Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

perang khandak

Perang Khandak, merupakan serbuan laskar gabungan kaum kufar Arab dan suku-suku Yahdui terhadap kaum Muslimin di Madinah. Mereka berambisi ingin melenyapkan Islam di muka bumi, namun segala upaya mereka mengalami kegagalan.

Ambisi Laskar Kufar Mekkah

Kaum kufar Mekkah tidak ada puas-puasnya untuk mencelakai kaum Muslimin, ambisi mereka yang ingin membunuh Rasulullah saw dan menghancurkan Islam tidak pernah surut.

Untuk itu pada tahun kelima Hijriah atau dua tahun setelah Perang Uhud, mereka membentuk satu pasukan besar yang dimotori oleh kaum kafir Quraisy Mekkah.

Suku Arab lain yang terlibat diantaranya Bani Ghatafan, Bani Asad, Bani Sulaim, Bani Murrah dan Bani Shuja

Juga tidak ketinggal suku Arab Yahudi, yaitu  Bani Qaynuqa dan Bani Nadir, yang telah diusir dari Madinah karena berkali-kali melakukan pelanggaran perjanjian dengan pihak Islam. Mereka sakit hati dan menyimpan dendam kepada pihak Islam kemudian mereka terlibat dengan pihak kufar Quraisy untuk menyerang Madinah.

Kekuatan angkatan perang persekutuan Arab itu diperkirakan berjumlah 10.000 hingga 20.000 prajurit.

Namun, alangkah terkejut mereka ketika melihat sekeliling Madinah telah dibentengi dengan parit-parit yang dalam.

Dibawah komando Abu Sufyan, gabungan seluruh prajurit terlatih dan berpengalaman dalam peperangan itu bergerak menuju Madinah.

Kota Madinah

Bagaimana kota Madinah bisa bertahan dari serangan besar-besar itu? Sedangkan Madinah hanya sebuah kota kecil dan sederhana, tidak memiliki balatentara khusus yang terlatih, juga tidak memiliki benteng pertahanan yang bisa melindungki kota.

Kemudian kekuatan Madinah pada masa itu, diperkirakan hanya terdapat tiga ribu orang pria itu pun termasuk orang-orang tua, pemuda dan anak-anak.

Kekuatan sederhana itulah yang dimiliki Umat Islam di Madinah untuk menghadapi pasukan raksasa yang akan datang menyerang.

Betapa besar beban dan bahaya yang harus dihadapi Rasulullah saw dan kaum Muslimin. Ujian yang amat berat, yang bisa meruntuhkan keyakinan seseorang bagaimana pun kuatnya  keimanan itu. Kaum Muslimin benar-benar dalam ujian yang amat berat.   

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Menggali Parit Pertahanan

Ketika Rasulullah saw telah mengetahui kepastian akan gerakan yang dilakukan oleh kaum kufar Mekkah dan kekuatan yang dibawanya, kemudian melihat kenyataan yang ada tentang kekuatan yang dimiliki umat Islam, oleh karena itu Rasulullah saw segera  mengadakan musawarah dengan para Sahabat.

Satu kebiasaan dan teladan agung dari seorang pemipin mulia, meskipun beliau saw memiliki hak penuh untuk menggabil keputusan dan pasti para Sahabat akan mena’atinya tetapi Rasulullah saw tetap meminta pendapat dari para Sahabatnya itu.

Di antara para Sahabat yang diajak bermusyawarah oleh Rasulullah saw diantaranya adalah Salman-al-Farisi (Salman dari Persia), muslim pertama dari Persia.

Rasulullah saw menanyakan kepada Salman, apa yang dilakukan di Persia jika mereka terpaksa mempertahankan kota terhadap laskar yang besar. Salman menjelaskan, “Jika sebuah kota tidak berbenteng, dan kekuatan pertahanan sangat kecil, kebiasaan di negeri kami ialah menggali parit di seputar kota dan mempertahankannya dari dalam.” Rasulullah saw pun menyetujui gagasan itu.

Medinah berbukit-bukit pada satu sisi. Ini memberi perlindungan alami di tepi itu. Sisi lain dengan pemusatan jaringan jalan-jalan mempunyai penduduk yang padat. Bagian kota itu tidak dapat diserang tanpa diketahui. Tepi ketiga mempunyai rumah-rumah dan kebun-kebun kurma dan tak jauh dari situ ada benteng suku Yahudi, kaum Banu Quraiza. Banu Quraiza telah menandatangani suatu perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Jadi, sisi ini juga dapat dipandang aman dari serangan musuh. Tepi keempat merupakan medan terbuka dan dari tepi itulah serangan musuh paling memungkinkan dan dikhawatirkan.

Maka Rasulullah saw mengambil keputusan untuk menggali parit di bagian tepi yang terbuka itu untuk mencegah serangan musuh yang tanpa diketahui.

Seluruh peduduk Madinah bahu-membahu menggali parit, laki-kai, perempuan, tua muda, orang dewasa, anak-anak, semuanya terlibat. Sepuluh orang harus menggali sepuluh yard parit. Seluruhnya harus digali parit yang panjang seluruhnya satu mil dan harus cukup lebar lagi dalam.

Meskipun demikian, dengan tenaga manusia yang terbatas itu, parit yang dapat digali itu tak mungkin parit yang sempurna, dilihat dari sudut siasat perang; tetapi, sedikitnya dapat memberi jaminan terhadap serbuan musuh ke kota dengan tiba-tiba. Bahwa parit itu tidak tak terseberangi.

Karena adanya parit, perang ini kemudian dikelan sebagai perang Khadaq (yang artinya parit). Juga dikenal sebagai perang perang Ahzab (yang artinya persekutuan) karena laskar Arab terdiri suku-suku Arab yang membentuk persekutuan.

Pasukan Arab Tercengang

Pada tangga 31 Maret 627, laksar persekutuan Arab pimpinan Abu Sufyan itu tiba di Madinah. Mereka tercengang, di hadapan mereka terbentang parit lebar dan dalam yang menghalangi pergerakan mereka.

Orang-orang jahiliah yang gemar berperang  itu kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi taktik perang yang efektif menahan serangan mereka itu.

Mereka memutuskan berkemah di sebelah parit itu dan berunding mengenai cara menyerang serta memasuki Medinah.

Mereka berusaha sekuat tenaga meyebrangi parit, mereka menyerang dengan dahsyatnya secara bertubi-tubi. Kadang-kadang mereka berhasil menyeberanginya,  namun pasukan Islam yang jumlahnya sedikt itu dengan penuh keberanian mampu mengagalkan serangan mereka.

Oleh karena itu, mereka mengambil keputusan untuk membujuk Bani Quraizah membatalkan perjanjian mereka dengan Rasulullah saw dan bergabung dengan persekutuan mereka dalam menyerang pasukan Islam.

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Pada Perang Khandak Banu Quraizah Berkhianat

Banu Quraizah adalah suku Yahudi yang ada di Madinah. Mereka telah mengikat perjanjian dengan Rasulullah saw, akan hidup rukun dan damai. Jika ada serangan dari luar akan saling bantu dan memberi perlindungan.

Namun pada Perang Khandak mereka melanggar perjanjian itu, mereka mendukung  dan menjadi sekutu kaum kufar Mekkah.

Mengetahui kenyataan itu, beban pasukan Islam makin berat dan konsentrasi pun terpecah, selain harus menghadapi serangan musuh dari arah depan yang ganas, pasukan Islam juga harus menghadapi ancaman dari penghianatan Banu Quraizah.

Rasulullah s.a.w. mengambil keputusan untuk membagi kekuatan melindungi wanita dan anak-anak. Seperti telah kami utarakan dalam pembicaraan mengenai jumlah prajurit dalam pertempuran itu, dari angkatan seribu dua ratus itu Rasulullah s.a.w. mengirim lima ratus orang guna melindungi kaum wanita di dalam kota.

Jadi, untuk pertahanan parit hanya tinggal tujuh ratus yang melawan kekuatan antara delapan belas dan dua puluh ribu.

Ujian Berat bagi Kaum Muslimin

Situasi perang khandak dan keadaan kaum Muslimin pada saat itu digambarkan dalam Al-Qur’a:

“Ketika mereka datang kepadamu dari atasmu dan dari bawahmu, dan ketika matamu melantur dan hati sampai tenggorokan, dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji, dan mereka digoncangkan dengan suatu goncangan yang dahsyat. Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, “Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami melainkan janji yang dusta.” Dan ketika segolongan dari mereka berkata, “Hai, orang-orang Yathrib kamu mungkin tidak dapat bertahan terhadap musuh, oleh karena itu kembalilah kamu.” (Al-Ahzab, 33: 11-14).

Dalam perang khandak ini umat Islam menghadapi ujian yang begitu besar, hampir-hampir tak sanggup lagi menanggungya . Mereka menghadap Rasulullah saw dan mengatakan betapa rawannya keadaan mereka, dan betapa mustahil menyelamatkan kota. Mereka memohon supaya Rasulullah saw berdoa dan mengajarkan kepada mereka doa yang khusus. Rasulullah saw bersabda, “Jangan gentar. Mendoalah kepada Tuhan supaya Dia melindungimu terhadap kelemahanmu, meneguhkan hatimu, dan melepaskan kegelisahanmu.”

Rasulullah saw sendiri mendoa dengan kata-kata: “Ya Tuhan, Engkau menurunkan Al-Qur’an kepadaku. Engkau tidak menunggu untuk meminta pertanggung-jawaban dari siapa pun. Pasukanpasukan ini telah datang menyerang kami. Berilah mereka kekalahan. Ya Tuhan, hamba memohon lagi: Kalahkanlah mereka; menangkan kami atas mereka dan gagalkanlah semua niat jahat mereka” (Bukhari).

Orang-orang mukmin sejati ketika mendapatkan ujian berat, keimanan mereka tambah kuat, karena mereka yakin akan adanya pertolongan dari Allah Ta’la.

Tetapi lain halnya dengan orang-orang munafik. Pada saat ujian berat seperti itu nampaklah wujud mereka yang sesungguhnya. Satu persatu mereka mulai meninggalkan para pejuang Islam dengan alasan yang mengada ada. Al-Qur’an menyinggung hal itu:

“Dan segolongan dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, “Sesungguhnya rumah kami terbuka terhadap serangan musuh.” Padahal rumah mereka itu sebenarnya tidak terbuka. Mereka hanya berusaha melarikan diri”. (Al-Ahzab, 33: 14)

Baca juga: Usamah bin Zaid: Sahabat yang Sangat Dicintai Nabi

Datangnya Pertolongan Allah

Allah tidak pernah menyalahi janjinya, Dia senantiasa akan menolong orang-orang beriman yang berjuang membela kebenaran.

Dalam laskar kufar itu terdapat seorang yang bernama Nu’aim, dari suku Ghafatan, ia sebenarnya sudah simpati kepada Islam. Ternayat dari sejak awal ia berusaha membantu kaum Muslimin, tetapi  karena seorang diri ia tak dapat berbuat banyak.

Kesempatan itu datang ketika dilihatnya kaum Yahudi Bani Quraizah telah bekerja sama dengan kaum musyrikin Arab, Nu’aim mengambil keputusan untuk berusaha sedapat-dapatnya menyelamatkan kaum Muslimin.

Ia pergi ke Banu Quraiza dan berbicara dengan para pemimpin mereka. Andaikata lasykar musyrikin Arab melarikan diri, apa yang dapat mereka harapkan dari kaum Muslimin? Kaum Yahudi ada dalam perserikatan dengan kaum Muslim. Adakah mereka tidak merasa khawatir akan menerima hukuman terhadap diri mereka karena ternyata curang dalam perjanjian mereka?

Pertanyaan itu mengejutkan pemimpin-pemimpin Yahudi. Mereka menanyakan apa yang harus mereka perbuat. Nu’aim menasihatkan mereka untuk meminta tujuh puluh orang musyrik sebagai sandera. Jika orang-orang musyrik itu sungguh jujur tentang serangan terpadu, mereka tidak akan menolak permintaan tersebut. Mereka harus mengatakan bahwa tujuh puluh orang itu akan menjaga tempat-tempat strategis mereka, sedangkan mereka sendiri akan menyerang kaum Muslimin dari samping. Sehabis pembicaraan dengan orang-orang Yahudi, Nu’aim menemui pemimpin-pemimpin kaum musyrik. Ia bertanya, apa yang akan mereka perbuat, andai kata kaum Yahudi menarik kembali perjanjiannya; andaikata, untuk memperbaiki kembali hubungan dengan kaum Muslim, mereka (kaum Yahudi) menuntut sandera (orang-orang musyrik) dan kemudian mereka itu diserahkan kepada kaum Muslim? Apakah tidak penting bagi mereka untuk menguji kesetiaan orang-orang Yahudi dan meminta mereka segera ikut dalam serangan umum?

Pemimpin-pemimpin musyrik sangat terkesan oleh nasihat itu. Sesuai dengan itu mereka mengirim pesan kepada kaum Yahudi, apakah tidak lebih baik segera menyerang kota dari samping, karena mereka (persekutuan Arab) siap untuk melancarkan serangan yang telah direncanakan. Kaum Yahudi menjawab bahwa hari esok adalah hari Sabbath dan mereka tidak boleh berperang pada hari itu.

Kedua, kata mereka, mereka masih tergolong orang-orang Medinah dan semua sekutu Arab itu orang-orang dari luar. Seandainya kaum sekutu Arab melarikan diri dari pertempuran, apakah yang harus diperbuat oleh orang-orang Yahudi? Maka kaum sekutu Arab hendaknya memberi tujuh puluh orang sebagai sandera. Kemudian, orang-orang Yahudi akan siap melancarkan serangan bagian mereka. Kecurigaan mulai bekerja. Kaum sekutu Arab menolak melaksanakan permintaan kaum Yahudi. Jika kaum Yahudi setia dalam perjanjian mereka dengan kaum sekutu Arab, tak perlu usul syarat semacam itu. Karena kecurigaan merusak keberanian, kaum sekutu Arab hilang semangat, dan ketika waktu malam tiba, mereka pergi beristirahat dengan beban rasa was-was dan kesulitan.

Baca juga: Maria Qibtiyah, Istri Rasulullah dari Kristen Koptik

Umat Islam Meraih Kemenangan

Malam itu ketika laskar persekutuan Arab beristirahat di tenda-tenda mereka, dalam keadaan lelah dan frustasi bertempur berhari-hari, namun  senantiasa gagal, ditambah lagi adanya ketakutan pasukan Islam akan datang menyerang, entaha dari mana datangnya desas-desus itu, yang jelas mereka ketakutan.

Dalam keadaan seperti itu, pertolongan datang dari langit kepada kaum Muslimin. Angin kencang mulai bertiup. Dinding-dinding tenda diterbangkan. Panci-panci masakan tumpah ke atas api. Beberapa api unggun padam. Kaum musyrik mempunyai kepercayaan yang mengharuskan menghidupkan api sepanjang malam. Api unggun yang berkobar adalah pertanda baik, api yang padam pertanda buruk. Jika api dihadapan sebuah kemah padam, penghuninya memandang hal itu sebagai pertanda buruk.

Sehingga, di malam yang amat dingin itu mereka membongkar tenda dan mengemasi barang –barang mereka. Mereka pergi meninggalkan medan pertempuran.

Bersamaan dengan itu Rasulullah saw menerima wahyu bahwa musuh telah melarikan diri berkat bantuan “tangan” Tuhan.

Suatu percobaan yang sangat berat dan berlangsung selama dua puluh atau dua puluh tujuh hari itu telah berakhir. Dimulia dari tanggal 31 Maret – April 627 Masehi atau  bulan Syawal tahun 5 Hijriah.

Lasykar Persekutuan kaum kufar Mekkah telah melarikan diri, mereka gagal total. Dan umat Islam telah keluar dari ujian berat itu sebagai pemenang. [madj]

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah saw – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Foto: pexels.com


0 Komentar

Tinggalkan Balasan