Mandi wajib atau bersuci dari hadas besar atau juga mandi junub merupakan cara membersihkan seluruh tubuh yang wajib dilakukan oleh: suami istri yang melakukan hubungan badan, bagi wanita yang telah selesai masa haidnya dan wanita yang telah melahirkan.

Tentang Mandi Wajib dalam Al-Qur’an

Mengenai mandi wajib ini Allah Ta’ala berfirman:

“Dan, jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah kamu. Dan jika kamu sakit atau waktu bepergian atau salah seorang dari kamu datang dari jamban, atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang suci dan usaplah mukamu dan kedua tanganmu dengan itu. Allah tidak menghendaki kamu dalam kesukaran, akan tetapi Dia berkehendak supaya Dia mensucikan kamu dan akan melengkapkan nikmat-Nya atasmu supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah: 6)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43)

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Keterangan Rasulullah Tentang Mandi Wajib

Berikut ini beberapa hadits Rasulullah saw tentang mandi besar atau mandi junub,

Hadhrat Aisyah rah menceritakan tata cara mandi Rasulullah saw,

 ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

“Kemudian dia mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR An Nasa-i no. 247)

Hadhrat Aisyah ra juga menceritakan,

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

“Jika Rasulullah saw mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk salat. Kemudian dia mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, dia mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu dia membasuh badan lainnya.” (HR Bukhari no. 272).

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat

Hadhrat Aisyah rah menjelaskan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

“Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR Bukhari no. 277).

Dari Hadhrat Aisyah rah, bahwa jika nabi mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian dia berwudhu sebagaimana wudhu untuk salat. Lalu dia memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian dia mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316).

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi, kemudian beliau saw bersabda,

 أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR Ahmad 4/81).

Diriwayatkan oleh Hadhrat Ummu Salamah rah. Ia mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ.

“Saya berkata, wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah saya harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Dia bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR Muslim no. 330).

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah. Lalu dia menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya dia menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian dia mencuci kemaluannya. Setelah itu dia menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian dia berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu dia membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian dia membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu dia bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317).

Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

 كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268).

“Apabila dua yang di khitan bertemu, maka sesungghunya telah diwajibkan mandi, meskipun tidak keluar mani.” (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah. Sesungguhnya Ummu Sulaim telah bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah, sesungghunya Allah tidak malu memperkatakan yang hak. Apakah perempuan wajib mandi apabila bermimpi? Jawab beliau, ‘Ya (wajib atasnya mandi), ababila ia melihat air (artinya keluar mani).” (Mutafaq Alaih)

Rasulullah saw berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Apabila datang haid itu, hendaklah engkau tinggalkan shalat, dan apabila habis haid itu, hendaklah engkau mandi dan shalat.” (HR Bukari)

Baca juga: Tata Cara Shalat Dan Khutbah Idul Fitri

Tata Cara Mandi Wajib

Dari keterang-keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mandi wajib dilakukan dengan cara membersihkan seluruh anggota badan dengan air.

Dimulai dengan terlebih dahulu membersihkan bagian-bagian tubuh yang kotor terutama bagian alat fital, kemudian disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu, disunnahkan juga membersihkan bagian-bagian tubuh sebelah kanan baru yang kiri, dan secara keseluruhan menyiram seluruh tubuh dari kepala hingga kaki. Semoga bermanfaat.


1 Komentar

Gerakan Dan Doa-doa Shalat Lengkap - Bewaramulia.com · 4 Juni 2020 pada 9:27 pm

[…] Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Mandi Wajib […]

Tinggalkan Balasan