Perang Mu’tah terjadi antara pasukan Islam yang berjumlah hanya 3.000 orang melawan 100.000 pasukan perang Romawi dan 100.000 orang pasukan tambahan dari suku-suku Kristen Arab.

Pembantaian Sebelum Perang Mu’tah

Sekembali dari Umrah di Mekkah sekitar bulan Dzul Qa’dah tahun ke tujuh Hijrah atau di bulan Februari 629 Masehi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai menerima laporan-laporan bahwa suku-suku Kristen di perbatasan Siria, yang dihasut oleh kaum Yahudi dan kaum musyrikin, telah mengadakan persiapan untuk menyerang Madinah.

Oleh karena itu, beliau mengirim satu regu sebanyak lima belas orang untuk menyelidiki kebenarannya. Regu itu melihat satu pasukan berkumpul di perbatasan Siria.

Melihat keadaan itu, mereka tidak segera kembali untuk memberi laporan dan karena semangat tabligh Islam telah menguasai mereka, mereka pun berusaha untuk menyampaikan perihal Islam, tetapi hasrat baik mereka sama sekali bertolak belakang dengan apa yang telah mereka inginkan dan harapkan.

Pasukan itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan mengenai Islam, malah mengeluarkan busur mereka dan lima belas orang itu mulai dihujani dengan anak panah, tetapi regu itu tak bergeming.

Penjelasan-penjelasan mereka tentang Islam dibalas dengan panah, tetapi mereka tidak melarikan diri. Mereka bertahan dengan gigihnya, lima belas melawan ribuan, dan mereka pun gugur.

Baca juga: Perang Khaibar: Penaklukan Kaum Yahudi yang Selalu Membahayakan Islam

Pembunuhan Al-Harts, Utusan Rasulullah

Kemudian Rasulullah saw mengirim surat kepada Kaisar Roma (atau kepada pemimpin suku Ghassan yang memerintah di Busra atas nama Roma). Dalam surat itu, kemungkinan Rasulullah saw menyesalkan persiapan-persiapan yang telah nampak di perbatasan Siria dan pembunuhan yang keji dan sama sekali tak beralasan terhadap lima belas orang Muslim yang telah dikirim oleh beliau untuk mengumpulkan laporan tentang keadaan di perbatasan itu.

Surat itu dibawa oleh seorang Sahabat, Al-Harts bin Umair. Ia berhenti dalam perjalanan di Mu’tah, tempat ia bertemu dengan Syurahbil bin Amr seorang pemimpin Ghassan yang bertindak selaku pembesar Roma.

“Apakah kamu utusan Muhammad?” tanya pemimpin itu. Setelah mendapat jawaban, “Ya,” Al-Harts pun ditangkap, diikat dan dibunuh. Sebelum ini tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah saw dibunuh dalam menjalankan misinya.

Diduga kuat bahwa pemimpin Ghassan itu lah pemimpin pasukan yang telah membantai kelima belas orang Muslim yang telah berupaya menyampaikan tabligh Islam itu.

Kenyataan bahwa ia mengatakan kepada Al-Harts, “Barangkali kamu membawa pesan dari Muhammad” menunjukkan bahwa ia takut jangan-jangan pengaduan Rasulullah saw bahwa orang-orang dari suku di bawah Kaisar telah menyerang orang-orang Muslim akan sampai kepada Kaisar. Ia takut akan diminta pertanggung-jawaban atas apa yang telah terjadi. Ia berpendapat bahwa lebih aman baginya untuk membunuh utusan itu. Harapannya itu tidak terpenuhi. Rasulullah saw mendapat kabar tentang pembunuhan itu.

Baca juga: Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Persiapan Perang Mu’tah

Untuk mengadakan pembalasan terhadap pembunuhan itu, dan pembunuhan terhadap 15 orang sebelum itu, beliau menyusun kekuatan yang terdiri atas tiga ribu prajurit dan dikirimkan ke Siria di bawah pimpinan Zaid bin Haritsa, bekas budak Rasulullah saw yang telah dimerdekakan.

Rasulullah saw memberikan instruksi jika dalam pertempuran nanti Zaid gugur maka yang akan memimpin pasukan adalah Jafar bin Abu Thalib. Kemudian, andai kata Jafar  gugur, maka Abdullah bin Rawaha yang harus memimpin pasukan. Dan jika Abdullah juga gugur, maka kaum Muslimin harus memilih sendiri panglima mereka.

Seorang Yahudi yang mendengar putusan itu berkata, “Wahai Abul Qasim, jika anda Nabi yang benar, ketiga-tiga perwira yang anda tunjuk itu pasti akan mati; sebab, Tuhan menyempurnakan kata-kata seorang Nabi.” Sambil menghadap kepada Zaid ia berkata, “Percayalah kepada kataku, jika Muhammad benar, kamu tidak akan kembali hidup-hidup.” Zaid, seorang mukmin sejati, menjawab, “Aku boleh pulang kembali hidup atau tidak, tetapi Muhammad adalah benar Rasul Allah.” (Halbiyyah, jilid 3, hlm. 75).

Keesokan harinya, pagi-pagi, pasukan Muslim bertolak menempuh perjalanan yang jauh. Rasulullah saw dan para Sahabat yang tidak ikut dalam misi itu mengantarkannya sampai ke luar kota.

Suatu gerakan militer yang besar lagi penting dan sebelumnya tak pernah diberangkatkan tanpa Rasulullah saw sendiri sebagai panglima.

Ketika Rasulullah saw hendak melepas kepergian mereka ke medan tempur, beliau memberi nasihat dan perintah, beliau bersabda:

“Aku minta dengan sangat kepadamu supaya takut kepada Tuhan dan berbuat adil terhadap orang-orang Muslim yang berangkat beserta kamu. Pergilah berperang atas nama Allah dan gempurlah musuh di Siria yang adalah musuhmu dan musuh Allah. Jika kamu datang di Siria, kamu akan berjumpa dengan mereka yang banyak mengadakan zikir Ilahi di dalam rumah-rumah peribadatan mereka, kamu hendaknya jangan berbantah dengan mereka dan jangan mengganggu mereka. Di negeri musuh janganlah membunuh wanita atau anak-anak atau orang buta atau orangorang yang sudah tua; jangan menumbangkan pohon atau merebahkan bangunan-bangunan.” (Halbiyyah, jilid 3).

Sesudah memberi petunjuk ini, Rasulullah saw kembali Madinah dan pasukan Muslim berderap maju. Pasukan itu adalah pasukan pertama yang diberangkatkan untuk bertempur dengan kaum Kristen.

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Perang Mu’tah by SM VLOG

Menghadapi Musuh yang Besar

Ketika pasukan kaum Muslimin itu tiba di perbatasan Siria, sungguh mengejutkan, mereka mengetahui bahwa mereka akan menghadapi 100.000 pasukan Romawi ditambah lagi dengan 100.000 pasukan yang berasal dari suku-suku Kristen Arab.

Dihadapkan kepada musuh yang begitu besar, kaum Muslim hampir saja berhenti di tengah perjalanan dan melaporkannya kepada Rasulullah saw di Madinah. Barangkali beliau dapat mengirimkan bala bantuan dan perintah-perintah baru.

Ketika para pemimpin pasukan bermusyawarah, Abdullah bin Rawaha bangkit dan dengan semangat menyala-nyala berkata:

“Saudara-saudaraku, saudara-saudara meninggalkan rumah saudara-saudara dengan tujuan mati syahid di jalan Allah, dan sekarang ketika kesyahidan sudah di ambang pintu, saudara-saudara nampak menjadi ragu-ragu. Kita sebegitu jauh tidak pernah bertempur karena lebih unggul daripada musuh dalam jumlah dan persenjataan. Pertolongan utama kita adalah keimanan kita. Jika musuh jauh mengungguli kita dalam jumlah dan perlengkapan, apa salahnya? Salah satu dari dua ganjaran pasti kita peroleh. Kita menang atau mati syahid di jalan Allah.”

Pasukan itu mendengar uraian Rawaha dan amat terkesan. Ia benar, kata mereka serempak. Pasukan Islam pun telah berketetapan hati untuk menghadapi musuh yang jumlahnya besar itu.

Pertempuran Mu’tah terjadi pada 5 Jumadil Awal 8 Hijriah atau 629 M, dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Yordan.

Pasukan Islam yang berjumlah hanya 3.000 orang harus melawan 200.000 orang pasukan gabungan Romawai Timur (Bizantium) dan suku-suku Kristen Arab. Bahkan kemungkinan pasukan musuh yang besar itu dipimpin langsung oleh sang Kaisar Romawi, Heraclius.

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Tergenapinya Nubuwatan Rasulullah

Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, Zaid bin Haritsa sebagai panglima pasukan Islam gugur. Sebagaimana perintah Rasulullah saw, komando pasukan dipegang oleh sepupu Rasulullah saw sendiri yaitu Jafar bin Abu Thalib.

Ketika dilihatnya tekanan musuh makin kuat dan kaum Muslimin, karena kalah jumlah akhirnya tak dapat bertahan, ia turun dari kudanya lalu memotong kaki kudanya. Perbuatan itu berarti ia lebih suka mati dari pada melarikan diri. Memotong kaki-kaki binatang tunggangan adalah kebiasaan orang-orang Arab untuk mencegah binatang-binatang melarikan diri, membuat kekacauan dan panik.

Jafar terpenggal tangan kanannya, tetapi panji perang dipegang erat dengan tangan kiri. Tangan kiri pun terpenggal pula dan kemudian, ia menahan panji itu di antara kedua lengan buntungnya dan ditekankan ke dadanya. Setia pada sumpahnya, ia tewas dalam pertempuran. Abdullah bin Rawahah, sesuai dengan perintah  Rasulullah saw, menyambut panji itu dan mengambil alih komando. Ia juga gugur.

Apa yang Rasulullah saw sampaikan mengenai para panglima pasukan Islam menjadi kenyataan. Ketiganya berturu-turu gugur dalam pertempuran itu.

Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Kemenangan Besar Islam

Khalid bin Walid

Perintah Rasulullah saw kemudian ialah bermusyawarah dan mengangkat panglima sendiri. Tetapi tidak ada waktu untuk mengadakan pemilihan. Kaum Muslim bisa-bisa terpaksa menyerah kepada musuh yang jauh berlipat ganda besarnya.

Dalam pada itu Khalid bin Walid yang menerima usul seorang kawannya, menyambut panji perang dan pertempuran terus berlangsung sampai malam tiba.

Keesokan harinya Khalid dan pasukan Islam harus menghadapi musuh lagi. Pada kesempatan itu Khalid merubah formasi pasukan Islam. Barisan yang depan dipindah ke garis belakang dan barisan sayap kanan ditukar dengan barisan sayap kiri. Juga mereka menyerukan semboyan-semboyan.

Musuh menyangka bahwa kaum Muslimin telah mendapat bala bantuan semalam dan mereka pun mengundurkan diri dalam ketakutan. Khalid dapat menyelamatkan sisa pasukannya dan kembali pulang.

Baca juga: Surat Rasulullah kepada Raja-raja

Rasulullah saw Mengetahu Hasil Pertempuran

Rasulullah saw telah mengetahui peristiwa-peristiwa itu dari kasyaf. Beliau mengumpulkan kaum Muslimin di mesjid. Ketika beliau bangkit untuk menyampaikan amanat kepada mereka, mata beliau berkaca-kaca. Beliau bersabda:

“Aku ingin mengatakan kepadamu mengenai lasykar yang telah meninggalkan kita, berangkat ke perbatasan Siria. Lasykar itu menghadapi musuh dan bertempur. Mula-mula Zaid, lalu Jafar dan kemudian Abdullah bin Rawaha memegang panji perang. Ketiga-tiganya gugur bergantian dalam pertempuran dengan gagah berani. Doakanlah mereka itu semua. Sesudah mereka panji dipegang oleh Khalid bin Walid. Ia mengangkat dirinya sendiri. Ia adalah pedang di antara segala pedang Tuhan. Dengan demikian ia menyelamatkan lasykar Islam dan pulang kembali” (Zad al Ma’ad, jilid l, dan Zurqani).

Diperkirakan yang gugur dalam pertempuran Mu’tah dari pihak Islam hanya 12 orang saja. Sementara itu dari pihak musuh yang tewas diperkirakan sebanyak 20,000 orang. Karena keberanian dan ketangguhannya, pasukan Islam itu kembali ke Madinah dengan selamat.

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah saw – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Photo by Adam Kontor from Pexels


0 Komentar

Tinggalkan Balasan