Suatu hari pada tahu 10 H, Rasulullah saw menerima kedatangan rombongan Nasrani dari Najran.  Pada masa itu Najran merupakan sebuah oasis, tempat pertama di mana agama Kristen muncul di Arab Selatan dengan populasi besar dan komunitas Yahudi yang signifikan. Sebelum munculnya agama Kristen, orang-orang Najran adalah politeis dan menyembah pohon kurma yang tinggi.

Rombongan itu diperkirakan berjumlah enam puluh orang yang dipimpin oleh kepala kabilah mereka, ‘Abd-al-Masih dari Bani Kinda, terkenal dengan nama Al-Aqib, Abdul Harith, uskup Bani Harith, dan tokoh-tokoh gereja lainnya.

Tujuan kedatanga mereka menghadap Rasulullah saw di Madinah adalah untuk bertukar pikiran mengenai masalah-masalah keagamaan. Mereka dipersilahkan untuk menyampaikan misi mereka seperti tentang kedudukan Nabi Isa as dan teologi-teologi lainnya.

Rasulullah saw juga pada kesempata itu menyampaikan tabligh Islam kepada mereka dan mengajak mereka untuk beriman, akan tetapi mereka menolaknya.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Mubahalah

Ketika semua penjelasan dan bantahan telah disampaikan kepada mereka, masalahnya telah dibahas tuntas akan tetapi mereka ternyata masih tetap berpegang pada ajaran mereka, maka Rasulullah saw mematuhi perintah Ilahi yang tercantum dalam ayat ini:

Maka, barangsiapa berbantah dengan engkau tentang dia setelah datang kepada engkau ilmu, maka katakalah, “Marilah kita memanggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-laki kamu dan perempuan-perempuan kami, dan perempuan-perempuan kamu dan orang-orang kami dan orang-orang kamu; kemudian kita   berdoa supaya laknat Allah swt. ditimpakan atas orang-orang yang berdusta.” (Ali Imron: 62)

Ini merupakan langkah terakhir, Rasulullah saw mengajak mereka melakukan Mubahalah (perang doa), masing-masing pihak berdoa agar Allah sendiri yang memutuskan mana yang benar dan mana yang palsu, dan menyeru agar kutukan Tuhan menimpa penganut kepercayaan palsu.

Tetapi, karena orang-orang Kristen itu agaknya tak merasa yakin mengenai dasar kepercayaan mereka, mereka menolak menerima tantangan itu.  

Meskipun mereka tidak beriman dan menolak untuk bermuabahalah, Rasulullah saw tetap berlaku baik dan menghargai pilihan mereka. Beliau saw tidak memaksakan kehendaknya dan tidak juga mengintimidasi mereka. Tidak ada teror dan ancam, mereka bebas menetukan nasib mereka sendiri.

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Perlakukan Baik

Percakapan atau dialogh itu diadakan di dalam mesjid dan berjalan cukup lama. Sehingga pada suatu kesempatan mereka minta izin meninggalkan mesjid untuk mengadakan upacara kebaktian di suatu tempat yang tenang.

Rasulullah saw bersabda bahwa mereka tidak perlu meninggalkan mesjid yang memang merupakan tempat khusus untuk beribadah kepada Tuhan dan mereka dapat melakukan ibadah mereka di situ.

Rasulullah saw mengizinkan mereka mendirikan ibadah mereka di mesjid beliau saw dengan cara mereka sendiri, dan mereka melakukan dengan menghadap ke timur – suatu toleransi keagamaan yang tiada taranya, dalam sejarah agama.

Di akhir pertemuan itu Rasulullah saw menjalin perjanjian damai dengan rombongan Kristen Najran itu. Rasulullah saw menyatakan:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sebagai Nabi kepada Uskup Abul Harits, uskup-uskup Najran, para pendeta, para rahib, dan semua orang yang ada di bawah kuasa mereka sedikit maupun banyak.

Perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada seorang pun uskup, rahib, atau pendeta yang diganti, dan juga tidak ada satu pun hak dan kekuasaan mereka yang akan diganti, dan tidak juga yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Perlindungan Allah dan rasul-Nya selamanya, selama mereka berdamai dan jujur serta tidak berlaku zalim.”

Meskipun mereka tidak mau beriman, Rasulullah tetap memberi kekebasan kepada mereka bahkan memerikan perlindungan dan jaminan atas keselamatan jiwa dan harta benda mereka.

Dalam hal ini Rasulullah saw mengamlkan apa yang diajarkan dan diperintahkan Allah swt, sebagai mana firmanNya dalam ayat-ayat berikut ini:

“Tidak diperkenankan suatu paksaan dalam agama. Sesunguhnya telah nyata bedanya kebenaran dari kesesatan …..” (Al-Baqarah : 257)

“Oleh sebab itu nasihatilah, karena engkau hanyalah seorang pemberi nasihat. Engkau tidak diangkat menjadi penjaga atas mereka.” (Al-Ghasyiyah : 22-23)

“Tetapi sekiranya mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau sebagai penjaga atas mereka. Kewajiban engkau hanya menyampaikan amanat.” (Asy-Syura : 49)

Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan hendaknya bertukar pikiran dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya dan Dia mengetahui pula siapa yang telah mendapat petunjuk. (An-Nahl : 126)

Demi masa, sesungguhnya manusia senantiasa ada dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan menasihati satu sama lain supaya menyampaikan kebenaran, dan menasihati satu sama lain untuk bersabar.(Al-Ashr : 2-4)

Kemudian seyogyanya ia menjadi dari antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih.(Al-Balad : 18)

Sumber referensi: Riwayat Hidup Rasulullah, Basyiruddin Mahmud Ahmad


1 Komentar

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I - · 2 Maret 2020 pada 12:49 pm

[…] Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid […]

Tinggalkan Balasan