Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

taif-bewaramulia

Rasulullah saw dengan penuh keberanian dan kegagahan, dengan hanya ditemani oleh Zaid bin Haritsah berangkat ke Taif untuk menyampaikan tabligh Islam kepada penduduknya.

Tabligh Ke Taif

Ketika di kota Mekkah tak ada lagi orang yang mau mendengarkan seruan Rasulullah saw dan hal itu membuat beliau saw sedih. Beliau merasa bahwa usaha beliau telah terhenti. Maka, beliau memutuskan pergi bertabligh ke luar kota Mekkah. Untuk itu beliau memilih pergi ke Taif.

Dengan harapan penduduk Taif mau mendengar dan menerima dakwah beliau saw. beliau saw berharap agar mereka beriman dan menerima kebenaran Islam.

Putusan Rasulullah saw ini berdasarkan pertimbangan sunnah para nabi terdahulu. Seperti Nabi Musa as kadang-kadang menjumpai Firaun, kadang-kadang pergi ke Israil dan kadang-kadang pergi ke kaum Madian.

Nabi Isa as pun kadang-kadang ke Galilea, kadang-kadang ke tempat-tempat di seberang sungai Yordan dan kadang-kadang ke Yerusalem.

Maka, ketika Rasulullah saw melihat kaum Mekkah tidak mau mendengarkan tabligh dan dakwah beliau, mereka tidah hanya menolaknya bahkan mereka menganiaya beliau saw, maka beliau saw memutuskan untuk pergi ke Taif.

Keadaan Taif

Ta’if adalah sebuah kota kecil di Arab Saudi, kira-kira 131 km di Tenggara Mekkah. Terdapat pada ketinggian 1.879 m (6.165 kaki) di lereng Pegunungan Sarawat.

Kota Taif didominasi oleh suku Banu Thaqif. Mereka melakukan pertanian dan menanam buah di samping kegiatan perdagangan mereka, sehingga Taif termashur oleh buah-buahan dan pertaniannya.

Saa ini Taif emiliki populasi 1.200.000 orang, adalah kota terbesar ke-5 di Arab Saudi dan ibukota musim panas tidak resmi. Kota ini adalah pusat daerah pertanian yang terkenal akan anggur, delima, ara, mawar, dan madu. Taif dikenal sebagai “Kota Mawar” dan tujuan musim panas terbaik di Arab Saudi karena menikmati cuaca yang sejuk selama musim panas.

Dalam hal kepercayaan dan perbuatan syirik penduduk Taif tidak jauh berbeda denga penduduk Mekkah. Saat itu, berhala berhala yang terdapat di Ka’bah tidak merupakan satu-satunya, pula tidak berarti bahwa tidak terdapat berhala-berhala penting di tempat lain di Arabia. Salah satu berhala terpenting, Al-Lat, terdapat patungnya di Taif; oleh karena itu, Taif menjadi pusat ziarah juga.

Penduduk Taif mempunyai pertalian dengan penduduk Mekkah oleh hubungan darah; dan beberapa lahan hijau antara Taif dan Mekkah dimiliki oleh orang orang Mekkah.

Baca juga: Haji Wada Dan Pesan Terakhir Rasulullah

Penolakan Dakwah Rasulullah

Ketika datang ke Taif, Rasulullah saw bertemu dengan para pemimpin mereka, Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun dari mereka menerima ajakan beliau saw.

Dan rakyat biasa semuanya mengikuti para pemimpin mereka. Bahkan mereka menolak ajaran itu dengan menghina.

Hal itu sudah tidak asing lagi. Kaum yang tenggelam dalam urusan duniawi senantiasa memandang seruan demikian sebagai suatu gangguan, bahkan sebagai serangan.

Karena seruan itu tidak disertai dengan dukungan yang dapat dilihat – seperti manusia atau persenjataan yang bilangannya banyak, mereka merasa layak menolaknya dengan menghina.

Rasulullah saw pun tidak merupakan kekecualian. Saat beliau sampai ke Taif tanpa senjata dan tanpa pengikut atau pengawal, seorang diri yang hanya ditemani oleh Zaid. Rakyat kota memandang beliau sebagai pengacau yang harus dihentikan kegiatannya.

Rasulullah Dianiaya

Untuk menyenangkan hati para pemimpin mereka, orang-orang gelandangan dan anak-anak nakal mereka lepaskan supaya mereka melempari Rasulullah saw dengan batu dan mengusir beliau ke luar kota.

Rasulullah saw terluka dan banyak mengeluarkan darah begitu juga dengan Zaid. Tetapi pengajaran terus dilakukan sampai dua pelarian tanpa daya itu telah berada beberapa kilometer di luar Taif.

Rasulullah saw sangat bersedih hati dan masygul. Seorang malaikat turun ke hadapan beliau dan bertanya, apa beliau menghendaki penganiaya-penganiaya beliau dibinasakan. “Jangan”, jawab Rasulullah saw, “Aku mengharapkan justru dari penganiaya-penganiaya itu akan lahir mereka yang akan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalq).

Apa yang diharapkan oleh Raulullah saw itu kelak akan menjadi kenyataan. Setelah perang Tabuk, penduduk Taif pun akhirnya mereka mau menerima Islam.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Berimannya Addas

Dalam keadaan letih dan sedih, Rasulullah saw dan Zaid berhenti untuk beristirahat di sebuah kebun anggur milik dua orang Mekkah yang kebetulan ada di situ. Mereka pun termasuk penyerang dan penganiaya kaum Muslimin di Mekkah, tetapi pada peristiwa itu tergerak hatinya.

Apa hal itu disebabkan seorang Mekkah diperlakukan buruk oleh orang-orang Taif, atau disebabkan tiba-tiba menyalanya bara sifat baik insani dalam hati mereka? Mereka memberikan senampan anggur, diantarkan oleh seorang budak Kristen, bernama Addas yang berasal dari Niniwe.

Addas menyodorkan nampan penuh anggur itu kepada Rasulullah saw dan Zaid. Ia melihat keduanya dengan iba dan merasa tertarik kepada Rasulullah saw.

Ketika ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Latar belakang Kristennya tersentuh dan ia merasakan seolah-olah ia berhadapan dengan seorang nabi Bani Israil.

Rasulullah saw menanyakan dari mana ia berasal dan Addas menjawab, “Dari Ninewe”, yang disambut oleh Rasulullah saw, “Yunus, putera Amittai, yang berasal dari Ninewe adalah orang suci, seorang nabi seperti aku”. Rasulullah s.a.w. menyampaikan tabligh.

Addas merasa terpukau dan segera beriman. Dirangkulnya Rasulullah saw dengan air mata berlinang-linang dan mulai mencium kepala, tangan, dan kaki beliau.

Meskipun mengalami kegagalan, ada suatu keagungan dan kepahlawanan dalam perjalanannya Rasulullah saw ke Ta’if; seorang diri, dihina dan ditolak oleh kaumnya sendiri, pergi dengan gagah tanpa ragu-ragu dengan nama Tuhan, seperti Yunus ke Ninewe dan memanggil suatu kota musyrik untuk bertobat dan menerima ajarannya. Hal ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya betapa teguh dan dalamnya keimanan kepada tugasnya yang bersumber kepada Allah.

Baca juga: Perang Hunain, Bukti Kebenaran Dan Keagungan Rasulullah

Kembali Ke Mekkah

Sesudah pertemuan selesai, Rasulullah saw memanjatkan doa kepada Allah Tala’a:

“Ya Allah, hamba panjatkan doaku kepada Engkau. Hamba sangat lemah. Kaumku memandang rendah dan hina kepadaku. Engkau adalah Tuhan-ku. Kepada siapa lagi Engkau akan melepaskan hamba: kepada orang-orang asingkah yang mengusirku atau kepada musuhkah yang menganiaya hamba di kotaku sendiri? Jika Engkau tidak murka kepada hamba, hamba tak akan menghiraukan mereka, musuh-musuh itu. Semoga rahmat Engkau beserta hamba ini. Hamba berlindung di dalam Nur wajah-Mu. Engkaulah yang dapat mengusir kegelapan dari bumi ini dan menganugerahkan kedamaian di sini dan di akhirat. Janganlah murka dan kutuk Engkau turun kepada hamba-Mu ini. Engkau tak pernah murka kecuali untuk segera ridha sesudahnya. Dan tidak ada kekuasaan dan perlindungan kecuali beserta Engkau.” (Hisyam dan Tabari).

Seusai mendoa demikian, beliau pulang kembali ke Mekkah. Dalam perjalanan beliau singgah di Nakhla beberapa hari dan kemudian berangkat lagi.

Menurut hukum adat di Mekkah, beliau sudah bukan penduduk Mekkah lagi. Beliau telah meninggalkannya, sebab beliau memandangnya tidak bersahabat dan tidak dapat kembali lagi kecuali dengan izin kaum Mekkah.

Oleh sebab itu beliau mengirim Zaid kepada Mut’im bin Adi – seorang kepala kabilah Mekkah – untuk meminta, apakah kaum Mekkah mau mengizinkan beliau kembali ke Mekkah.

Mut’im, walaupun musuh keras seperti yang lain, mempunyai hati yang mulia. Ia mengumpulkan anak-anak dan sanak-saudaranya. Dengan bersenjata lengkap mereka pergi ke Ka’bah. Berdiri di pelataran ia mengumumkan izin Rasulullah saw kembali.

Rasulullah saw kembali dan berthawaf di Ka’bah. Mut’im, anak-anak dan saudara-saudaranya, dengan pedang terhunus mengantarkan Rasulullah saw ke rumah beliau.

Jasa Mut’im ini sangat diingat oleh Rasulullah saw, saat perang Badar, beliau saw bersabda “Seandainya al-Mut’im bin Adiy masih hidup, lalu dia mengajakku berbicara tentang para korban yang mati ini, maka tentu aku serahkan mereka kepadanya.” (HR Bukhari)

Mut’im hanya memberi jaminan sebatas Rasulullah saw bisa kembali ke Mekkah. Selain dari itu seperti semula Mekkah kembali lagi kepada permusuhannya kepada Rasulullah saw.

Kota kelahiran beliau saw sendiri sepertinya menjadi neraka bagi beliau. Tetapi beliau terus-menerus menyampaikan tabligh.

Sebutan “Tuhan Maha Esa” mulai berkumandang di mana-mana. Dengan cinta dan kesungguhan hati serta sarat dengan rasa peri kemanusiaan, Rasulullah saw tetap giat dalam menyampaikan tabligh beliau.

Orang berpaling, tetapi beliau terus-menerus berseru dan memanggil mereka. Beliau menyampaikan dakwah beliau tak perduli diperhatikan atau tidak, dan kegigihan itu tampak akan berhasil.

Beberapa dari antara mereka tertarik dan menyatakan iman mereka secara terang-terangan dan ikut serta dalam penderitaan orang-orang Muslim lainnya. Tetapi banyak, walaupun telah beriman di dalam hati, yang tidak berani mengatakan dengan terang-terangan; mereka menunggu turunnya kerajaan Ilahi ke bumi.

Taif by Alman Mulyana

0 Komentar

Tinggalkan Balasan