugas dari Rasulullah saw untuk mencari informasi tentang pergerkana pasukan kafir Quraisy.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah Rasulullah

Melaksanakan Perintah Rasulullah

Abdullah bin Jahsy menjalaknkan perintah Rasulullah saw dengan sebaik-baiknya, namun ketika di Nakhlah itu. Secara kebetulan, saat itu datang kafilah Quraisy dari arah Syam (Suriah) yang membawa barang dagangan.

Apa yang harus dilakukan? Abdullah bin Jahsy pun memutuskan untuk menyerang kafilah tersebut, serangan itu mengakibatkan terbunuhnya Amru bin Al-Hadhrami dari pihak Kafir, dua orang ditawan dan merampas barang dagangan kafilah itu.

Dua tawanan dan harta rampasan itu kemudian dibawa ke Madinah. Abdullah bin Jashy pun kemudian melaporkan apa yang teradi ke pada Rasulullah saw.

Saat menerima laporan itu beliau saw murka dan bersabda: “Saya tidak memerintahkan kalian untuk bertempur.” Beliau saw pun menolak untuk menerima harta rampasan.

Ibnu Jarir menulis dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan beliau telah keliru beranggapan saat itu belum masuk bulan Rajab padahal bulan rajab telah dimulai. Mereka mengangap saat itu masih 30 Jumadis Tsani dan belum mulai bulan Rajab.

Terbunuhnya Amru bin Al-Hadhrami saat Ekspedisi itu, menuai kecaman dari kaum musyrikin, bahwa umat Islam melanggar penrjanjia dan sudah tidak menghargai bulan suci, dimana di bulan tersebut segala jenis peperangan dihentikan.

Menjawab kecaman itu Allah Ta’ala menurunkan wahyunya kepada Rasulullah saw:

Mereka bertanya kepada engkau tentang berperang di dalam Bulan Suci. Katakanlah, “Berperang di dalam bulan ini adalah dosa besar” tetapi menghalangi orang dari jalan Allah swt. dan ingkar kepada-Nya dan kepada Masjidilharam dan mengusir penghuninya dari tempat itu adalah dosa yang lebih besar lagi di sisi Allah; dan [a] fitnah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan.  —QS Al-Baqarah [2]: 218

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan perihal keberatan tersebut. Memang benar berperang pada bulan tersebut merupakan hal yang sangat dibenci dan dosa menurut Allah Ta’ala. Namun yang lebih dibenci dari itu adalah melarang orang-orang ke jalan Allah dan melarang pernyataan tauhid Ilahi, merusak kesucian Masjid Haram dan mengusir orang-orang dari rumahnya tanpa disebabkan suatu kejahatan, melainkan hanya semata-mata beriman kepada Tuhan yang Esa.

Bagaimana pun Abdullah bin Jahsy telah berhasil menjalankan tugasnya dengan mendapatkan informasi yang akurat mengenai rencana dan gerak-gerik Quraisy Makkah dengan perantaraan para tawanan yang mereka dapat.

Kedua, jika kafilah dari Syria yang dipimpin Abu Sufyan itu sampai tanpa hambatan ke Makkah maka kaum Musyrikin Quraisy pasti akan memanfaatkannya untuk melakukan persiapan besar, yang tampaknya akan sulit bagi para sahabat yang jumlahnya sedikit dan persenjataan ala kadarnya untuk menghadapinya.

Ketiga, dengan adanya peristiwa itu para pemuka Quraisy yang takabbur naik pitam. Karena itu, dengan gejolak murka dan ketakabburan, mereka terburu-buru bertolak ke daerah Badr dengan membawa sekitar seribu lasykar pasukan dengan persenjataan lengkap. Mereka membawa tekad untuk menyelamatkan kafilahnya, namun mereka tidak menyadari di sana lah kematiannya telah ditakdirkan.

Dan yang keuntungan yang terakhir, saat pasukan Islam menuju Perang Badr mereka sama sekali tidak mengetahui besarnya kekuatan musuh yang akan dihadapi, bisa jadi jika diketahui akan menyebabkan pasukan Islam yang sedikit itu akan ragu.

Walhasil, Abdullah bin Jahsy adalah sahabat yang bermartabat mulia dan merupakan saudara sepupu Rasulullah saw. Beliau saw telah memilihnya untuk misi tersebut karena keadaannya yang dapat dipercaya dan dapat menjaga rahasia. Dan beliau telah menjalankan perintah Rasulullah saw dengan sebaik-baiknya.

Referensi: Khutbah Jumat – Hadhrat Mirza Masroor Ahmad 11 Mei

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ammar bin Yasir Tetap Teguh Keimanannya Meski Disiksa Habis-habisan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan