Saad Bin Muadz, Penentang Yang Menjadi Pembela Islam

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

saad-bin-muadz

Saad bin Muadz adalah sahabat Rasulullahsaw yang berasal dari kaum Anshar. Beliau seorang pemimpin kabilah Aus yang sangat berpengaru, sehingga setelah beliau beriman maka seluruh kabilahnya mengikutinya masuk Islam.

Latar Belakang Saad Bin Muadz  

Saad bin Muadz radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dikena juga dengan panggilan Abu Amru al-Anshari. Beliaura berasal dari kaum Anshar salah satu kabilah Aus, ranting Banu Abdul Asyhal dan beliau adalah pemimpin kabilah.

Kabilah Banu Asyhal merupakan bagian khusus dari kabilah Aus, golongan Anshar yang terkenal. Kabilah ini dipimpin oleh Saad bin Muadz yang tidak hanya pemimpin tertinggi kabilah Banu Abdul Asyhal, bahkan pemimpin kabilah Aus.

Ayahanda beliau bernama Muadz bin Nu’man dan ibunda beliau bernama Kabsyah binti Rafi bin Muawiyah bin Ubaid bin Abjar yang bersaudari dengan Ibunda Asad bin Zurarahra, yaitu Su’da atau Fariah binti Rafi bin Muawiyah bin Ubaid bin Abjar. 

Istri beliau bernama Hindun binti Simaak, darinya Saad bin Muadzra dikaruniayi dua orang putra, Amru dan Abdullah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Mushab bin Umair Tinggalkan Kemewahan Demi Keimanan

Diutusnya Mushab Bin Umair  

Setelah Baiat Aqabah Ula, 12 muallaf dari Yatsrib (Madinah) yang telah baiat itu  kemudian meninggalkan Makkah, sebelumnya mereka memohon supaya dikirimkan seorang muallim bersama mereka yang akan mengajarkan Islam kepada mereka dan menyampaikan tabligh Islam kepada saudara-saudara yang masih musyrik di Madinah.

Oleh karena itu Rasulullahsaw pun kemudian mengutus Mushab bin Umairra, seorang pemuda yang sangat berdedikasi dari kabilah Abud Daar.

Pada masa itu para Da’i (Muballigh) Islam disebut dengan nama Qari (jamaknya Qurra) atau Muqri karena kebanyakan tugas mereka adalah memperdengarkan Al-Quran. Hal itu kewajiban terpenting mereka dan merupakan cara terbaik dalam bertabligh.

Sesampainya di Madinah, Mushab bin Umairra tinggal di rumah Asad bin Zurarahra Muslim pertama di Madinah dan seorang sahabat yang sangat setia dan berpengaruh.

Mushabra menjadikan rumah tersebut sebagai pusat pertablighan dan sibuk dalam mengemban tanggung jawabnya. Karena di Madinah umat Islam dapat hidup bersama dan lebih damai sehingga atas usulan Asad bin Zurarah, Nabisaw memerintahkan Mushab bin Umair untuk memimpin shalat Jumat. Dengan demikian dimulailah kehidupan umat Muslim yang berjamaah.

Baca juga: Zubair Bin Awwam, Seorang Pemberani Yang Dijamin Masuk

Penetang Yang Menjadi Pembela Islam

Sebelum baiat masuk Islam, Saad bin Muadz adalah seorang penentang keras Islam. Ketika Islam menyebar di Madinah, Saad bin Muadz kecewa dan ingin menghentikannya. Namun beliau memiliki ikatan kekerabatan yang dekat dengan dengan Asad bin Zurarah, saudara sepupu beliau.

Asad bin Zhurarahra sudah lebih dulu baiat masuk Islam sehingga membuat Saad bin Muadz sendiri secara langsung tertahan untuk ikut campur supaya tidak terjadi ketidaknyamanan.

Karena itu, beliau katakan kepada kerabat lainnya Usaid bin Al-Hudhair, bahwa beliau  merasa enggan untuk berhadapan dan berbicara langsung dengan Asad, karena ia sudah masuk Islam dan menyertai Mushab untuk bertabligh. Karenanya beliau menyuruh Usaid untuk menghentikan Mushab.

Usaid merupakan salah satu pemuka pada kabilah Abdul Asyhal, ayahnya pun pernah memimpin kabilah Aus pada perang Buats dan setelah Saad bin Muadz, Usaid bin Hudair memiliki pengaruh besar dalam kabilahnya.

Atas perintah Saad, ia pergi menemui Mushab bin Umair dan Asad bin Zurarah. Dengan nada marah ia berkata kepada Mushab, “Kenapa kamu menyesatkan orang-orangku dari agamanya?! Hentikanlah ini, jika tidak, akibatnya tidak akan baik.”

Sebelum Mushabra menjawab, Asad berkata dengan suara pelan kepada Mushab, “Orang ini seorang pemimpin yang sangat berpengaruh di kabilahnya, berbicaralah dengan sopan dan lembut padanya.”

Mushab lalu berbicara kepada Usaid dengan penuh santun, “Anda tidak perlu marah, silahkan tuan duduk sejenak dan mohon dengarkan dulu penjelasan kami dengan kepala dingin setelah itu silahkan tuan menyampaikan pendapatnya nanti.”

Usaid yang berfitrat baik menganggap ucapannya benar lalu duduk. Mushab lalu memperdengarkan Al-Qur’an kepadanya dan menjelaskan ajaran Islam dengan penuh simpatik. Hal itu sedemikian rupa berkesan bagi Usaid sehingga saat itu juga beliau menyatakan baiat masuk Islam.

Usaid bin Hudair mengatakan, “Ada lagi seseorang yang jika ia beriman maka semua penduduk kabilah kami akan ikut baiat semuanya, tunggu saja, akan saya ajak kemari orang itu.”

Usaid pun beranjak pergi dan mengutus Saad bin Muadz kepada Mushab bin Umair dan Asad bin Zurarah dengan suatu alasan.

Datanglah Saad bin Muadz lalu berkata kepada Asad bin Zurarah dengan nada marah, “Coba lihat Asad! Kamu menyalahgunakan kekerabatan, tidaklah benar saat ini saya diam karena ada ikatan kekerabatan, namun jangan salahgunakan kekerabatan ini.”

Mendengar itu Mushab mendinginkannya dengan lembut seperti sebelumnya. Mushab berkata, “Silahkan Anda duduk sekejap. Mohon dengarkan dulu penjelasan saya. Jika dari penyampaian saya nanti ada yang harus dibantah silahkan sampaikan.”

Saad berkata, “Baiklah ada benarnya juga.” Beliau lalu menyandarkan senjatanya. Seperti sebelumnya, Mushab menilawatkan Al-Qur’an lalu menjelaskan prinsip Islami dengan cara yang menarik.

Tidak lama setelah berlangsung pembicaraan Saad bin Muadz yakin. Seperti yang disunnahkan beliau lalu membasuh tubuh dan membaca kalimah syahadat. Saat itu juga beliau baiat masuk Islam.

Rasulullahsaw menjalin persaudaraan (muwakhat) antara Saad bin Muadzra dan Saad bin Abi Waqqashra. Menurut riwayat lain beliau ber-muwakhat dengan Abu Ubaidah bin Jarrahra.

Seluruh Kabilah Saad Bin Muadz Beriman

Setelah Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair beriman, mereka bersama-sama pergi menemui kabilahnya. Mereka bertanya dengan gaya orang Arab kepada penduduknya: “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa yang kalian ketahui mengenai diriku?”

Semuanya serempak mengatakan, “Anda adalah pemimpin kami dan keturunan pemimpin kami. Kami yakin sepenuhnya pada apa yang anda katakan.”

Saad berkata: “Kalian tidak memiliki hubungan apa-apa denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Setelah itu Saad bin Muadzra menjelaskan prinsip ajaran Islam kepada mereka. Belum saja masuk waktu sore, semua penduduk kabilahnya baiat masuk Islam.

Kemudian, Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair menghancurkan patung-patung berhala milik kabilah mereka dengan tangan mereka sendiri.

Dengan demikian seluruh anggota kabilah itu menerima Islam. Dari antara kaum Anshar Banu Abdul Asyhal adalah kabilah pertama yang seluruh anggotanya baik laki-laki maupun perempuan menerima Islam.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Keberanian Saad Bin Muadz

Selang beberapa masa setelah peristiwa hijrah ke Madinah, Saad bin Muadzra sebagai pemimpin tertinggi kabilah Aus dan sudah baiat masuk Islam pergi ke Makkah untuk melaksanakan Umrah.

Selama di Makkah Saad menginap di rumah Umayyah seorang pemuka Makkah dan juga sahabat lama pada zaman jahiliyah.

Karena beliau mengetahui penduduk Makkah pasti akan mengganggu beliau jika beliau melakukan umrah sendiri, maka supaya terhindar dari keributan, Saadra mengatakan kepada Umayyah, “Saya ingin Umrah di Ka’bah, kamu tentukanlah waktu supaya saya dapat umrah sendiri dengan tenang dan ikutlah bersama saya. Setelah selesai umrah nanti saya akan kembali ke kampung halaman.”

Pada siang harinya Umayyah Bin Khalf mengajak Saad ke Kabah ketika pada umumnya orang-orang sedang beristirahat di rumahnya masing-masing. Namun kebetulan Abu Jahal datang pada saat itu dan ketika pandangannya tertuju kepada Saad bin Muadzra, amarah bergejolak dalam diri Abu Jahal. Namun ia berusaha menahan amarahnya lalu bertanya kepada Umayyah, “Wahai Abu Shafwan! Siapa orang yang bersamamu ini?”

Umayyah berkata, “Dia adalah Saad bin Muadz pemimpin kabilah Aus.” Saat itu Abu Jahl naik pitam dan berkata kepada Saad, “Apakah kalian beranggapan setelah murtad dan memberikan perlindungan kepada Muhammad, kalian akan dapat bertawaf dengan aman? Apakah kalian beranggapan bahwa kalian mampu untuk melindungi dan menolong Muhammad? Demi Tuhan! Jika saat ini Abu Shafwan Umayyah bin Khalf tidak menyertaimu, kamu pasti tidak akan dapat pulang dengan selamat.”

Saad bin Muadzra terhindar dari kerusuhan saat itu, namun dalam urat nadi beliau mengalir darah pemimpin dan dalam hati beliau dipenuhi dengan gejolak semangat keimanan.

Dengan suara lantang Saad menjawab, “Demi Tuhan! Jika kamu menghalangiku dari Ka’bah, ingatlah, kamu tidak akan dapat memasuki jalan menuju Syam dengan aman, karena kami-lah yang menjaga jalan tersebut dan dapat melakukan banyak hal untuk menghadapimu.”

Saad bin Muadz dengan penuh keberanian balas mengancam Abu Jahal. Setelah melaksanakan tawaf di Ka’bah akhirnya beliaura kembali dan sampai di Madinah dengan selamat.

Kesetiaan Saad Bin Muadz

Saad bin Muadz ikut serta pada Perang Badr, Perang Uhud dan Perang Khandaq bersama dengan Rasulullahsaw. Pada perang Badr, bendera kabilah Aus dipegang oleh beliaura.

Pada saat perang Badr, pernyataan gejolak rasa cinta dan kesetiaan Saad bin Muadz kepada Rasulullahsaw tampak dari peristiwa berikut yakni ketika beliau memberikan gagasan kepada Rasulullahsaw

Ketika umat Muslim sampai di Zafran – satu nama tempat yang berjarak hanya satu persinggahan lagi dari Badar – maka Nabisaw menerima kabar bahwa satu pasukan perang yang besar tengah datang dari Makkah.

Karena kabar tersebut sudah bukan rahasia lagi, Rasulullahsaw mengumpulkan para sahabat dan mengabarkan hal tersebut. Rasul meminta musyawarah dari mereka.

Para sahabat terkemuka bangkit dan berbicara yang mencerminkan pengorbanan yang tinggi. Mereka satu demi satu mengatakan, “Harta dan jiwa kami adalah milik Allah Taala, kami siap dalam setiap medan pengkhidmatan.”

Al-Miqdaad bin Aswad yang memiliki nama lain Al-Miqdaad bin Amru berkata:

“Wahai Rasulullah! Kami tidaklah seperti sahabat nabi Musa yang mengatakan kepada Musa: ‘Pergilah engkau dan Tuhan engkau berperang, kami akan duduk di sini.’ Melainkan kami akan mengatakan, ‘Kemanapun Anda berkehendak, silahkan, kami akan berperang menyertai Anda di sebelah kiri-kanan dan di depan dan di belakang Anda.’” (Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya, Al-Miqdaad bin Aswad)

Beliausaw ingin supaya kaum Anshar pun berbicara karena beliau beranggapan mungkin Anshar menganggap bahwa berdasarkan baiat Aqabah kewajiban mereka hanya jika ada serangan ke Madinah, Rasulullahsaw pun bersabda, “Baiklah, berikan saya masukan, apa yang harus dilakukan.”

Saad bin Muadzra sebagai seorang pemimpin kabilah Aus memahami keinginan Rasulullahsaw, lalu berbicara mewakili kaum Anshar:

“Wahai Rasul! Mungkin Anda menanyakan pendapat kami. Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada Anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang Anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami bahwa kami senantiasa mendengarkan kata-kata Anda dan menaatinya.”

“Maka, laksanakanlah terus ya Rasulullah apa yang Anda inginkan; kami akan selalu bersama Anda dan demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, seandainya Anda terpaksa menghadapkan kami dengan lautan ini lalu Anda menyuruh kami menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan mencebur, tidak seorang pun dari kami yang akan mundur..”

“Dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi. Sungguh kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan. Kami yakin betul bahwa Allah akan perlihatkan kepada Anda tindakan dari kami yang membuat mata Anda takjub. Perintahkanlah kami, wahai Rasul Allah! Niscaya kami akan pergi ke tempat mana pun Anda pergi.”

Setelah mendengarkan ucapan Saad bin Muadzra tersebut, Rasulullahsaw sangat bahagia dan bersabda:

سِيرُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنّ اللّهَ تَعَالَى قَدْ وَعَدَنِي إحْدَى الطّائِفَتَيْنِ وَاَللّهِ لَكَأَنّي الْآنَ أَنْظُرُ إلَى مَصَارِعِ الْقَوْمِ

Siiruu wa absyiruu fainnallaaha qad wa’adanii ihdath thaaifataini wallaahi laka-annii anzhur ilaa mashaari’il qoumi.’

“Berderap majulah dengan menyebut nama Allah dan berbahagialah karena Allah ta’ala telah berjanji padaku bahwa Dia pasti akan memberikan kemenangan kepada kita diatas satu kelompok diantara dua kelompok kuffar yakni antara lasykar perang dan kafilah dagang. Demi Tuhan! Saat ini seolah olah saya tengah menyaksikan tempat para musuh akan mati berguguran, dan seperti itulah yang terjadi.” (Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam)

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Wafatnya Saad Bin Muadz

Setelah beriman Saad bin Muadzra menjadi sahabat terkemuka, terlebih di kalangan Anshar, tidak diragukan lagi beliau memiliki maqam yang tinggi.

Secara khusus Saad bin Muadzra memiliki kedudukan tinggi di kalangan Anshar Madinah sebagaimana yang dimiliki oleh Abu Bakrra di kalangan Muhajirin Makkah.

Beliau seorang pemuda yang sangat mukhlis, sangat setia dan rela berkorban bagi Rasulullahsaw dan Islam. Dikarenakan beliau merupakan pemimpin tertinggi dalam kabilahnya, beliau juga sangat cerdas.

Saat peristiwa Perang Khandaq, Saad bin Muadzra mengalami luka-luka yang terus memburuk, karena itu setelah beberapa waktu beliau pun wafat.

Umat Islam dan Rasulullahsaw merasa sangat kehilangan atas wafatnya Saad bin Muadzra diusianya yang masih muda, beliausaw bersabda:

 اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ

“Kewafatan Saad bin Muadz telah menggetarkan arasy Sang Maha Rahman.”

Demikian kisah singkat dari seorang Sahabat Rasulullahsaw yang bernama Saad bin Muadz, semoga bermanfaat.

Sumber:

  • Sirat Khaataman Nabiyyin – Mirza Basyir Ahmad
  • Khotbah Jumat Mirza Masroor Ahmad, pada 26 Juni 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Hamzah bin Abdul Muthalib Sang Singa Allah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan