Saad Bin Abi Waqqash Sang Penakluk Irak

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

perang-qadisiyah-saad-bin-abi-waqqash

Melanjutkan pembahasan mengenai sahabat Saad bin Malik atau lebih dikenal sebagai Saad bin Abi Waqqash radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, kali ini kita akan melihat peran beliaura sebagai panglima pasukan Islam yang berhasil menaklukan Irak.

Nubuwatan Rasulullahsaw

Pada suatu kesempatan penggalian parit (khandaq) di sekitar Madinah menjelang Perang Ahzab (Perang Khandaq), para sahabat datang ke hadapan Rasulullahsaw dan melaporkan, “Ada sebuah batu besar di parit yang sulit dihancurkan.”

Rasulullahsaw berangkat menuju Khandaq kemudian beliausaw memukulkan tiga pukulan ke atas batu besar itu. Setiap kali batu tadi retak, Rasulullahsaw mengucapkan takbir, “Allahu Akbar” dengan suara tinggi.

Para sahabat pun mengucapkan takbir mengikuti Rasulullahsaw. Setelah memukulkan satu hantaman, Rasulullahsaw bersabda:

 فَإِنِّي حِينَ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ الأُولَى رُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ كِسْرَى وَمَا حَوْلَهَا وَمَدَائِنُ كَثِيرَةٌ حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَىَّ

“Tampak kepadaku istana-istana putih di Madain (ibukora Persia saat itu) pecah.”

Penglihatan gaib yang dialami oleh Rasulullahsaw ini merupakan satu nubuatan, bahwa dimasa depan Umat Islam akan dapat mengalahkan Perisa.

Kerajaan Persia

Di sekitar Arab pada masa itu terdapat dua kekuatan besar, yaitu Kisra (gelar Raja Persia atau Iran) dan Qaisar atau Caesar (gelar Raja Romawi). Kedua kekuatan besar ini saling bermusuhan selama enam ratus tahun lamannya.

Kekaisaran Persia pada masa Sassania dimulai oleh Ardashir I. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon.

Pada masa itu Iraq sebagian besarnya berada dalam kekuasaan Kisra. Istana-istana kerajaan Persia berada di Madain.

Madain terletak beberapa jauh dari Baghdad-Iraq ke arah selatan di pesisir sungai Dajlah. Karena di tempat ini satu per satu kota bermunculan sehingga itu orang-orang Arab mulai menyebutnya dengan istilah Madain yakni kumpulan banyak kota.

Qadisiyah juga merupakan kota di Iraq tempat telah terjadi perang yang terkenal antara pasukan Muslim dan bangsa Persia, perang itu kemudian disebut Perang Qadisiyah.

Kota Qadisiyah saat ini berjarak 15 mil dari kota Kufah. Nahawand merupakan sebuah kota di Iran saat ini yang terletak 70 km dari Hamdan, ibukota provinsi Hamadan, Iran.

Jalulah merupakan kota di Iraq saat ini yang terletak di tepi sungai Dajlatul Aiman (bagian kanan sungai Dajlah). Di tempat tersebut pernah terjadi peperangan antara umat Muslim dan bangsa Persia. Diberi nama Jalulah karena kota ini dipenuhi dengan geletakan mayat-mayat pihak Iran.

Baca juga: Abdurrahman Bin Auf, Banyak Berkorban Di Jalan Allah

Persia Yang Memulai

Pada masa Khalifah Abu Bakrra, Al-Mutsanna Bin Haritsah meminta izin untuk menyerang Persia disebabkan oleh gangguan yang kerap dilakukan oleh pasukan Persia di perbatasan. Abu Bakrra mengizinkannya.

Abu Bakrra mengutus Khalid bin Walidra bersama dengan pasukan yang banyak untuk menolong beliau. Ketika Abu Ubaidah dari negeri Syam meminta bantuan kepada Khalifah, Abu Bakrra mengirim surat kepada Khalid untuk membantunya. Khalid bin Walid menetapkan Al-Mutsanna sebagai penerusnya di Iraq. Namun seiring dengan perginya Khalid dari Iraq, misi tersebut mereda.

Setelah Umar bin Khattabra terpilih sebagai Khalifah, maka mulai lagi perhatian pada misi di Iraq. Al-Mutsanna mengalahkan musuh-musuh di Dawiyyah dan dalam peperangan lainnya lalu menguasai satu bagian yang luas di Iraq.

Pada saat itu daerah Iraq di bawah kekuasaan Kisra. Setelah pasukan Persia menyadari kekuatan pasukan Muslim secara militer dan kemenangan berkesinambungan pihak Muslim telah membuka mata mereka, maka mereka mendudukkan pewaris asli Kisra, Yazdegerd III pada tahta kerajaan, bukan Burandukht, Ratu mereka. 

Sesudah menempati tahta kerajaan ia kumpulkan segenap kekuatan kerajaan Iran. Ia menyulut api dendam  di seluruh negeri untuk melawan Muslim. Dalam keadaan demikian, Al-Mutsanna terpaksa mundur dari perbatasan Arab.

Pengangkatan Saad bin Abi Waqqash

Ketika Khalifah Umarra mengetahui kejadian tersebut, beliau mengutus para orator handal ke berbagai tempat dan memerintahkan umat Muslim untuk bangkit menghadapi Kisra. Hasilnya timbul gejolak di Arab dan para pejuang Islam dari berbagai daerah berdatangan dengan penuh semangat menuju ibukota.

Khalifah Umarra meminta musyawarah siapa yang tepat untuk diserahkan tanggung jawab sebagai pemimpin misi ini.

Pada saat itu Abdurrahman bin Aufra berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Saya mengetahu siapa yang orang yang tepat untuk memimpin misi ini.”

Umarra bersabda, “Siapa orang itu?” Abdurrahman bin Aufra berkata, “Saad bin Abi Waqqashra.”

Semua orang sepakat dengan nama Saadra, Khalifah Umarra bersabda tentang Saad, “Dia adalah seorang yang pemberani dan pemanah terbaik.”

Al-Mutsannara bersama 8 ribu pasukan pemberani yang siap mengurbankan nyawanya mempersiapkan segala sesuatunya dan menunggu Saadra di wilayah Zi Qar yang terletak antara Kufah dan Wasith, sampai beliau wafat.

Sebelumnya beliau menunjuk saudaranya Al-Mu’anna sebagai pemimpin pasukan. Sesuai dengan petunjuk saudaranya, Al-Mu’anna berjumpa dengan Saad dan menyampaikan pesan Al-Mutsanna kepada beliau.

Saad bin Abi Waqqashra kemudian menginpeksi tentaranya yang berjumlah kurang lebih 30 ribu. Kemudian beliaura menyusun pasukannya dan membagi-bagi pasukan yang di kiri dan di kanan lalu menunjuk pemimpin untuk masing-masing kelompok pasukan. Beliau maju dan mengepung daerah Qadisiyah.

Baca juga: Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Perang Qadisiyah

Perang Qadisiyah terjadi pada akhir tahun ke-16 Hijriyah (632 M) di Hilla, Iraq. Pasukan Kuffar berjumlah sekitar 280 ribu sedangkan pasukan beliau berjumlah 30 ribu. Pasukan Iran dikomandoi oleh Rustum (Rostam Farrokhzad).

Saad bin Abi Waqqash memilih Qadisiyah sebagai medan perang dan beliau mengirim petanya ke Khalifah Umarra. Umarra menyetujui dan menyukai tempat itu.

Namun bersamaan dengan itu Umarra juga memerintahkan, “Sebelum berperang dengan Raja Iran, kamu wajib mengutus satu rombongan perwakilan ke Raja Iran dan ajaklah dia menerima Islam.”

Saad mengajak orang-orang kafir pada Islam; dan untuk itu beliau mengutus Mughairah bin Su’bahra.

Rustum berkata: “Kalian ini orang-orang miskin dan kalian melakukan semua ini untuk menjauhkan kemiskinan kalian. Kami akan memberi kalian sehingga kalian kekenyangan.”

Mughirah menjawab, “Kami mengucapkan labbaik pada seruan Rasulullahsaw  dan kami mengajak kalian ke arah Tuhan Yang Esa dan Rasul-Nya saw. Jika kalian menerimanya maka itu lebih baik bagi kalian. Kalau tidak maka perang dan pedang yang akan memutuskan antara kalian dengan kami.”

Dengan jawaban itu wajah Rustum dipenusi rasa marah karena awalnya ini semua mereka yang mulai dan mereka ingin berperang.

Mughirah berkata, “Baiklah, sebenarnya kami masih tidak mau berperang, justru kami ingin menyampaikan tabligh dan pesan Islam pada kalian. Tapi jika kalian meginginkan perang maka baiklah, pedanglah yang akan memutuskan.”

Wajah Rustum memerah karena marah dan berkata, “Demi matahari dan bulan – dia seorang musyrik – sebelum subuh kami akan memulai perang dan kami akan melenyapkan kalian semua.”

Mughirah berkata, لا حول ولا قوة إلا بالله ‘Laa haula walaa quwwata illa billaah.’ –“Segala kekuatan adalah milik Allah Ta’ala.” Setelah mengucapkan ini beliau menunggangi kuda beliau.

Baca juga: Saad Bin Muadz, Penentang Yang Menjadi Pembela Islam

Tabligh Islam

Saad bin Abi Waqqashra mendapatkan pesan dari Khalifah Umar bin Khattabra supaya mereka terlebih dahulu mengajak orang-orang Persia pada kebenaran.

Saad kemudian mengutus penyair terkenal dan penunggang kuda handal, Amru bin Madikarb az-Zabidi dan Asy’ats bin Qais Al-Kindi.  Ketika mereka berhadapan dengan Rustum maka dia bertanya, أين تريدون ‘Hendak kemana kalian?’

Mereka menjawab, “Kami ingin menemui tuanmu.” Dengan begitu terjadilah percakapan secara mendetail antara mereka dan Rustum. 

Salah satu anggota perwakilan ini berkata, “Nabi kamisaw menjanjikan pada kami bahwa kami akan menguasai tanah kalian.”

Mendengar itu Rustum membawakan sekeranjang tanah dan berkata, ‘Ini tanah kami. Ambillah dan bawalah diatas kepala kalian.’

Amru bin Madikarb segera maju dan memasukkan tanah itu ke dalam kain selendangnya lalu beranjak dari sana. Beliau berkata, “Ini adalah pertanda bahwa kita akan menang dan menguasai tanah mereka.”

Kemudian beliau pergi ke istana Kisra Iran dan mengajaknya pada Islam. Dengan begitu Raja Iran sangat marah dan berkata, “Pergilah kalian dari istanaku. Kalau kalian bukan utusan pasti aku sudah bunuh kalian.”

Kemudian dia memerintahkan Rustum untuk memberi mereka pelajaran yang tidak bisa dilupakan. Pada hari kamis setelah Zuhur gendrang perang pun ditabuh.

Saad ra mengucapkan seruan takbir 3 kali dan pada takbir yang keempat perang pun dimulai. Saat itu Saad sedang sakit. Sembari duduk di Qashr ‘Adzib, sebuah tempat tinggi yang aman, beliaura memberi petunjuk pada pasukannya di medan perang.

Pada akhirnya apa yang beliau katakan itulah yang terjadi dan hanya dalam waktu beberapa tahun seluruh Persia dikuasai umat Islam.

Dan apa yang Rasulullahsaw saksikan dalam penglihatan gaibnya pada saat memecahkan batu pada peristiwa Perang Khandaq  tergenapi di tangan Saad bin Abi Waqqashra. Allah Ta’ala memberikan kehormatan kepada Saad, dibawah pimpinannya Iraq dapat ditaklukan.

Peperangan yang terkenal seperti Madain, Qadisiyah, Nahawand dan Jalulah, umat Muslim saat itu dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqashra.

Ajaran Agung Islam

Bagaimana perubahan agung ini bisa terjadi dalam umat Islam? Ini terjadi karena ajaran Quran telah menciptakan suatu revolusi dalam akhlak dan kebiasaan mereka.

Ajaran Quran telah menciptakan maut dalam kehidupan mereka sebelumnya sehingga mereka dihantarkan pada perilaku dan akhlaq tingkat tinggi. Sebagai hasilnya mereka menjadi orang-orang yang menyebarkan Islam dan dengan mengamalkan ajaran Islam, mereka menjadi orang-orang yang membuat orang lain menjadi Muslim hakiki; dan tidak ada rasa takut dan kekuatan apapun yang dapat membuat mereka ciut.

Demikianlah salah satu kisah kepahlawanan dan jasa dari sahabat Saad bin Abi Waqqashra. Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa penting dan menarik lainnya mengenai beliaura, yang akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.

  • Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 17 dan 24 Juli 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK.
  • Sirat Khatamun Nabiyyin karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad

Sumber: Saad Bin Abi Waqqash Tabah Menghadapi Berbagai Cobaan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan