Pernikahan Rasulullah dengan Zainab Binti Jashy, Janda Putra Angkat Beliau

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Rasulullahsaw telah dituduh melakukan suatu kesalahan karena telah menikahi Zainab Binti Jashy, mantan istri putra angkat beliausaw sendiri, Zaid Bin Haritsah.

Seperti apakah sesungguhnya peristiwa tersebut, berikut ini fakta dan penjelasan mengenai peristiwa tersebut.

Zaid Bin Haritsah dan Zainab Binti Jashy

Hadhrat Zaid bin Haritsahra adalah hamba sahaya yang dimerdekakan oleh Rasulullahsaw kemudian beliau diangkat anak oleh Rasulullahsaw. Untuk lengkapnya mengenai Zaid Bin Haritsahra bisa dibaca di sini.

Sementara itu Zainab binti Jashyrah adalah putri bibi Rasulullahsaw dari pihak ayah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau dikenal sebagai seorang wanita yang bertakwa, salehah dan suka memberi.

Mengenai Zainab Binti Jashyrah, Hadhrat Aisyahrah mengatakan, “… Saya tidak pernah melihat wanita lain yang lebih baik dari Zainab, ia adalah orang yang sangat bertakwa, tulus, gemar bersilaturahmi dan bersedekah dan gigih dalam melakukan kebaikan dan meraih kedekatan dengan Tuhan. Beliau memiliki sifat sedikit pemarah. Tetapi, setelah marah beliau segera menyesalinya.” 

Dijodohkan dengan Zaid Bin Haritsah

Rasulullahsaw sangat menghargai keadaan keluarga dalam sudut pandang kemasyarakatan, namun beliausaw berkeyakinan bahwa tolok ukur hakiki kemuliaan terletak pada ketakwaan diri dan kesucian sebagaimana difirmankan dalam Al Quran,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.” (Al-Ḥujurāt, 49: 14)

Rasulullahsaw tanpa rasa segan menyampaikan usulan untuk menikahkan kerabatnya ini, Zainab Binti Jashy dengan Zaid bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang telah beliau bebaskan dan juga anak angkat beliau.

Pada awalnya Zainab menolak karena melihat latar belakang kebesaran keluarganya, namun setelah melihat keinginan kuat Rasulullahsaw, akhirnya ia setuju. Lalu menikahlah keduanya atas usulan Rasulullahsaw.

Perlu diketahui, pada saat itu usia Zainab binti Jashy sekitar 35 tahun.  Berdasarkan tradisi Arab pada masa itu, umur 35 tahun dianggap sudah lanjut untuk usia pernikahan.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Perceraian Zaid Bin Haritsah dan Zainab Binti Jashy

Meskipun Zainab berusaha untuk mengkondisikan hidupnya, namun secara pribadi Zaid tetap merasa masih tersembunyi dalam diri Zainab perasaannya sebagai anak dari keluarga terpandang dan kerabat dekat Rasulullahsaw sedangkan Zaid hanya seorang hamba sahaya yang dimerdekakan sehingga tidaklah sekufu (seimbang).

Meskipun Zainab memiliki ketakwaan dan kesalehan yang tinggi namun dalam fitrat beliau dijumpai rasa kebanggaan akan kebesaran status keluarga sampai batas tertentu.

Di sisi lain, di dalam diri Zaid sendiri ada perasaan rendah atau kecil dibanding Zainab. Perasaan-perasaan itu hari demi hari semakin dominan dan menimbulkan ketidakserasian rumah tangga lalu terjadilah ketidakharmonisan antara suami istri.

Ketika keadaan tersebut semakin meningkat, Zaid bin Haritsahra menghadap Rasulullahsaw dan meminta izin kepada beliausaw untuk menceraikan Zainab dengan mengeluhkan perlakuan Zainab. 

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengeluhkan Zainab mengucapkan kata-kata keras yang membuat beliau ingin menceraikannya. 

Sudah barang tentu Rasulullahsaw merasa terpukul mendengar kabar tersebut, namun Rasulullahsaw melarang Zaid untuk menceraikan istrinya. Rasulullahsaw masih merasa ada kekurangan dalam upaya Zaid untuk melanggengkan rumah tangga.

Rasulullahsaw lalu menasihati Zaid untuk menempuh ketakwaan kepada Allah dan berusaha untuk menjalaninya dengan dasar ketakwaan itu sebagaimana dalam Al-Qur-dan terdapat ucapan beliau tersebut,

 أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ

“Tahanlah istrimu pada dirimu sendiri dan bertakwah kepada Allah,” (Al-Ahzab, 33: 38)

Pada prinsipnya Rasulullahsaw tidak menyukai talaq sebagaimana dalam satu kesempatan beliau pernah bersabda,

 أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ‘

“Diantara segala yang halal, talaq adalah yang paling tidak disukai oleh Allah ta’ala.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh putra Hadhrat Imam Husainra bernama Hadhrat Imam Zainul Abidin Ali bin Husain dan Imam Zuhri menetapkan riwayat tersebut kuat yaitu sebagai berikut:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قد أوحى الله تعالى إليه أن زيدا يطلق زينب ، وأنه يتزوجها بتزويج الله إياها ، فلما تشكى زيد للنبي صلى الله عليه وسلم خلق زينب ، وأنها لا تطيعه ، وأعلمه أنه يريد طلاقها ، قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم على جهة الأدب والوصية : اتق الله في قولك وأمسك عليك زوجك وهو يعلم أنه سيفارقها ويتزوجها ، وهذا هو الذي أخفى في نفسه ، ولم يرد أن يأمره بالطلاق لما علم أنه سيتزوجها ، وخشي رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يلحقه قول من الناس في أن يتزوج زينب بعد زيد ، وهو مولاه ، وقد أمره بطلاقها ، فعاتبه الله تعالى على هذا القدر من أن خشي الناس في شيء قد أباحه الله له ، بأن قال : أمسك مع علمه بأنه يطلق. وأعلمه أن الله أحق بالخشية ، أي في كل حال .

“Rasulullahsaw sejak semula telah menerima wahyu dari Allah Ta’ala bahwa pada akhirnya Zaid bin Haritsah akan menceraikan Zainab dan setelah itu Zainab akan dinikahi oleh Rasulullah saw sesuai perintah-Nya. Maka dari itu, dalam hal ini beliausaw ingin bersikap sama sekali tidak terkait dan tidak berpihak kepada salah satu meskipun memiliki ikatan pribadi dan beliau berusaha sedapat mungkin tidak ada campur tangan beliau sama sekali dalam perceraian keduanya. Selama masih ada celah untuk melakukan damai, berusahalah untuk damai dan melanjutkan hubungan rumah tangga. Berdasarkan pemikiran tersebut, Rasulullahsaw memberikan nasihat kepada Zaid dengan penuh harapan untuk tidak menceraikan Zainab dan berusaha untuk menjalani rumah tangga dengan ketakwaan. Rasulullahsaw pun merasa khawatir jika setelah perceraian Zaid lalu beliausaw menikahi Zainab, muncul keberatan dari orang-orang bahwa beliau telah menikahi perempuan yang telah diceraikan oleh anak angkatnya sehingga timbul satu corak ujian. Sebagaimana dalam Al Quran Allah Ta’ala berfirman, وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ  ‘…sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.’

Rasulullahsaw melarang Zaid untuk mentalaq lalu menasihatkannya untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar nasihat tersebut Zaid terdiam dan pulang.

Namun menyatunya dua tabiat yang tidak cocok adalah sulit. Telah terjadi ketidakharmonisan dan permasalahan tidak menemukan jalan pemecahannya sehingga setelah sekian lama akhirnya Zaid menceraikan Zainab.

Rumah tangga Zaid dan Zainab tidak berlangsung lama, berlangsung hanya selama satu tahun atau lebih sedikit dari itu.

Menikah dengan Rasulullah

Setelah masa iddah Zainab binti Jasyhi berakhir, turun wahyu kepada Rasulullahsaw yang memerintahkan beliausaw untuk menikahi Zainab binti Jashy. 

Allah Ta’ala berfirman:

 وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan, ingatlah  ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat dan engkau pun  telah memberi nikmat kepadanya, “Tahanlah istrimu pada dirimu sendiri dan bertakwah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak agar engkau takut kepada-Nya. maka tatkala Zaid menyempurnakan keperluannya terhadap dia, Kami menikahkan engkau dengan dia, supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk menikahi  bekas istri anak-anak angkat mereka, apabila mereka telah menyempurnakan kehendak mereka mengenai mereka. Dan keputusan Allah pasti akan terlaksana.  (Al-Ahzāb, 33: 38)

Hadhrat Rasulullahsaw menikahi Zainab Binti Jashy pada tahun kelima hijrah, beberapa masa sebelum perang Bani Mustaliq yang terjadi pada bulan Syaban 5 Hijriyah.

Baca juga: Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan

Hikmah Dibalik Pernikahan Rasulullah dengan Zainab Binti Jasyhi

Hikmah dibalik perintah tersebut selain dari mengobati kesedihan Hadhrat Zainab juga menikahi wanita yang telah dicerai tidak akan dianggap sebagai aib dalam Islam. Hikmah lainnya lagi adalah karena Hadhrat Zaid adalah anak angkat Rasulullahsaw dan disebut sebut sebagai putra beliau untuk itu jika Rasulullahsaw menikahi mantan istri anak angkat, akan menimbulkan dampak di kalangan umat Islam bahwa status anak angkat bukanlah anak kandung dan tidak juga kepadanya berlaku hukum anak kandung. Sehingga tradisi jahiliyah tersebut akan sama sekali hilang di kalangan Arab untuk masa yang akan datang.

Sebagaimana Al Quran menyampaikan jejak rekam yang paling sahih dalam sejarah Islam dengan berfirman, Surah al-Ahzaab ayat 38 tersebut.

Walhasil, setelah turunnya wahyu Allah yang di dalamnya sama sekali tidak ada campur tangan pemikiran Rasulullahsaw, beliausaw memutuskan untuk menikahi Zainab lalu kepada putra angkat beliau, Zaid Bin Haritsah jugalah beliausaw meminta untuk mengirimkan pesan lamaran. 

Setelah ada persetujuan dari Zainab, saudara Zainab bernama Abu Ahmad bin Jashy bertindak sebagai wali lalu menikahkan Zainab kepada Rasulullahsaw dengan mahar sebesar 400 dirham. 

Dengan demikian tradisi keliru di tanah Arab yang sudah mengakar pada masa itu telah dicabut dan dihilangkan dalam Islam berkat teladan pribadi Rasulullahsaw.

Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada orang-orang bahwa Rasulullahsaw tidak memiliki putra kandung, baik itu anak secara biologis (anak kandung) ataupun menurut hukum negeri. Sebab, jika seseorang mengadopsi seorang anak maka berdasarkan ‘urf (kebiasaan) yang berkembang di negeri itu, ia terhitung sebagai anak.

Rasulullahsaw tidak memiliki putra kandung berdasarkan hukum Ilahi (hukum alami). Adapun berdasarkan undang-undang negeri dan hukum negeri yang tengah berlaku waktu itu, beliau memiliki putra yakni Zaid. Orang-orang menyebutnya Zaid ibnu Muhammad (Zaid putra Muhammad).

Melalui pernikahan beliausawsaw dengan Zainab, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa yang terhitung anak itu adalah yang berdasar pada qanun qudrat Ilahiyah (hukum alam) yakni anak biologis.

Anak berdasarkan hukum negeri bukanlah merupakan anak kandung. Maka atas hal itu, anak angkat bukanlah anak kandung dan atas mereka tidak berlaku hukum yang ditetapkan oleh syariat untuk anak kandung. Maka dari itu, satu-satunya cara untuk menegakkan hal tersebut adalah menikahkan Rasulullahsaw dengan mantan istri Zaid, Zainab yang dicerai Zaid.

Baca juga: Haji Wada Dan Pesan Terakhir Rasulullah

Tuduhan Keji

Seperti yang telah dikhawatirkan, orang-orang munafik Madinah melontarkan keberatan berkenaan dengan pernikahan Rasulullahsaw dengan Zainab Binti Jashy.

Secara terang-terangan mereka mencerca dengan mengatakan, “Muhammad telah menikahi mantan istri anaknya seolah-olah telah menghalalkan menantu bagi dirinya sendiri.” (na’udzubillah). 

Namun karena tujuan pernikahan ini adalah untuk menghapuskan tradisi jahiliyah bangsa Arab pada masa itu sehingga mendengarkan cercaan-cercaan tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan.

Pada masa itu, orang-orang munafik Madinah tengah kuat-kuatnya. Mereka gigih dalam penentangan dan dibawah pimpnan Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan persekongkolan terencana untuk mencemarkan nama baik Islam dan Rasulullahsaw.

Cara yang mereka biasa tempuh adalah mengada-adakan kisah palsu lalu menyebarkannya secara sembunyi-sembunyi atau peristiwa yang sebenarnya mereka putarbalikkan, menambahkan seratus kebohongan di dalamnya lalu menyebarluaskannya secara terselubung.

Di dalam Al-Quran surah Al-Ahzab di ayat yang menerangkan mengenai pernikahan Hadhrat Zainab terdapat juga penjelasan secara khusus tentang orang-orang munafik Madinah dan indikasi kejahatan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

 لَّئِن لَّمْ يَنتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ()

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (Al Ahzab: 61)

Senjata yang paling mereka sukai adalah penyebarluasan kabar kotor untuk mencemarkan nama baik Rasulullahsaw dan orang-orang terdekat beliau.

Kabar burung itu disebarkan dengan cerdiknya sehingga terkadang karena tidak diketahui Rasulullahsaw dan para sahabat agung beliau secara rinci sehingga beliau-beliau tidak memiliki kesempatan untuk menolaknya.

Racun kabar bohong ini terus menyebar di dalam umat Islam. Dalam keadaan demikian sebagian sejarawan Muslim pada era berikutnya yang tidak terbiasa melakukan penelitian dan penyelidikan lalu menganggap kisah-kisah palsu tersebut benar adanya dan mulai meriwayatkannya.

Demikianlah latar belakang masuknya riwayat-riwayat itu ke dalam kitab-kitab kompilasi sejarawan Muslim yang sejenis al-Waqidi dan lain-lain.

Sebagaimana telah dijelaskan, riwayat-riwayat palsu tersebut tidak ditemukan jejaknya sedikit pun di dalam kitab-kitab Hadits yang sahih dan tidak juga para peneliti menerimanya.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Riwayat yang Tidak Benar

Sejarawan Ibnu Sa’d, ath-Thabari dan lain-lain telah menukil riwayat tidak berdasar dan jelas-jelas keliru berkenaan dengan pernikahan Zainab binti Jashy.

Dikarenakan matan (isi teks) riwayat tersebut menyediakan peluang untuk melontarkan keberatan pada ketinggian pribadi Rasulullahsaw sehingga para sejarawan Kristen mengutip riwayat tersebut, menceritakannya dengan cara yang tidak pantas dan menjadikannya sebagai perhiasan dalam buku-buku mereka.

Riwayatnya sebagai berikut: “Setelah Nabisaw menikahkan Zainab binti Jashy dengan Zaid, suatu hari beliausaw datang mencari Zaid di rumahnya. Secara kebetulan Zaid tidak sedang berada di rumah. Ketika Nabisaw berdiri di dekat pintu di luar lalu memanggil Zaid, istrinya Zainab menjawab dari dalam rumah bahwa Zaid sedang tidak ada di rumah. Ketika mengenali suara Nabisaw, Zainab langsung bangkit dan berkata, ‘Ya Rasulullahsaw! Ayah dan ibu saya rela berkurban demi engkau, silahkan masuk.’ Namun, Nabisaw menolak masuk lalu kembali pulang.”

Perawi menulis lebih lanjut, “Karena rasa kaget sehingga Zainab menjumpai Rasulullahsaw dalam keadaan tidak mengenakan shawl (kerudung penutup kepala atau dapat menjadi cadar) terlebih dahulu. Pintu rumah dalam keadaan terbuka, sehingga pandangan Nabisaw tertuju pada Zainab. Nabisaw terkesan dengan kecantikan Zainab (na’udzubillah) lalu pergi sambil melantunkan, سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ مُصَرِّفِ الْقُلُوبِ “Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati.”

Ketika Zaid kembali ke rumah, Zainab menceritakan padanya perihal kedatangan Rasulullahsaw. Hadhrat Zaid bertanya, ‘Apa yang disabdakan Rasulullahsaw?’

Hadhrat Zainab menceritakan, ‘Saya telah mempersilahkan Rasulullahsaw masuk namun beliau menolaknya lalu kembali pulang.’

Mendengar hal itu Zaid segera pergi menemui Rasulullahsaw dan berkata, ‘Ya Rasulullahsaw, mungkin tuan menyukai Zainab. Jika tuan menyukainya maka saya akan menceraikannya. Setelah itu silahkan Anda menikahinya.’

Rasul bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kau ceraikan Zainab.’ Namun, di kemudian hari Zaid menceraikan Zainab.

Inilah riwayat yang dinukil oleh Ibnu Sa’d, Ibn Jarir ath-Thabari dan lain-lain. Meskipun riwayat tersebut dapat diberikan penafsiran yang tidak memancing kritik dan sama sekali tidak pantas dilontarkan tuduhan, namun pada hakikatnya, riwayat tersebut sama sekali keliru dan palsu.

Bukit Kekeliruan Riwayat Tersebut

Jelas sekali kedustaannya dari sisi riwayat (ilmu yang membahas tentang kritik sanad atau jalur penyampai Hadits) maupun dirayat (ilmu tentang kritik dan pemahaman matan atau isi hadits).

Dari sisi riwayat, cukuplah dengan mengetahui bahwa diantara para perawi riwayat tersebut kebanyakan melalui perantaraan al-Waqidi dan Abdullah bin Aamir Aslami dan menurut para peneliti, kedua orang tersebut periwayatannya sama sekali lemah dan tidak dapat dipercaya. 

Adapun Wadiqi sedemikian terkenal dalam menukil riwayat palsu dan kedustaan sehingga mungkin tidak ada tandingannya dalam hal kedustaan di kalangan para perawi yang mengaku diri Muslim.

Diakui kebenarannya bahwa Zainab adalah sepupu (putri bibi) Rasulullahsaw sampai-sampai beliausaw bertindak sebagai walinya ketika menikahkannya dengan Zaid Bin Haritsah.

Ditambah lagi, tidak akan ada yang dapat menyangkal bahwa sampai saat itu para wanita Muslim masih belum mengenakan Pardah (Hijab) karena perintah berpardah turun setelah pernikahan Rasulullahsaw dengan Zainab.

Dari segi ini jika timbul anggapan Rasulullahsaw sebelumnya tidak pernah melihat Zainab lalu disebabkan pandangan yang tertuju pada Zainab secara kebetulan lantas Rasulullahsaw jatuh hati dengan Zainab maka anggapan seperti itu jelas-jelas batil dan dusta. Tidak lebih dari itu.

Tentunya sebelum waktu itu pun beliausaw pasti pernah melihat Zainab ribuan kali begitu juga postur dan kecantikan Zainab sering tampak kepada beliau. Sekalipun tidak ada bedanya melihat dalam keadaan mengenakan atau tanpa penutup namun ketika hubungan kekerabatan begitu dekat lagi pula perintah Pardah belum turun dan setiap saat sering bertemu maka sudah barang tentu secara kebetulan beliausaw pun sering berjumpa dengan Zainab dalam keadaan tanpa kerudung.

Fakta dari narasi riwayat tersebut, Zainab mempersilahkan Rasulullahsaw untuk masuk kedalam rumah, memberitahukan pada saat itu pasti Zainab tengah mengenakan busana sedemikian rupa yang membuatnya siap dan memadai untuk berada di hadapan Rasulullahsaw.

Jadi, ditilik dari sudut pandang mana pun, riwayat tersebut tidak lebih dari kedustaan dan diada-adakan. Ia tidak memiliki hakikat apa-apa. Jika yang menjadi tolok ukurnya adalah level tertinggi kesucian dan kehidupan Nabisaw yang penuh kezuhudan, maka dari setiap amal dan gerak-gerik beliausaw jelaslah riwayat kotor dan sia-sia itu tidak ada kebenarannya sedikit pun.

Inilah sebabnya para peneliti menetapkan kisah tersebut palsu dan sama sekali dibuat-buat. Para peneliti tersebut contohnya Allamah Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, Allamah Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Allamah az-Zurqani dalam Syarh Mawahib yang menetapkan dengan jelas bahwa riwayat tersebut sama sekali dusta dan menceritakannya pun dianggap sebagai penistaan terhadap kebenaran. Begitu juga keadaan pendapat para peneliti lainnya.

Baca juga: Perang Hunain, Bukti Kebenaran Dan Keagungan Rasulullah

Pernikahan Rasulullah

Tidak diragukan lagi merupakan suatu fakta sejarah bahwa Rasulullahsaw memiliki istri lebih dari satu. Bagian sejarah otentik pula bahwa semua pernikahan beliausaw dengan selain Khadijahrah terjadi pada masa yang dapat dikatakan sebagai usia tua beliausaw.

Namun, tanpa didasari fakta sejarah bahkan beranggapan yang bertentangan dengan fakta sejarah yang sudah jelas kebenarannya, mengatakan bahwa pernikahan-pernikahan beliau tersebut dilandasi hawa nafsu birahi adalah sangat bertentangan dengan kualitas seorang sejarawan dan juga bertentangan dengan kualitas seorang manusia yang baik sekalipun.

Rasulullahsaw pada usia 25 tahun telah menikahi janda yang berusia 40 tahun. Keduanya lalu merajut secara penuh ikatan pernikahan itu dengan sangat baik dan penuh kesetiaan sampai Nabisaw berusia 50 tahun dan hal itu tidak kita temukan tandingannya. 

Sampai pada usia 55 tahun beliau hanya memiliki satu istri, yaitu Hadhrat Saudah yang notabene seorang janda tua. Sedangkan pada masa usia yang mana hawa nafsu manusia berada pada titik puncak [usia 25-50], pada masa tersebut beliau tidak pernah berpikiran untuk menikah lagi.

Fakta lainnya, pada satu masa ketika Rasulullahsaw di Makkah, sebuah delegasi dibawah pimpinan Utbah bin Rabiah menyampaikan permohonan kepada Rasulullahsaw agar menghentikan upaya-upaya tabligh beliausaw.

Dalam rangka itu, selain mengiming-imingi Rasulullahsaw dengan harta dan kekuasaan, mereka juga membujuk dengan mengatakan, ‘Jika Anda mau berdamai dengan kami dan setelah itu Anda tidak akan mencaci agama kami lagi juga akan menghentikan penyebaran agama baru ini dan Anda mensyaratkan menikahi wanita cantik yang Anda inginkan maka silahkan Anda pilih wanita mana saja yang Anda sukai, pasti kami akan nikahkan Anda dengan wanita itu.’

Pada saat itu usia Rasulullahsaw tidak lanjut dan dari sisi jasmani juga tentunya lebih baik dibanding dengan masa sesudahnya. Namun, Rasulullahsaw menolak seluruh tawaran yang menggiurkan itu dan tetap melaksanakan kegiatan tablighnya.

Kemudian, sebelum pengumuman nubuwwat (kenabian) sampai usia 40 tahun, penduduk Makkah mengenal beliau sebagai pemilik akhlak terbaik. 

Sementara itu, di sisi lain, kesibukan dan tanggung jawab beliau sedemikian rupa meningkat sehingga orang yang sangat sibuk sekalipun akan merasa malu untuk membandingkannya.

Tentunya pendapat yang seperti itu tidak dapat diyakini sebagai ucapan yang tidak terdapat prasangka. Sudah barang tentu itu merupakan ucapan orang yang dipenuhi kebencian.

Pernikahan lebih dari satu istri yang Nabisaw lakukan pada masa tua merupakan bukti itu didasari bukan demi memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan pada kedalamannya terdapat tujuan lain yang tersembunyi khususnya ketika terdapat fakta sejarah bahwa beliau melewati masa muda sedemikian rupa sehingga orang yang mengenali beliau maupun tidak menjuluki beliau sebagai Al-Amin (yang tepercaya).

Usia ketika Nabisaw melakukan pernikahan dengan lebih dari satu istri merupakan usia tatkala beban tanggung jawab kenabian sampai pada puncaknya dan beliau benar-benar larut dalam melaksanakan beban tanggung jawab yang tidak terhingga itu.

Pernikahan dengan lebih dari satu istri yang Nabisaw lakukan merupakan bagian dari tugas kenabian yang beliau lakukan semata-mata bertujuan demi tabligh dan tarbiyat meskipun hal itu merusak ketenangan kehidupan pribadi beliau sendiri.

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Sumber:

  • Sirat Khataman Nabiyyin karya Mirza Basyir Ahmad
  • Khutbah Jumat – Mirza Masroor Ahmad

0 Komentar

Tinggalkan Balasan