Perang Khaibar terjadi antara pasukan Islam dengan laskar Yahudi di Khaibar. Karena kuatnya benteng-benteng yang dimiliki kaum Yahudi, pasukan Islam pun mengalaim kesulitan, namun akhirnya mereka dapat ditaklukan, umat Islam pun meraih kemenangan. 

Latar Belakang

Orang-orang Yahudi utamanya Bani Nadhir, karena pelanggaran dan kejahatan mereka sehingga Rasulullah saw mengusir mereka dari Madinah, kemudian mereka menetap di Khaibar.

Khaibar merupakan sebuah oasis yang berjarak sekitar 150 km dari Madinah. Suatau daerah sejauh tiga hari perjalanan dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah Arab.

Bukannya kapok kebencian dan permusuhan mereka terhadap umat Islam makin membahayakan. Mereka melakukan berbagai usaha untuk menghancurkan Islam.

Hasil dari persekongkolan mereka masyarakat Arab bersatu sehingga menyerang Madinah pada peristiwa Perang Khandah. Namun upaya jahat mereka gagal.

Mereka tidak jera, mereka berusaha mengajak suku-suku Kristen yang tinggal di perbatasan sebelah selatan Kerajaan Roma, guna menyerang umat Islam.

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Menghasut Kisra, raja Iran

Tidak hanya sampai disitu mereka juga mulai menulis surat kepada mitra seagama mereka di Irak untuk menentang Rasulullah saw. Dengan propaganda yang keji, lewat surat-surat, mereka berusaha membangkitkan kemarahan dan kebencian Kisra Iran terhadap Islam.

Sebagai hasil tipu muslihat Yahudi itu, Kisra menentang Islam, bahkan mengirim perintah kepada Gubernur Yaman untuk menangkap Rasulullah saw.

Tatkala Kisra memerintahkan menangkap Rasulullah saw, terjadi suatu peristiwa, sebelum perintah itu dilaksanakan; Kisra digulingkan dan dibunuh oleh anaknya sendiri dan perintah penangkapan Rasulullah saw dibatalkan oleh penguasa yang baru.

Para pembesar Yaman sangat terkesan oleh mukjizat itu, maka propinsi Yaman dengan suka hati menjadi bagian Kerajaan Islam.

Seandainya tidak karena pertolongan Ilahi yang menyertai Rasulullah saw, maka jamaah Muslim yang kecil jumlahnya di zaman permulaan itu sudah pasti binasa oleh kekuatan para Maharaja Roma dan Iran.

Tipu daya dan segala persekongkoan kaum Yahudi itu terbukti sangat membahayakan Islam, sehingga mereka pantas untuk dihukum.

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Bergerak ke Khaibar

Oleh karena itu, pada bulan Agustus 628 Masehi, Rasulullah saw beserta 1.600 orang prajurit Islam bergerak ke Khaibar. 

Khaibar merupakan kota berbenteng yang kuat. Di sekitarnya terdapat bukit-bukit cadas dan di atas bukit-bukit itu dibuat benteng-benteng kecil. Untuk merebut tempat seperti itu dengan kekuatan yang kecil bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Bahkan pasukan Romawi yang lebih kuat pun gagal menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan kuat itu.

Pos-pos kecil di perbatasan Khaibar menyerah sesudah ada sedikit perlawanan. Tetapi ketika orang-orang Yahudi memusatkan diri dalam benteng pusat kota itu, maka semua serangan dan segala macam siasat terhadap benteng itu nampaknya gagal.

Rasulullah saw menugaskan Abu Bakar untuk menjadi komandan pasukan, namun gagal. Kemudian Umar ditunjuk untuk memimpin penyerangan, beliau pun juga tidak berhasil.

Baca juga: Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Khaibar Jatuh

Pada suatu hari Rasulullah saw mendapat wahyu bahwa Khaibar akan jatuh di bawah pimpinan Ali. Keesokan harinya Rasulullah saw menyampaikan khabar ghaib itu kepada para Sahabat dan bersabda, “Pada hari ini akan kuserahkan bendera hitam Islam kepada siapa yang paling berharga dalam pandangan Tuhan dan Rasul-Nya dan semua orang Muslim. Tuhan telah menakdirkan bahwa kemenangan kita atas Khaibar akan terjadi di tangannya.”

Keesokan harinya, beliau mengutus orang memanggil Ali dan kepadanya diserahkan bendera tersebut. Ali tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Ia membawa anak-buahnya dan menyerang benteng pusat itu.

Meskipun orang-orang Yahudi telah mengerahkan dan memusatkan kekuatan dalam benteng itu, Ali dengan pasukannya berhasil merebutnya sebelum matahari terbenam. Harith bin Abu Zainab, komandan Yahudi pun tewas dan benteng Na’im dapat ditaklukan.

Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Kemenangan Besar Islam

Perjanjian Damai

Seharusnya mereka, kaum Yahudi itu dihukum berat atas kejahat-kejahat yangtelah  mereka lakukan kepada umat Islam, namun Rasulullah saw dengan kemurahannya tidak melakukan itu.

Suatu perjanjian damai ditandatangani. Syarat-syaratnya ialah, semua orang Yahudi, wanita, dan anak-anak, harus meninggalkan Khaibar dan mencari tempat tinggal yang jauh dari Madinah.

Khaibar itu dekat letaknya dari Medinah dan dari situ orang-orang Yahudi mempunyai kesempatan baik untuk melakukan tipudaya mereka. Jika mereka diizinkan terus tinggal dekat, maka tipu daya mereka hampir dapat dipastikan akan menimbulkan bahaya bagi Islam dan kedamaian masyarakat Arab pada umumnya.

Harta-benda dan milik mereka jatuh ke tangan orang-orang Muslim. Siapa pun yang berusaha menyembunyikan hartabenda atau persediaan mereka atau membuat pernyataan yang palsu, tidak akan dilindungi oleh perjanjian damai itu. Ia akan dijatuhi hukuman yang telah ditetapkan atas pelanggaran itu.

Baca juga: Cara Rasulullah Menghadapi Wabah Penyakit

Bukti Ketinggian Akhlak Rasulullah saw

Dalam peristiwa perang Khaibar itu nampak jelas kemurahan dan kebaikan Islam yang ditampilkan oleh Rasulullah saw.

Seorang penggembala yang menggembalakan domba-domba seorang kepala kabilah Yahudi. Si gembala itu masuk Islam. Sesudah bai’at ia berkata kepada Rasulullah saw, “Aku tidak dapat kembali ke kaumku sekarang, ya Rasulullah. Apakah yang harus kuperbuat dengan domba dan kambing majikanku?”

“Arahkanlah kepala binatang-binatang itu ke jurusan Khaibar dan doronglah. Tuhan akan mengembalikan kepada si pemilik,” sabda Rasulullah saw. Si gembala itu berbuat sesuai dengan petunjuk tersebut dan kawanan domba pun tiba di benteng itu. Penjaga-penjaga di benteng menerima binatang-binatang itu (Hiisyam, jilid 2, hlm. 191).

Peristiwa itu menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya Rasulullah saw memandang masalah hak-hak perseorangan dan betapa pentingnya pada pemandangan beliau seorang yang diberi amanat melaksanakan amanatnya.

Dalam peperangan, harta-benda dan kekayaan milik pihak yang kalah menjadi hak yang menang. Zaman kita sekarang disebut abad peradaban dan kebudayaan, tetapi dapatkah kita tunjukkan suatu contoh sikap seperti itu? Pernahkah terjadi bila musuh yang mengundurkan diri dengan meninggalkan perbekalan, lalu dikembalikan oleh si pemenang kepada pemiliknya?

Kambing-kambing itu milik musuh, itu berarti menyerahkan kepada musuh bahan pangan yang dapat mencukupi mereka untuk bertahan. Walaupun demikian, Rasulullah saw mengembalikannya, hal itu menunjukan betapa pentingnya melaksanakan amanat.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Benteng Khaibar by
Lintas iNews

0 Komentar

Tinggalkan Balasan