Saad Bin Abi Waqqash Tabah Menghadapi Berbagai Cobaan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

saad-bin-abi-waqqash

Saad bin Abi Waqqash radhiyAllahu ta’ala ‘anhu adalah salah satu Asyrah Mubasyarah (10 sahabat Rasulullahsaw yang dijamin masuk surga).  Beliau sangat pemberani dan ksatria. Beliau juga termasuk sahabat yang terhormat dan terpandang.

Awal Kehidupan

Saad bin Malik atau lebih dikenal sebagai Saad bin Abi Waqqash bergelar Abu Ishaq. Ayahanda beliau bernama Malik bin Uhaib, dalam riwayat lain disebutkan bahwa ayahanda beliau bernama Malik bin Wuhaib.

Ayah beliau lebih terkenal dengan gelarnya ‘Abu Waqqash’, itulah sebabnya nama beliau menjadi Saad bin Abi Waqqash. Ibudan beliau bernama Hamnah binti Sufyan. Saad bin Abi Waqqash berasal dari Qabilah Quraisy, Banu Zuhrah.

Rasulullahsaw biasa memanggil paman pada Saad d bin Abi Waqqashra. Suatu kali Saad bin Abi Waqqashra lewat di depan beliausaw, maka Rasulullahsaw bersabda:

هَذَا خَالِي فَلْيُرِنِي امْرُؤٌ خَالَهُ!

“Ini adalah pamanku. Siapa yang punya paman seperti ini? Coba tunjukan.”

Hal itu ialah karena ibunda Rasulullahsaw , Siti Aminah berasal dari Banu Zuhrah sama seperti Saad bin Abi Waqqashra berasal dari Banu Zuhrah.

Keimanan Saad Bin Abi Waqqash

Saad bin Malik atau Saad bin Abi Waqqash termasuk 5 orang yang berhasil diajak menerima Islam memalui perantaraan tabligh yang disampaikan oleh Abu Bakrra.

Saad bin Abi Waqqashra menyampaikan berkaitan dengan kisah berimannya, “Pada saat itu belum ada yang masuk islam. Namun pada hari saya menerima Islam dan sampai 7 hari keadaannya adalah, saya sepertiga dari umat Islam.”  Artinya, saat itu baru ada  3 orang Muslim .

Saad bin Abi Waqqashra menceritakan, “Saya sudah mendapat kabar bahwa Rasulullahsaw mengajak ke arah Islam secara sembunyi-sembunyi. Dengan demikian saya berjumpa dengan beliausaw di Syi’b (lembah) Ajyad.”

Ajyad adalah nama sebuah tempat di Makkah dekat bukit Safa tempat dulu Rasulullahsaw mengembala kambing-kambingnya.

“Saya sampai di sana ketika beliausaw baru selesai shalat ashar lalu saya baiat masuk Islam.” 

Putri Saad bin Abi Waqqashra bernama Aisyah meriwayatkan, “Saya mendengar ayah saya berkata, ‘Saya masuk Islam ketika saya berumur 17 tahun.’” Di dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa pada saat beriman umur beliau 19 tahun.

Baca juga: Abdurrahman Bin Auf, Banyak Berkorban Di Jalan Allah

Ditentang Oleh Ibundanya

Mengetahui Saad bin Abi Waqqash beriman, ibu beliau pun murka dan menentangnya, ia berusaha keras agar putranya itu melepaskan keimanannya.

Sampai-sampai Ibunda Saad bin Abi Waqqashra bersumpah bahwa dia tidak akan pernah bicara dengan Saad sebelum beliaura mengingkari Islam.

Saad bin Abi Waqqashra menceritakan:‏ “Ibu saya berkata Allah Taala menekankan padamu untuk berbuat baik pada orang tua. Kamu yang berkata seperti itu, bukan agamamu yang berkata bahwa Tuhan berfirman‘ berbuat baiklah pada kedua orang tua’, yakni ada penekanan dalam hal ini. Aku ibumu dan aku memerintahkanmu untuk meninggalkan agamamu; dan taatilah apa yang aku katakan.’”

Ibu Saad bin Abi Waqqash seperti itu sampai 3 hari sampai-sampai karena lemah dia pingsan. Kemudian anaknya yang bernama Umarah berdiri dan memberinya minum. Kemudian ketika sudah sadar dia mulai mendoakan keburukan untuk putranya, Saad bin Abi Waqqashra.

Saad bin Abi Waqqashra menceritakan: “Aku sangat mencintai ibuku. Namun ketika aku menerima Islam, ia berkata, ‘Agama macam apa yang kamu peluk. Kamu pilih antara meninggalkan agamamu atau aku. Jika tidak, aku akan meninggalkan makan-minum sampai aku mati.”

Saad bin Abi Waqqashra berkata, “Aku berkata pada ibuku, ‘Wahai ibuku tercinta! Jangan lakukan ini karena aku tidak akan meninggalkan agamaku.’”

Beliaura mengatakan, “Satu hari satu malam ibuku tidak makan dan minum apa-apa, dan keadaannya mulai memburuk. Aku berkata padanya:

‘Demi Allah kalaupun ibu memiliki 1000 nyawa dan nyawa itu keluar satu per satu, maka tetap saja aku tidak akan meninggalkan agamaku demi apapun.’

Ketika ibu beliau melihat keteguhan Saad bin Abi Waqqashra maka ia pun kembali mulai makan dan minum.

Pada masa itulah kemudian turun Surah Luqman, Allah Taala berfirman:

‏وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا‏

“Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mempersekutukan dengan Aku (Allah), yang mengenai itu engkau tidak mempunyai pengetahuan, maka janganlah engkau menaati kedua-nya, tetapi bergaullah dengan keduanya dengan baik-baik dalam urusan dunia..”

Ketabahan Saad Bin Abi Waqqash

Ketika umat Muslim  diboikot oleh penduduk Makkah, mereka dipenjara di lembah Abu Thalib. Dari antara umat Muslim  yang menderita kesulitan saat itu adalah Saad bin Abi Waqqashra.

Musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan yang diderita oleh orang-orang yang di boikot pada saat itu sedemikian rupa sehingga dengan membaca kisahnya membuat badan gemetar. Terkadang mereka bertahan hidup seperti hewan dengan memakan dedaunan pohon-pohon hutan.

Saad bin Abi Waqqashra menceritakan, “Suatu kali pada malam hari kaki saya menyentuh suatu benda yang lunak – mungkin potongan kurma. Saat itu saya begitu laparnya sehingga langsung memakannya. Sampai saat ini saya tidak tahu benda apa itu.”

Pada kesempatan lain karena kelaparan keadaan beliau sedemikian rupa; beliau menemukan kulit hewan yang kering di atas tanah lalu beliau membersihkan dan melunakkannya dengan air lalu beliau membakarnya kemudian dimakan. Beliau melalui 3 hari dengan hidangan ghaib ini.

Baca juga: Saad Bin Muadz, Penentang Yang Menjadi Pembela Islam

Melayani Rasulullah

Setelah hijrah ke Madinah orang-orang Islam selalu dibayangi rasa kekhawatiran terjadinya serangan dari kaum Kuffar yang karenanya di masa-masa awal orang-orang Islam banyak terjaga pada malam hari dan Rasulullahsaw pun pada umumnya terjaga pada malam hari.

Mengenai hal ini terdapat satu riwayat, Aisyah meriwayatkan, “Pada masa awal kedatangan ke Madinah pada suatu malam Rasulullahsaw tidak bisa tidur, maka beliausaw bersabda:

 لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ ‘

Seandainya saja ada salah seorang yang soleh di antara para sahabatku yang menjagaku malam ini.’”

Aisyahsaw meriwayatkan, “Dalam keadaan demikian kami mendengar suara senjata. Rasulullahsaw bersabda, ‘Siapa itu?’ Dari luar terdengar suara, ‘Saya Saad bin Abi Waqqash.’

Rasulullahsaw bersabda kepada beliau, “Bagaimana anda bisa datang ke sini?’ Beliau menjawab, ‘Di dalam hati saya timbul kekhawatiran mengenai Rasulullahsaw, oleh karena itu saya datang untuk menjaga engkau.’

Rasulullahsaw kemudian mendoakan Saad:

اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ 

“Ya Allah! Ketika Saad berdoa kepada Engkau, maka kabulkanlah doanya.” (Imam Tirmidzi)

Sementara itu, dalam Kitab “Al-Ikmaal fii Asmaa Al-Rijaal” disebutkan bahwa Rasulullahsaw mendoakan beliau sebagai berikut:

اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَتَهُ، وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ

“Ya Allah! Jadikanlah anak panahnya tepat ke sasaran dan kabulkanlah doanya.”

Doa-doanya Mustajab

Dikarenakan doa-doa Rasulullahsaw diatas, Saad bin Abi Waqqashsaw terkenal sebagai sahabat yang yang doa-doanya mustajab, doa-doanya banyak dikabulkan oleh Allah Taala.

Diceritakan, pada suatu peristiwa, ada seseorang yang berbohong kepada beliau, maka beliau pun kemudian mendoakan orang itu:

 اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ كَاذِباً فَأَعْمِ بَصَرَهُ، وَأَطِلْ عُمُرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ

“Ya Allah! Jika orang ini berkata dusta, maka hilangkanlah penglihatannya dan panjangkanlah umurnya dan jerumuskanlah ia ke dalam fitnah.” 

Doa Saad bin Abi Waqqash benar-benar mustajab, orang itu mengalami nasib sebagaimana doa beliaura.

Riwata lain, sebagaimana diceritakan oleh Qais bin Abi Hazim, “Suatu kali saya pergi ke pasar Madinah dan sampailah saya di Ahjar Az-Zait, saya melihat ada sekumpulan orang di dekat seseorang yang sedang menunggang kuda dan ia terus mencaci-maki Ali bin Abi Thalibra. Tidak lama kemudian datanglah Saad bin Abi Waqqashra ke sana dan berdiri di antara mereka dan menanyakan kepada mereka mengenai apa yang terjadi. Orang-orang menjawab, ‘Orang ini terus mencaci-maki Ali.’

Saad menemuia orang itu dan dan bertanya, “Hai Fulan! Mengapa kamu mencaci maki Ali, bukankah beliau yang pertama-tama masuk Islam? Bukankah beliau adalah yang pertama shalat bersama Rasulullah saw.? Dan bukankah beliau yang paling muttaqi di antara orang-orang yang lainnya? Bukankah beliau seorang yang paling berilmu di antara orang-orang?”

Setelah itu Saad bin Abi Waqqash menghadap ke arah kiblat dan mengangkat tangan untuk berdoa:

 اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا يَشْتُمُ وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَائِكَ، فَلَا تُفَرِّقْ هَذَا الْجَمْعَ حَتَّى تُرِيَهُمْ قُدْرَتَكَ‏

“Ya Allah! Jika ia mencaci salah seorang wali engkau (Ali bin Abi Thalib), maka sebelum kerumunan ini bubar, perlihatkanlah qudrat kekuasaan Engkau!”

Qais mengatakan, “Demi Allah! Belum lagi kami bubar dari sana, hewan tunggangan orang tersebut menjatuhkannya dan membenturkan kepala orang tersebut dengan kakinya ke batu, yang karenanya kepalanya pecah lalu ia mati.”

Masih banyak lagi kisah-kisah lainnya mengenai sahabat Saad bin Abi Waqqashra, yang Insya Allah akan diuraikan pada kesempatan berikutnya. Jazakumullah.

Sumber: Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 17 dan 24 Juli 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: Zubair Bin Awwam, Seorang Pemberani Yang Dijamin Masuk


0 Komentar

Tinggalkan Balasan