Menggali Rahasia Bangsa Maya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

bangsa-maya

Bangsa Maya telah membangun peradabannya sejak zaman Arkaik, sekitar 2000 tahun sebelum masehi.

Mereka tinggal dan berekembang di semenanjung Yucatan, kini merupakan bagian dari negara Guatemala dan Belize, Negara Bagian Chiapas di Meksiko serta bagian barat Honduras dan El Salvador di Amerika Tengah. Wilayah peradaban Maya mencakup sepertiga kawasan Mesoamerika.

Pemukiman yang tadinya berupa desa-desa seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi kota-kota besar. Seperti kota El Mirador, Tikal, Kaminaljuyu, Takalik Abaj, Chocol, Komchen dan kota-kota lainnya. Kota-kota itu dilengkapi dengan jalan, kuil, istana, dan pasar.   

Seiring dengan kemajuan yang diraih, tumbuh juga persoalan-persoalan seperti yang umumnya terjadi pada suatu bangsa atau kaum, seperti persaingan, keserakahan, juga pergeseran pemahaman tentang ketuhanan.

Sekitar abad ke-1 M perdaban Maya mengalami keruntuhan,  banyak kota-kota Maya yang ditinggalkan; penyebab peristiwa ini masih belum diketahui. Jika ini benar terjadi itu artinya masa itu sezaman dengan masa datangnya Nabi Isa as.

Baca juga: 7 Objek Wisata Paling Bersejarah Di Madinah

Peradaban yang Tinggi

Bangsa Maya mampu mengembangkan pertanian, mereka menanam jagung, kacang, labu, dan cabai. Mereka juga melakukan perdagangan hingga ke tempat-tempat jauh di luar kawasan Maya, hingga keluar wilayah Mesoamerika.

Mereka memiliki peradaban yang tinggi, mampu membaca dan menulis yang dikenal dengan aksara hieroglifnya yang mereka gunakan sejak abad ke-3 SM. Sistem penulisan ini merupakan yang paling maju dari antara puluhan sistem penulisan yang pernah dikembangkan di Mesoamerika.

Namun, keterampilan dalam menulis dan memahami tulisan Maya hilang ditelan zaman akibat penjajahan oleh bangsa Spanyol. Gereja Katolik, khususnya Uskup Diego de Landa pejabat-pejabat kolonial memusnahkan teks-teks Maya. Hanya ada tiga buku yang selamat, buku-buku ini dikenal dengan nama Kodeks Madrid, Kodeks Dresden, dan Kodeks Paris

Mereka mampu menghasilkan beragam karya seni tinggi, berupa pahatan-pahatan batu, batu giok, manik-manik, lukisan tembok, grafiti, juga kerajinan keramik.

Sepanjang sejarahnya, peradaban Maya telah meninggalkan berbagai macam bentuk bangunan. Kota-kota besar dilengkapi dengan kuil-kuil berbentuk piramida, istana, lapangan bola, jalan, dan alun-alun. Beberapa kota juga memiliki sistem hidrolik dan tembok pertahanan.

Bangsa Maya memiliki sistem kalender sendiri, dapat mencatat siklus bulan dan matahari, gerhana, dan pergerakan planet dengan ketepatan yang tinggi. Dalam beberapa hal, perhitungan Maya lebih akurat dibandingkan dengan kalender Yulius.

Orang-orang Maya mampu melakukan pengamatan secara teliti terhadap benda-benda langit, dan mereka mencatat pergerakan matahari, bulan, Venus, Yupiter, Mars, Merkurius dan bintang-bintang.

Orang-orang Maya telah memiliki tabel-tabel gerhana, kalender, dan pengetahuan astronomi yang lebih akurat dari bangsa Eropa.

Antara tahun 250–900 M atau dikena sebagai Zaman Klasik, bangsa Maya meraih puncak kemajuannya baik dalam pembangunan, kehidupan perkotaan, pembuatan monumen, dan perkembangan seni dan intelektual.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Di Kairo

Kemajuan dan Kemunduran

Peradaban Maya telah berlangsung begitu lama, kemajuan dan kemunduran silih berganti mengisi kehidupan mereka.

Sistem politik terus berkembang, kekuasaan raja semakin besar bahkan setara dengan dewa. Ia bisa dengan sewenang-wenang memberi perintah kepada rakyatnya, misalnya memerintahkan untuk membangun piramid yang besar.

Para penguasa saling bersekongkol dan memperdaya agar mereka dapat lebih unggul daripada penguasa lainnya. Peperangan seringkali terjadi antara satu negara dengan negara lainnya yang mengakibatkan kehancuran dan kemunduran.

Terkadang sebuah kota yang besar ditinggalkan begitu saja oleh penduduknya yang pindah ke daerah lain. Hal itu terjadi mungkin dipicu oleh beberapa hal, termasuk peperangan, membludaknya jumlah penduduk yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, dan kekeringan.

Seperti kota Kaminaljuyu yang pernah menjadi kota besar di Lembah Guatemala ditinggalkan setelah dihuni selama hampir 2.000 tahun.  Kota Mayapan ditinggalkan oleh penduduknya sekitar tahun 1448, peristiwa tersebut terjadi setelah berkecamuknya perang, wabah penyakit, dan bencana alam.

Akhirnya sekitar abad ke-16, Spanyol menjajah wilayah Mesoamerika. Setelah berlangsungnya upaya penaklukan yang panjang, pada tahun 1697, Martin de Ursula menyerbu ibu kota suku Itza di Nojpeten, sehingga kota Maya terakhir yang merdeka itu pun jatuh ke tangan Spanyol.

Piramid El Castilo di Chichen Itza /sumber foto

Agama dan Kepercayaan

Tempat ibadah yang tadinya berupa bangunan sederhana yang terbuat dari jerami kemudian berubah menjadi kuil-kuli yang megah yang berdiri di atas pondasi tinggi berupa piramid-piramid. Para pemuka agama membuat ritual-ritaul keagaman menjadi tambah rumit dan dibuat-buat.

Para penguasa dengan keuasaanya yang makin membesar dan berusaha ingin mempertahankannya dengan segala cara sehingga menjadikan mereka tidakhnya pemimpin dunia tetapi juga menjadi pemimpin keagamaan bahkan menjadi manusia setengah dewa.

Pendekatan keagamaan telah berubah, banyak kemudian dewa-dewa baru, sehingga orang Maya percaya akan adanya alam gaib yang dihuni oleh berbagai dewa yang harus dipuaskan dengan persembahan dan ritual.

Juga mereka melakukan pengorbanan manusia yang didasari atas keyakinan bahwa ritual darah diperlukan untuk memuaskan para dewa.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Di Yerusalem

Mengesakan Tuhan

Apa yang bisa dipahami dari agama dan kepercayaan yang dianut bangsa Maya dimasa dahulu bersumber dari prasasti-prasasti yang dibangun kemudian setelah mereka meraih kemajuan-kemjuan pada abad-abad kemudian.

Tidak heran jika kemudian yang didapat adalah pemahaman bahwa mereka menyembah banyak dewa dan tidak segan untuk membuat persembahan manusia.

Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa kepercayaan itu ada dari sejak awal dalam kehidupan mereka. Sudah biasa terjadi dalam suatu bangsa atau kaum, keyakinan terhadap keesaan Tuhan atau monteisme kemudian dengan cepat berubah menjadi politeisme atau menjadi ateisme.

Contohnya apa yang terjadi pada bangsa Israel, begitu cepat berpaling dari Tuhan, sebentar saja ditinggalkan sementara waktu oleh nabi Musa as untuk berdoa kepada Allah, mereka mencoba untuk menyembah anak lembu.

Hal yang sama juga terjadi di lembah Makkah, Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh nabi Ibrahim as yang diperuntukkan bagi penyembahan kepada Allah kemudian menjadi pemujaan bagi bermacam-macam berhala.

Hal serupa itu juga nampaknya dialami oleh bangsa Maya, terjadi pergeseran dan perubahan-perubahan dalam keyakinan dan kepercayaan-kepercayaan mereka.

Sekalinya keyakinan akan keesaan Tuhan itu hilang pada suatu bangsa atau suatu kaum maka akan sulit untuk dikembalikan lagi bahkan akan terus tenggelam dalam pemahaman yang gelap.

Hanya ada satu cara yang biasanya terjadi untuk memulihkan kembali atau menyadarkan kembali umat manusia kepada ke-Esaan Tuhan, yaitu Tuhan sendiri yang bertindak dengan mendatangkan seorang utusanNya.

Suku Maya/PENA MEDIA


0 Komentar

Tinggalkan Balasan