Nabi Nuh Dan Bahteranya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

nabi-nuh-dan-bahteranya

Nabi Nuh Dan Bahterannya, ini merupakan kelanjutan dari artikel Nabi-nabi Allah Yang Diutus Kepada Setiap Kaum yang membahas perihal Nabi Adamas sebagai nabi pertama yang diutus Allahswt.  Kali ini pembahasannya mengenai Nabi Nuhas, untuk jelasnya sebagai berikut:

Awal Kehidupan

Sangat sedikit yang diketahui tentang Nabi Nuhas, baik masa kecil atau masa mudanya. Beliauas muncul sekitar sepuluh abad setelah Nabi Adamsaw.

Orang-orang pada masanya telah cendrung kepada keduniaan dan terlibat dalam kejahatan sosial dan moral. Mereka telah melupakan Pencipta yang sebenarnya dan beralih menyembah berhala. Mereka memiliki banyak berhala, yang paling utama adalah Wadd, Suwa, Yaghuth, Yauq dan Nasr.

Wadd adalah suatu berhala yang disembah oleh Banu Kalb di Daumat-al-Jandal. Berhala itu berbentuk seorang laki-laki, melambangkan tenaga kejantanan. Suwa adalah suatu berhala Banu Hudzail, bentuknya seperti perempuan, melambangkan kecantikan wanita. Yaghuts adalah berhala suku Murad, dan Yauq dalam bentuk kuda, disembah oleh suku Hamdan. Nasr, berhala suku Dzu’l-Killa’, bentuknya seperti seekor burung garuda atau ruak-ruak pemakan bangkai, melambangkan hidup panjang dan pengertian mendalam.

Kaum Nabi Nuhas bergelimang dalam kemusyrikan. Mereka mempunyai banyak berhala, lima di antaranya yang disebutkan di dalam ayat ini adalah yang termasyur. Orang-orang Arab, beberapa abad kemudian, diduga telah membawa berhala-berhala itu dari Irak.

Hubal berhala mereka yang paling masyhur dibawa dari Siria oleh Amir bin Lohay. Berhala-berhala mereka yang utama ialah, Lat, Manat dan Uzza. Atau, mereka mungkin menamakan berhala-berhala mereka sendiri dengan nama berhala-berhala suku Nabi Nuhas, karena kedua bangsa itu tinggal tidak berjauhan antara satu sama lain dan memang perhubungan umum ada di antara kedua bangsa itu. Tiada yang mustahil atau di luar kemungkinan bahwa kedua bangsa yang musyrik itu, mempunyai nama-nama yang sama bagi berhala-berhala mereka.

Nabi Nuh Menyampaikan Pesan Allah

Allahswt telah menunjuk Nabi Nuhas untuk membimbing umat manusia. Al Quran mengatakan:

“Kami mengirim Nuh kepada kaumnya dan dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, kamu tidak memiliki tuhan lain selain Dia. Sungguh, aku takut kepadamu hukuman hari besar.'”(QS. Al Araf, 7: 60)

Mendengar pesan ini, para pemimpin kaumnya menjawab, “kami melihat Anda berada dalam kesesatan yang nyata.” Nabi Nuhas kemudian dengan sangat sopan memberi tahu mereka,

“Hai kaumku, tak ada kesesatan padaku melainkan aku seorang rasul dari Tuhan sekalian alam. Aku menyampaikan kepadamu Amanat-amanat Tuhan-ku dan aku menasehati kamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu merasa heran bahwa telah datang kepadamu suatu Kalam penuh nasihat dari Tuhan-mu dengan perantaraan seorang laki-laki di antara kamu agar dia memperingatkanmu dan supaya kamu bertakwa dan mudah-mudahan kamu diberi rahmat ?” (QS. Al Araf, 7: 61-65)

Nabi Nuhas membantah tuduhan bahwa baliau berada dalam kesesatan. Beliau, pada hakikatnya, berkata bahwa seseorang yang sedang menuju suatu tempat boleh jadi dapat dikatakan ia tidak mengenal jalan menuju tempat itu, atau telah sesat jalan, karena belum pernah ia menempuh jalan itu sebelumnya ; tetapi, bagaimanakah dapat dikatakan kepada seseorang, yang kembali dari suatu tempat tertentu, tidak mengetahui jalan ke tempat itu dan bagaimana ia mungkin dapat kehilangan jalan itu?

Beliauas berkata bahwa beliau tidak mungkin keliru, sebab beliau telah datang dari Allahswt dan karena itu tidak ada kemungkinan untuk melantur jauh dari jalan yang menuju kepada-Nya.

Terlepas dari tentangan sengit dari para pemimpin kaumnya, Nabi Nuhas melanjutkan tablighnya. Hanya segelintir orang yang lemah, orang miskin dan orang muda, yang percaya padanya. Beliau berkhotbah kepada umatnya siang dan malam, dan berbicara kepada mereka di depan umum dan secara pribadi.

Beliau mengingatkan mereka tentang nikmat dan karunia besar yang telah Allahswt berikan kepada mereka dan juga memperingatkan mereka tentang konsekuensi buruk dari penolakan pesan Ilahi. Tetapi semua khotbah dan peringatannya, simpati dan perhatiannya, diperlakukan dengan ejekan, tentangan dan pelecehan.

Alih-alih mengikuti beliau yang hatinya penuh dengan kasih untuk mereka, mereka memilih untuk mengikuti pemimpin palsu mereka.

“Maka berkata pemuka-pemuka yang ingkar dari antara kaumnya, ‘Kami tidak melihat engkau kecuali seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat mereka yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang keadaan lahirnya paling hina di antara kami. Dan tidak kami lihat pada kamu suatu pun kelebihan atas kami; bahkan kami yakin bahwa kamu adalah pendusta.’” (QS. Hud, 11: 28)

Nabi Nuhas mencoba meyakinkan mereka dan memenangkan mereka bagi Allahswt. Beliau menasehati mereka untuk mencari pengampunan Allahswt, karena Dia adalah Pengampun dosa yang besar.

Menyebutkan manfaat dari kepercayaan pada Satu Tuhan, Nabi Nuh memberi tahu mereka, Allahswt akan menurunkan hujan untuk mereka dalam kelimpahan dan akan memberi mereka peningkatan kekayaan dan anak-anak. Dia juga akan membuat kebun tumbuh dan sungai mengalir untuk mereka.

Beliau lebih jauh menarik perhatian mereka pada ciptaan besar tujuh langit dalam harmoni yang sempurna dan menempatkan bulan di dalamnya sebagai cahaya dan matahari sebagai pelita.

Terakhir, beliau menarik perhatian mereka pada kehidupan mereka sendiri dari bumi dan mereka kembali ke sana dan kemudian kebangkitan mereka. Tapi semua nasihatnya tidak didengar.

Pemimpin mereka membujuk mereka untuk tetap menyembah berhala dengan mengatakan Nabi Nuhas hanyalah seorang pria seperti mereka yang hanya berusaha untuk mendapatkan keunggulan atas mereka.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan

Doa Nabi Nuh

Bukan saja menolak bahkan mereka, para pemuka kaum Nabi Nuhas menantang beliauas agar Allahswt menurunkan azab kepada mereka, sebagaimana diingatkan oleh Nabi Nuhas bahwa orang-orang yang menentang akan diberi hukuman oleh Allahswt.

“Berkata mereka, ‘Hai Nuh, sesungguhnya engkau telah berbantah dengan kami dan memperpanjang bantahanmu terhadap kami ; maka datangkanlah kepada kami azab  yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.’” (QS. Hud, 11: 33)

Ketika nasihat Nabi Nuhas dan khotbah sepanjang kenabiannya terbukti tidak dihiraukan oleh kaumnya, maka Allahswt menyatakan kepadanya,

“Bahwa sekali-kali tidak akan beriman seorang pun dari kaummu selain orang yang telah beriman sebelumnya; maka janganlah engkau bersedih mengenai apa yang selama ini mereka kerjakan.” (QS. Hud, 11: 37)

Setelah mendapat isyarat dari Allahswt bahwa tidak ada umatnya yang akan percaya padanya lagi, Nabi Nuhas pun kemudian memohon doa berikut ini:

“Hai Tuhan-ku, janganlah Engkau membiarkan di atas bumi penghuni dari orang-orang kafir. Sesungguhnya, jika Engkau membiarkan juga mereka, mereka akan menyesatkan hamba-hamba Engkau dan mereka tidak akan melahirkan melainkan orang-orang berdosa, kafir.” (QS Nuh, 71: 27-28)

Nabi Nuhas telah diberi khabar tentang putusan Allahswt, bahwa selanjutnya tak seorang pun dari antara kaumnya akan beriman kepada beliau. Jadi doa beliauas itu tidak lain selain tunduk kepada kehendak dan putusan Allah. Apa yang dimaksud dengan doa ialah hanya, bahwa semoga Allah Ta’ala melaksanakan apa yang diputuskan-Nya mengenai kehancuran kaum beliau.

Beliauas telah mendoa untuk kehancuran kaumnya bukan karena sangat marahnya kepada mereka oleh sebab mereka tidak beriman. Beliauas telah mendoa bukan atas kehendak sendiri, malainkan Allah-lah yang menghendaki supaya beliau berbuat demikian.

Membangun Bahtera

Allahswt kemudian memerintahkan Nabi Nuhas untuk membangun Bahtera. Al Quran mengatakan:

“Dan buatlah bahtera di hadapan mata Kami dan sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang yang berlaku aniaya. Sesungguhnya mereka akan di tenggelamkan.” (QS. Hud,11: 38)

Beliau segera melaksanakan perintah Allahswt dan menyiapkan bahtera itu. Para pemimpin bangsanya mengejek langkahnya ini dan menyebutnya sebagai tindakan orang gila. Nabi Nuhas pun berdoa kepada Allahswt, “Aku dikalahkan maka datanglah untuk membantuku.”

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al A’raf

Air Bah

Allahswt mendengar doa Nabi Nuhas dan segera setelah itu, pada waktu yang ditentukan, Allahswt membuka gerbang langit dengan air, yang jatuh dengan deras. Dan bumi meledak dengan mata air dan kedua air bertemu sesuai dengan keputusan Allah. Tuhan lebih lanjut mengarahkan Nabi Nuhas:

“Naikkanlah ke dalam bahtera  itu masing-masing dari jenis satu pasang, dan keluarga engkau, kecuali mereka yang keputusannya telah ditetapkan, dan mereka yang telah beriman. Dan tiada yang beriman bersamanya malainkan sedikit.” (QS. Hud, 11: 41)

Maka, muncullah banjir besar di bagian dunia itu. Keperkasaan para kepala suku dan kesombongan mereka menjadi sia-sia. Banjir melanda semua lawan Nabi Nuhas termasuk putranya yang tidak mau beriman, sementara itu Nabi Nuhas dan para pengikutnya diselamatkan.

Diperkirakan bahtera Nabi Nuhas berlabuh di Gunung Al-Judi. Judi (Djudi) adalah sebuah pegunungan yang tinggi di distrik Bohtan, sekitar 25 mil timur laut Jazirah ibn Omar di 37 derajat bujur timur dan 30 derajat utara di lintang.

Ketenarannya berasal dari tradisi Mesopotamia, yang mengidentifikasinya, dan bukan Gunung Ararat, gunung tempat Bahtera Nuh bersandar. Penafsir yang lebih tua mengidentifikasi gunung yang sekarang disebut Judi, atau menurut otoritas Kristen pegunungan Gordyene, sebagai sebutan Nuh. ( Enc. Of Islam, vol. I, p. 1059).

Tradisi Babilonia juga menempatkan Gunung Al-Judi di Armenia ( Enc. Yahudi di bawah “Ararat”). Alkitab mengakui bahwa Babilonia adalah tempat di mana keturunan Nuh tinggal (Kej. 11: 9).

Kisah banjir besar dengan beberapa variasi dapat ditemukan di hampir semua negara. Alasannya adalah ketika keturunan Nabi Nuhas dan kaumnya yang merupakan pendiri peradaban manusia menyebar ke tanah lain, karena mereka lebih kuat daripada orang yang sudah tinggal di sana, mereka mendominasi penduduk asli atau menyerapnya.

Jadi mereka pasti telah diperkenalkan ke semua negara yang mereka taklukkan tradisi dan kebiasaan mereka sendiri. Selanjutnya tradisi tentang banjir juga diperkenalkan ke negeri-negeri lain.

Dengan berlalunya waktu, bagaimanapun, para imigran tidak lagi memiliki hubungan dengan rumah asli mereka dan sebagai akibatnya dianggap sebagai kejadian lokal, dengan hasil bahwa nama orang dan tempat lokal diganti dengan nama asli. Jadi air bah bukanlah kunjungan universal, dan tradisi dari berbagai negeri juga tidak boleh dianggap sebagai banjir terpisah.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Hud

Syariat Nabi Nuh

Nabi Nuhas meletakkan dasar-dasar peradaban manusia; dan telah menjadi kenyataan sejarah yang kuat bahwa dengan kemajuan sesuatu kaum dalam peradaban, jumlah mereka cenderung bertambah, dan sebagai ekornya terjadilah suatu kemunduran dalam jumlah warga masyarakat yang lebih rendah peradabannya yang tinggal bersama mereka di daerah-daerah sama atau di sekitarnya.

Karena keturunan Nabi Nuhas lebih tinggi peradabannya dan karena lebih banyak memiliki sumber-sumber kebendaan, agaknya mereka telah menyebar ke daerah-daerah lain dan menundukkan kaum-kaum yang peradabannya lebih rendah dan mereka ini dalam perjalanan masa melebur diri ke dalam mereka lalu karena itu mereka ini menjadi punah.

Syariat yang diperkenalkan melalui Nabi Nuhas belum dipelihara. Namun ternyata di dalamnya terkandung prinsip dasar keesaan Tuhan. Syariat Nabi Nuh cocok untuk masanya. Itu harus diubah dan dikembangkan pada waktunya untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Al Quran menyatakan: “Dia telah menetapkan untukmu agama yang dia perintahkan pada Nuh.”

Syariat yang dibawa Nabi Nuhas berlaku sekitar seribu tahun. (QS. Al Ankabut, 29: 15). Masa sembilan ratus lima puluh, agaknya bukan waktu hidup Nabi Nuhas dalam jasad pribadinya. Agaknya masa itu masa berlakunya syariat beliau. Oleh karena itu, agaknya masa itu menjangkau pertama-tama sampai masa kenabian Nabi Ibrahimas, sebab Nabi Ibrahim adalah dari golongannya (QS. Ash Shaffat,37: 84) dan kemudian menjangkau sampai masa Nabi Yusufas dan kemudian bahkan menurun sampai masa Nabi Musaas.

Sungguh pada hakekatnya usia seorang nabi adalah selama masa berlakunya syariat dan ajarannya. Lima puluh tahun permulaan usia Nabi Nuhas merupakan tahun-tahun kemajuan dan peningkatan kehidupan ruhani kaum, dan sesudah itu datanglah masa kemerosotan dan kemunduran akhlak, dan kaum beliau lambat-laun menjadi rusak akhlaknya , sehingga kemunduran mereka menjadi genap dalam sembilan ratus tahun.

Baca juga: Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Diutus Allah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan