Kisah Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

kisah-nabi-ibrahim

Kisah Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi, merupakan kelanjutan dari artikel Nabi-nabi Allah Yang Diutus Kepada Setiap Kaum. Mengenai Nabi Ibrahim, berikut ini kisah lengkapnya:

Kehidupan Awal Nabi Ibrahim

Para pengikut tiga agama utama dunia, Islam, Kristen dan Yahudi, sangat menghormati Nabi Ibrahimas.

Beliauas berasal dari Ur. Ur saat ini disebut Al-Muqayyar (atau Mughair), dan terletak sekitar dua ratus mil sebelah tenggara Baghdad di Irak.

Nabi Ibrahimas dibesarkan di rumah pamannya, yang bernama, Azar. Alkitab menyebutkan nama berbeda dari ayah Abraham yaitu Terah (Genesis 11: 26) Tharah (Lukas 3:34) dan sejarah gerejawi menyebutkan Athar sebagai ayahnya.

Al Quran menyebutkan Azar sebagai Ab-nya Nabi Ibrahimas (26: 87). Ab dalam bahasa Arab juga berlaku untuk ayah, paman dan kakek.

Membenci Berhala

Paman dari pihak ayah menjalankan toko tempat berhala dijual. Nabi Ibrahimas mengamati kerajinan berhala di rumah pamannya. Berhala dibuat oleh manusia kemudian dijual sebagai dewa sembahan mereka.

Suatu hari pamannya meninggalkan Ibrahimas di toko untuk melayani pelanggan. Seorang lelaki tua datang ke toko dan berkata, “saya ingin membeli patung”. Ibrahimas bertanya kepadanya, “yang mana yang ingin engkau miliki? Ibrahimas menunjukkan berhala itu kepadanya. Ia akan membeli berhala itu ketika Ibrahimas bertanya kepada orang tua itu, berapa umurmu? Pria itu menjawab, Tujuh puluh tahun. Atas hal ini Ibrahimas mengatakan kepadanya, “berhala ini dibuat hanya kemarin. Apakah engkau tidak akan merasa malu saat membungkuk di hadapan patung berusia sehari?

Kata-kata Abram ini berdampak besar pada orang tua itu dan dia tidak membeli berhala itu dan pulang. Begitulah ketidaksukaan Ibrahimas kepada berhala selama masa mudanya. Beliau akan menyuarakan ketidaksenangannya berkali-kali. Awalnya dia membahas masalah ini dengan sangat sopan tetapi kemudian berdebat dengan pamannya.

Pamannya kebanyakan mengabaikan diskusi agama seperti itu tetapi pada akhirnya memperingatkan Ibrahimas tentang akibat perbuatannya. Namun, pamannya itu sangat terkesan dengan akhlak luhurnya dan ia menawari putrinya Sarah untuk dinikahi oleh Ibrahimas.

Ibrahim Diangkat Sebagai Nabi

Nabi Ibrahimas menjalani kehidupan yang saleh dan selalu terlibat dalam melakukan kebaikan. Beliau berjalan di jalan kebenaran tetapi sebagian besar orang pada masanya condong kepada dunia.

Keesaan Tuhan yang diajarkan oleh Nabi Nuhas telah lenyap dari permukaan dunia dan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, melibatkan diri mereka dalam penyembahan berhala. Allahswt menunjuk Nabi Ibrahimas seorang Nabi untuk membasmi penyembahan berhala dari masyarakat.

Nabi Ibrahimas, sejak kecil telah membenci berhala dan sekarang beliau ditugaskan untuk melenyapkan penyembahan berhala dari masyarakat. Beliau tidak membuang waktu dan memulai tugas dengan sungguh-sungguh. Beliau menemui ayah mertuanya dan berkata, “Apakah engkau menganggap berhala sebagai tuhan? Sungguh saya melihat Anda dan orang-orang Anda dalam kesalahan nyata.” (QS. Al An’am, 6: 75)

Beliau berbicara di depan umum dan pribadi tentang kesia-siaan penyembahan berhala. Metode argumentasinya kebanyakan sarkastik.

Selama pertemuan malamnya, Nabi Ibrahimas biasa mengundang orang-orang yang menyembah matahari dan bulan dan benda langit lainnya sebagai dewa mereka ke rumahnya.

Dalam salah satu diskusi ini, suatu malam, saat melihat sebuah bintang dia mengamati, “O ini Tuhanku.” Tapi saat disetel, dia berkata, “Saya tidak suka orang yang menyetel.” Kemudian dia melihat bulan terbit dengan cahaya yang menyebar, dia berkata, “Apakah ini Tuhanku?” Tetapi ketika itu terbenam, dia berkata, “Jika Tuhanku tidak membimbingku, aku pasti akan menjadi orang-orang yang tersesat.”

Dan ketika dia melihat matahari terbit dengan cahaya yang menyebar, dia berkata, “Apakah ini Tuhanku? Ini yang terbesar.” Tetapi ketika itu juga redup, dia berkata, ‘Wahai umatku! Sesungguhnya aku keluar dari apa yang kamu kaitkan dengan Tuhan. ” Dengan demikian beliau membongkar keyakinan salah bangsanya. Ironisnya, beliau berbicara untuk mengejek mereka tentang kebodohan mereka.

Baca juga: Nabi Nuh Dan Bahteranya

Perdebatan dengan Raja Namrud

Umat Nabi Ibrahim adalah penyembah matahari dan bintang-bintang, dewa utama mereka adalah Merodach (Madruk), aslinya adalah dewa pagi dan matahari musim semi ( Enc. Bib. & Enc. Rel. Eth, ii hal. 296).

Mereka percaya bahwa semua kehidupan bergantung pada matahari. Nabi Ibrahimas dengan sangat bijak bertanya kepada Raja bahwa jika dia, seperti yang dia klaim, mengendalikan hidup dan mati, maka biarkan dia membalikkan arah matahari yang menjadi sandaran semua kehidupan.

Tentu saja raja tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak dapat menerima tantangan Nabi Ibrahimas untuk membawa matahari dari barat ke timur, karena itu akan menghancurkan klaimnya sebagai pengendali hidup dan mati.

Pada saat yang sama jika dia mengatakan bahwa dia bisa melakukannya, itu berarti dia mengklaim melakukan kontrol atas matahari yang akan menjadi penghujatan besar di mata umatnya yang menyembah matahari. Jadi dia benar-benar bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Dia dikalahkan dengan telah oleh Nabi Ibrahimas.

Debat dengan Orang-orang

Di bawah bimbingan Allahswt, Nabi Ibrahimas menjalankan misinya dengan penuh kesungguhan. Salah satu debat besarnya dicatat dalam Al Quran (QS. Al Anbiya, 21: 53-68) sebagai berikut:

Nabi Ibrahimas bertanya kepada Azar dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang begitu patuh kalian duduk memujanya ? “ Mereka menjawab, “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Beliauas berkata, “Sesungguhnya kamu, begitu juga bapak-bapakmu, benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Mereka berkata, “Apakah kebenaran yang engkau datangkan kepada kami, ataukah engkau termasuk orang-orang yang bermain-main ?” Ibrahimas berkata, “Sebenarnya Tuhan-mu itu Tuhan seluruh langit dan bumi. Dia-lah  Yang telah menciptakannya; dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi. Dan, demi Allah, niscaya aku akan membuat rencana melawan  berhala-berhalamu, setelah kamu terlalu membalikkan punggungmu.”

Tanpa diketahui orang-orang, Nabi Ibrahimas menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali patung yang paling besar, beliau biarkan tetap utuh.

Setelah diketahui kaumnya, mereka menjadi marah, mereka berkata, “Siapakah yang telah berbuat demikian terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia orang aniaya.” Mereka berkata, “Kami mendengar seorang pemuda yang menerangkan kelemahannya, ia disebut Ibrahim. Berkatalah mereka, “Maka bawalah dia ke hadapan mata orang banyak supaya mereka dapat menjadi saksi.”

Nabi Ibrahimas dipnggil untuk menghadap orang banyak, karena mereka mengetahui beliau suka memburuk-burukkan berhala-berhala, pasti beliau orangnya yang menghancurkan patung-patung sembahan mereka.

 harus memberi penyaksian terhadap beliau, atau, bahwa sesudah mendengar kesaksian yang memberatkan beliau, dapat diputuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan terhadap beliau dan supaya mereka dapat menyaksikan hukuman yang akan dilaksanankan itu.

Dihadapam mereka Nabi Ibrahim ditanya, “Engkaukah yang telah berbuat ini terhadap tuhan-tuhan kami, ya Ibrahim ?“ Nabi Ibrahimas menjawab, “Bahkan, seseorang telah berbuat itu. Di antara mereka yang besar ini, maka tanyakanlah kepadanya jika mereka dapat berkata-kata.”

Nabi Ibrahimas dalam menyampaikan tablighnya selalu menggunakan sindiran-sindiran yang cerdas. Seperti kali ini, jawaban dari beliauas membuat mereka tidak dapat berkata apa-apa. Sesungguhnya mereka mengetatahui bahwa berhala yang mereka sembah itu tidak dapat berkata-kata.

Beliauas berkata, “Apakah kamu, menyembah selain Allah, yang tidak memberikan manfaat kepadamu sedikit pun, dan tidak mendatangkan mudarat kepadamu”

Nabi Ibrahimas mencela kaumnya dan menjelaskan kepada mereka kesia-siaan perbuatan-perbuatan syirik mereka; pertama-tama dengan memecahkan berhala-berhala itu dan kemudian dengan menantang penyembah-penyembahnya supaya bertanya kepada berhala-berhala itu, sekiranya berhala-berhala itu dapat berbicara untuk memberitahukan kepada mereka siapa yang telah memecahkan berhala-berhala itu.

Baca juga: Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Diutus Allah

Nabi Ibrahim Dilempar ke dalam Api

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahimas membuat marah lawan-lawannya. Para kepala suku, alih-alih menerima kebenaran, mereka malah marah dan berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhanmu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”

Tapi Allah memerintahkan, “Hai api jadilah kamu dingin dan selamat atas Ibrahim!“. Kemudian Al Quran menerangkan, “Dan mereka bermaksud membuat rencana jahat terhadapnya, tapi kami membuat mereka menjadi orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al anbiya,21: 68-71)

Allahswt menggagalkan rencana mereka dan menyelamatkan Nabi Ibrahimas. Bagaimana caranya api itu menjadi dingin, kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api. Bagaimana pun Allahswt memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahimas dari bahaya.

Dalam mu’jizat-mu’jizat Ilahi selamanya terdapat unsur ghaib; dan cara Nabi Ibrahimas diselamatkan dari api itu sungguh merupakan muji’zat besar.

Nabi Ibrahimas berusia tujuh puluh lima tahun ketika Allahswt memerintahkan beliauas untuk hijrah. Beliau melakukan perjalanan dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana ke Kanaan, yang Tuhan perintahkan untuk diberikan kepada keturunannya. Perjalanan ini memiliki tujuan yang tepat. Dalam mengejar rencana dan rancangan Ilahi, semua Nabi besar atau pengikut mereka, pada satu waktu atau lainnya, harus hijrah dari rumah mereka. Dengan cara yang sama Nabi Ibrahimas diperintahkan untuk hijrah.

Beliauas hijrah dari Ur dengan beberapa anggota terpilih termasuk keponakannya Nabi Luthas. Mereka melewati Mesir. Raja terkesan oleh Nabi Ibrahimas dan menawarkan beberapa hadiah, termasuk seorang wanita bangsawan Mesir bernama Hajar atau Hagar kepada Nabi Ibrahimas.

Nabi Ibrahimas dan Sarah tidak memiliki anak, jadi ketika Hajar dipersembahkan kepada Nabi Ibrahimas oleh raja Mesir, Sarah menikahkannya dengan beliauas sehingga mereka dapat memiliki seorang anak.

Beliauas berusia delapan puluh lima tahun ketika menikahi Siti Hajar. Mereka semua dengan sungguh-sungguh memohon kepada Allahswt agar mendapat keturunan. Doa mereka pun dikabulkan, Siti Hajar melahirkan Ismail, putra pertama Nabi Ibrahimas.

Setelah kelahiran Ismail, Sarah istri pertama Nabi Ibrahimas, juga dijanjikan Tuhan akan seorang anak. Nyatanya banyak janji diberikan kepada mereka untuk keturunan mereka. Dalam Kejadian 17: 16-20 kita memiliki:

Nabi Ibrahim Menetapkan Putra Sulungnya Di Makkah

Nabi Ibrahimas tidak melakukan apa pun atas kemauannya sendiri, melainkan melakukan seperti yang diperintahkan oleh Allahswt. Beliau membawa Ismailas dan ibunya, Siti Hajar ke tanah yang dijanjikan di padang gurun Arab dan ketika menetap mereka di sana, ia mengucapkan doa berikut:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Tuhan kami, supaya mereka dapat mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan rezekikanlah mereka berupa buah-buahan, supaya mereka selalu  bersyukur.”

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan. Dan tiada yang tersembunyi bagi Allah swt. sesuatu pun di bumi dan tidak pula  di langit.” (QS. Ibrahim,14: 38-39)

Ismail masih anak-anak ketika dalam ketaatan pada perintah Allah dan dalam memenuhi rencana ilahi, Ibrahimas membawa Ismail dan ibunya ke tanah yang gersang dan tandus di mana Makkah sekarang berdiri.

Pada saat itu belum ada tanda kehidupan dan tidak ada sarana rezeki di tempat itu. Tetapi Allahswt telah merancang sedemikian rupa sehingga tempat itu harus menjadi tempat kegiatan pesan terakhir Tuhan bagi umat manusia. Ismailas dipilih sebagai sarana untuk implementasi rencana ilahi ini.

Doa itu dilakukan pada saat tidak ada sehelai rumput pun yang terlihat bermil-mil jauhnya di sekitar Makkah. Namun nubuatan itu tergenapi dengan cara yang luar biasa, karena buah-buahan yang paling banyak dipilih sekarang mencapai Makkah dalam jumlah yang banyak, di semua musim.

Tercatat dalam sejarah bahwa ketika Nabi Ibrahimas meninggalkan, anak dan istrinya di tanah tandus itu, siti Hajar mengejarnya dan bertanya kepada beliauas. Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini? Beliauas tidak menjawab. Kemudian Hajar bertanya lagi kepadanya, apakah engkau meninggalkan kami di sini atas perintah Tuhan? Nabi Ibrahimas hanya menunjuk ke arah langit.

Siti Hajar mengerti ini dan berkata, “Maka Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kita”. Betapa setianya beliau. Beliau percaya pada Allah Taala dan beliau memberinya semua hal yang diperlukan dan melindungi mereka. putra beliau, Ismail tumbuh di tempat itu, dalam keadaan seperti itu dan pada waktunya tempat ini menjadi kota.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Hud

Nabi Ibrahim sebagai Nabi Pembawa Syariat

Nabi Ibrahimas mengikuti syariat Nabi Nuhas sampai lima puluh tahun lamanya. Kemudian, ketika Tuhan menguji beliauas dengan perintah-perintah tertentu, yang beliauas penuhi, Allahswt berfirman,

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhan-nya dengan beberapa perintah, lalu dipenuhinya. Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi manusia. ”  (QS. Al Baqarah, 2: 125)

Waktu menuntut syariat baru sehingga Allahswt memilih Nabi Ibrahimas  untuk itu. Rumah Tuhan telah runtuh dan membutuhkan rekonstruksi. Di bawah perintah Allah, Nabi Ibrahimas dan Nabi Ismailas membangunnya kembali di atas fondasi lama (QS. Al Baqarah, 2: 128). Tuhan memerintahkan padanya dengan mengatakan:

Dan ingatlah  ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat rumah Allah dan berfirman, “Janganlah mempersekutukan Aku dengan sesuatu; dan bersihkanlah rumah-Ku bagi mereka yang tawaf, dan mereka yang ruku dan sujud dalam shalat.” (QS. Al Hajj, 22: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa tempat letaknya Kabah telah ada, lama sebelum zaman Nabi Ibrahimas. Pada hakikatnya Kabah didirikan oleh Nabi Adamas. Kabah itu rumah peri badatan pertama yang di bangun di dunia (QS. Ali Imran, 3: 97).

Kira-kira pada masa Nabi Ibrahimas rumah itu telah menjadi puing, dan letaknya telah diberitahukan kepada beliau melalui wahyu; beliau dan putra beliau Ismailas, ialah leluhur Rasulullahsaw yang membangunnya kembali.

Nabi Ibrahim Mengumumkan Haji bagi Umat Manusia

Allahswt menetapkan Haji bagi umat manusia melalui Nabi Ibrahimas. Allahswt berfirman:

“Dan umumkanlah [1946] kepada manusia untuk naik haji. Mereka akan datang kepada engkau berjalan kaki, dan menunggang unta yang kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh-jauh.”(QS. Al Hajj,22: 28).

Semenjak Nabi Ibrahimas, ibadah haji telah berlangsung terus tanpa putus-putusnya sampai hari ini. Berkumpulnya beratus-ratus ribu orang Islam dari negeri-negeri jauh tiap-tiap tahun di kota Makkah, merupakan bukti yang tidak dapat dipatahkan mengenai sempurnanya nubuatan tersebut.

Ibadah haji bukan adat lembaga kemusyrikan yang dimasukkan ke dalam Islam oleh Rasulullahsaw guna mengambil hari orang-orang Arab penyembah berhala, sebagaimana beberapa pengarang Kristen telah terbawa-bawa berpikiran demikian.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Yunus

Syariat Nabi Ibrahim

Syariat yang diperkenalkan melalui Nabi Ibrahimas terdapat di dalam kitab suci, tetapi ini tidak dipertahankan karena dimaksudkan untuk periode terbatas saja. Namun mereka disebutkan sebagai kitab suci Ibrahimas dalam Al Quran.

“Sesungguhnya, berbahagialah orang yang mensucikan diri, Dan mengingat nama Tuhan-nya lalu mendirikan shalat. Tetapi, kamu mendahulukan kehidupan dunia, Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya inilah yang diajarkan  dalam Kitab-kitab terdahulu, Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al A’laa, 87: 15-20)

Oleh karena asas-asas pokok mengenai tiap-tiap agama itu sama, maka ajaran yang tersebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya terdapat pula dalam kitab-kitab suci Nabi Musaas dan Nabi Ibrahimas.

Ayat ini dapat pula berarti bahwa nubuatan mengenai kemunculan seorang nabi besar, yang akan memberikan kepada dunia Amanat Tuhan terakhir serta memberikan ajaran yang paling sempurna, terdapat dalam Kitab-kitab suci Nabi Musaas dan Nabi Ibrahimas. (Ulangan 18:18 – 19 dan 33: 3).

Nabi Ibrahimas mengajarkan bentuk sederhana dari hubungan Allah dengan umatnya. Syariat Nabi Ibrahimas tetap berlaku sampai zaman Nabi Musaas ketika syariat lain diperkenalkan.

Doa Abraham untuk Kedatang Nabi Muhammad

Allahswt berfirman dalam Al Quran: “Ya Tuhan kami, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang rasul dari antara mereka yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka dan yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka dan akan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqara, 2: 130)

Dalam ayat ini Nabi Ibrahimas berdoa untuk seorang nabi besar dengan misi khusus. Hal ini kemudian terpenuhi dalam diri Nabi Muhammadsaw keturunan Nabi Ismailas, yang kepadanya syariat terakhir untuk seluruh umat manusia diturunkan dalam bentuk Al Quran.

Baca juga: Isi Kandungan Surah At Taubah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan