Kisah Nabi Musa, Penyelamat Kaum Bani Israel

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

kisah-nabi-musa

Kisah Nabi Musa, Penyelamat Kaum Bani Israel merupakan perjalanan hidup Nabi Musa dari sejak lahir yang penuh tantangan hingga menjumpai Firaun yang zalim untuk menyampaikan dakwahnya.

Apa saja peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa dalam kehidupannya? berikut ini kisa perjalanannya.  

Latar Belakang

Kaum Bani Israel hidup dalam perbudakan di Mesir. Firaun telah menundukkan mereka pada kondisi yang sangat keras dan sulit. Untuk melanggengkan kendali mereka atas orang Israel, salah satu tindakan yang diambil terhadap mereka adalah dengan membunuh anak laki-laki Israel. Kita dapati dalam Al Quran:

“Sesungguhnya Firaun berlaku sombong di atas bumi, dan ia menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok; ia berusaha melemahkan sekelompok dari mereka, dengan membunuh anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sesungguhnya ia termasuk orang-orang berbuat kerusuhan.” (QS. Al Qashash, 28: 5)

Begitulah pemandangan Mesir ketika Musa lahir di sana di rumah Imran selama pemerintahan lalim Firaun Ramses II.

Allahswt memutuskan untuk menyelamatkan kaum Bani Israel yang lemah dan membawa perubahan total dalam posisi mereka. Mereka akan dibebaskan dari perbudakan Firaun.

Jalan Tuhan itu misterius dan manusia tidak bisa memahaminya. Kasus kebebasan orang Israel adalah kasus yang luar biasa. Ini menegaskan tanpa keraguan bahwa keputusan Allahswt selalu terjadi dan tidak ada kekuatan yang dapat menjadi penghalang di jalan pemenuhannya.

Mari kita lihat bagaimana peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam pembebasan kaum Bani Israel.

Kelahiran Musa

Al Quran mengatakan bahwa pada waktu kelahiran Musa, Allahswt menurunkan ilhamnya kepada ibunda Musa:

“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa, ‘Supaya dia menyusuinya, maka apabila engkau takut tentang dia, maka letakkanlah dia di sungai dan janganlah engkau takut dan jangan pula engkau bersedih; sesungguhnya Kami mengembalikannya kepada engkau, dan Kami jadikan dia diantara rasul-rasul.” (QS. Al Qashash, 28: 8)

Ibunda Musa adalah seorang yang beriman yang sangat tulus dan memiliki hubungan yang hidup dengan Allahswt. Setelah kelahiran Musa dia menyusuinya seperti yang diperintahkan Allahswt kepadanya dan ketika dia merasa sebaliknya maka tanpa ragu-ragu dia meletakkan bayi Musa di dalam bahtera (28: 8, 20: 40) dan mengapungkannya di sungai dan mengarahkan putrinya untuk mengikutinya.

Putrinya atau kaka dari Musa mengikuti hanyutnya tabut atau keranjang peti berisi bayi Musa itu dari kejauhan. Ternyata tanpa diduga dan direncanakan sebelumnya, tabut berisi Musa itu diambil oleh salah seorang anggota keluarga Firaun yang kebetulan sedang mandi di sungai.

Tabut itu dibawa ke istana Firaun, di mana istrinya melihat bayi Israel yang cantik. Dia tertarik pada bayi itu dan memohon agar suaminya menerima bayi itu menjadi bagian keluarga merek, katanya:

“Dan berkata seorang perempuan dari keluarga Firaun, ‘Anak ini akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagi engkau. Jangan engkau membunuhnya. Mudah-mudahan ia akan bermanfaat bagi kita atau kita akan menjadikannya anak,’ dan mereka tidak menyadari.” (QS. Al Qashash, 28: 10)

Kemudian dia mengirim perawat untuk bayinya. Bayi itu tidak menerima satupun dari mereka yang datang. Sementara itu saudara perempuan Musa berhasil mencapai sana dan menawarkan solusi untuk masalah tersebut dengan mengatakan:

“Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu keluarga yang dapat memeliharanya bagi kamu dan akan menjadi orang-orang yang dapat berlaku baik terhadapnya?.“ (QS. Al Qashash, 28: 13)

Mereka setuju dan Firaun memanggil ibunda Musa sendiri untuk merawat dan mengasuh anak itu. Ia pun segera menyetujui permintaan itu dan bayi itu diberikan kepadanya untuk diasuh dan dididik dengan biaya Firaun.

Ibu Musa sangat senang atas kembalinya anaknya sesuai dengan janji Allah sehingga dia hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. Keyakinannya kepada Allah menjadi lebih kuat. Dia yakin sepenuhnya bahwa anak ini akan menjadi nabi Allah pada waktunya seperti yang telah diberitahukan Allah kepadanya sebelumnya.

Jadi, ia merawat dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Musa memiliki ibu yang begitu suci untuk perawatan dan bimbingan yang penuh kebajikan dan seorang raja yang perkasa sebagai pelindung kejantanannya.

Beliau mendapat pengaruh yang sehat dan bermanfaat dari ibunya, mengesampingkan cara-cara jahat dan perilaku buruk dari Firaun. Beliau mengembangkan kualitas kejantanan dan keberanian dari istana di satu sisi, dan belajar sopan santun dan pengendalian diri atas mereka dari ibundanya yang saleh di sisi lain.

Ketika Musa tumbuh menjadi dewasa, beliau dapat melihat dan memahami kehidupan sehari-hari orang Mesir. Beliau bisa melihat dengan sangat jelas perlakuan kejam yang dilakukan terhadap orang Israel.

Seluruh atmosfir Mesir telah berkembang total melawan orang Israel dan bahkan orang Mesir biasa melakukan kekejaman terhadap mereka. Musa sangat membenci penindasan dan beliau sering membantu orang-orang yang lemah.

Baca juga: Nabi-nabi Allah Yang Diutus Kepada Setiap Kaum

Membela Orang Lemah

Sebuah peristiwa terjadi yang menggambarkan tentang kepedulian Musa atas nasib buruk yang dialami kaumnya, Bani Israel. Al Quran mengisahkan:

“Dan pada suatu hari  ia masuk ke kota, ketika penghuni kota itu sedang lengah; dan ia dapati di dalamnya dua orang sedang berkelahi, seorang dari golongannya sendiri dan seorang lagi dari golongannya itu meminta pertolongan kepadanya untuk melawan orang dari musuhnya. Maka Musa meninju dia maka matilah dia, Musa berkata, “Ini adalah perbuatan syaitan; sesungguhnya ia syaitan, musuh menyesatkan yang nyata.” (QS. Al Qashash, 28: 16)

Oleh karena wataknya yang sangat mulia dan telah diilhami dengan cita-cita yang amat tinggi. Nabi Musaas senantiasa siap menolong orang-orang yang lemah dan yang teraniaya; maka ketika seorang Israel meminta tolong melawan seorang Mesir yang angkuh lagi kejam, beliau segera datang menolongnya.

Nabi Musaas tidak menggunakan senjata untuk membunuh dan hanya menangkis orang Mesir itu atau menghantamnya dengan tinju, menunjukkan, bahwa kematian orang itu tidak disengaja. Maka jelaslah, tidak ada niat beliau untuk membunuhnya.

Konon menurut ceritera, orang Mesir itu telah memaksa seorang wanita Israel berzina dengan dia. Maka rupa-rupanya hal itu menyebabkan timbulnya pertengkaran, seperti diisyaratkan dalam ayat di atas, dan akhirnya Nabi Musa turun tangan, sehingga orang Mesir itu mati.

Musa menginsyafi, bahwa dalam usaha membela seorang orang Israil yang malang itu, beliau tanpa disengaja telah membunuh orang Mesir itu, dan karananya telah menempatkan diri dalam bahaya besar dan memikul beban yang rupa-rupanya tidak akan dapat beliau pikul. Dengan demikian beliau berdoa ke hadirat Ilahi untuk melindunginya dari akibat buruk, yang boleh jadi timbul dari pembunuhan secara tidak disengaja atas seorang warga bangsa yang sedang berkuasa.

Musa tidak berniat membunuh orang Mesir tetapi satu pukulannya menyebabkan kematian orang Mesir itu. Atas hal ini Musa menjadi sangat sedih dan memohon pengampunan Allah dan membuat janji yang sungguh-sungguh, “Aku tidak akan pernah menjadi penolong orang yang bersalah.”

Keesokan paginya dia keluar dari rumahnya untuk mengawasi situasi. Tiba-tiba dia mendengar panggilan bantuan dari orang Israel yang sama, yang lagi-lagi terlibat dalam perselisihan dengan orang Mesir lainnya.

Nabi Musaas agaknya menyesali orang Israil yang memanggil beliau untuk membelanya, dengan mengatakan kepadanya, “Engkau berlaku bodoh dan tidak mampu menyadari akan akibat-akibat tindakanmu yang sudah melibatkan dirimu dalam huru-hara.”

Musa berkata kepadanya, “Kamu pasti orang yang sesat.” Dan ketika Musa memutuskan untuk menangkap orang itu, yang merupakan musuh keduanya, orang Israel mengira bahwa Musa akan membunuhnya, berteriak dengan keras, “O Musa apakah Anda berniat untuk membunuh saya seperti Anda telah membunuh seseorang kemarin?” (QS. Al Qashash, 28: 20)

Teriakan ini menyingkapkan kejadian yang terjadi sehari sebelumnya. Orang Mesir sudah mencari pembunuh orang Mesir itu. Jadi kondisi Musa menjadi sangat rentan. Karena itu, dia mengurung dirinya di rumahnya.

Kemudian seorang memberi tahun Musa “Hai Musa, sebenarnya pemuka-pemuka sedang bermusyawarah tentang diri engkau untuk membunuh engkau. Maka keluarlah engkau.”

Musa Berangkat ke Midian

Nabi Musaas diam-diam pergi dari rumah ke suatu arah sambil berdoa dan bergerak dengan waspada. Setelah menempuh jarak tertentu dia memutuskan untuk pergi ke Midian. Setelah beberapa hari perjalanan, Nabi Musa tiba di sekitar Midian.

“Dan tatkala ia sampai ke sumber air  Midian, ia dapati di sana sekelompok dari manusia sedang memberi minum ternaknya. Dan ia dapati pula selain mereka itu dua wanita yang menahan ternaknya. Ia berkata, ‘Apakah urusan kamu berdua?’ Keduanya berkata, ‘Kami tidak dapat memberi minum ternak kami sebelum gembala-gembala itu pergi , sedang ayah kami sangat tua.’” (QS. Al Qashash, 28: 24)

Nabi Musaas memberi minum ternak mereka dan kembali ke tempat teduh pohon sambil berdoa kepada Allahswt untuk bantuan dan bimbingan.

Ketika kedua wanita itu kembali dan menceritakan kisah itu kepada ayah mereka, Nabi Syuaibas, ia kemudian mengirim salah satu dari mereka kembali kepada Nabi Musaas. Ia datang dan dengan malu-malu mendekati Musa katanya: “Sesungguhnya ayahku memanggil engkau, supaya ia membalas kepada engkau jasa, yang engkau telah memberi minum bagi ternak kami.” (QS. Al Qashash, 28: 26)

Tampaknya rumah tangga itu sedang mencari pelayan yang baik. Jadi putrinya menyarankan untuk mempekerjakan Musa karena beliau telah membuktikan dirinya sebagai orang yang kuat dan jujur.

Nabi Syuaibas yakin sepenuhnya tentang kemuliaan Nabi Musaas; oleh karena itu ia, menawarinya salah satu putrinya untuk dinikahi. Pada waktunya, janji pernikahan dibuat.

Nabi Syuaibas adalah orang suci dan mungkin tahu melalui wahyu bahwa menantu laki-lakinya akan menjadi nabi Allah.

Jadi ia ingin Nabi Musaas tetap dalam keluargannya untuk waktu yang lama dan mendapatkan keuntungan darinya. Ia menjadikan delapan hingga sepuluh tahun pelayanan sebagai syarat penting untuk pernikahan. Nabi Musaas menerima keadaan itu dan tinggal bersama Nabi Syuaib sekitar delapan sampai sepuluh tahun.

Baca juga: Nabi Nuh Dan Bahteranya

Diutus Allah

Setelah menyelesaikan masa bakti, Nabi Musaas berangkat dari Midian bersama keluarganya. Di tengah perjalanan beliauas melihat manifestasi Allahswt. Beliau memberi tahu keluarganya untuk menunggunya saat dia naik ke gunung, di mana beliau telah melihat cahaya dan mengharapkan komunikasi yang hebat dari Allah.

Setibanya di tempat itu, beliau dipanggil dengan suara dari sisi kanan lembah, di tempat yang diberkati, dari pohon:

“Maka tatkala ia datang kepadanya, ia diseru dari pinggir lembah sebelah kanan, di tempat yang diberkati, di dekat pohon itu, ‘Hai Musa! Sesungguhnya Aku, Aku-lah Allah, Tuhan semesta alam; Dan lemparkanlah tongkat engkau.’ Maka ketika ia melihatnya bergerak seolah-olah itu ular kecil, berbaliklah ia lari kebelakang dan tidak menoleh lagi. Dikatakan, ‘Hai Musa, maju lah dan jangan takut; sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman, Masukkan tangan engkau ke leher bajumu; ia akan keluar putih tanpa cacat, dan dekapkan tanganmu pada dadamu kuat-kuat karena takut. Maka inilah dua bukti dari Tuhan engkau kepada Firaun dan pembesar-pembesarnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka.’” (QS. Al Qashash, 28:  31-33)

Nabi Musaas diperintahkan untuk kembali Mesir dan kaumnya untuk membimbing dan memperbeaiki mereka. beliau telah tinggal di antara mereka dan menyadari kesombongan, kekejaman dan perilaku tidak manusiawi mereka. Tanggung jawab untuk membimbing mereka tampaknya sangat berat dan tugasnya sangat sulit. Tidak diragukan lagi tanggung jawab kenabian memang sangat berat, dan Nabi Musaas, tampaknya, merasa bahwa beliau tidak sebanding dengan tugas besar yang dipercayakan kepadanya. Itu sebabnya dia berkata,

“Dan dadaku menjadi sempit dan lidahku tidak lancar; maka utuslah Harun bersamaku. (QS. Asy Syuaraa, 26: 14)

Allahswt mengabulkan permintaan Nabi Musaas, firmannya: “Kami akan menguatkan lengan engkau dengan saudara engkau, dan Kami akan memberi kamu berdua kekuasaan, sehingga mereka tidak akan dapat sampai kepada kamu berdua. Dengan Tanda-tanda Kami kamu berdua dan orang- orang yang mengikuti kamu berdua akan mendapat kemenangan.” (QS. Al Qashash, 28: 36).

“Maka datangilah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah. Sesungguhnya kami rasul Tuhan semesta alam. supaya kirimlah beserta kami Bani Israil.” (QS. Asy Syuaraa, 26: 17-18)

Nama Firaun pada masa itu adalah Ramses II atau ada juga yang berpendapat Merneptah, putra Ramses II. Namun, itu tidak membuat banyak perbedaan, karena keduanyasama  lalim dan paling kejam terhadap orang Israel.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi

Nabi Musa di Istana Firaun

Nabi Musaas dan Nabi Harunas, dengan pesan yang kuat dan jaminan penuh kemenangan dari Allahswt, mencapai Kairo. Pada kedatangan pertama mereka menghubungi orang Israel dan memberi mereka kabar gembira untuk mencapai kebebasan dari perbudakan Firaun dan membujuk mereka untuk mempersiapkan keberangkatan yang akan datang.

Kemudian mereka berdua pergi menemui Firaun. Nbai Musaas menyampaikan kepadanya pesan Allahswt dengan cara yang sangat sederhana dan sopan mengatakan:

“Wahai Firaun, sesungguhnya aku seorang rasul dari Tuhan semesta alam; Sebenarnya aku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak. Sesungguhnya, aku datang kepadamu dengan Tanda-kebenaran yang nyata dari Tuhan-mu; maka, biarkanlah Bani Israil pergi  bersamaku.” (QS. Al Araf, 7: 105-106)

Kemudian terjadi percakapan antara Nabi Musaas dengan Firaun. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran Surah Tha Ha, 20: 50-57.

Ia, Firaun, berkata, “Maka siapakah Tuhan kamu berdua, ya Musa? “Berkata Musa, “Tuhan kami Yang memberikan segala sesuatu bentuk yang serasi dan kemudian Dia memberi petunjuk.”

Ia, Firaun, berkata, “bagaimanakah nasib generasi-generasi terdahulu?“ Ia, Musa, berkata, “Ilmu mengenai  itu di sisi Tuhan-ku dalam sebuah Kitab. Tuhan-ku tidak sesat dan tidak lupa; Dialah Yang telah menjadikan bagi kamu bumi sebagai hamparan dan telah mengadakan bagi kamu di dalamnya banyak jalan. Dan Dia yang menurunkan air dari langit. Maka dengan itu Kami jadikan berpasang-pasangan dari bermacam-macam tumbuh-tumbuhan. Kamu makanlah dan gembalakanlah ternakmu. Sesungguhnya dalam hal demikian ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi  ini Kami telah menciptakanmu dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu dan dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu untuk kedua kalinya. Dan, sesungguhnya, telah Kami perlihatkan kepadanya, Tanda-tanda Kami semuanya; tetapi ia mendustakan dan menolak.

Kisah Nabi Musa selanjutnya silahkan baca Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as dan Tongkatnya dan Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan