Sa’ad bin Ubadah Sahabat Nabi yang Suka Memberi Pertolongan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

saad bin ubadah

Sa’ad bin Ubadah radiallahu ‘anhu adalah salah seorang Sahabat Nabi yang utama dari kalangan Anshar. Ketaatan dan pengorbanannya begitu besar untuk Islam. Beliau suka memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Biografi Sa’ad bin Ubadah

Sa’ad bin Ubadah merupakan pemimpin seluruh kabilah Khazraj dari Bani Saidah di Madinah.

Beliau baiat, masuk Islam pada peristiwa Baiat Aqabah Kedua, dan beliau merupakan salah satu diantara 12 Naqib yang ditetapkan pada kesempatan baiat tersebut.

Setelah Sa’ad bin Ubadah, dan Mundzir bin Amru dan Abu Dujanah baiat masuk Islam, mereka menghancurkan patung berhala milik Bani Saidah.

Setelah peristiwa hijrah, Rasululah saw mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirn, oleh karena itu beliau saw mempersaudarakan Sa’ad bin Ubadah dengan Hadhrat Tulaib bin Umair dari kaum Muhajirin.

Sa’ad bin Ubadah adalah salah seorang Sahabat Nabi yang utama dari kalangan Anshar. Ketaatan dan pengorbanannya begitu besar untuk Islam.

Sampai sampai, paska kewafatan Rasul, beberapa anshar mencalonkan nama beliau untuk menjadi khalifah dari kalangan anshar.

Dikatakan bahwa diantara kabilah Aus dan Khazraj tidak ada rumah yang didalamnya terdapat empat orang yang kesemuanya dermawan, kecuali rumah Dulaim lalu rumah anaknya Ubadah, lalu rumah anaknya Sa’d, lalu anaknya Qais. Berkenaan dengan kedermawanan Dulaim dan keluarganya banyak sekali dikenal berita yang baik.

Satu tahun paska kedatangan Rasulullah saw di Madinah, pada bulan Safar Rasulullah saw berangkat menuju Abwa (Ghazwa Abwa atau Ghazwa Wadan), suatu tempat yang berjarak 23 mil dari Juhfah Sahra. pada saat itu Rasulullah saw menetapkan Sa’ad bin Ubadah sebagai Amir di Madinah..

Sa’ad bin Ubadah ikut serta pada Perang Badar, Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw.

History Founder

Baca juga: Abu Talhah: Tanganya Buntung Karena Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Mempersembahkan Hidangan bagi Rasulullah

Pada peristiwa hijrah, saat Rasulullah saw tiba di Madinah, kaum Anshar dengan penuh harap agar Rasulullah saw mau tinggal di rumah mereka.  

Diantaranya Sa’ad bin Ubadah, beliau memohon dengan sungguh-sungguh agar Rasulullah saw tinggal di rumanya. Akan tetapi Rasulullah saw bersabda kepada Sa’ad: “Wahai Abu Tsabit! Tinggalkan jalan unta ini, karena ia sudah diperintahkan, biarkan ia berjalan sesukanya.”

Hingga akhirnya Rasulullah saw memilih rumah Abu Ayub Anshari untuk tinggal sementara di rumahnya, sebelum mesjid dan kediaman beliau saw selesai dibangun.

Meskipun rumah Sa’ad bin Ubadah tidak dipilih oleh Rasulullah saw, beliau tidak kecewa dan tetap berusaha bagaimana bisa melayani Rasulullah saw dengan sebaik-baiknya.

Diketahui selain keluarga Abu Ayub, kaum Anshar dengan penuh kecintaan biasa mengirimkan hidangan bagi Rasulullah saw. Dan dalam menyediakan makanan bagi Rasulullah saw ini Sa’ad bin Ubadah memilik keistimewaan tersendiri.

Dimasa-masa awal kedatangan Rasulullah saw, setiap harinya Sa’ad mempersembahkan mangkuk besar yang didalamnya berisi daging, Tsarid (makanan yang terbuat dari roti yang diremukkan kemudian dicampur dengan kuah daging) atau Tsarid susu, Tsarid Zaitun atau mangkuk berisi lemak daging.

Tsarid by خطوات سهلة Easy Steps

Zaid Bin Tsabit meriwayatkan, “Ketika Rasul tinggal di rumah Abu Ayub Anshari, tidak ada hadiah yang dikirimkan untuk beliau saat itu, hadiah pertama yang saya persembahkan kepada Rasulullah saw adalah satu mangkuk yang berisi Tsarid dari roti gandum. Saya berkata: ‘Masakan ini dari ibu saya untuk tuan.’”

Rasul bersabda: “Semoga Allah memberikan keberkatan didalamnya” lalu Rasul memanggil sahabat untuk makan bersama.

“Baru saja saya sampai di pintu, datanglah Sa’ad Bin Ubadah membawa mangkuk yang diangkat oleh hamba sahayanya diatas kepala. Saya berdiri di pintu rumah Abu Ayyub lalu saya buka kain penutup mangkuk ternyata didalamnya terdapat Tsarid yang didalamnya merupakan campuran tulang daging untuk Rasulullah saw.”

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Sup Kesukaan Rasulullah

Rasulullah saw tinggal di rumah Abu Ayub selama 7 bulan. Ketika ditanyakan kepada Hadhrat Ummi Ayub tentang makanan kesukaan Rasulullah saw, beliau menjawab: “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah saw memesan kepada kami suatu makanan yang khas dan tidak pernah juga kami mendengar Rasulullah saw mencela kekurangan suatu masakan yang dihidangkan untuk beliau.”

Kemudian diceritakan oleh Hadhrat Ayub, “Suatu malam Sa’ad Bin Ubadah menyuruh seseorang untuk mengirimkan mengkuk berisi Tufaishal sejenis sup kehadapan Rasulullah saw, lalu Rasul meminumnya sampai kenyang, selain itu saya tidak pernah melihat Rasulullah saw meminum sesuatu sampai kenyang. Setelah itu kami sering mengirim sup tersebut untuk Rasulullah saw. Beliau tidak pernah meminta untuk dibuatkan suatu masakan khusus atau mencela suatu masakan, namun Rasul sangat menyukai masakan tersebut meminumnya sampai kenyang. Sehingga sahabat menjadi tahu bahwa beliau menyukai masakan tersebut, Dikatakan bahwa kami biasa membuatkan Harees yakni masakan terkenal yang terbuat dari gandum dan daging yang mana beliau menyukainya.”

Harees by Saudi Food Eman

Baca juga: Muadz bin Jabal: Sahabat Nabi yang Menjadi Mubaligh

Rasulullah Berkunjung ke Rumah Sa’ad

Pada suatu hari, Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah memohon kepada Rasulullah sawa untuk berkenan hadir di rumah beliau. Hadhrat Rasulullah saw pun memenuhi undangannya. Sa’ad menghidangkan kurma, wijen dan mangkuk berisi susu untuk Rasulullah saw lalu beliau saw meminumnya.

Qais bin Sa’ad meriwayatkan, Rasulullah saw berkunjung ke rumah kami. Rasul mengucapkan asalamualaikum wr wb kepada penghuni rumah. Qais berkata: ayah saya menjawab salam dengan suara pelan. Lalu saya tanyakan kepada ayah: Apakah ayah tidak mengatakan silahkan masuk kepada Rasul? Sa’ad menjawab: Biarkan Rasulullah saw mengucapkan salam yang banyak kepada kita, dengan begitu doa keselamatan Rasul akan tercurah kepada kita sebanyak banyaknya. Karena tidak terdengar respon akhirnya Rasul pun kembali.

Kemudian Sa’ad mengejar Rasul dan berkata: “Saya mendengar ucapan salam tuan dan saya menjawabnya dengan suara pelan supaya tuan terus menyampaikan salam (doa keselamatan) kepada kepada kami.”

Lalu beliau kembali lagi kerumah Sa’ad. Sa’ad memohon kepada Rasulullah saw supaya beliau berkenan mandi, lalu rasul pun mandi. Lalu Sa’d memberikan kain yang diwarnai oleh tumbuhan berwarna kuning yang tumbuh di daerah Ghafran dan Yaman. Kemudian Rasul menutupi tubuh dengan itu, Rasul mengangkat tangan dan bersabda: “Ya Allah! Curahkanlah salawat dan rahmat Engkau kepada keturunan Sa’ad bin Ubadah.”

Baca juga: Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I

Termasuk Sahabat Badar

Hadhrat Sa’ad bin Ubadah termasuk ke dalam sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar, meskipun ada para ahli yang menyebutkan beliau tidak ikut serta.

Alkisah, beliau tengah bersiap siap untuk berangkat perang. Beliau berangkat ke rumah rumah anshar mempersiapkan untuk keberangkatan. Namun sebelum pergi beliau digigit anjing, karena itu beliau tidak dapat ikut Parang Badar.

Rasul bersabda: Meskipun Sa’ad tidak dapat ikut perang, namun beliau sudah berniat untuk ikut lalu Rasulullah saw menetapkan bagian untuk beliau dari antara harta rampasan yang didapat dari perang badar.

Ketika berangkat ke perang Badar Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah menghadiahkan pedang yang bernama Adhab kepada Rasulullah saw dan Rasululah pun ikut dalam perang Badar menggunakan pedang tersebut. Hadhrat Sa’ad juga menghadiahkan keledai kepada Rasulullah saw. Rasululah memiliki 7 pakaian besi salah satunya bernama zatul fudhul, nama tersebut diberikan sesuai dengan ukuran panjangnya. Pakaian besi tersebut dikirimkan oleh Hadhrat Ubadah kepada Rasulullah saw ketika beliau telah berangkat ke perang badar. Inilah baju besi yang dijadikan jaminan oleh Rasulullah saw kepada Abu Syam seorang Yahudi sebagai ganti dari gandum. Berat gandum tersebut adalah 30 sha digunakan Selama satu tahun sebagai hutang.

Baca juga: Abu Hurairah ra: Dari Ahli Shuffah Menjadi Gubernur Bahrain

Melayani Rasulullah

Hadhrat Sa’ad bin Ubadah selalu berusaha melayani Raulullah saw, contohnya pada peristiwa Perang Uhud. Sebelum berabgkat ke medan tempur Sa’ad beserta dua orang Sahabat lainnya, yaitu Usaid bin Huzair dan Sa’ad bin Muadz setia menjaga Rasulullah saw. Mereka terus berjaga hingga subuh di pintu kediaman Rasulullah saw.

Ketika Nabi saw keluar menuju Uhud, beliau saw dengan membawa busur dan tomak di tangannya beliau menunggangi kuda, maka kedua Sa’ad, yakni Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah berlari di depan beliau saw dan pasukan Islam lainnya berada di kanan dan kiri beliau saw.

Pada saat pertempuran berlangsung hingga Rasulullah saw terdesak dan terluka, Sa’ad bin Ubadah salah satu sahabat yang tetap teguh berdiri di samping Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw pulang dari perang Uhud menuju Madinah beliau dalam keadaan terluka. Dengan bertumpu kepada Sa’ad bin Madz dan Sa’ad bin Ubadah, Rasulullah saw turun dari kuda hingga masuk ke dala rumah.

Baca juga: Ibnu Batutah: Menjelajah Dunia Hingga Sampai di Indonesia

Bersedekah bagi Orang Tua

Hadhrat Sa’ad bin Ubadah selalu berusaha menghidmati orang tuanya. Namun ketika ibunda beliau Hamrah binti Mas’ud wafat, beliau tidak ada di tempat. Saat itu beliau sedang berjuang bersama Rasulullah saw dan para Sahabat lainnya dalam perang Dumatul Jandal, pada bulan Rabiul Awal 5 Hjiriah.

Setelah kembali ke Madinah Sa’ad memohon kepada Rasulullah, “Ibuku telah wafat dan aku ingin anda menyalatkan jenazahnya.” Rasulullah saw menyalatkan jenazah beliau meskipun beliau telah wafat satu bulan sebelumnya.

Hadhrat Sa’id Bin Musayyab meriwayatkan bahwa Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah datang ke hadapan Rasulullah saw dan mengatakan, “Ibu saya telah wafat. Beliau tidak berwasiyat. Jika saya bersedekah atas nama beliau apakah itu akan berfaedah untuk beliau?”. Rasulullah saw menjawab, “Ya”.

Hadhrat Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, “Sedekah apa yang paling anda sukai?”. Beliau saw menjawab, “Sediakanlah air minum”. Nampaknya pada waktu itu sedang terjadi krisis air. Atas hal itu Hadhrat Sa’ad menggali satu sumur dan beliau melakukannya atas nama ibunda beliau.

Tidak cukup hanya sampai disitu saja, Hadhrat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa singkatnya ibunda beliau sudah tidak ada dan pada saat itu beliau memohon ke hadapan Hadhrat Rasulullah saw, “Saya waktu itu sedang tidak ada. Apakah sedekah yang saya berikan atas nama beliau akan memberikan manfaat bagi beliau?”

Rasulullah saw menjawab, “Ya”. Maka beliau mengatakan, “Ya Rasulullah saw! Aku menjadikan engkau sebagai saksi, bahwa kebunku, Makhraaf, sebagai sedekah atas nama beliau.”

Baca juga: Umar bin Khattab ra: Penakluk Persia dan Romawi

Sahabat Nabi yang Senang Memberi Pertolongan

Allamah ibnu Sirin meriwayatkan, Pada malam hari biasanya orang-orang mengundang satu atau dua orang diantara ahli suffah untuk makan dirumahnya, namun Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah mengundang sampai 80 ahli sufah sekaligus.

Pada umumnya para sahabat memperhatikan orang-orang miskin yang biasa menyertai Rasulullah saw dan yang paling banyak memberikan perhatian adalah Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah.

Hadhrat Sa’d bin Ubadah Sahabat Nabi yang sangat dermawan dan membantu orang-orang miskin, dan seorang yang sangat senang memberi pertolongan. Dan akhirnya beliau wafat pada zaman Hadhrat Umar.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan