Kisah Nabi Isa Terlahir Tanpa Ayah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

nabi-isa

Nabi Isa adalah seorang nabi yang memilik banyak keistimewaan, beliau merupakan nabi terakhir yang diturunkan di kalangan Bani Israil, beliau juga terlahir tanpa perantaraan seorang ayah, apa saja hikmah dan rahasia dibalik peristiwa itu? Berikut ini penjelasannya.

Hamilnya Siti Maryam

Berawal dari Hanna yang tengah mengandung, karena hasratnya menginginkan anak laki-laki, ia bernazar, akan mewakafkan anaknya kepada rumah peribadatan. Telah menjadi kebiasaan kaum Bani Israel bahwa orang-orang yang dibaktikan untuk mengabdi kepada rumah peribadatan selamanya tidak kawin.

Kemudian ternyata anak yang dilahirkannya itu perempuan, Hanna pun menjadi bingung, katanya: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya yang kulahirkan itu seorang perempuan.”     (QS. Ali Imran, 3: 37)

Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkan Hanna. Ia beri nama anak perempuannya itu Maryam.  Dalam doanya ia memohon: “Aku memohonkan dia dan keturunannya dalam perlindungan Engkau dari syaitan yang terkutuk.”

Hanna berniat mewakafkan anaknya untuk berbakti kepada Allah, ia tentu mengetahui Maryam tidak akan menikah seumur hidup. Tapi mengapa ia memanjatkan doa untuk keturunan sang anak itu? Ternyat Allahswt telah mengabarkan kepadanya bahwa Maryam akan tumbuh dewasa dan akan mendapat seorang anak.

Ketika waktunya telah tiba, Maryam pun diserahkan pemeliharaanya kepada Nabi Zakaria alaihissalam, ayah dari Nabi Yahyaas. Diceritakan, setiap kali Nabi Zakaria datang menemuinya, dilihatnya selalu tersedia makanan, Nabi Zakariyaas pun bertanya: “Hai Maryam, dari manakah engkau dapat ini?” Jawabnya, “Itu dari sisi Allah.” (QS Ali Imran, 3: 38)

Hadiah-hadiah itu sebenarnya dibawa oleh orang-orang yang berkunjung ke tempat itu untuk beribadah, tiada hal luar biasa dalam jawaban Maryam bahwa hadiah-hadiah itu dari Allah, tiap-tiap barang baik yang datang kepada manusia sebenarnya berasal dari Allah.

Allahswt memang telah memilih Maryam, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih engkau dan mensucikan engkau … “ (QS Ali Imran, 3: 43)

Seorang wanita salehah yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Allah. Kemudian Allahswt memberikan kabar suka, Maryam akan mengandung dan melahirkan seorang putra, padahal ia seorang perawan.

Kabar akan mendapat anak itu menggembirakan sekaligus membingungkan Maryam, bukan saja belum bersuami, tetapi telah direncanakan untuk tetap tak bersuami seumur hidupnya, “Ya Tuhan ku, bagaimanakah aku akan mempunyai anak laki-laki padahal belum pernah aku disentuh seorang laki-laki?”4. (QS Ali Imran, 3: 48)

Jika terpaksa harus kawin dan mendapat anak secara wajar, tidak ada alasan baginya untuk terperanjat, ketika kelahiran seorang anak dikabarkan kepadanya oleh malaikat. Maryam tidak akan terkejut, bila anak yang dijanjikan itu akan dilahirkan sesudah ia nikah.

Apa yang dilihat Maryam hanya sebuah kasyaf. Ketika Maryam melihat malaikat itu sedang berdiri di hadapannya berupa seorang laki-laki, maka sebagai seorang wanita shalehah, Maryam terperanjat dan menjadi bingung. Wajar jika kemudian ia mohon perlindungan Ilahi terhadap orang itu, “Aku berlindung kepada Allah  Yang Maha Pemurah dari engkau, jika engkau bertakwa.”(QS Maryam, 19: 19)

Malaikat menjawab, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan dari Tuhan engkau supaya aku memberikan menurut wahyu  kepada engkau, seorang anak laki-laki suci.”(QS Maryam, 19: 20)

Malaikat itu hanya utusan, pengemban amanat Allahswt, dia tidak datang untuk memberi Maryam seorang anak, tetapi hanya membawa khabar suka, mengenai kelahiran seorang anak. Tugas seorang malaikat hanya terbatas pada penyampaian kehendak dan keputusan Allahswt semata.

Menikah dengan Yusuf

Setelah mengetahui Maryam mengandung, para Imam Besar (pemuka agama Yahudi) berusaha menutupinya, mereka resah, mereka khawatir jangan-jangan telah terjadi perbuatan tak senonoh.

Perselisihan pun terjadi di antara mereka sendiri, hingga mereka pun mengadakan undian untuk menentukan siapa harus mengurus Maryam dan mengatur pernikahannya dengan seseorang. Maka dipilihlah Yusuf, seorang tukang kayu yang dianggap cocok untuk menjadi suami Maryam.

Tentu saja semuanya itu dilakukan secara rahasia. Yusuf sendiri tidak mengetahui keadaan hamilnya Maryam pada saat pernikahan terjadi.

Maryam terpaksa menikah padahal hal itu bertentangan dengan sumpahnya dan berlawanan dengan hasratnya sendiri. Ia terpaksa oleh keadaannya yang telah berbadan dua.

Pernah Yusuf berniat secara diam-diam menceraikan Maryam, tetapi dicegah oleh malaikat yang berkata kepadanya dalam mimpi, agar jangan mengambil tindakan itu, “Hai Yusuf anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maryam itu menjadi istrimu, karena kandungannya itu terbit dari Rohulkudus.” (QS Matius 1: 19-20)

Kehamilan Maryam makin membesar dan waktu melahirkanpun tiba, Yusuf membawa Maryam ke Bethlehem, kurang lebih 70 mil sebelah selatan Nazaret, terletak di atas bukit padas yang tingginya 2350 kaki dari permukaan laut dan dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat subur.

Alkitab menyebutkan, penjajah Romawi ingin setiap keluarga untuk disensus sehingga setiap orang harus kembali ke tempat dari mana mereka berasal. Yusuf berasal dari Betlehem, meskipun Maryam akan segera melahirkan, terpaksa mereka melakukan perjalanan, dengan ribuan orang lainnya.

Siti Maryam Melahirkan

Tiba di Betlehem, Yusuf dan Maryam tidak mendapatkan penginapan, terpaksa Maryam melahirkan di padang terbuka, tempat para gembala mengembalakan hewan ternak merek.

Hal ini disebutkan dalam Bibel, Lukas menceritakan, “Maka di jajahan itu pun ada beberapa orang gembala, yang tinggal di padang menjaga kawanan binatangnya pada waktu malam.”(Lukas, 2: 8)

Dibawah sebatang pohon kurma Maryam melahirkan, katanya: “Alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali!“ (QS Maryam, 19: 24).

Malaikat-pun menghampirinya: “Janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Tuhan engkau telah membuat mata air di arah bawah engkau.” (QS Ali Imran, 3: 25)

Pada bukit padas itu terdapat mata air, yang salah satu di antaranya dikenal dengan nama “mata air Sulaiman”.

Mata air lainnya terletak pada jarak kira-kira 800 yard di sebelah tenggara kota itu. Keperluan akan air bagi kota Bethelehem dilayani oleh beberapa sumber mata air itu.

Tanggal Kelahiran Nabi Isa

Jika Nabi Isa benar dilahirkan pada bulan Desember, dimana cuaca Yudaea sedingin es, Maryam tidak mungkin minum dan membasuh dirinya di mata air, di tempat terbuka itu.

Dan kata malaikat lagi: “Dan goyangkanlah ke arah engkau pelepah batang kurma itu; ia akan menjatuhkan atas engkau buah kurma yang matang lagi segar.” (QS Maryam, 19: 26)

Dengan mudah Maryam dapat menggoyang pelepah pohon kurma karena temapt itu terletak di atas gunung, sedang pohon kurma berada di tempat yang landai.

Isa Almasih dilahirkan ketika pohon-pohon kurma di Yudea berbuah, penanggalan Yahudi menyebutnya bulan Elul, bertepatan dengan bulan Agustus-September, ketika buah mematang di Yudaea. Jadi Nabi Isa tidak dilahirkan  pada tanggal 25 Desember, seperti keyakinan Gereja saat ini. 

Terdapatnya pohon kurma di Bethelehem dikuatkan oleh penuturan Bible sendiri.(Hakim-hakim 1: 16)

Uskup Barns dalam bukunya The Rise of Christianity, menyatakan, “Lagi pula tiada dalil untuk mempercayai, bahwa 25 Desember itu, hari kelahiran Isa yang sebenarnya. Jika kita dapat manaruh kepercayaan sedikit saja pada ceritera-kelahiran (Isa), dengan gembala-gembala berjaga-jaga pada malam hari di padang rumput dekat Bethelehem, seperti dikisahkan oleh Lukas, maka kelahiran Isa tidak terjadi di musim dingin, ketika suhu di daerah pegunungan Yudaea waktu malam begitu rendah, sehingga adanya salju, bukan sesuatu hal yang luar biasa. Sesudah diadakan banyak berdebatan, rupanya Hari Natal kita itu, telah di tetapkan kira-kira pada tahun 300 Masehi.

Hari dan tahun yang tepat mengenai kelahiran Isa tidak pernah mendapat ketetapan yang memuaskan; tetapi ketika bapak-bapak gerejawan pada tahun 340 Masehi memutuskan tanggal untuk merayakan peristiwa itu, mereka dengan cerdik memilih hari balik matahari (soltice) di musim dingin yang telah tertanam dengan kuat dalam hati rakyat dan merupakan pesta mereka yang terpenting.

Hari balik matahari di musim dingin itu dianggap sebagai Hari Kelahiran matahari. Di Roma, 25 Desember dianggap sebagai suatu pesta orang-orang musyrik memperingati solstice. Gereja, yang tidak dapat menghapuskan pesta rakyat ini, memberi rona ruhani sebagai Hari lahir Matahari Kesalehan.

Dalam bukunya Commentary on the Bible Peake, mengatakan, “Musim itu jatuh, bukan pada bulan Desember; Hari Natal kita merupakan tradisi di masa agak kemudian, yang mula pertama terdapat di barat.”

Kesulitan menentukan hari lahir Isa Almasih, lebih disebakan kebingungan mengenai mulainya kehamilan Maryam. Nampaknya Maryam telah menjadi hamil di bulan November atau Desember dan bukan di bulan Maret atau April seperti dipercayai selama ini.

Ketika kandungan Maryam menjadi terlalu nyata, hingga tidak dapat disembunyikan lagi, sesudah beliau hamil empat atau lima bulan, Yusuf terpaksa membawa Maryam ke rumahnya pada bulan Maret atau April pada tahun berikutnya. Saat Maryam dibawa oleh Yusuf di bulan Maret atau April dengan saat beliau menjadi hamil, yang sebenarnya telah terjadi empat atau lima bulan sebelumnya.

Baca juga: Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Diutus Allah

Nabi Isa Terlahir Tanpa Ayah

Isaas telah lahir tanpa seorang ayah, Allahswt melalui malaikat hanya mengabarkan bahwa kelahiran Almasih itu dengan satu kalimah dari-Nya dan menamainya Almasih Isa Ibnu Maryam.

“Ketika berkata malaikat-malaikat, ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah memberi engkau kabar suka dengan satu kalimat dari-Nya tentang seorang anak laki-laki; namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dimuliakan di dunia dan di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah.’” (QS Ali Imron 3: 46).

Apa itu kalimah? Penggunaan kata kalimah tenteng Almasih sekali-kali tidak memberikan kepada beliau suatu martabat yang lebih baik dari nabi-nabi lainnya. Pada hakikatnya, bila kalimatullah  diartikan “Firman Tuhan,” paling-paling kita hanya dapat mengatakan bahwa Allahswt telah menyatakan Diri-Nya lewat Nabi Isaseperti halnya Dia menyatakan Diri-Nya melalui para nabi lainnya.

Kalimah  bisa berarti sebuah kata, putusan, juga perintah. Nabi Isa disebut Kalimatullah karena kata-kata beliau membantu untuk kepentingan Kebenaran. Seperti halnya orang yang membela kepentingan kebenaran dengan keberaniannya disebut Saifullah (Pedang Tuhan) atau Asadullah (Singa Tuhan), demikian pula Nabi Isadisebut Kalimatullah, sebab kelahirannya tidak terjadi dengan perantaraan seorang ayah melainkan atas “perintah” langsung dari Allahswt.

Baca juga: Nabi-nabi Allah Yang Diutus Kepada Setiap Kaum

Hikmah Kelahiran Nabi Isa Tanpa Ayah

Allah berfirman: “Itu mudah bagi-Ku. Dan supaya Kami menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia dan suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah perkara yang telah diputuskan.” (QS Maryam 19: 22)

Ungkapan, supaya menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia, berarti kelahiran Nabi Isaas tanpa bapak, yang sungguh merupakan suatu Tanda besar bagi Bani Israil.

Hal itu mengisyaratkan bakal terjadi perpindahan kenabian dari keturunan Israil kepada keturunan Ismail, dan merupakan peringatan kepada Bani Israil, bahwa ruhani mereka telah begitu rusak, dan akhlak mereka yang begitu mundur, sehingga tiada lagi seorang laki-laki di antara mereka yang layak menjadi ayah seorang nabi Allahswt.

Dalam artian ini pula Nabi Isaas telah disebut sebagai “suatu Tanda bagi Saat “ dalam Al Quran (QS Az Zukhruf 43: 62), ialah Tanda mengenai saat, ketika kenabian harus dipindahkan dari Bani Israil kepada Bani Ismail.

Ungkapan, perkara yang telah diputuskan, berarti, bahwa Tuhan telah menakdirkan seorang anak tanpa bapak akan dilahirkan Siti Maryam, dan keputusan ini tidak dapat dicabut kembali.

Al Quran telah mempergunakan dua buah perkataan, qatar  dan qadha, untuk menyatakan pengertian keputusan Tuhan itu. Kata yang pertama berarti, merencanakan atau menentukan, sedang kata yang disebut terakhir berarti memutuskan.

Bila suatu pola atau rencana hanya dipikirkan untuk dilaksanakan, maka rencana itu disebut qatar, dan bila telah diputuskan oleh Allahswt bahwa rencana itu harus dilaksanakan, rencana itu disebut qatha. Kelahiran Isa Almasihas tanpa bapak, merupakan qadha (keputusan) Allah.

Baca juga: Nabi Nuh Dan Bahteranya

Nama-nama Nabi Isa

Nabi Isaas dikenal memilik beberapa nama. Pertama, “Almasih”, diserap dari kata bahasa Arab, masaha. Sehingga Masih berarti: orang yang diurapi, orang yang banyak mengadakan perjalanan, juga bisa diartikan orang yang diberkati. Almasih itu bentuk kata Arab dari Mesiah yang sama dengan Masiyah dalam bahasa Ibrani, artinya, orang yang diurapi.

Isaas diberi nama itu, karena beliau banyak mengadaka perjalanan. Orang yang diurapi, maksudnya, karena kelahiran Nabi Isa tidak sebagaimana lazimnya dan mudah dipandang tidak sah, maka untuk melenyapkan tuduhan yang mungkin dilancarkan, beliau disebut telah diurapi dengan urapan Allah sendiri, sama seperti para nabi Allah semuanya telah diurapi  atau disucikan.

Sementara “Isa”  bentuk ubahan dari kata Ibrani, Yasu’. Sedangkan “Yesus”  adalah bentuk bahasa Yunani dari kata Yasua  dan Yesua. Kemudian, “Ibnu Maryam” itu nama keluarga Nabi Isa yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai kuniyah. Nabi Isaas disebut Ibnu Maryam karena disebabkan lahir tanpa ayah, beliau tidak dapat dikenal kecuali dengan nama ibunya.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi

Peristiwa Alamiyah

Merupakan salah satu dari rahasia-rahasia Ilahi yang pada masa ini dapat dianggap ada di luar jangkauan kemampuan manusia untuk menyelami. Hal ini dapat dipandang sebagai di atas hukum alam yang lazim kita kenal.

Ilmu manusia, bagaimana pun tingginya, tetap terbatas. Ia tidak mampu memahami semua rahasia Ilahi. Di alam raya terdapat rahasia-rahasia yang samapi kini manusia belum berhasil memecahkannya; boleh jadi selama-lamanya ia tidak akan dapat terpecahkan. Dia antaranya, kelahiran Nabi Isa tanpa bapak.

Cara bekerja Allahswt tidak dapat diteliti, dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. Dia yang dapat menciptakan seluruh alam dengan kata kun (jadilah), pasti dapat mendatangkan perubahan-perubahan demikian dalam suatu benda, sehingga rahasia yang nampaknya tidak terpecahkan itu, akhirnya dapat dipecahkan juga.

Bagaimana Nabi Isaas telah dilahirkan? Penelitian mengenai kelahiran melalui seorang ibu tanpa keterlibatan seorang laki-laki, terus menerus dikembangkan di banyak Negara maju di dunia.

Namun sejauh ini pengetahuan manusai baru berada pada tahap ketika penelitian ilmiah belum mencapai tingkat kemajuan di mana bukti positif yang tak terbantahkan mengenai kelahiran-kelahiran dari wanita-wanita perawan di kalangan manusia telah diperoleh. Akan tetapi, segala kemungkinan masih terbuka.

Pada kehidupan makhluk-makhluk rendah terdapat dua gejala yang diakui secara ilmiah: Hemafroditisme dan Partheogenesis. Dengan demikian, kelahiran ajaib Nabi Isa melalui Maryam dapat dipahami berasal dari kenyataan alamiah yang sama, tetapi merupakan gejala yang sangat langka, yaitu batas-batas yang masih belum dimengerti sepenuhnya oleh manusia.

Hermaphroditisme tampil apabila organ-organ kedua jenis kelamin terdapat dalam satu makhluk betina dan kromosom-kromosomnya menunjukan sifat-sifat jantan maupun betina secara beriringan.

Percobaan-percobaan laboratorium telah mengungkapkan kasus-kasus seperti mengenai seekor kelinci hermaphrodit, yang pada suatu tahap, melayani beberapa betina dan menjadi bapak bagi lebih dari 250 anak kelinci jantan maupun betina, sementara pada tahap lain, ia menjadi hamil dalam kondisi diisolasi dan melahirkan 7 ekor anak jantan dan betina yang sehat.

Ketika diotopsi, kelinci tersebut menunjukkan dua indung-telur yang berfungsi, dan dua buah-zakar yang subur, sementara ia berada dalam kndisi hamil. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa gejala semacam itu adalah mungkin ada dikalangan manusia tetapi langka.

Parthenogenesis adalah perkembangbiakan sebuah sel telur betina tanpa hubungan seksual menjadi suatu individu, tanpa bantuan pihak jantan. Hal ini ditemukan di kalangan makhluk hidup rendah seperti aphids dan juga ikan.

Ada juga bukti bahwa parthenogenesis dapat menjadi suatu cara yang berhasil di kalangan kadal yang hidup di kawasan-kawasan yang rendah curah hujannya dan tidak dapat diperkirakan.

Dalam keadaan-keadaan yang dibentuk di laboratorium, janin-janin tikus dan kelinci telah berkembang biak secara parthenogenesis sampai kesuatu tahap yang setara dengan separuh perkembangan melalui kehamilan, tetapi kemudian digugurkan.

Dalam suatu penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa janin-janin manusia ada kalanya dapat diaktifan melalui parthenogenesis dengan menggunakan calcium ionosphone sebaga katalisator.

Penelitian-penelitian semacam itu menampilkan kemungkinan bahwa beberapa keguguran kandungan manusai pada tahap permulaan dapat saja diakibatkan oleh adanya aktivasi parthenogenesis

Sumber:

  1. Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.
  2. Ajaran Kristen: Perjalanan dari Kenyataan ke Khayalan oleh Mirza Tahir Ahmad

Baca juga: Kisah Nabi Musa, Penyelamat Kaum Bani Israel


0 Komentar

Tinggalkan Balasan