Mengapa umat Islam ketika shalat harus menghadap Kabah? Dan apa hikmah yang terkandung di dalamnya? Berikut ini penjelasannya.

Perintah Menghadap Kabah

Menghadap Kiblat dimana Kabah berada saat melaksanakan shalat merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Hal ini diperintahkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya:  

“Dan dari mana pun engkau keluar, hadapkanlah perhatianmu ke arah Masjidilharam, dan sesungguhnya ini adalah kebenaran dari Tuhan-mu. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2:149)

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman:

“Dan dari mana pun engkau keluar, hadapkankanlah perhatian engkau ke arah Masjidil haram; dan dimana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah ke arahnya, supaya orang-orang jangan mempunyai alasan terhadap kamu, kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka, maka janganlah kamu takut  kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, dan supaya aku menyempurnakan nikmat-Ku  atasmu; dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah, 2: 150)

Dan menghadap Kiblat dalam beribadah (baca: shalat) juga merupakan salah satu ciri dari seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa shalat seperti kita, menghadap ke kiblat seperti kita, dan memakan binatang sembelihan seperti kita, maka dialah orang muslim yang berada di bawah perlindungan Allah dan RasulNya, Karena itu janganlah anda menghianati Allah perihal perlindunganNya itu.” (HR. Bukhari).

Baca juga: Panduan Cara Mengetahui Waktu shalat

Sejarah Singkat Kabah

Ka’bah merupakan bangunan persegi empat sebagia pusat peribadatan umat manusia yang paling tua. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Rumah pertama yang didirikan untuk manusia, ialah yang ada di Bakkah yang penuh dengan berkat dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran :96).

Bakkah itu nama yang diberikan kepada lembah Mekkah. Mekkah merupakan pusat yang sesungguhnya dan pusat asli agama Tuhan; pusat-pusat yang dipilih oleh kaum Yahudi dan Kristen itu latar asalnya jauh lebih muda.

Kemudian datanglah Nabi Ibrahim as dan putera beliau Nabi Ismail as lembah Makkah untuk kemudian kembali membangun Ka’bah sebagai tempat orang untuk mengingat Allah Ta’ala.

”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi-pondasi Rumah itu dan berdoa, “Ya Tuhan kami; terimalah ini dari kami; sesungguhnya Engkau-lah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 127)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Tuhan kami, supaya mereka dapat mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan rezekikanlah mereka berupa buah-buahan, supaya mereka selalu  bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Bangunan Kabah beberapa kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, seperti Bait (Rumah), Bait ul Haram (Rumah Suci), Baitullah (Rumah Allah), Bait al-Atiq (Rumah Tua) (QS. Al Hajj: 29), Awal ul Bait (Rumah pertama) dan Bait al-Ma’mur. (Qur’an At-Tur: 4)

Pada masa Rasulullah saw, Kabah sebagai tempat beribadah kepada Allah Ta’ala telah berubah menjadi tempat pemujaan berhala.

Beliau saw kemudian menghancurkan seluruh berhala yang memenuhi Ka’bah dan mengembalikan kembali fungkisnya sebagai tempat beribadah kepada Allah Ta’ala.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Tayamum

Latar Belakang Shalat Menghadap Ke Kabah

Sesuai dengan perintah Allah Ta’ala, Rasulullah saw dan umat Islam ketika melasanakan shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) di Yerusalem.

Kemudian, setelah peristiwa hijrah ke Madinah, barulah Rasulullah saw dan para Sahabat shalat menghadap ke arah Baitullah di Makkah.

Tepatnya peristiwa itu terjadi pada saat Rasulullah saw sedang melaksanakan shalat zuhur di Masjid Bani Salamah, Madinah. Pada hari Senini bulan Rajab tahun ke-2 Hijriyah.

Ketika itu Rasulullah saw tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Saat sedang shalat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144:

“Sesungguhnya, Kami sering melihat wajah engkau menengadah ke langit; maka niscaya akan Kami palingkan engkau ke arah Kiblat yang engkau menyukainya. Maka palingkanlah wajah engkau ke arah Masjidilharam; dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya…”

Sejak saat itu shalat pun kemudian menghadap ke arah Ka’bah di Makkah.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Puasa Syawal

Dari Sejak Awal Rasulullah Ingin Menghadap Ke kabah

Ketika berada di Mekkah Rasulullah saw, atas perintah Ilahi, menghadapkan wajah beliau di waktu shalat ke arah Baitulmukadas di Yerusalem.

Oleh karena dalam hati sanubari beliau saw menginginkan ke Ka’bah sebagai kiblat dan beliau pun mempunyai semacam firasat bahwa pada akhirnya keingainan beliau akan terkabul, maka beliau senentiasa mengambiil tempat shalat yang sekaligus dapat menghadap ke Baitul Maqdis dan ke Kabah.

Tetapi, ketika beliau saw di Medinah, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat letak kota, beliau hanya dapat menghadap ke Baitul Maqdis saja.

Keadaan itu menjadikan keinginan hati beliau yang mendalam itu menjadi lebih mendalam lagi, beliau senantiasa menaati perintah Allah Ta’ala, beliau tidak mendoa bagi perubahan itu tetapi beliau dengan penuh harapan dan keinginan menengadah ke langit menanti perintah mengenai perubahan itu. Dan akhirnya keinginan beliau saw terwujud.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Mandi Wajib

Menghadap Kiblat Saat Shalat Bukan Tujuan Utama

Perpindahan arah Kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah menjadi celaan orang-orang Yahdui. Untuk menjawab celaan mereka Allah Ta’ala berifirman:

Dan, kepunyaan Allah timur dan barat, jadi kemana pun kamu menghadap, di sanalah perhatian Allah. Sesungguhnya, Allah  Maha Luas (rahmat-Nya lagi Maha Mengatahui. (QS. Al-Baqarah, 2: 115)

Orang-orang bodoh di antara manusia akan berkata “Apakah yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat mereka, yang mereka telah berada di atasnya?” Katakanlah, ”Timur dan Barat kepunyaan Allah; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah, 2:142)

Pemilihan arah tertentu untuk beribadah tidak begitu penting. Apa yang penting ialah jiwa ketaatan kepada Tuhan dan semangat kesatuan di antara orang-orang yang beriman.

Timur dan barat adalah kepunyaan Allah, maka pilihan Timur atau Barat itu tak begitu penting dan karena tujuan hakiki adalah hanya Tuhan.

Pada saat kondisi tertentu atau dalam keadaan darurat, seperti dalam perjalanan di atas kendaraan, sesuai dengan kondisi, shalat tidak mesti harus menghadap ke arah Ka’bah.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Arah Kiblat Agama-agama Lain

Tidak hanya dalam Islam, agama-agama lain juga memiliki “Kiblat” nya masing-masing saat mereka beribadah, seperti bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), saat mereka beribadah mereka menghadap ke Baitul Maqdis.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan, bagi tiap orang ada suatu tujuan yang kepadanya ia menghadapkan perhatiannya; maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana pun kamu berada, Allah swt. akan mengumpulkan kamu semua. Sesungguhnya Allah swt. berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 148)

Dalam Alkitab disebutkan:

Tetapi aku, berkat kasih setia-mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-mu, sujud menyembah ke arah bait-mu yang kudus dengan takut akan engkau. (Mazmur 5:8 )

Lalu dibawanya aku melalui pintu gerbang utara ke depan bait suci; aku melihat, sungguh, rumah tuhan penuh kemuliaan tuhan, maka aku sujud menyembah. (Yehezkiel 44: 4)

Demi didengar daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. (Daniel 6:10)

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat

Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini beberapa himkah yang bisa dipetik mengapa harus menghadap Kabah saat shalat:

  1. Timur dan barat adalah kepunyaan Allah, maka pilihan Timur atau Barat itu tak begitu penting dan karena tujuan hakiki adalah hanya Tuhan. Maka nenetapkan arah tertentu itu terutama sekali dimaksudkan untuk menciptakan rasa persatuan.
  2. Makkah itulah tempat di mana mula-mula diturunkan agama Islam. Jadi seolah-olah kita dipanggil oleh Allah Ta’ala dari sana. Maka pelru kita menghadap ke sana pula
  3. Islam perlu mengadakan persatuan diantara orang-orang seluruhnya. Oleh karena itu ditetapkan satu Kiblat bagi mereka
  4. Di Makkah terjadi beberapa peristiwa penting mengenai Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as dan Siti Hajar yang menimbulkan keyakinan dan keimanan di dalam hati orang-orang yang mengetahui peristiwa tersebut. Maka supaya orang-orang Islam mempunyai keyakinan dan keimanan yang teguh dan luar biasa, maka Islam memerintahkan mereka menghadap Kabah di Makkah itu. Jangan pula ada sangkaan bahwa orang-orang Muslim menyembah kepada Baitullah. Orang Islam itu hanya wajib menyembah kepada Allah Ta’ala.
  5. Orang-orang Arab sangat besar keterikatan mereka kepada Kabah. Maka merupakan percobaan berat bagi mereka ketika pada zaman permulaan Islam diperintahkan meninggalkan Ka’bah dan digantikannya dengan Baitul Maqdis yang merupakan kiblat Ahlikitab.
  6. Dan kemudian di Medinah perubahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Kabah merupakan ujian berat bagi kaum Yahudi dan Kristen. Jadi, perubahan itu ternyata merupakan ujian bagi pada Ahlikitab dan kaum Muslimin; begitu pula bagi kaum musyrikin Mekkah.
  7. Menghadap kiblat, membantu proses untuk mendapatkan kekhusyukan dalam ibadah dan tunduk kepada Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan singkat, tentang mengapa umat Islam ketika shalat harus menghadap Kabah? Semoga bermanfaat.

Baca juga: 7 Tempat Bersejarah Yang Istimewa Di Makkah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan