Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

perang-badar

Perang Badar, perang yang pertama terjadi antara pihak Islam dengan pihak kufar Mekkah. Dalam perang itu Umat Islam yang berjumlah sedikit itu bisa mengalahkan musuh yang tiga kali lebih besar. Umat Islam meraih kemenangan yang gemilang sementara pihak Mekkah mengalami kekalahan yang menyakitkan.

Latar Belakang Perang Badar

Setelah hijrah ke Madinah Rasulullah saw dan Umat Islam bisa bebas beribadah dan menjalankan segala aktifitas keagamaan dan kehidupannya tanpa gangguan dan ancaman. Sesungguhnya itu yang dinginkan oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya.

Di Madinah Rasulullah berusaha untu membuat tertib hukum yang berlaku untuk semua orang tanpa membedakan agama atau pun suku bangsa. Sehingga terciptanya keamanan, kedamian, saling menghormati, dan kemajuan masyarakat.

Sebaliknya, kaum kufar Mekkah yang telah gagal mencegah Umat Islam dan Rasulullah saw hijrah ke Madinah tidak suka dengan ketentraman dan kedamaian yang terjadi di Madinah. Oleh karena itu mereka menyusun sebuah rencana untuk menyerang Madinah.

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Upaya Terselubung

Sebuah kafilah dagang, di bawah pimpinan Abu Sufyan, tengah beradu dalam perjalanan pulang dari Siria. Dengan pura-pura melindungi kafilah tersebut, kaum Mekkah membentuk suatu lasykar besar dan ditetapkan untuk bergerak ke Medinah.

Suatu kafilah dagang pada zaman itu tidak hanya terdiri atas unta-unta bermuatan barang-barang dagangan. Di dalamnya terdapat juga orang-orang bersenjata yang menjaga dan mengawal kafilah itu dalam perjalanan. Sejak timbul ketegangan antara kaum Mekkah dan kaum Muslimin di Medinah, para pemimpin Mekkah mulai mempersenjatai pengawalnya dengan lebih istimewa.

Sejarah mencatat kenyataan adanya dua kafilah lain yang melalui jalan itu tak lama sebelum itu. Dalam salah satu kafilah itu ada dua ratus orang bersenjata sebagai penjaga dan pengawal, dan dalam kafilah yang satu lagi ada tiga ratus orang.

Dugaan-dugaan tentang besarnya kekuatan lasykar Mekkah telah sampai kepada Rasulullah saw. Perkiraan terkecil menyebut jumlah seribu prajurit, semua prajurit itu terlatih dan berpengalaman dalam perang.

Baca juga: Usamah bin Zaid: Sahabat Nabi yang Sangat Dicintai Rasulullah saw

Pasukan Islam

Rasulullah saw dapat mencium persiapan-persiapan itu. Beliau pun menerima wahyu dan Tuhan yang mengatakan bahwa saat telah datang untuk membalas.

Pada hari kedelapan bulan Ramadhan tahun kedua hijrah, Rasulullah saw disertai kira-kira 300 orang bertolak dari Medinah. Tak seorang pun pada saat itu tahu, siapa yang akan mereka hadapi kafilah dari Siria ataukah lasykar dari Mekkah.

Tidak adanya kepastian untuk apa mereka berangkat dari Medinah itu membuktikan kekuatan iman dan ketakwaan mereka yang luar biasa. Baru sesudah mereka berangkat agak jauh dari Medinah, Rasulullah s.a.w. memberi penjelasan bahwa mereka akan menghadapi lasykar Mekkah yang besar dan bukan kafilah dari Siria yang kecil.

Jumlah Sahabat yang menyertai Rasulullah saw hanya ada tiga ratus tiga belas, dan banyak di antara mereka tidak terlatih dan tidak berpengalaman, dan sebagian besar sangat buruk persenjataan mereka. Kebanyakan mereka berjalan kaki, atau berkendaraan unta. Dalam seluruh pasukan hanya dua ekor kuda.

Pasukan yang sangat buruk dan lemah perlengkapannya serta tidak punya pengalaman itu harus menghadapi kekuatan musuh yang tiga kali lipat jumlahnya terutama terdiri atas prajurit-prajurit berpengalaman.

Adalah jelas bahwa gerakan pasukan itu suatu gerakan paling berbahaya yang pernah terjadi dalam catatan sejarah.

Baca juga: Haram bin Milhan: 1 dari 70 Sahabat Nabi yang Disyahidkan di Bir Maunah

Tuduhan Keji

Sangat keliru jika Rasulullah saw membawa tiga ratus pengikut beliau dan bertolak untuk menyerang suatu kafilah dagang yang tak berkawal.

Tuduhan serupa itu jahat dan tak beralasan. Kafilah yang pada saat itu datang dari Siria adalah kafilah besar dan, mengingat ukurannya dan pengawalan bersenjatanya untuk kafilah-kafilah lain, maka dapat diterima oleh akal bahwa kira-kira empat sampai lima ratus penjaga bersenjata telah dipergunakan untuk pengawalan itu.

Untuk mengatakan bahwa pasukan Muslim itu tiga ratus prajurit. yang sangat sederhana persenjataannya, dikerahkan oleh Rasulullah saw untuk menyerang suatu kafilah yang begitu kuat pengawalannya dengan tujuan hendak merampok adalah sangat tidak adil. Hanya purbasangka dan berburuk maksud terhadap Islam belaka dapat melahirkan pikiran semacam itu.

Jika pasukan Muslim keluar untuk menghadapi kafilah ini, maka petualangan mereka dapat dilukiskan sebagai petualangan perang, walaupun perang yang bersifat bela diri, sebab pasukan Muslim dari Medinah itu pasukan kecil dan sangat buruk persenjataannya, dan kafilah Mekkah itu besar dan persenjataannya kuat, dan lagi pula lama mereka memendam rasa permusuhan terhadap kaum Muslimin di Medinah.

Mereka sendiri tidak tahu apakah kafilah dari Siria ataukah lasykar dari Mekkah yang akan mereka hadapi. Tidak adanya kepastian mengenai tujuan keberangkatan kaum Muslimin disinggung juga dalam Al-Qur’an. Tetapi kaum Muslim telah siap untuk menghadapi kedua-dua kemungkinan.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Kesetiaan Para Sahabat

Menyadari kenyataan bahwa bukan kafilah dagang yang akan dihadapi, melainkan lasykar besar dari Mekkah. Oleh karena itu Rasulullah saw mengadakan musyawarah. Seorang demi seorang, para Muhajirin berdiri dan meyakinkan Rasulullah tentang kesetiaan dan semangat serta tekad bulat mereka untuk bertempur menghadapi musuh mereka dari Mekkah yang telah datang untuk menyerang kaum Muslimin di Medinah, di rumah mereka sendiri. Tiap-tiap kali Rasulullah s.a.w. mendengar seorang Muhajir mengatakan keteguhan hatinya untuk berperang, beliau terus meminta pendapat dan usul lebih banyak lagi.

Kaum Anshar sampai pada saat itu masih tetap bungkam. Penyerang-penyerang itu orang-orang dari Mekkah, masih sanak-saudara dan kaum-kerabat kebanyakan kaum Muhajirin yang sekarang ada di tengah-tengah mereka. Para Anshar khawatir jangan-jangan kehausan menggempur musuh dari Mekkah itu akan menyakiti hati saudara-saudara mereka, kaum Muhajirin.

Tetapi, ketika Rasulullah saw mendesak untuk diberi masukan lebih banyak lagi, bangkitlah Sa’ad bin Muaz dari pihak Anshar dan berkata, “Ya Rasulullah, anda telah mendapatkan pendapat-pendapat yang anda perlukan, tetapi anda masih terus meminta lebih banyak lagi. Barangkali anda masih menunggu pendapat dari kami, kaum Anshar. Benarkah demikian?”

“Benar”. jawab Rasulullah s.a.w.

“Anda menghendaki pendapat kami, karena anda berpikir bahwa ketika anda datang kepada kami, kami bersedia berperang beserta anda hanya dalam keadaan anda dan para Muhajirin lainnya mendapat serangan di Medinah. Sekarang, kami sudah keluar dari Medinah dan anda merasa bahwa perjanjian kami tidak meliputi keadaan kami hari ini. Tetapi, ya, Rasulullah, ketika kami mengikat perjanjian, kami belum mengenal anda seperti kami mengenal anda dewasa ini. Kami tahu ketinggian martabat rohani anda. Kami tidak memperhatikan lagi perjanjian kami. Kami siap menanti perintah apapun yang anda minta dari kami. Kami tidak akan bersikap seperti para pengikut Nabi Musa as yang berkata, ‘Pergilah engkau dan Tuhan engkau memerangi musuh, kami akan menunggu di belakang sini. Jika kami harus bertempur, kami akan bertempur di kanan anda, di kiri anda, di belakang anda. Sungguh, musuh amat ingin menangkap anda. Tetapi, kami bersumpah bahwa mereka tidak akan berhasil tanpa melangkahi mayat-mayat kami. Ya Rasulullah, anda mengajak kami berperang. Kami bersiap-sedia berbuat lebih daripada itu. Tidak jauh dari sini terletak laut. Jika anda perintahkan kami untuk menceburkan diri ke dalamnya, sedikit pun kami tidak akan ragu-ragu berbuat demikian” (Bukhari, Kitab al-Maghazi, dan Hisyam).

Itulah semangat pengabdian dan pengorbanan yang diperagakan oleh kaum Muslimin di masa permulaan dan contoh serupa itu tidak ada bandingannya di dalam sejarah dunia.

Rasulullah saw sedikit pun tidak ragu-ragu akan pengabdian para Sahabat. Beliau berbuat demikian untuk menyaring orang-orang yang lemah supaya beliau dapat menyuruh mereka pulang. Tetapi beliau menyaksikan bahwa para Muhajirin dan Anshar berlomba-lomba dalam memperagakan pengabdian mereka. Kedua-duanya bertekad tidak memperlihatkan punggung kepada musuh walaupun musuh tiga kali lipat jumlahnya dan jauh lebih baik perlengkapannya, persenjataannya, dan pengalamannya. Mereka lebih suka berpegang kepada janji-janji Ilahi, menunjukkan rasa takzim mereka terhadap Islam dan menyerahkan jiwa-raga mereka dalam membela dan mempertahankannya. Yakin akan pengabdian para Muhajirin dan Anshar ini Rasulullah saw bergerak maju.

Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid

Sampai di Badar

Ketika pasukan Islam sampai ke suatu tempat yang disebut Badar, mereka mengambil tempat dekat anak sungai Badar. Kaum Muslimin menduduki sumber air itu, tetapi tanah yang mereka ambil untuk posisi mereka adalah tanah pasir, oleh karena itu tidak baik untuk kelincahan gerak pasukan.

Para Sahabat menunjukkan kecemasan yang sewajarnya atas kedudukan yang tidak menguntungkan itu. Rasulullah saw sendiri pun ikut khawatir dan semalam suntuk beliau mendoa.

Berulang-ulang beliau berdoa, “Ya Tuhan-ku, di atas seluruh permukaan bumi pada saat ini hanya ada tiga ratus orang inilah yang mengabdi kepada Engkau dan bertekad menegakkan ibadah hanya kepada Engkau. Ya Tuhan-ku, jika ketiga ratus orang ini pada hari ini gugur di tangan musuh dalam perang ini, siapakah yang akan tinggal mengagungkan nama Engkau? (Tabari).

Tuhan mendengar doa Rasul-Nya. Hujan tiba-tiba turun. Bagian pasir medan pertempuran yang diduduki lasykar Muslim menjadi basah dan padat.

Sementara itu bagian medan yang tadinya kering dan diduduki oleh musuh menjadi berlumpur dan licin. Mungkin musuh dari Mekkah itu sengaja memilih bagian medan itu dan membiarkan lasykar Muslim menduduki bagian yang lainnya karena pandangan mata yang berpengalaman lebih menyukai tanah kering untuk memudahkan gerakan prajurit-prajurit dan pasukan kuda mereka. Tetapi keadaannya sekarang telah terbalik, berkat tindakan Tuhan yang tepat pada waktunya. Hujan yang turun tiba-tiba telah menjadikan bagian medan berpasir yang diduduki lasykar Muslim keras dan medan yang keras, tempat berkemah lasykar Mekkah menjadi licin.

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Kabar Ghaib dari Allah

Pada malam itu sebelum pertempuran terjadi Rasulullah saw menerima kabar ghaib bahwa anggota-anggota penting dari musuh akan menemui ajal mereka. Bahkan nama-nama orangnya pun diwahyukan kepada beliau.

Saat berperang telah mendekat, Rasulullah saw keluar dari kemahnya, di sana beliau lama mendoa, lalu beliau mengumumkan:

“Musuh pasti akan binasa dan melarikan diri.”

Kata-kata itu diwahyukan kepada Rasulullah saw selang beberapa waktu sebelum itu di Mekkah. Jelas wahyu itu berhubungan dengan perang ini. Ketika kekejaman Mekkah mencapai puncaknya dan kaum Muslimin sedang berhijrah ke tempat-tempat mereka dapat hidup dengan aman dan damai, Rasulullah s.a.w. menerima wahyu dari Allah:

Dan, sesungguhnya telah datang kepada kaum Firaun, para pemberi peringatan. Mereka mendustakan Tanda-tanda Kami semuanya, maka Kami sergap mereka dengan sergapan Dzat Yang Maha Perkasa. Maha Kuasa. Apakah orang-orang kafir kamu lebih baik daripada orang-orang sebelum kamu? Atau apakah ada bagimu jaminan kebebasan di dalam kitab-kitab terdahulu? Atau apakah mereka berkata, “Kami golongan yang bersatu, yang menang?” Golongan itu akan segera dikalahkan dan akan membalikkan punggung mereka, melarikan diri. Bahkan Saat itu telah dijanjikan kepada mereka; dan Saat itu paling mengerikan dan paling pahit. Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan dan mengidap penyakit gila. Pada hari ketika mereka akan diseret ke dalam Api bersama-sama pemuka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan azab neraka.” (54:42-49).

Ayat-ayat itu bagian dari Surah Al-Qamar dan menurut semua riwayat, Surah itu diturunkan di Mekkah.

Dalam ayat-ayat ini ada isyarat-isyarat yang jelas mengenai apa yang bakal terjadi pada kaum Mekkah di medan pertempuran Badar. Nasib malang yang akan mereka alami jelas diramalkan.

Ketika Rasulullah s.a.w. keluar dari kemah, beliau menyatakan ulang kabar ghaib dalam Surah Makiyyah itu. Beliau agaknya ingat kepada ayat-ayat Makiyyah itu waktu beliau berdoa di dalam kemah. Dengan membaca satu dari antara ayat-ayat itu, beliau memperingatkan para Sahabat bahwa saat yang dijanjikan dalam wahyu Makiyyah itu telah datang.

Baca juga: Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Pasukan Islam Meraih Kemenangan

Pertempuran mulai berkecamuk. Tiga ratus tiga belas pasukan Islam, kebanyakan tidak punya pengalaman dan tidak pandai berperang, dan hampir semuanya tanpa perlengkapan yang cukup, menghadapi kekuatan yang tiga kali lipat dan semuanya prajurit yang berpengalaman.

Kenyataanya, dalam beberapa jam saja banyak pemimpin Mekkah terkemuka menemui ajal mereka.

Balatentara Mekkah melarikan diri pontang-panting dan dalam keadaan kacau-balau meninggalkan mereka yang tewas dan beberapa yang tertawan.

Di antara mereka yang tewas terdapat Abu Jahal, Panglima Tertinggi lasykar Mekkah dan merupakan musuh Islam yang terbesar.

Di antara tawanan-tawanan itu terdapat paman Rasulullah saw, Abbas, yang biasanya melindungi Rasulullah saw di masa beliau tinggal di Mekkah. Abbas terpaksa ikut serta dengan kaum Mekkah dan memerangi Rasulullah saw. Tawanan lain bernama Abul ‘As, mantu Rasulullah saw sendiri.

Kemenangan telah tiba, tetapi menimbulkan rasa yang campur-baur pada Rasulullah saw. Beliau gembira atas sempurnanya janji-janji Ilahi yang berulang-ulang diturunkan selama jangka waktu empat belas tahun yang lampau.

Tetapi, pada saat itu juga beliau bersedih hati atas kemalangan kaum Mekkah. Alangkah menyedihkannya nasib yang mereka jumpai! Jika kemenangan itu diraih oleh orang lain selain beliau, ia akan melompat-lompat kegirangan. Tetapi melihat para tawanan di hadapan beliau, diikat dan dibelenggu, mata beliau dan mata sahabat karib beliau, Abu Bakar, digenangi airmata.

Umar bin Khattab menyaksikan hal itu, tetapi ia tidak dapat memahami, mengapa Rasulullah saw dan Abu Bakar menangisi kemenangan? Umar menjadi bingung. Maka ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku, mengapa anda menangis jika Tuhan memberi kemenangan yang begitu besar. Jika kita harus menangis, aku akan ikut menangis atau sedikitnya memperlihatkan muka sedih.”

Rasulullah saw menunjuk kepada nasib malang tawanan-tawanan itu. Itulah akibat pembangkangan terhadap Tuhan.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan