Panduan Tata Cara Adzan Dan Iqamah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

biografi-imam-al-ghazali

Adzan merupakan panggilan atau seruan bagi umat Islam untuk menunaikan shalat fardu. Secara bahsa, adzan berasal dari kata أَذِنَ adzina yang artinya “mendengar, memperhatikan, menginformasikan tentang”.

Sedangkan iqomah, berasal dari kata aqama yang artinya menegakkan atau menjadikannya lurus. Iqamah digunakan untuk memberitahu jamaah shalat bahwa shalat segera dimulai.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ

“Dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia.” (QS. At Taubah Ayat: 3)

Sedangkan orang yang bertugas atau ditugaskan untuk mengumandangkan panggilan adzan disebut Muadzin. Sering disebut juga sebagai “Bilal”, nama tersebut diambil dari nama muadzin pertama dalam sejarah Islam, Bilal bin Rabah ra.

Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam. Rasulullah saw bersabda :

“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin” ( Abu Dawud, 1203; At Tirmidzi, 207 dan Ahmad, II/283-419)

Perintah Azan dan Iqomah

Hukum mengumandangkan azan dikatakan oleh sebagian ulama adalah sunnah muakkad ada juga yang menyebutkannya fardhu kifayah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika telah tiba (waktu) shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian. Dan hendak-lah yang paling tua di antara kalian mengimami kalian.” (Bukhari – Fat-hul Baari, II/111 no. 631 dan Muslim, I/465 no. 674).

Dalam hadits lain disbeutkan, “Ketika Nabi saw bersama kami untuk memerangi sebuah kaum, tidaklah beliau berperang hingga datangnya pagi. Beliau menunggu, jika mendengar adzan, beliau tidak memerangi mereka. Sebaliknya, jika tidak mendengar adzan, maka beliau saw menyerang mereka.” (Bukhari – Fat-hul Baari, II/89/610 dan Muslim, I/288 no. 382).

Sejarah Mulanya Adzan Dam Iqamah

Adzan mulai dilaksanakan pada tahun kedua Hijriah. Pada suatu hari Rasulullah saw mengumpulkan para Sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu tibanya waktu shalat.

Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu shalat telah masuk. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang agama Yahudi saat mereka hendak beribadah.

Yang lain mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani di gereja-gereja mereka.

Ada juga yang menyarankan dinyalakan api pada tempat yang tinggi di mana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun berada di tempat yang jauh.

Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Rasulullah saw. Kemudian disepakati seruan lafal assalatu jami’ah (marilah salat berjemaah) sebagai tanda waktu shalat fardu.

Umar bin Khattab kemudian mengusulkan agar ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk shalat pada setiap masuknya waktu salat.

Petunjuk Allah  Tentang Azan Dan Iqamat

Petunjuk tentang adzan itu datangnya dari Allah Ta’ala langsung melalui mimpi yang diterima oleh para Sahabat. Hal itu terjadi di Madinah sekitar tahun 622 M. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Zaid.

Abdullah bin Zaid ra menceritakan: “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk shalat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, “Apakah ia bermaksud akan menjual lonceng itu? Jika memang begitu, aku memintanya untuk menjual kepadaku saja”. Orang tersebut justru bertanya,” Untuk apa?” Aku menjawabnya, “Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan shalat”. Orang itu berkata lagi, “Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik? dan aku menjawab, “ya” dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang:

Allahu Akbar Allahu Akbar

  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
  • Hayya ‘alash sholah (2 kali)
  • Hayya ‘alal falah (2 kali)
  • Allahu Akbar Allahu Akbar
  • La ilaha illallah

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi saw, dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi saw, bersabda, “Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.” Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar. Ia juga menceritakannya kepada Nabi saw.

Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan adzan, dia diam sejenak, lalu berkata: “Kau katakan jika shalat akan didirikan:

  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadarrasullulah
  • Hayya ‘alash sholah
  • Hayya ‘alal falah
  • Qod qomatish sholah (2 kali)
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • La ilaha illallah

Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah saw kemudian kuberitahu beliau saw apa yang kumimpikan. Beliau un bersabda: “Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diserukannya, karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu.”

Abdullah bin Zaid berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang beradzan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Maka bagi Allah-lah segala puji.” (HR. Abu Daud)

Lafadz Adzan

(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah

(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

Aku menyaksikan bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah

(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Marilah Sholat

(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Marilah menuju kepada kejayaan

(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Tiada Tuhan selain Allah

Untuk Adzan yang dikumandangkan ketika akan shalat shubuh, maka ditambahkan lafadz :

اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Shalat itu lebih baik dari pada tidur” (HR. Ahmad, 16043; Abu Dawud, 499;  At Tirmidzi, 189)

dibaca 2x setelah lafadz

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Lafadz Iqomah

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ

Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah.

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

Marilah Shalat.

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Marilah menuju kepada kejayaan.

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

Sesungguhnya sudah hampir mengerjakan sholat.

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ

Tiada Tuhan melainkan Allah.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Bagi Muadzin

Menjadi seorang muadzin atau orang yang bertugas mengumandangkan azan dan iqomah merupakan tugas yang mulia. Oleh karenanya harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Beragama Islam
  2. Tahu waktu salat fardhu
  3. Melaksanakannya dengan ikhlas, hanya mencari ridha Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Tetapkanlah seorang muazin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu”. (Abu Daud,531; At Tirmidzi,672; Ibnu Majah,714 dan An Nasai, 672).
  4. Memiliki suara yang lantang dan bagus
  5. Adzan dikhusushkan bagi laki-laki, wanita tidak melakukan azan, karena suara bagian dari auratnya. Sesuai dengan sabda Nabi saw, “Tidak ada adzan dan iqomah bagi wanita”. (Al Baihaqi dari Sahabat Ibnu Umar).
  6. Diutamakan orang dewasa, namun jika tidak ada anak-anak pun diperbolehan adzan.

Tata Cara Azan dan Iqomah

  1. Muadzin dalam keadaan suci
  2. Menghadap kiblat
  3. Memasukkan atau menutup telinga dengan jari tangan
  4. Berdiri. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Berdiri wahai bilal, Serulah manusia untuk melakukukan shalat”. (HR. Ibnu Umar).
  5. Menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
  6. Menoleh ke kanan pada kalimat Hayya Alas Shalah
  7. Menoleh kepala ke kiri ketika mengucapakan Hayya Alal Falah. (HR. Bukhari, 187 dan Muslim, 503)
  8. Melakukan adzan ditempat tinggi (menara) atau dengan pengeras suara.
  9. Memperhatikan tajwid, memperlambat adzan dan mempercepat iqamah.
  10. Adzan diserukan dengan suara yang lantang atau keras.
  11. Adzan diucapkan sesuai urutan.

Menjawab Adzan dan Iqamah

Saat muadzin menyerukan adzan, disunnahkan bagi orang yang mendengarnya untuk menjawab seruan itu dengan kalimat yang sama seperti yang dikumadangkan dalam adzan. Kecuali ketika muadzin pada kalimat: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ dan حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ maka kita menjawab:

“Tidak ada daya dan upaya dan tidak ada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.”

Selanjutnya ketika muazin mengucapkan kalimat ASH SHALATU KHAIRUM MINANNAUM ketika adzan subuh , kita jawab dengan:

SHADAQTA WABARARTA WA ANAA ALAA DZAALIKA MINASY SYAAHIDIINA

“Benar dan baguslah ucapanmu itu dan aku pun atas yang demikian termasuk orang-orang yang menyaksikan.”

Jawaban ketika kita mendengar iqomah, ketika muazin tepat pada kalimat QAD QAAMATISH-SHALAAH, kita berucap demikian:

AQOOMAHALLAAHU WA ADAAMAHAA MAADAMATIS SAMAAWAATU WAL ARDLU

“Semoga Allah selalu menegakkan dan mengekalkan adanya shalat selama langit dan bumi masih ada.”

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Tayamum

Doa Sesudah Adzan

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa ketika mendengar adzan lalu mengucapkan (doa setelah adzan), maka masuklah syafaatku baginya di hari kiamat”. (HR. Bukhari).

ALLAAHUMMA ROBBA HAADZIHID DAWATIT TAAMMAH, WASHSHOLAATIL QOO-IMAH, AATI SAYYIDANAA MUHAMMADANIL WASHIILATA WAL FADHIILAH, WASYSYAROFA, WAD DARAJATAL, AALIYATAR ROFIIAH, WABATSHU MAQOOMAM MAHMUUDANIL LADZII WAADTAH, INNAKA LAA TUKHLIFUL MIIAADZ.

“Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-wasilah (derajat di surga), dan al-fadhilah (keutamaan) kepada nabi Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang Engkau janjikan”. (HR. Bukhari, Abu dawud, Tarmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).

Manfaat Lain Dari Adzan Dan Iqamah

Seruan adzan dan iqamah tidak hanya digunakan untuk memanggil orang untuk shalat wajib. Tetapi, seorang Muslim diperintahkan bahwa ketika seorang bayi lahir, pada saat itu harus disebut nama Allah di telinganya, (adzan dan ikamah).

Bersumber dari hadits Sunan at-Tirmidzi, bab Al-Adzan Fi Adzan Al-Maulud, untuk bayi yang baru lahir agar diserukan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, karena mereka anak-anak yang baru lahir itu harus beribadah kepada Tuhan dan harus tunduk di bawah hukum-hukum Allah Ta’ala.

Baca juga: Panduan Cara Mengetahui Waktu shalat

Adzan Dalam Kondisi Darutat

Dalam kondisi tertentu seperti adanya banjir atau wabah, seruan adzan bisa berubah, sebagaimana dicontohkan Sahabat Ibnu Abbas ra. Pada suatu hari yang diguyur dengan hujan deras, Ibnu Abbas ra pernah berujar kepada muadzin beliau,

 إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

‘Setelah engkau membaca, Asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh, janganlah menyebut, Ḥayya ‘alā aṣ-ṣalāh. (Marilah kita shalat!), tetapi, katakanlah, Ṣallū fī  buyūtikum, (Shalatlah di rumah-rumah kalian).’

Meskipun orang-orang merasakan hal itu baru dan heran, Hadhrat Ibnu Abbas bersabda,

 فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

Orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya. Sesungguhnya, shalat Jumat memang sebuah kewajiban. Namun, saya tak ingin menyusahkan kalian hingga kalian harus berjalan di atas tanah yang licin dan becek.’” (Bukhari, no. 901 dan Muslim)

Demikian pula, dalam alasan untuk meninggalkan ibadah Jumat dan shalat berjamaah tersebut, para pakar fiqh menyertakan juga alasan karena suatu wabah penyakit yang dapat menimbulkan kesulitan untuk datang ke masjid.

Mereka juga menetapkan dalil tersebut selaras dengan firman Allah Ta’ala yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak menghendaki kesulitan jenis apapun dalam mengamalkan agama.

Berpegang pada dalil tersebut, ketika Baginda Nabi Muhammad sawjatuh sakit, beliau menghentikan sementara pergi ke mesjid lalu meminta Abu Bakr ra untuk mengimami shalat berjamaah di masjid.

Begitu juga kekhawatiran orang-orang yang disebabkan oleh munculnya suatu wabah penyakit, ditetapkan sebagai udzr (halangan yang beralasan). Sebagai dalilnya terdapat riwayat Ibnu Abbas yang didalamnya Hadhrat Rasulullah saw menafsirkan udzr itu dengan ketakutan dan penyakit. (Sunan Abu Daud)

Demikian uraian tentang adzan dan ikamah, semoga bermanfaat, utamannya untuk diri saya sendiri.

Baca juga: Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?


0 Komentar

Tinggalkan Balasan