Perang Uhud terjadi satu tahun setelah Perang Badar. Kaum kufar Mekkah tidak pernah bisa tenang jika tidak mengganggung umat Islam, terlebih setelah mereka kalah di Badar. Satu tahun setelah peristiwa menyakitkan bagi mereka itu, kini mereka kembali akan menyerang umat Islam.

Persiapan Perang Uhud

Kekalahan kaum kufar Mekkah dalam perang Badar menyisakan kehinaan, rasa sakit dan dendam yang mendalam, sehingga mereka berjanji akan kembali menyerang Madinah.

Benar saja, hanya setahun setelah perang Badar, mereka kembali akan menyerang Madinah, kali ini dengan kekuatan penuh dan membuat persiapan besar-besaran. Untuk membiayai perang, mereka kumpulkan dananya dari seluruh keuntungan kafilah-kafilah dagang mereka.

Dengan persiapan yang matang dan dengan kekuatan penuh mereka berangkat ke medan tempur di Uhud.

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Musyawarah Rasulullah saw

Mengetahui kepastian serangan yang dilakukan oleh kaum kufar Mekkah, Rasulullah saw pun segera mengadakan musyawarah dengan kaum Muslimin, bagaimana rencana menghadapi para penyerang itu. Apakah mereka akan menghadapi musuh di dalam kota atau di luar kota Madinah.

Dalam musyawarah itu Rasulullah saw akhirnya memutuskan, pasukan Islam akan mengadapi musuh di luar Madina, sama seperti dulu ketika perang Badar.

Sebenarnya Rasulullah saw sendiri menginginkan agar umat Islam bertahan di Madinah, akan tetapi dengan sangat bijaskana beliau saw menerima keputusan rapat umum itu, pasukan Islam akan mengadapi musuh di medan terbuka, yaitu di Uhud.

Baca juga: Abu Talhah: Tanganya Buntung Karena Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Rasullah saw Menerima Kasyaf

Rasulullah saw menerangkan kasyaf yang diterima beliau. Sabda beliau, “Aku melihat kasyaf. Aku lihat seekor lembu dan kulihat juga pedangku patah ujungnya. Lembu itu kulihat sedang disembelih dan aku telah memasukkan tanganku ke dalam baju besi. Aku melihat diriku sendiri juga sedang menaiki domba jantan.” Para Sahabat bertanya kepada Rasulullah s.a.w. bagaimana beliau memberi arti kepada kasyaf itu.

“Penyembelihan lembu,” sabda Rasulullah saw, “menunjukkan bahwa ada beberapa Sahabat akan gugur di medan perang. Ujung pedangku patah berarti, seorang yang penting dari antara sanak saudaraku akan menemui ajal, atau aku sendiri akan menderita nyeri atau semacam cedera. Memasukkan tanganku ke dalam baju besi agaknya berarti bahwa jika tetap tinggal di dalam kota Medinah maka akan lebih baik untuk kita. Peristiwa melihat diriku sendiri menaiki domba jantan berarti, kita akan mengalahkan panglima kaum kufar, dan bahwa ia akan mati di tangan kita” (Bukhari, Hisyam, dan Tabaqat).

Dijelaskan oleh kasyaf dan takwilnya bahwa bagi kaum Muslimin adalah lebih baik kalau tetap tinggal di dalam kota Meadinah. Tetapi Rasulullah saw tidak mau memaksakannya, karena tafsiran kasyaf itu adalah dari beliau sendiri, bukan sebagian dari pengetahuan yang berdasarkan wahyu. Beliau menerima musyawarah mayoritas dan memutuskan berangkat menghadapi musuh di luar kota Madinah.

Ketika beliau bertolak ke luar kota menuju Uhud, sebagian para sahabat menyadari kekhilafan mereka, lalu menemui Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, saran anda nampaknya lebih baik. Kita harus tetap di Madinah dan menghadapi musuh dijalan-jalan kita.” “Sekarang tidak,” sabda Rasulullah saw. “Sekarang Rasulullah telah mengenakan baju besinya. Apapun yang akan terjadi, kita akan terus maju. Jika kamu beristiqamah dan bertawakal, Tuhan akan membantumu” (Bukhari dan Tabaqat).

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah

Perbandingan Kekuatan

Di bawah komando Abu sufyan – saat itu belum beriman- lasykar kaum kufar Mekkah berjumlah tiga ribu parajurit mereka juga membawa serta kaum wanita mereka yang dipimpin oleh Hindun.

Dalam lasykar Mekkah ada tujuh ratus prajurit berbaju besi; terdapat dua ratus pasukan berkuda, dan membawa tiga ribu unta.

Sementara itu paukan Islam hanya berjumllah 700 orang, terdiri dari hanya 100 prajurit yang berbaju besi, dua ekor kuda.

Perang Uhud terjadi pada tanggal 7 Syawal 3 H atau 22 Maret 625 M. Terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badar.

Disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Baca juga: Ahli Shuffah: Dicintai Rasulullah, Meraih Sukses dan Kemuliaan 

Berangkat Menuju Uhud

Setelah musyawarah itu usai, Rasulullah saw dan pasukan Islam berangkat menuju medan pertempuran di Uhud.

Tidak jauh dari Madinah mereka mendirikan kemah untuk istirahat malam. Menjelang shalat Subuh beliau meronda. Beliau melihat beberapa orang Yahudi pun ikut serta dengan kaum Muslimin. Mereka berpura-pura menaati perjanjian dengan suku-suku Madinah.

Tatkala Rasulullah saw telah mencium tipu muslihat kaum Yahudi, beliau menyuruh mereka pulang. Baru saja beliau berbuat demikian, Abdullah bin Ubayyi ibnu Salul, pemimpin kaum munafik menarik pasukannya sejumlah tiga ratus orang pengikutnya.

Akibat pembelotan pada saat genting seperti itu, kini pasukan Islam hanya tinggal tujuh ratus orang saja.

Tujuh ratus prajurit itu harus menghadapi lasykar yang empat kali lipat besarnya dan beberapa kali jauh lebih baik perlengkapannya.

Pasukan Khusus Pemanah

Sesampainya di Uhud, Rasulullah saw mengatur pasukannya. Di atas celah bukit-bukit beliau menempatkan satu regu khusus pemanah sebanyak 50 orang, yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair, mereka ditugasi memukul mundur tiap-tiap serangan dari pihak musuh atau menggagalkan tiap-tiap usaha menduduki posisi itu.

Rasulullah saw menerangkan dengan jelas kewajiban mereka. Mereka harus bertahan di tempat mereka ditempatkan dan tidak bergerak dari tempat itu sampai mendapat perintah, apapun yang terjadi dengan pasukan Islam.

Sisanya, sebanyak enam ratus lima puluh orang prajurit akan berhadapan langsung dengan musuh di medan pertemuran Uhud.

Mengalahkan Musuh

Saat yang diantikan pun tiba, Rasulullah saw dan pasukan Islam maju menghadapi lasykar musuh yang kira-kira lima kali lipat besarnya. Tetapi, dengan pertolongan Ilahi, dalam waktu singkat pasukan Islam yang hanya enam ratus lima puluh prajurit itu telah menghalau tiga ribu lasykar Mekkah yang serba mahir itu.

Prajurit-prajurit Islam dengan penuh keberanian terus mendesak musuh, hingga musuh mundur jauh dan berlarian tak tentu arah.

Celah bukit tempat lima puluh prajurit Muslim ditempatkan, tertinggal di belakang. Seorang prajurit di atas celah bukit berkata kepada pemimpinnya, “Musuh telah kalah. Sekarang telah tiba waktunya untuk ikut dalam pertempuran dan memperoleh tanda kemenangan di alam akhirat.” Pemimpin pasukan melarangnya sambil memperingatkan mereka kepada perintah-perintah yang jelas dari Rasulullah saw.

Tetapi, orang itu menerangkan bahwa perintah Rasulullah saw itu harus ditaati menurut jiwanya dan tidak menurut lahirnya. Tak ada artinya sedikit pun menjaga celah bukit itu sementara musuh melarikan diri lintang pukang. Dengan alasan itu mereka meninggalkan celah itu dan ikut galau dalam kancah pertempuran.

Kemenangan Berubah Jadi Kekalahan

Dalam lasykar Mekkah yang sedang melarikan diri termasuk Khalid bin Walid yang kemudian menjadi panglima Muslim besar. Matanya yang jeli jatuh pada celah sempit yang tak terjaga lagi itu. Yang masih menjaganya hanya tinggal sedikit, Khalid berseru memanggil panglima Mekkah lain, ialah Amr bin al-As, dan menyuruhnya melempar pandangan ke celah di belakangnya. Amr menengok ke belakang dan tahulah dia bahwa itulah kesempatan yang paling indah.

Kedua panglima itu menghentikan pasukan mereka dan mendaki bukit itu. Mereka membunuh orang-orang Muslim yang tinggal sedikit, menjaga celah itu, termasuk Hamzah, paman Rasulullah saw. Dari tempat yang tinggi itu mereka mulai menyerbu kaum Muslim.

Mendengar pekikan perang mereka, lasykar Mekkah yang telah cerai-berai itu bergabungan lagi dan kembali ke medan pertempuran. Serbuan kepada kaum Muslim itu sangat mendadak.

Dalam pengejaran lasykar Mekkah mereka itu terpencar-pencar ke berbagai arah medan. Perlawanan Muslimin terhadap serangan baru itu tidak dapat disatukan lagi. Hanya prajurit-prajurit Muslim secara perorangan masih nampak mengadakan perlawanan terhadap musuh. Banyak di antara mereka gugur. Lain-lainnya terdesak mundur.

Baca juga: Umar bin Khattab ra: Penakluk Persia dan Romawi

Rasulullah saw Terluka

Sekelompok kecil pasukan Islam membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah saw. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang. Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu pasukan Islam dalam lingkaran itu rebah karena tebasan pedang-pedang musuh.

Sementara itu, dari atas bukit para pemanah musuh melepaskan anak panah mereka. Pada saat itu Abu Talha, seorang Muhajir, melihat musuh melepas anak panah mereka ke arah wajah Rasulullah saw. Ia merentangkan tangannya dan diangkatnya ke atas, melindungi wajah Rasulullah saw. Panah-panah satu demi satu mengenai tangan Talha, tetapi tangan itu tidak diturunkan sungguhpun tiap panah menembus tangannya. Akibatnya, tangan itu sama sekali terkutung (terpotong-potong).

Regu kecil yang tinggal di sekitar Rasulullah saw itu tak mungkin dapat menahan lasykar yang mereka hadapi. Sepasukan musuh maju dan mendesak mereka mundur. Sehingga Rasulullah saw berdiri seorang diri tak terjaga, tiba-tiba sebuah batu mengenai dahi beliau dan meninggalkan lekuk yang dalam. Hantaman yang kedua mendorong gelang-gelang rantai topi baja masuk ke dalam pipi beliau.

Serangan musuh sedemikian kejinya, panah-panah mereka mengincar Rasulullah saw, beliau pun dalam keadan terluka, dalam keadaan seperti itu beliau berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Muslim).

Rasulullah saw jatuh di atas jenazah para syuhada yang gugur dalam membela beliau. Orang-orang Muslim lainnya maju ke muka melindungi Rasulullah saw dari serangan-serangan selanjutnya. Mereka pun gugur, Rasulullah saw terbaring tak sadarkan diri di antara mayat-mayat itu.

Ketika musuh menyaksikan pemandangan itu mereka menyangka beliau pun telah syahid. Mereka pun mengundurkan diri dengan keyakinan bahwa kemenangan telah tercapai dan mulai mengatur lagi barisan.

Orang-orang Muslim yang membuat formasi lingkaran di sekitar Rasulullah saw, tetapi terdesak mundur, maju lagi dengan segera ketika mereka melihat musuh telah mengundurkan diri. Mereka mengangkat tubuh Rasulullah saw. Abu Ubaida bin al-Jarrah menggigit gelang-gelang yang masuk menusuk pipi Rasulullah saw dan mencabutnya. Dalam usaha itu dua buah giginya tanggal.

Selang beberapa saat kemudian Rasulullah saw siuman kembali. Pengawal-pengawal di sekitar beliau mengutus orang-orang untuk menyuruh kaum Muslim berkumpul lagi. Pasukan Islam yang tercerai berai itu berkumpul lagi. Mereka mengawal Rasulullah saw ke kaki bukit.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Mengagungkan Nama Allah

Abu Sufyan, komandan musuh, ketika melihat sisa pasukan Muslim itu berteriak, “Kami telah membunuh Muhammad.” Rasulullah saw mendengar pekikan yang sombong itu, tetapi melarang kaum Muslimin menyahut, kalau-kalau musuh akan mengetahui kenyataan dan menyerang lagi sehingga kaum Muslimin yang letih dan luka-luka itu terpaksa berjuang lagi melawan pasukan yang buas itu.

Karena tak mendapat sambutan dari kaum Muslimin, Abu Sufyan menjadi yakin bahwa Rasulullah saw telah gugur. Ia berteriak lagi, “Kami telah membunuh Abu Bakar.” Rasulullah saw melarang Abu Bakar menyahut. Abu Sufyan berseru untuk ketiga kalinya, “Kami juga telah membunuh Umar.” Rasulullah saw melarang Umar juga menyahut.

Maka Abu Sufyan berteriak lagi bahwa mereka telah membunuh ketigatiganya. Sekarang Umar tak dapat menahan diri lagi dan berseru, “Kami semua masih hidup dan dengan karunia Ilahi siap sedia untuk berkelahi dengan kamu dan memecahkan kepalamu.”

Abu Sufyan memekikkan semboyan kebangsaan, “Hidup Hubal. Hidup Hubal. Sebab, Hubal telah melenyapkan Islam.” (Hubal adalah berhala nasional kaum Mekkah). Rasulullah saw tak dapat menerima kecongkakan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Allah, demi Dia beliau dan kaum Muslimin bersedia mengorbankan segala-gala yang mereka miliki. Beliau melarang membetulkan pernyataan wafat beliau sendiri. Beliau melarang membetulkan pernyataan kematian Abu Bakar dan Umar, demi siasat.

Hanya sisa-sisa lasykar kecil yang masih tinggal. Kekuatan musuh besar dan dalam suasana bersuka cita. Tetapi sekarang musuh telah menghina Allah. Rasulullah saw tak dapat membiarkan penghinaan semacam itu. Semangat beliau tersulut. Beliau memandang dengan berang kepada orang-orang Muslim di sekitar beliau dan bersabda, “Mengapa berdiam diri dan tidak menjawab terhadap penghinaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa?”

Para Sahabat bertanya, “Apa yang harus kami katakan, ya Rasulullah?”

“Katakanlah, hanya Allah Maha Besar dan Maha Perkasa. Hanya Allah Maha Besar dan Maha Perkasa. Hanya Dia Maha Luhur dan Maha Mulia.”

Para Sahabat serempak berteriak,  mereka menyerukan apa yang diajarkan Rasulullah saw. Pekikan itu mencengangkan musuh. Mereka patah hati ketika mereka mengetahui bahwa Rasulullah saw ternyata tidak gugur. Di hadapan mereka ada beberapa gelintir orang Muslim, luka-luka dan letih. Untuk menghancurkan mereka sangatlah mudah. Tetapi mereka tidak berani menyerang lagi.

Puas dengan kemenangan yang telah mereka peroleh, mereka pulang sambil meluapkan kegembiraan mereka.

Keikhlasan dan Keberanian Pasukan Islam

Dalam Perang Uhud kemenangan kaum Muslimin telah berubah menjadi kekalahan. Walaupun demikian, perang itu telah memberi bukti akan kebenaran Rasulullah saw; sebab, dalam perang itu telah menjadi sempurnalah kabar ghaib Rasulullah saw yang diceriterakan beliau sebelum bertolak ke medan perang. Kaum Muslimin menang di bagian pertama. Paman Rasulullah saw yang tercinta, Hamzah, syahid. Panglima musuh terbunuh pada permulaan sekali pertempuran. Rasulullah saw sendiri terluka dan banyak orang Muslim gugur. Kesemuanya itu telah dikabar ghaibkan di dalam kasyaf Rasulullah saw.

Perang Uhud memberikan banyak bukti keikhlasan dan pengabdian umat Islam, para Sahabat yang mulia. Begitu menonjol teladan perilaku mereka sehingga sejarah tidak berhasil mengemukakan contoh yang sepadan dengan itu.  


0 Komentar

Tinggalkan Balasan