Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

rasulullah-lebih-mengutamakan-kemanusiaan

Pada bulan Rabiul Awwal 9 H, Rasulullah saw mengutus  Ali bin Abi Thalib ra memimpin 150 orang pasukan Islam untuk memghadapi Banu Tai’. Dalam peperangan itu pasukan Islam meraih kemenangan. Mereka memperoleh harta rampasan perang dan tawanan. Salah satu dari tawanan itu adalah Safana, putri Hatim Tai’.

Ketika Safani menerangkan kepada Rasulullah saw mengenai silsilah keluarganya, mengetahui hal itu beliau saw pun memperlakukan wanita itu dengan penghormatan yang besar. Ia tidak jadi dihukum dan dibebaskan tanpa uang tebusan bahkan diberi kendaraan untuk kembali ke tempatnya.

Mengapa Rasulullah saw memperlakukan Safani seperti itu? Beliau saw lakukan karena mengingat dan menghargai jasa besar dari Hatim Tai’, yang termasyhur hingga kini sebagai seorang yang dermawan dan murah hati.

Rasulullah saw melakukan itu sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang membaktikan waktunya dan harta bendanya untuk mengkhidmati umat manusia.

Menghormati Jenazah Yahudi

Kemudian, pernah suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk-duduk bersama beberapa orang sahabat. Tiba-tiba terlihat beberapa orang Yahudi membawa jenazah salah seorang dari saudara mereka yang baru saja meninggal dunia. Melihat hal itu, Rasulullah saw memberi penghormatan dengan beridiri.

Salah seorang sahabat kemudian berujar, “itu jenazahnya Yahudi wahai Rasul”. Lalu dengan tegas Rasul menjawab, “bukankah dia manusia?” Jika kalian melihat manusia yang diarak seperti itu maka berdirilah!”.

Terhadap jenazah seorang Yahudi sekalipun Rasulullah saw memberikan penghormatan. Beliau saw memberikan penghormatan kepadanya atas dasar kemanusiaan.

Baca juga: Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Toleransi

Saat ini amat terasa maraknya intoleransi, permusuhan dan sikap masa bodoh terhadap orang lain. Nilai-nilai agama lebih ditonjolkan dibandingkan dengan nilai-nilai kemanusiaan.  Sepertinya seorang manusia itu baru dihargai sebagai manusia ketika dia menganut agama yang sama dengan yang ia anut.

Lebih parahnya lagi merasa senang ketika meliha orang lain yang berbeda agama dan keyakinan dengannya itu mengalami penderitaan akibat bencana atau musibah-musibah.

Mereka seolah-olah hidup di dunia yang sempit dan berbeda dari dunia manusia pada umumnya. Dan tidak mengenal belas kasihan antar sesama manusia yang pada dasarnya adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Sebelum Rasulullah saw diutus, umat manusia di dunia saling bermusuhan dan membenci antar satu bangsa dengan bangsa lainnya, satu suku dengan suku lainnya dan suatu golongan terhadap golongan lainnya. Terjadi perbudakan dan diskriminasi, yang kuat mengalahkan yang lemah, yang banyak menguasai yang sedikit, tidak ada kedamain dan persaudaraan.

Dalam kerusakan seperti itu, Rasulullah saw diutus untuk mengajarkan adanya persamaan hak antar sesama manusia, nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, tidak ada perbedaan antara suatu bangsa dengan bangsa lainya, antara satu suku  dengan suku lainnya, antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

Rasulullah saw mengajarkan agar manusia saling mengasihi dan menyayangi.  Beliau saw bersabda:

“Siapa yang tidak bersikap kasih terhadap sesamanya, maka Allah tidak akan mengasihinya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Persamaan dan Persaudaraan

Dalam pidato perpisahannya ketika haji wada’ (haji perpisahan), Rasulullah saw yang menjadi rahmat bagi alam semesta itu menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, beliau saw bersabda:

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Dalam hal nilai-nilai kemanusiaan, di hadapan Allah swt semua manusia adalah sama, semua ciptanNya, tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya, kita semua adalah bersaudara.  

Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid


2 Komentar

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I - · 2 Maret 2020 pada 12:39 pm

[…] Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan […]

Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw - Bewara Mulia · 29 Februari 2020 pada 1:04 pm

[…] Baca Juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan […]

Tinggalkan Balasan