“Perlakukan orang-orang Kristen Koptik dengan sangat hormat karena kita terikat pada mereka dalam dua cara, melalui darah dan melalui janji. Kami terikat dengan mereka oleh darah karena ibu dari Nabi Ismail as (Siti Hajar) dan ibu dari putraku Ibrahim (Mariya Qibtiyah) keduanya Koptik. ” Rasulullah saw

Setelah perjanjian Hudaybiyya, Nabi sallahu a’laihi wassallam (saw) menulis surat kepada raja dan gubernur dari berbagai negara untuk menyampaikan pesan Islam. Hatib bin Abi Balta radiaullahu a’nhu (ra) adalah utusan yang ditunjuk untuk membawa surat itu ke Muqaukis, gubernur di Mesir.

Muqaukis memperlakukan surat itu dengan penuh hormat. Sudah menjadi kebiasaan di kalangan orang-orang Mesir bahwa ketika mereka ingin memperkuat ikatan mereka, mereka akan mengusulkan pernikahan dengan gadis-gadis keturunan bangsawan. Menanggapi surat itu, ia mengirim dua gadis sebagai hadiah kepada Nabi saw: Mariya dan saudara perempuannya, Shirin.

Selama perjalanan mereka dari Mesir ke Madinah, Hatib ra menjelaskan kepada keduanya tentang ajaran Islam, yang sangat menginspirasi mereka. Karena sifat salehah mereka, kedua saudari ini memeluk Islam.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Anak yang Mulia

Rasulullah saw kemudian menikahi Mariya Qibtiyah radiallahu a’nha (rah), dan Shirin saudari perempuannya menikah dengan penyair terkenal, Hassan bin Tshabit ra.

Pada tahun 8 Hijriah, Mariya rah diberkati dengan seorang putra, yang diberi nama oleh Rasulullah saw, Ibrahim. Beliau saw sangat gembira mendengar kabar suka ini. Sayangnya, kesehatan anak itu memburuk. Ketika Rasulullah saw diberitahu tentang kesehatannya yang buruk, ia tiba untuk mengucapkan selamat tinggal kepada putranya dan ketika Ibrahim menghembuskan nafas terakhir, Nabi saw bersabda:

“Air mata mengalir dan hati sedih, tetapi kami tidak mengatakan apa pun kecuali apa yang dikehendaki Tuhan kami (innalillahi). Sungguh, wahai Ibrahim, kami sedih dengan kepergianmu.” (Sahih al-Bukhari, Hadits 1303)

Beliau saw juga menghibur Mariya rah katanya:

Ada pengasuh yang ditunjuk untuknya di Surga Firdaus.” (Sahih al-Bukhari, Hadits 3255)

Saat kematian putranya, Mariya rah adalah perwujudan dari kesabaran dan ketabahan. Kebetulan saat ia meninggal, gerhana matahari terjadi. Orang-orang mulai mengaitkan kejadian itu dengan kematian Ibrahim, putra Rasulullah saw. Mendengar hal itu Rasulullah saw tidak menyukainya dan segera menolak takhayul ini dengan kata-kata berikut:

“Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian seseorang atau karena seseorang dilahirkan. Ketika kamu melihatnya, berdoa dan bersujudlah di hadapan Allah.” (Sahih al-Bukhari, Hadis 1043)

Rasulullah saw sering berkata tentang putera beliau, Ibrahim bahwa jika dia hidup, dia akan menjadi nabi yang saleh.

Baca juga: Suami, Anak dan Adik Hindun binti Amru Syahid di Uhud

Budak atau Istri Sah?

Pertanyaan yang sering diajukan adalah, apakah Mariya Qibtiyah rah adalah seorang budak perempuan atau seorang istri Nabi saw? Di atas telah disebutkan bahwa sudah menjadi tradisi lama di Mesir bahwa setiap raja atau gubernur ingin memperkuat hubungan mereka dengan tamu terhormat mereka, mereka akan menghadihakan wanita dari keluarga mereka sendiri atau wanita bangsawan lain untuk dinikahi. Perkawinan Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar rah adalah contoh lain dari hal tersebut ketika kepala suku menawarkan Siti Hajar rah untuk menikah dengan Nabi Ibraham as.

Kasus Mariya rah tidak berbeda. Topik tersebut secara singkat dijelaskan oleh Hazrat Mirza Bashir Ahmad dalam bukunya, The Life & Character of the Seal of Prophets.

Beliau menulis:

“Pertanyaan apakah Hazrat Mariya rah dijadikan istri atau sebagai budak oleh Rasulullah saw adalah masalah ketidaksepakatan, rincian yang tidak perlu kita selidiki di sini.

Bagaimanapun, ada dua poin yang pasti. Pertama, bahwa Rasulullah saw menginstruksikan Hazrat Mariya rah untuk mengamati Pardah (penutup aurat) sejak awal, dan sehubungan dengan perintah ini, ditetapkan bahwa ini hanya diamati oleh wanita dan istri merdeka. Dengan demikian, ada sebuah narasi bahwa setelah Ghazwah Khaibar, ketika Rasulullah saw menikahi Safiyyah, putri seorang Kepala Suku Yahudi, para sahabat berselisih mengenai apakah dia adalah seorang istri Nabi saw atau hanya seorang budak. Namun, ketika Rasulullah saw menyarankannya untuk memperhatikan Pardah, para sahabat mengerti bahwa dia adalah seorang istri, bukan seorang gadis budak.

Poin kedua yang perlu dicatat adalah bahwa sejarah membuktikan bahwa Prophetsa Suci tidak pernah menyimpan seorang budak untuk dirinya sendiri, melainkan ia akan melepaskan budak apa pun yang menjadi miliknya, baik perempuan maupun laki-laki. Dalam hal ini juga, tidak terbayangkan dan tidak dapat diterima bahwa Nabi Suci akan mempertahankan Hazrat Mariya ra, Koptik sebagai budak-perempuan. ” (The Life & Character of the Seal of Prophets, Vol. 3, hlm. 210)

Mariya Qibtiyah rah wafat pada bulan Muharram 16 H pada masa Khalifah Umar ra. Beliau dimakamkan di Jannatul Baqi (Pekuburan Ahli Syurga).

Mengenai perlakuan terhadap negara-negara Kristen Koptik, Rasulullah saw  dilaporkan telah bersabda dalam salah satu haditsnya:

“Perlakukan orang-orang Kristen Koptik dengan sangat hormat karena kita terikat pada mereka dalam dua cara, melalui darah dan melalui janji. Kita terikat dengan mereka oleh darah karena ibunda dari Nabi Ismail as (Siti Hajar) dan ibunda dari putraku Ibrahim (Mariya Qibtiyah rah) keduanya Koptik.”

Sumber: https://www.alhakam.org/hazrat-mariya-qibtiya/

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah


2 Komentar

Ahli Shuffah: Dicintai Rasulullah, Meraih Sukses dan Kemuliaan Ruhani - · 4 Maret 2020 pada 9:52 am

[…] Baca juga: Maria Qibtiyah, Istri Rasulullah dari Kristen Koptik […]

Ibnu Khaldun: Muslim Terbaik di Masanya - · 1 Maret 2020 pada 6:26 pm

[…] Baca Juga: Mariya Qibtiyah: Istri Rasulullah dari Kristen Koptik […]

Tinggalkan Balasan