Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Diutus Allah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

nabi-adam-manusia-pertama

Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Ditus Allah, merupakan tulisan sederhana yang membahas perihal  Nabi Adamas yang bersumber dari Al Quran, dengan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda, yang mungkin saja berbeda dengan pendapat umum.

Evolusi dan Sejarah Umat Manusia Menurut Al Quran

Al Quran mengatakan bahwa Allahswt ingin mewujudkan alam semesta yang harus berfungsi sebagai manifestasi dari Yang Mulia dan Cahaya-Nya dan ini adalah penyebab penciptaan alam semesta. Dikatakan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam enam periode. Sebelumnya Tuhan memerintah atas air.

Tujuan Tuhan dalam menciptakan langit dan bumi dari air adalah untuk menciptakan makhluk yang memiliki kemauan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat.

Makhluk-makhluk ini akan melewati berbagai cobaan dan berusaha untuk melampaui satu sama lain dalam melakukan kebaikan dan dengan demikian menunjukkan yang mana di antara mereka yang telah mencapai kesempurnaan. Allahswt berfirman:

“Dan Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arasy-Nya diatas air supaya Dia mengujimu siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan jika engkau mengatakan, ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,’ niscaya orang-orang yang ingkar itu akan berkata, “Ini tiada lain melainkan sihir yang nyata.” (QS. Hud, 11: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum materi mengambil bentuknya yang sekarang, ia sudah ada dalam bentuk cair. Berkenaan dengan tahap pra-materi, Al Quran mengatakan:

“Tidaklah orang-orang yang ingkar melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa  yang menggumpal, lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak mau beriman?” (QS. Al Anbiya, 21: 31)

Ayat tersebut bermaksud untuk mengatakan bahwa langit dan bumi pada awalnya adalah massa yang tidak berbentuk dan Allah kemudian membaginya dan membentuknya menjadi tata surya dan membentuk awal. Allahswt selalu menciptakan kehidupan dari air.

Ayat ini mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah. Ayat itu menunjuk kepada alam semesta, ketika masih belum mempunyai bentuk benda; dan ayat itu bermaksud menyatakan, bahwa seluruh alam semesta khususnya tata surya, telah berkembang dari gumpalan yang belum mempunyai bentuk atau segumpal kabut.

Selaras dengan azab yang Allah lancarkan, Dia pecahkan gumpalan zat itu dan pecahan-pecahan yang cerai-berai menjadi kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh Harold Richards dan “The Nature of the Universe” oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah menciptakan seluruh kehidupan itu dari air.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan

Tahapan Alam Semesta

Menurut Al Quran, alam semesta berpindah dari tahap ke tahap hingga bumi mengambil bentuk dan sifat-sifat yang berkembang yang dapat menopang kehidupan manusia.

Al Quran, bertentangan dengan catatan yang diberikan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mengajarkan bahwa manusia diciptakan melalui proses bertahap.

Terdapat ayat lain dalam Al Quran yang menunjukkan bahwa penciptaan manusia adalah puncak dari proses bertahap dan tidak benar untuk mengatakan bahwa Allahswt membentuk manusia dari tanah liat dan menghembuskan ruh-Nya ke dalam dirinya. Quran mengatakan:

“Dan, sesungguhnya, Dia telah menciptakan kamu dengan berbagai tingkatan kejadian.” (QS Nuh,71: 15)

Ayat ini berarti, Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang berbeda dan keadaan yang berbeda pula; dengan berbagai segi dan pembawaan; atau Allah telah menciptakan mereka setingkat demi setingkat.

Manusia Pertama di Bumi

Dengan cara yang sama perkembangan intelektual manusia juga berjalan secara bertahap. Al Quran menunjukkan bahwa manusia ada sebelum Nabi Adamas tetapi mereka belum mampu memikul tanggung jawab hukum yang diturunkan.

Mereka tinggal di gua-gua dan di pegunungan. Karena alasan inilah Al Quran menyebut mereka dengan nama jin, yang secara harfiah berarti mereka yang diam di luar pandangan. Beberapa orang telah menerapkan kata ini pada cerita dan dongeng tentang makhluk halus, tetapi Al Quran tidak mendukung interpretasi ini.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as dan Tongkatnya

Nabi Adam Tidak Tinggal Di Surga

Ditegaskan bahwa ketika Adamas dan orang-orangnya keluar dari taman, yang lagi-lagi, menurut Al Quran adalah wilayah bumi dan jangan disamakan dengan Surga.

Allah memperingatkan mereka terhadap Iblis “yang merupakan salah satu dari jin” dan mengatakan kepada mereka untuk berhati-hati terhadap dia dan orang-orangnya karena mereka semua harus hidup bersama di bumi di mana mereka akan menghabiskan masa keberadaan mereka dan di mana mereka akan mati. (QS. Al Araf, 7: 26, 28).

Sekali lagi, menyebut Adamas dan umatnya dan Iblis dan umatnya Allah menasihati mereka semua untuk menerima Nabi-Nya ketika mereka akan muncul dari waktu ke waktu (QS Al Baqarah, 2: 39).

Semua ini menunjukkan bahwa jin pada zaman Adamas dan pemimpin mereka Iblis adalah ras manusia.

Para jin dari dongeng tidak hidup bersama dengan manusia juga tidak dengan cara lain berhubungan dengan manusia. Al Quran tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide jin yang digambarkan dalam dongeng-dongeng.

Mereka yang digambarkan Al Quran sebagai jin sehubungan dengan Adamas adalah manusia yang tinggal di bumi tetapi kemampuan mentalnya belum berkembang sepenuhnya.

Nabi Adam Manusia Paling Sempurna di Generasinya

Ketika tahap perkembangan penuh dari kemampuan mental manusia tercapai, Allah mengirimkan wahyu-Nya kepada manusia yang paling sempurna dari generasi itu, yaitu, Nabi Adamas.

Wahyu ini terbatas pada beberapa aturan sosial yang berkaitan dengan pembentukan masyarakat dan penyediaan makanan dan sarana pemeliharaan lainnya. Untuk masa depan Allah menetapkan bahwa para nabi akan terus muncul dan mereka yang percaya pada mereka akan mengidentifikasi diri mereka dengan Adam dan orang-orangnya dan mereka yang menolak mereka akan mengidentifikasi diri mereka dengan jin yang menentang Nabi Adam.

Setiap nabi diturunkan untuk membantu memajukan evolusi intelektual dan spiritual manusia. Mereka, yang menentang tahap evolusi berikutnya dan tidak mau tunduk pada batasan dan peraturan yang ingin diberlakukan Allahswt melalui Nabi-Nya untuk membantu memajukan proses evolusi, maka mereka menolak nabi.

Baca juga: Menggali Rahasia Bangsa Maya

Evolusi Fisik dan Mental

Singkatnya, Al Quran mengajarkan bahwa penciptaan dan perkembangan fisik manusia adalah hasil dari proses evolusi dan demikian pula perkembangan intelektualnya juga merupakan hasil dari proses evolusi.

Nabi Adamas bukanlah manusia pertama tetapi merupakan manusia pertama yang kecerdasannya mampu menerima dan memikul tanggung jawab wahyu. Al Quran tidak menyatakan bahwa Allah ingin menciptakan manusia dan karena itu menciptakan Adamas.

Al Quran dengan jelas menyatakan bahwa Allah memutuskan untuk menunjuk seorang khalifah – wakil di bum dan menunjuk Adamas. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat pengangkatan Adamas sebagai Wakil Tuhan di bumi, jelas terdapat manusia yang tinggal di bumi, tetapi tidak satupun dari mereka telah menjadi penerima wahyu ilahi karena kemampuan mental mereka belum sepenuhnya berkembang.

Makhluk Manusia Sebelum Adam

Di tempat lain Al Quran mengatakan: “Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, kemudian Kami beri kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat, ‘tunduklah kepada Adam’ maka tunduklah mereka kecuali iblis, ia tidak termasuk di antara orang-orang yang tunduk. (Al Araf, 7: 12)

Ayat tersebut berarti bahwa Allah menciptakan manusia, kemudian membentuk kemampuan dan kemudian memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam. Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan bahwa manusia telah ada sebelum zaman Nabi Adamas.

Perkembangan kemampuan intelektual manusia menunjukkan bahwa sebelum kemunculan Adamas manusia telah melewati beberapa tahapan evolusi. Ayat tersebut menunjukkan bahwa setelah manusia diciptakan, kemampuannya berkembang dari tahap ke tahap dan mengambil bentuk yang berbeda-beda dan dia mulai dibedakan dari ciptaan hewan lain di sekitarnya dan ketika kecerdasannya dikembangkan sampai tingkat tertentu, Nabi Adamas diciptakan, kemudian Allahswt mengirimkan wahyu-Nya kepadanya.

Penjelasan dari Al Quran di atas membantu kita untuk memiliki gambaran yang sangat jelas tentang kedudukan Al Quran di atas teori evolusi. Semua ini juga didukung oleh penelitian tentang evolusi manusia saat ini. Jadi kita menemukan bahwa Al Quran yang diturunkan 1.400 tahun yang lalu sebenarnya mendukung semua teori modern yang terbukti secara ilmiah tentang evolusi.

Pada akhirnya segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga Allah memberi kita pengetahuan dan kebijaksanaan untuk memahami Al Quran. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Sumber:

  1. Pengantar Mempelajari Al Quran oleh Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad
  2. Quran, Adam and Original Sin oleh Bilal Khalid, Alislam.org

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


0 Komentar

Tinggalkan Balasan