Panduan Cara Mengetahui Waktu shalat

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

panduan-cara-mengetahui-waktu-shalat

Shalat merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin dimana yang waktu shalat telah ditetapkan. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Quran:

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.  (QS. An Nisa (4) : 103)

Shalat yang dimaksud adalah shalat fardu lima waktu, yaitu Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Adapun waktu-waktu pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

Shalat Zhuhur

Shalat Zuhur merupakan shalat disiang hari yang waktu pelaksanaanya yaitu saat bergesernya matahari dari posisi tengah-tengah menuju arah tenggelamnya matahari. Sebagimana disabdakan oleh Rasulullah saw:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ……..

“Waktu Shalat Zuhur adalah ketika telah tergelincir matahari hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu Ashar……” (HR. Muslim No. 612)

Apabila kita berdiri tegak atau kita tancapkan sebuah tongkat di tempat terbuka, maka saat matahari tepat berada di atas, panjang bayangan kita atau tongkat itu akan sama tidak memendek ataupun memanjang bahkan bisa jadi bayangannya hilang. Kemudian ketika bayangan kembali muncul dan bergerak mamanjang lagi, saat itulah waktunya shalat zuhur.

Waktu shalat zuhur berakhir ketika masuk waktu ashar, yaitu ketika panjang bayangan sama dengan panjang badan kita atau tongkat.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Tayamum

Shalat Ashar

Shalat Ashar dikerjakan pada waktu sore, setelah waktu shalat zuhur habis yaitu yaitu ketika panjang bayangan sama dengan panjang badan kita atau tongkat. Waktu shalat Isya berakhir saat panjang bayangan dua kali panjang tongkat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ…

“Waktu Shalat Zuhur adalah ketika telah tergelincir matahari hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu Ashar dan waktu Ashar masih tetap ada selama matahari belum menguning……….” (HR. Muslim No. 612).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra ketika Jibril alihissalam menjadi imam bagi Nabi saw,

جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ……مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ

“Jibril mendatangi Nabi saw ketika matahari telah tergelincir ke arah tenggelamnya kemudian dia mengatakan, “Berdirilah wahai Muhammad kemudian shala zhuhur lah. Kemudian ia diam hingga saat panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Jibril datang kemudian mengatakan, “Wahai Muhammad berdirilah shalat Ashar lah”. Kemudian ia diam hingga matahari tenggelam………….diantara dua waktu ini adalah dua waktu shalat seluruhnya.” (HR. Nasa’i No. 526)

Shalat Ashar waktunya relatif pendek sehingga harus dikerjakan sesegera mungkin atau tepat pada waktunya. Disebutkan dalam sebuah hadits bahawa:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ

“Rasulullah saw sering melaksanakan shalat ashar ketika matahari masih tinggi.” (HR. Bukhori No. 550 dan Muslim No. 621)

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Puasa Syawal

Shalat Maghrib

Shalat Maghrib adalah shalat yang dilaksanakan pada waktu tenggelamnya matahari, ditandai dengan warna kemerah-merahan di ujung langit. Adapun akhir waktu maghrib adalah ketika hilangnya warna kemerah-merahan di langit dan matahari benar-benar tenggelam sempurna. Rasulullah saw bersabda:

….وَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ…..

“Waktu shalat maghrib adalah selama belum hilang sinar merah ketika matahari tenggelam.” (HR. Muslim No. 612)

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ – أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ – مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ

“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan – atau beliau saw bersabda: dalam keadaan fithrah – selama mereka tidak mengakhirkan waktu shalat maghrib hingga munculnya bintang.” (HR. Abu Dawud No. 414)

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Mandi Wajib

Shalat Isya

Shalat Isya dilaksanakan setelah maghrib saat waktu mulai gelap, jika telah hilang sinar merah di langit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah saw:

…وَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ….

“Waktu shalat Isya adalah hingga setengah malam.” (HR. Muslim No. 612)

…ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ…

“…Kemudian Jibril mendatangi Nabi saw untuk melaksanakan shalat Isya ketika sepertiga malam yang pertama…” (HR. Nasa’i No. 526)

Rasulullah saw juga bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ

“Jika sekiranya tidak memberatkan ummatku maka akan aku perintah agar mereka mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga atau setengah malam.” (HR. Tirmidzi No. 167 dan Ibnu Majah No. 691)

Ada juga hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw menyegerakan shalat Isya tetapi terkadang juga lambat mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

وَالْعِشَاءُ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا ، وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا : إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ ، وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ

“Terkadang (Rasulullah saw) menyegerakan shaalat Isya dan terkadang juga mengakhirkannya. Jika mereka telah terlihat berkumpul maka segerakanlah dan jika terlihat (lambat datang ke masjid) diakhirkan.” (HR. Bukhori No. 560 dan Muslim No. 233)

كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Nabi saw membenci tidur sebelum shalat Isya dan melakukan pembicaraan yang tidak berguna setelahnya.” (HR. Bukhari No. 568 dan Muslim No. 237)

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Shalat Subuh

Shalat Subuh atau Fajar dilaksanakan saat mulai munculnya fajar, cahaya putih di ufuk timur. Shalat subuh waktunya singkat sehingga harus segera dilaksanakan sebelum terbitnya matahari.

”Dan Nabi saw menunaikan shalat subuh ketika fajar merekah”.(HR. Muslim).

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – غَزَا خَيْبَرَ ، فَصَلَّيْنَا عِنْدَهَا صَلاَةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ

“Sesungguhnya Rasulullah saw berperang pada perang Khoibar, maka kami sholat ghodah (fajar) di Khoibar pada saat gholas.” (HR. Bukhori No. 371, Muslim No. 1365)

Waktu fajar adalah saat sebelum terbitnya matahari , ketika warna kemerah – merahan muncul di ufuk timur. Ditandai dengan cahaya terang yang memancar secara horizontal pada garis cakrawala.

Saat ini dengan adanya jam dan jadwal shalat yang sudah dibuat untuk masing-masing wilayah memberi kemudahan dalam melaksanakan shalat. Sehingga kita bisa melaksanakan shalat tepat pada waktunya.

…إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى….

“Hanyalah orang-orang yang terlalu menganggap remeh agama adalah orang yang tidak mengerjakan sholat hingga tiba waktu shalat lain” (HR. Muslim No. 681)

Semoga kita bisa melaksanakan shalat dengan teratur dan tepat pada waktunya. Aamiin.

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat


0 Komentar

Tinggalkan Balasan