Secara harfiah, kata haji artinya berkunjung. Maka, ibadah haji adalah mengunjungi Baitullah untuk menjalankan ibadah yang telah ditetapkan amalan-amalannya, antara lain: wukuf, mabit, tawaf, sa’i dan amalan lainnya.

Ibadah haji wajib dilaksanaka sekali seumur hidup  oleh setiap kaum Muslimin baik laki-laki maupun perempuan yang telah memenuhi syarat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Di dalamnya ada Tanda-tanda yang nyata; tempat berdiri Ibrahim; dan barangsiapa memasukinya maka amanlah ia. Dan, berziarah ke Rumah itu merupakan kewajiban  atas menusia karena Allah, bagi orang-orang yang mampu menempuh jalan ke sana. Dan, barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Allah. Maha Kaya, dari sekalian alam.” (Ali Imran, 3: 98)

“Ibadah haji dilakukan dalam bulan-bulan yang dikenal; maka barangsiapa telah bertekad akan menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah membicarakan hal yang tidak senonoh, jangan melanggar peraturan dan jangan bertengkar pada musim haji. Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, tentu Allah mengetahuinya, dan sediakanlah perbekalan, sesungguhnya sebaik-baik perbekalan ialah takwa; dan bertakwalah kepada–Ku, hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah, 2: 198)

Sebagaimana ayat di atas, ibadah haji dilaksanakan pada bulan-bulan yang dimaklumi, mulai dengan bulan Syawal dan berakhir pada sepuluh hari (pertama) di bulan Zulhijah.

Ibadah haji dilaksanakan pada bulan haji (Dzulhijjah), yang inti pelaksanaanya yaitu, wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah), hari Nah’r (10 Dzulhijjah), dan hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Sementara itu, ibadah Umrah dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun, karena di dalamnya tidak terdapat rukun wukuf di Arafah, yang dilakukan pada 9 Zulhijah.

Syarat-syarat Haji

  1. Islam
  2. Baligh (dewasa)
  3. Aqil (berakal sehat)
  4. Merdeka
  5. Istita’ah (mampu) baik jasmani maupun rohani, juga memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan. Termasuk juga aman dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji.

Rukun Haji

Rukun Haji adalah kegiatan ibadah-ibadah yang harus dilaksanakan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan amalan lain, walaupun dengan dam (denda). Jika ditinggalkan, ibadah hajinya bisa jadi tidak sah. Adapun rukun haji yaitu:

  1. Ihram
  2. Wukuf di Padang Arafah
  3. Tawaf Ifad’ah
  4. Sa’i (Berlari-lari kecil antra bukit Safa dan Marwah)
  5. Memotong atau Mencukur Rambut
  6. Tertib

Wajib Haji

Wajib haji adalah kegiatan-kegiatan ibadah yang harus dikerjakan dalam ibadah haji yang bila salah satu amalan itu tidak dikerjakan ibadah haji seseorang tetap sah tapi dia harus membayar dam (denda). Wajib haji yaitu:

  1. Ihram
  2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah
  3. Mabit (bermalam) di Mina
  4. Melontar Jumrah Ula, Wusta dan Aqabah
  5. Tawaf Wada (Tawaf perpisahan)

Penjelasan Rukun dan Wajib Haji

Ihram

Kata Ihram berasal dari kata احرم – يحرم – احراما , yang berarti mengharamkan. Dalam kontek haji dan umrah, ihram berarti, الدخول فى الحرمة (masuk dalam keharaman).

Sedangkan menurut istilah, ihram artinya niat mengerjakan ibadah haji atau umrah dengan mengharamkan hal-hal yang dilarang selama berih’ram.

Berihram ditandai dengan mengenakan pakaian ihram, yaitu bagi laki-laki memakai dua helai kain. Satu kain disarungkan dan satu kain lainnya diselendangkan di kedua bahu dengan menutup aurat.

Sedangkan bagi jemaah perempuan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan tangan sampai ujung jari (kaffain), baik telapak tangan maupun punggung tangan.

Selama dalam keadaan ihram, seorang jemaah haji wajib menjaga dirinya agar tidak melanggar satu pun larangan ihram yang terdiri atas:

Laki-laki dilarang:

  1. Memakai pakaian bertangkup (pakaian yang antar ujung kain disatukan secara permanen seperti celana atau baju)
  2. Memakai kaos kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki dan tumit
  3. Menutup kepala yang melekat seperti topi atau peci dan sorban.

Perempuan dilarang:

  1. Menutup kedua telapak tangan dengan kaos tangan
  2. Menutup muka dengan cadar.

Larangan untuk laki-laki maupun perempuan:

  1. Memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum niat haji/umrah
  2. Memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut dan bulu badan
  3. Memburu dan menganiaya/ membunuh binatang dengan cara apa pun, kecuali binatang yang membahayakan mereka
  4. Memakan hasil buruan
  5. Memotong kayu-kayuan dan mencabut rumput
  6. Menikah, menikahkan atau meminang perempuan untuk dinikahi
  7. Bersetubuh dan pendahuluannya seperti bercumbu, mencium, merayu yang mendatangkan syahwat
  8. Mencaci, bertengkar atau mengucapkan katakata kotor
  9. Melakukan kejahatan dan maksiat
  10. Memakai pakaian yang dicelup dengan bahan yang wangi.

Membaca Talbiyah

Talbiyah menurut bahasa artinya pemenuhan, jawaban, pengabulan terhadap sebuah panggilan dengan niat dan ikhlas. Menurut istilah, talbiyah berarti ungkapan kalimat yang diucapkan untuk memenuhi panggilan Allah Ta’ala dalam keadaan ihram haji atau umrah. Bacaanya sebagai berikut:

لَبَّيْكَ اَللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحمْدَ وَالنِّعْمَةَ لكَ وَالمُلْكَ، لَا شَريْكَ لكَ.

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang Memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. (Al-Bukhari, no. hadits 1549)

Talbiyah mulai dibaca setelah ihram dari miqat, baik ihram haji maupun ihram umrah. Waktu berakhirnya bacaan talbiyah adalah:

a. Ketika orang yang berumrah hendak memulai tawaf bagi jemaah yang melakukan umrah;

b. Ketika orang yang berhaji telah selesai melontar Jamrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah bagi jemaah yang melaksanakan haji, lalu mengganti talbiyah dengan bacaan takbir.

Jemaah laki-laki membaca talbiyah dengan suara keras, sedangkan perempuan membaca talbiyah dengan suara pelan. Bacaan talbiyah adalah sebagai berikut:

Tawaf

Tawaf menurut bahasa berarti mengelilingi. Sedangkan menurut istilah berarti mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad.

Sa’i

Sa’i menurut bahasa artinya ‘’berjalan’’ atau ‘’berusaha’’. Menurut istilah, Sa’i berarti berjalan dari Safa ke Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali yang dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah, dengan syarat dan cara-cara tertentu.

Wukuf

Menurut bahasa wukuf berarti berhenti. Menurut istilah, wukuf artinya berhenti atau berdiam diri di Arafah dalam keadaan ihram walau sejenak dalam waktu antara tergelincir Matahari pada 9 Dzulhijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar hari nahar 10 Dzulhijjah.

Wukuf dilakukan setelah khutbah wukuf dan shalat jamak qashar taqdim Zuhur dan Ashar. Wukuf dilakukan dalam suasana tenang, khusyu’ dan tawadhu’ kepada Allah. Wukuf dapat dilaksanakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri. Selama wukuf, jemaah memperbanyak dzikir, istighfar, shalawat dan doa sesuai sunnah Rasulullahsaw.

Mabit

Menurut bahasa, Mabitberarti bermalam. Menurut istilah, mabitberarti bermalam di Muzdalifah dan di Mina untuk memenuhi ketentuan manasik haji.

Mabit di Muzdalifah adalah bermalam atau beristirahat di Muzdalifah pada 10 Dzulhijjah setelah wukuf di Arafah dan hukumnya wajib. Mabit di Muzdalifah dianggap sah bila jemaah berada di Muzdalifah melewati tengah malam, walau ia hanya mabit sesaat. Pada saat mabit hendaknya seseorang banyak membaca talbiyah, dzikir, istighfar, berdoa atau membaca al-Qur’an.

Mabit di Mina adalah bermalam pada malam hari tanggal 11 sampai 12 Dzulhijjah bagi nafar awal dan bermalam pada malam hari tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah bagi nafar tsani. Hukum mabit di Mina adalah wajib. Beberapa hal terkait dengan ketentuan mabit di Mina

Melontar Jamrah

Melontar jamrah adalah melontar batu kerikil ke arah jamrah Sughra, Wustha dan Kubra dengan niat mengenai objek jamrah (marma) dan kerikil masuk ke dalam lubang marma. Melontar jamrah dilakukan pada hari nahar dan hari tasyrik.

Melontar Jamrah Aqabah dilakukan pada 10 Dzulhijjah dimulai sejak lewat tengah malam dan lebih afdhol dilakukan setelah Matahari terbit. Namun, mengingat padatnya jemaah haji yang melontar pada waktu itu, dianjurkan melontar dilakukan mulai siang hari.

Waktu melontar pada hari Tasyriq tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah menurut jumhur ulama dimulai setelah tergelincir Matahari.

Bercukur Atau Memotong Rambut

Bercukur dalam ibadah umrah dilakukan setelah jemaah umrah melaksanakan tawaf dan sa’i. Dalam ibadah haji, praktek yang lazim dilakukan, bercukur dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah jemaah melempar Jamrah Kubra. Inilah yang disebut tahallul awal. Namun, bercukur bisa dilaksanakan baik sebelum maupun setelah lempar Jamrah Aqabah.

Tata Cara Memotong Rambut

  1. Jemaah laki-laki memotong rambut kepala atau mencukur gundul. Rasulullah mendoakan rahmat dan ampunan tiga kali bagi yang mencukur gundul dan sekali bagi yang memendekkannya. (Al-Bukhari nomor hadits 1727-1728)
  2. Jemaah perempuan hanya memotong rambut kepala dengan cara mengumpulkan rambutnya kemudian memotongnya sebatas ujung jari;
  3. Jumlah rambut kepala yang dipotong minimal tiga helai rambut. Bagi Jemaah yang tidak memiliki rambut kepala, disunatkan untuk menempelkan dan menggerakkan alat cukur di kepala. Mencukur rambut kepala tidak boleh digantikan dengan mencukur rambut lain, misalnya kumis atau rambut yang lain.

Tahallul

Tahallul adalah keadaan seseorang yang telah dihalalkan melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama ihram.

Setelah tahallul awal, jemaah boleh berganti pakaian biasa, memakai wewangian dan melakukan semua larangan ihram, kecuali bercumbu dan bersetubuh dengan pasangan.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Tata cara Ibadah Haji

1. Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah

  • Semua jamaah haji mulai untuk melaksanakan Tawaf.
  • Untuk Sa’i dilaksanakan setelah melaksanakan tawaf Ifadah atau tawaf umrah. Bagi yang melaksanakan haji qiran atau haji ifrad setelah tawaf qudum diperbolehkan sa’i. Sehingga saat pelaskanaan tawaf ifadah  tudak perlu sa’i lagi.

2. Tanggal 8 Dzulhijjah disebut dengan hari Tarwiyah

  • Para jama’ah haji menyiapkan bekal secukupnya untuk menuju Mina dan padang Arafah, karena kedua tempat tersebut tidak ada sumber air.
  • Jamaah haji melakukan ihram untuk ibadah haji, dimulai dengan mandi, memakai wewangian serta mengenakan pakaian ihram, sambil terus-menerus mengucapkan talbiyah.
  • Berangkat menuju Mina dan setelah di Mina. Para jamaah tetap berada di Mina sampai matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah.

3. Tanggal 9 Dzulhijjah

  • Pagi harinya semua jamaah haji menuju ke padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Disunnahkan bagi jama’ah untuk singgah di namirah dan jika memungkinkan berdiam di sana hingga matahari tergelincir, jika memungkinkan.
  • Namirah adalah sebuah tempat yang terletak dekat perbatasan arafah, apabila matahari tergelincir, dan masuk maktu zhuhur. Disunnahkan bagi imam atau orang yang diwakilkan untuk menyampaikan khutbah di hadapan para jama’ah, berkenaan dengan kondisi kaum muslimin, agar kembali memperbaharui tauhid, hukum-hukum seputar ibadah haji, dan perkara-perkara penting lainnya.
  • Waktu wukuf di arafah mulai dari terbit fajar tanggal 9 dzulhijah hingga terbit fajar tanggal 10 dzulhijah. Barang siapa yang melakukan wukuf pada waktu tersebut walaupun sebentar, maka ia dianggap telah mengerjakan wukuf, dan hajinya sah.

4. Malam tanggal 9 Dzulhijjah

  • Semua jamaah haji menuju ke Muzdalifah untuk Mabit (bermalam di muzdalifah) dan mengambil batu untuk melontar jumroh secukupnya.

5. Tengah malam tanggal 9 Dzulhijjah

  • Setelah melakukan mabit, jamaah haji meneruskan perjalanannya ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar Jamrah.

6. Tanggal 10 Dzulhijjah

  • Jamaah haji melaksanakan ibadah melempar Jumroh yaitu sebanyak 7x ke Jumrah Aqabah sebagai simbol untuk  mengusir setan.
  • Dilanjutkan dengan tahalul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.
  • Jika jamaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanannya  ke Masjidil Haram untuk Tawaf Haji atau menyelesaikan Haji.
  • Sedangkan jika mengambil nafar akhir, jamaah haji tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumrah sambungan, yaitu jumrah ‘Ula dan jumrah Wustha.

7. Tanggal 11 Dzulhijjah

  • Jamaah haji melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

8. Tanggal 12 Dzulhijjah

  • Jamaah haji melempar jumrah sambungan (wusta) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Kemudian yang terakhir Jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan Tawaf Wada’ yaitu Tawaf perpisahan  sebelum pulang ke negara masing-masing.

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat


0 Komentar

Tinggalkan Balasan