Perjanjian Hudaibiyah, Kemenangan Besar Islam

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

perjanjian hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah, terjalin antara pihak Islam dengan kaum kufar Mekkah. Perjanjian itu menjadikan pihak Islam meraih kemenangan besar. Perjanjian Hudaibiyah merupakan bukti pengakuan kaum kufar terhadap Islam dan terciptanya keamanan bagi umat Islam dan kebebasan untuk menyampaikan tabligh Islam.

Kasyaf Rasulullah saw

Berawal dari sebuah rukya atau kasyaf yang diterima Rasulullah saw, dimana hal itu disinggung dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan kepada Rasul-Nya rukya dengan benar, kamu pasti akan masuk Masjidil Haram jika Allah menghendaki dengan aman, dengan mencukur habis rambut kepalamu atau memotong pendek tanpa merasa takut. Tetapi Dia mengetahui apa yang kamu tidak ketahui, Dia sebenarnya telah menetapkan bagimu selain itu satu kemenangan yang dekat” (48:28).

Rasulullah saw memahami bahwa kaum Muslimin telah diperintahkan oleh Tuhan untuk segera mencoba menjalankan tawaf di Ka’bah. Beliau mengumumkan kasyaf tersebut, dengan penafsirannya, kepada kaum Muslimin lalu meminta supaya mereka mengadakan persiapan.

“Kamu akan berangkat,” sabda beliau, “hanya untuk menjalankan taawaf di Ka’bah. Oleh karena itu tidak boleh melakukan unjuk rasa (sikap permusuhan) terhadap musuh.”

Berangkat Ke Mekkah Dengan Seribu Lima Ratus Sahabat

Setahun sesudah Perang Khandak atau akhir Februari 628 M, Rasulullah saw dan seribu lima ratus orang Sahabat berangkat ke Mekkah.

Dua puluh orang prajurit berjalan di muka, dengan jarak agak jauh, untuk memberi kabar kepada kaum Muslimin jika musuh memperliatkan tanda-tanda akan menyerang.

Kaum Mekkah segera menerima laporan mengenai kafilah itu. Mereka pun mulai mengadakan persiapan-persiapan seperti akan ada bentrokan senjata. Mereka mengadakan pertahanan di semua jurusan, menyerukan permintaan bantuan kepada suku-suku di sekitar dan sepertinya bertekad untuk bertempur.

Ketika Rasulullah saw sampai ke dekat Mekkah, beliau mendapat laporan bahwa kaum Quraisy siap untuk bertempur.

Mereka mengenakan baju kulit harimau, membawa istri dan anak-anak mereka, dan telah bersumpah dengan khidmat. Tak lama kemudian, 200 orang prajurit Mekkah di bawah pimpinan Khalid bin Walid berderap di muka kaum Muslimin.

Kaum Muslimin sekarang tak dapat bergerak maju kecuali dengan pedang terhunus. Tetapi, Rasulullah saw telah betekad untuk tidak berbuat semacam itu. Beliau memakai seorang penunjuk jalan untuk membawa kafilah Muslim itu ke jalan lain melalui padang pasir.

Di bawah pimpinan penunjuk jalan itu Rasulullah saw dan para Sahabat tiba di Hudaibiyah, suatu tempat yang sangat dekat Mekkah.

Hudaibiyah terletak kira-kira 22 KM arah Barat dari Mekkah menuju Jeddah, dilokasi itu saat ini terdapat Masjid Ar-Ridhwân. Nama lain Hudaibiyah adalah Asy-Syumaisi yang diambil dari nama Asy-Syumaisi yang menggali sumur di Hudaibiyah.

Di Hudaibiyah itu, tiba-tiba unta Rasulullah saw berhenti dan mogok, tidak mau maju lagi. “Hewan ini agaknya lelah, ya Rasulullah. Lebih baik anda menaiki tunggangan lain,” kata seorang Sahabat.

“Tidak, tidak,” sabda Rasulullah saw “hewan ini tidak lelah. Agaknya malah Tuhan menghendaki supaya kita berhenti di sini dan tidak meneruskan perjalanan. Maka aku usulkan untuk berkemah di sini dan menanyakan kepada kaum Mekkah, apakah mereka mau mengizinkan kita menunaikan ibadah Haji. Aku bersedia menerima tiap syarat yang ingin mereka tetapkan” (Halbiyya, Jilid 2, hlm. 13).

Balatentara Mekkah pada saat itu tidak ada di Mekkah, karena telah berangkat keluar agak jauh untuk menghadapi kaum Muslim di jalan utama ke Madinah. Jika Rasulullah saw menghendaki, beliau dapat membawa pasukan beliau ke Mekkah dan menduduki kota itu tanpa perlawanan.

Tetapi, beliau tidak melakukan itu, tujuan beliau dan kaum Muslimin datang ke Mekkah hanya untuk tawaf di Ka’bah dan itu pun jika kaum Mekkah mengizinkannya. Beliau hanya akan melawan dan bertempur dengan kaum Mekkah jika kaum Mekkah memutuskan untuk menyerang lebih dahulu. Itulah sebabnya mengapa beliau meninggalkan jalan utama dan berkemah di Hudaibiyah.

Baca juga: Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Perundingan-perundingan

Mengetahui hal itu kaum Mekkah mengutus Budail Ibnu Warqa, untuk berunding dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw menerangkan kepada Budail bahwa beliau dan kaum Muslimin hanya ingin melakukan tawaf di Ka’bah; tetapi, jika kaum Mekkah menghendaki perang kaum Muslimin pun sudah siap.

Mereka juga mengutus Urwah Ibnu Mas’ud Al-Thaqafi, menantu Abu Sufyan, pemimpin Mekkah. Ia bersikap sangat kurang ajar. Ia menyebut kaum Muslimin gelandangan-gelandangan dan sampah-sampah masyarakat, dan mengatakan bahwa kaum Mekkah tidak akan mengizinkan kaum Muslimin memasuki Mekkah.

Utusan pihak kaum Mekkah silih berganti datang untuk mengadakan pembicaraan. Pada intinya mereka tetap tidak mengizinkan kaum Muslimin memasuki mekkah dan melaksanakan tawaf. Kaum Mekkah akan merasa terhina jika mereka mengizinkan taawaf pada tahun itu. Tahun berikutnya umat Islam boleh melaksanakannya.

Kaum Kufar tidak Mengizinkan Tawaf

Upaya-upaya damai terus dilakukan oleh Rasulullah saw, agar kaum Muslimin bisa melaksanakan tawaf.

Selalu ada saja pertolongan dari Allah Ta’ala bagi kaum Muslimin dari jalan-jalan yang tidak terduga, beberapa suku yang bersekutu dengan kaum Mekkah menganjurkan dengan sangat kepada para pemimpin Mekkah supaya mengizinkan kaum Muslimin  bisa tawaf. Tetapi, kaum Mekkah tetap bersikepala batu. Karena itu para pemimpin suku itu berkata bahwa kaum Mekkah tidak menghendaki perdamaian dan mengancam akan memisahkan diri dari mereka.

Karena takutnya, kaum Mekkah bersedia untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Peluang itu tidak disia-siakan oleh Rasulullah saw.

Segera setelah Rasulullah saw mendapat kabar mengenai hal itu, beliau mengutus Utsman bin Affan (yang kemudian menjadi Khalifah ketiga) kepada kaum Mekkah. Utsman mempunyai banyak sanak-saudara di Mekkah. Mereka datang dan mengerumuninya serta menawarkan kepadanya untuk tawaf.”Tetapi,” kata Utsman, “aku tidak mau melaksanakan tawaf kecuali beserta majikanku. (maksudnya bersama Rasulullah saw).”

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Baiat Ridwan

Negosiasi antara Utsman dengan para pemimpin Mekkah terjadi sangat alot. Tersebar isu bahwa Utsman telah dibunuh. Berita itu sampai kepada Rasulullah saw. Karena itu Rasulullah saw mengumpulkan para Sahabat dan bersabda, “Jiwa seorang utusan dipandang suci oleh segala bangsa. Aku telah mendengar bahwa kaum Mekkah telah membunuh Utsman. Jika hal itu benar, kita harus masuk ke Mekkah, apa pun akibatnya.”

Niat Rasulullah saw yang sedianya masuk ke Mekkah dengan damai harus diubah karena keadaan berubah. Rasulullah saw meneruskan, “Mereka yang berjanji dengan khidmat bahwa jika harus terus maju, mereka tidak akan kembali kecuali sebagai pemenang; baiklah tampil ke muka dan bersumpah di tanganku.” Sesaat ketika Rasulullah selesai bersabda, para Sahabat yang seribu lima ratus itu bangkit semua dan saling berdesakan, berebut menyambut tangan Rasulullah saw dan mengangkat sumpah.

Sumpah itu mempunyai kepentingan istimewa dalam sejarah Islam di zaman awal. Sumpah itu disebut Baiat Ridwan (Sumpah Pohon). Ketika sumpah diambil, Rasulullah saw sedang duduk di bawah sebuah pohon.

Tiap-tiap orang yang mengangkat sumpah pada waktu itu tetap merasa bangga sampai akhir hidupnya. Dari jumlah seribu lima ratus yang hadir pada peristiwa itu, tak seorang pun yang tertinggal. Mereka semua berjanji bahwa jika utusan Muslimin itu dibunuh, mereka tidak akan pulang. Baik mereka akan menduduki Mekkah sebelum senja, atau semuanya akan mati dalam pertempuran. Angkat sumpah belum lagi selesai, Utsman kembali. Ia melaporkan bahwa kaum Mekkah tetap tidak mengizinkan kaum Muslimin tawaf sampai tahun berikutnya.

Perjanjian Hudaibiyah

Kemudian kaum kufar Mekkah mengutus Suhail Ibnu Umar seorang pemimpin Mekkah, untuk membuat perjanjian resmi antara pihak Islam yang diwakili oleh Rasulullah saw sedangkan pikah kufar diwakili oleh Suhail.

Perjanjian itu kemudian dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah karena dibuat di Hudaibiyah, peristiwa itu terjadi pada Maret, 628 M atau Dzulqa’dah, 6 H.

Bunyi Perjanjia Hudaibiyah

“Dengan nama Allah. Ini adalah syarat-syarat perdamaian antara Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amir, utusan Mekkah. Tidak akan ada perang selama sepuluh tahun. Siapa pun yang berminat menggabungkan diri kepada Muhammad dan mengadakan suatu persetujuan dengan dia, bebas berbuat demikian. Siapa pun yang ingin bergabung dengan kaum Quraisy dan mengadakan suatu persetujuan dengan mereka, bebas untuk berbuat demikian. Seorang belia, atau seseorang yang ayahnya masih hidup, jika ia pergi kepada Muhammad tanpa izin ayahnya atau walinya, akan dikembalikan kepada ayahnya atau walinya. Tetapi, seseorang yang pergi kepada kaum Quraisy, ia tidak akan dikembalikan. Pada tahun ini Muhammad akan kembali tanpa masuk ke Mekkah. Tetapi pada tahun yang akan datang ia dan para pengikutnya dapat masuk ke Mekkah, tinggal selama tiga hari dan melakukan tawaf. Selama tiga hari itu kaum Quraisy akan mengundurkan diri ke bukit-bukit di sekitarnya. Jika Muhammad dan para pengikutnya masuk ke Mekkah, mereka tidak akan bersenjata kecuali pedang bersarung yang para musafir di Arabia senantiasa membawa serta.” (Bukhari).

Baca juga: Cara Rasulullah Menghadapi Wabah Penyakit

Kesabaran Rasulullah saw

Setelah point-point perjanjian Hudaibiyah disepakati kedua belah pihak, Rasuluilah saw mulai mendiktekan persetujuan itu kepada juru tulisnya, beliau bersabda, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Suhail berkeberatan dan berkata, “Allah kami kenal dan beriman kepada-Nya, tetapi apakah tambahan Maha Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu?” Persetujuan ini antara dua golongan. Oleh karena itu, kepercayaan agama kedua pihak harus dihargai.”

Rasulullah saw segera menyetujui dan bersabda kepada juru tulisnya, “Tulis hanya ‘Dengan nama Allah’.” Kemudian Rasulullah saw meneruskan mendiktekan kata-kata persetujuan tersebut. Kalimat pembukaan berbunyi, “Ini adalah syarat-syarat perdamaian antara kaum Mekkah dan Muhammad Rasulullah.” Suhail berkeberatan lagi dan berkata, “Jika kami memandang anda Rasulullah, kami tidak akan memerangi anda.”

Rasulullah saw menerima penolakan ini juga. “Muhammad Rasulullah” diganti dengan “Muhammad bin Abdullah.”

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Keberatan Para Sahabat

Karena Rasulullah saw menyetujui dan menerima tiap-tiap penolakan kaum Mekkah, para Sahabat menjadi marah atas penghinaan itu. Darah mereka mulai mendidih dan Umar bin Khattab, orang yang paling berang, berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah kita ada di pihak yang benar?”

“Benar,” jawab Rasulullah saw, “kita ada di pihak yang benar.” “Dan tidakkah kita diberi tahu oleh Tuhan bahwa kita akan tawaf di Ka’bah?” tanya Umar.

“Ya,” sabda Rasulullah. “Jika demikian mengapa persetujuan ini dan mengapa kata-kata yang menistakan ini?”

“Benar,” kata Rasulullah saw, “Tuhan memang memberi khabar ghaib bahwa kita akan tawaf dengan damai, tetapi Tuhan tidak mengatakan kapan. Aku menyangka bahwa hal itu akan terjadi tahun ini. Tetapi aku dapat saja salah. Harus pada tahun inikah?” Umar bungkam.

Kemudian sahabat-sahabat lain mengemukakan keberatan mereka. Di antaranya ada yang bertanya, mengapa mereka menyetujui pengembalian seorang pemuda yang masuk Islam kepada ayahnya atau walinya tanpa mendapat syarat yang setimpal untuk seorang Muslim yang kemudian ingkar atau pergi kepada kaum Mekkah. Rasulullah saw menerangkan bahwa tidak ada kerugian dalam hal ini.

“Tiap orang yang masuk Islam,” sabda beliau “ia masuk karena menerima kepercayaan-kepercayaan dan amalan-amalan yang diajarkan oleh Islam, ia tidak menjadi orang Islam untuk menggabungkan diri kepada suatu jemaat dan menerima adat-adat kebiasaannya. Orang demikian itu akan tabligh Islam kemanapun juga ia pergi dan menjadi wahana penyebar Islam. Tetapi orang yang meninggalkan Islam tidak berguna bagi kita. Jika dalam hatinya tidak lagi beriman kepada apa yang kita percaya, ia bukan lagi seorang di antara kita. Maka lebih baik ia pergi ke tempat lain.”

Jawaban Rasulullah saw itu memuaskan hati mereka yang mula-mula meragukan kebijaksanaan Rasulullah saw. Hal itu hendaknya memuaskan semua orang masa kini yang berpendapat bahwa dalam Islam hukuman bagi orang murtad ialah hukum mati. Jika hal itu memang demikian, Rasulullah saw tentu akan menuntut dikembalikan dan menghukum mereka yang meninggalkan Islam.

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Ujian Pertama Perjanjian Hudaibiyah

Ketika persetujuan telah ditulis dan ditandatangani oleh kedua pihak, timbullah suatu peristiwa yang menguji kejujuran kedua pihak. Abu Jandal, anak Suhail, wakil kaum Mekkah, datang ke hadapan Rasulullah saw dalam keadaan terikat, luka-luka, dan sangat letih. Ia menjatuhkan diri di hadapan Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, dalam batinku aku seorang Muslim dan karena kepercayaanku itu aku menerima kesulitan-kesulitan ini dari tangan bapakku sendiri. Ayahku ada di sini bersama anda. Maka aku melarikan diri dan berhasil datang kepada anda.” Rasulullah belum bersabda apa-apa, ketika Suhail bertindak dan mengatakan bahwa persetujuan telah ditandantangani dan anaknya harus ikut dengan dia.

Karena perlakukan buruk Suhail kepada anaknya itu, saudara-saudaranya yang muslim menghunus pedang dan nampak bertekad untuk mati dalam menyelamatkan saudara mereka. Abu Jandal sendiri memohon dengan sangat kepada Rasulullah saw supaya ia diperkenankan ikut bersama Rasulullah ke Madinah. Tetapi Rasulullah saw telah mengambil keputusan.

Beliau bersabda kepada Jandal, “Nabi-nabi tidak menelan kata-katanya. Kami sekarang telah menandatangani persetujuan. Sekarang, baiklah kamu menanggungnya dengan sabar dan bertawakal kepada Tuhan. Dia pasti akan mencukupi kamu dan memberikan kepadamu kemerdekaan dan pula untuk kemerdekaan pemuda-pemuda lainnya yang senasib dengan kamu.”

Setelah perdamaian itu ditandatangani, Rasulullah saw dan kaum Muslimin kembali ke Medinah. Meskipun gagal melaksanakan tawaf, bukan berarti kasyaf yang diterima Rasulullah saw itu bohong, yang terjadi adalah Rasulullah saw keliru dalam memahaminya dan itu sangat wajar.

Dan sepertinya itu merupakan bagian dari “sekenario” yang Allah rancang, karena dibalik kegagala itu terdapat hikmah yang besar bagi kaum Muslimini, yaitu terciptanya perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan satu tonggak penting  bagi kemenangan Islam dimasa awal. Dengan ditanda tanganinya perjanjian Hudaibiyah, umat Islam dapat hidup dengan damai yang terpenting lagi lagi tabligh Islam dapat dilakukan dengan bebas, hingga Islam tersebar luas.

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Sumber: Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah saw – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Photo by Vitaly Vlasov from Pexels


0 Komentar

Tinggalkan Balasan