Khulafaur Rasyidin, 4 Khalifah Setelah Rasulullah

Khulafaur Rasyidin adalah suksesi kepemimpinan atau penerus Rasulullah salallahu alaihi wasallam, adapun khulafaur rasyidin yang dimaksud terdapat 4 orang, mereka yaitu, Abu Bakr Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radiallhu anhum.

Khulafaur Rasyidin yang Pertama

Khulafaur Rasyidin yang pertama adalah Abu Bakr Siddiqra. Beliau adalah sahabat yang pertamakali beriman, orang yang membenarkan dan senantiasa membela Rasulullahsaw, beliau yang menemani Rasulullahsaw saat hijrah.

Abu Bakrra salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau orang yang paling dipercaya oleh Rasulullahsaw, sehingga beliau medapat kehormatan dan karunia untuk menggantikan Rasulullahsaw sebagai imam shalat jika Rasulullahsaw berhalangan. 

Mengenai biografi Hadhrat Abu Bakr Siddiqra, untuk selengkapnya bisa dibaca di sini.

Meskipun Rasulullahsaw tidak menujuk langsung beliau sebagai penerusnya, namun semua kenyataan itu menunjukan bahwa Abu Bakr lah yang paling layak untuk menjadi khalifah yang pertama setelah kepergian Rasulullahsaw.

Beliau dipilih oleh umat Islam sebagai khalifah, langsung setelah Rasulullahsaw wafat. Sehingga kerugian besar yang diderita umat Islam dengan wafatnya Rasulullahsaw berhasil diatasi berkat rahmat yang muncul dari kepemimpinan Abu Bakarra. Umat Islam tetap utuh dalam satu kesatuan.

Jika kita perhatikan secara cermat kerugian besar yang diderita Umat dengan wafatnya Rasulullahsaw, kekosongan yang tercipta akibat kepergian beliausaw serta beratnya tugas yang harus beliau pikul, kita bisa menyimpulkan, upaya itu bukan main sulitnya dan hanya berhasil diatasi berkat kepemimpinan Hadhrat Abu Bakarra.

Hadhrat Abu Bakarra telah membebaskan kaum Muslimin dari rasa khawatir dan kesusahan mereka sehingga bertambahlah rasa cinta, ketaatan, kesungguhan dan mereka telah menganggap beliaura sebagai orang yang diberkati dan didukung oleh Allahswt seperti halnya para nabi.

Melalui kepemimpinan Abu Bakarra, Allah telah menyelamatkan dan melepaskan kaum Muslimin dari segenap cobaan dan bahaya yang melanda dengan begitu menakjubkan.

Khalifah telah berhasil mengembalikan stabilitas keamanan dan disegani oleh pengusa-penguasa di sekitarnya, dengan demikian berakhirlah masa-masa penghianatan orang-orang munafiq.

Ketika itu agama Islam benar-benar berada dalam bahaya yang sangat besar. Kemudian Allah telah mengembalikan kondisi yang demikian itu kepada kondisi yang semula, mengeluarkan Islam dari sumur bahaya yang sangat dalam, membunuh para nabi palsu dengan serangan yang dahsyat serta membinasakan orang-orang murtad laksana hewan-hewan yang dibinasakan.

Allah telah memberikan keamanan kepada orang-orang yang beriman dan melepaskan mereka dari berbagai rasa takut sehingga mereka menjadi aman sentausa.

Dalam keadaan berduka dan amat kebingungan karena ditinggal wafat oleh Rasulullahsaw, maka seorang sahabat dekat beliausaw yaitu Hadhrat Abu Bakar Shiddiqra

Sayidina Abu Bakarra wafat pada tanggal 23 Agustus 634 M, beliau memegang jabatan khalifah selama kurang lebih dua tahun (tahun 11-13 H atau 632-634 M). 

Baca juga: Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I

Khulafaur Rasyidin yang Kedua  

Pada akhir hidupnya, Hadhrat Abu Bakarra meminta saran dari Umat tentang siapa yang akan menjadi khalifah berikutnya. Mayoritas mereka memberikan pendapat yang mendukung Hadhrat Umar bin Khattabra

Mengenai biografi Hadhrat Umar bin Khattabra, untuk selengkapnya bisa dibaca di sini.

Setelah kesehatan Hadhrat Abu Bakarra semakin parah, beliau dengan dibantu istrinya, Asma, dengan tangan dan kaki gemetar, pergi ke masjid dan kepada seluruh kaum muslimin beliau berkata:

“Aku telah terus-menerus membahas pada siapa kalian harus memilih khalifah setelah kematianku. Setelah banyak merenung dan berdoa, aku telah memutuskan untuk mencalonkan Umarra sebagai khalifah. Jadi Umar khalifah setelah aku.”

Semuanya setuju untuk mengambil bai’at dari Hadhrat Umarra setelah kewafatan Hadhrat Abu Bakrra. Sehingga Khulafaur Rasyidin yang kedua adalah Umar bin Khattabra.

Di bawah kepemimpinan Sayidina Umarra yang amat toleran dan lembut hati, umat Islam menikmati banyak sekali karunia. Masa kehalifahan beliaura merupakan masa keemasan dalam sejarah awal Islam.

Energinya yang tak kenal lelah, sifat tidak mementingkan diri sendiri, simpatinya terhadap sesama, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, sifat keadilan serta semangat mengkhidmati Islam diakui secara universal dan bahkan masih dikagumi hingga saat ini.

Beliau mengembangkan berbagai rancangan bagi kesejahteraan umat. Adalah Hadhrat Umarra yang pertama kali memperkenalkan sistem pensiun hari tua yang sekarang dipakai di Barat. Anak-anak terlantar dibesarkan dengan biaya negara. Pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi anak-anak laki dan perempuan. Mereka yang lemah dan cacat diberi tunjangan dari negara. Secara umum, rakyat menjadi makmur di bawah kepemimpinan beliaura.

Kita masih saja terpana membaca bagaimana Khalifah Umarra biasa berjalan malam dengan menyamar guna memastikan, rakyat tidak ada yang berkekurangan. Dalam masa kekhalifahan beliau, dua kerajaan besar Romawi dan Persia yang tadinya merupakan ancaman bagi Islam, nyatanya bisa dikalahkan secara total.

Semua keberhasilan tersebut tidak menjadikannya berubah sifat, tetap saja beliaura mengingatkan pasukannya untuk selalu mentaati ajaran Islam dan menunjukkan toleransi, keadilan dan kelembutan kepada semua bangsa yang masuk dalam pemerintahan Islam.

Mereka ini lalu menterjemahkan kebijakan tersebut dalam tindakan sehingga mereka berhasil memenangkan hati bangsa yang ditaklukkan dan menumbuhkan banyak sahabat di kawasan taklukan itu.

Disamping banyaknya taklukan, masa Khilafah dari Hadhrat Umarra juga membawa berbagai berkat lain. Beliau menetapkan Majlis Syura, merupakan dewan penasihat Khalifah. Beliau menunjukkan kejeniusan luar biasa dalam penataan administrasi sipil pemerintahan negara Muslim.

Setiap negeri dibagi dalam beberapa propinsi, dibentuk angkatan kepolisian, dilakukan penggalian kanal-kanal irigasi, didirikan baitul mal di mana-mana serta diperkenalkannya kalender Muslim berdasar Hijrah yang amat menolong dalam preservasi sejarah.

Sayidina Umar bin Khattabra mengemban amanah sebagai Amirul Muminin (pemimpmin orang-orang beriman) Khulafaur Rasyidin selama 11 tahun  (tahun 13-23 H atau 634 – 644 M)

Baca juga: Umar bin Khattab ra: Penakluk Persia dan Romawi

Khulafaur Rasyidin yang Ketiga

Setelah Hadhrat Umar bin Khattabra wafat, maka Hadhrat Usman bin Affanra terpilih sebagai Khulafaur Rasyidin yang ketiga.

Seperti kedua khalifah sebelumnya, beliaura termasuk kedalam sepuluh sahabat dijanjikan surga oleh Rasulullahsaw. Mengenai biografi Hadhrat Utsman bin Affanra selengkapnya bisa dibaca di sini.

Beliaura juga seorang pemimpin yang terpuji dimana beliau berhasil memperluas kawasan pemerintahan Islam lebih jauh lagi.

Selama kekhalifahan Sayidina Utsmanra kekuasaan Islam terus diperluas. Mengalahkan Persia dan juga Romawi. Sebagai hasil dari pertempuran ini, seluruh Iran, Asia Kecil dan Mesir berada di bawah kendali Muslim. Selama masa kekhilafahan beliaura untuk pertama lainya Islam memiliki armada angkatan laut.

Al Quran sebagaimana keadaannya sekarang ini merupakan hasil kompilasi di bawah pengawasan Hadhrat Usmanra secara langsung. Hal ini menjadi kontribusinya yang paling utama bagi Islam.

Beliau banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beliau mengawasi pembangunan banyak gedung-gedung, jalan-jalan dan jembatan-jembatan baru. Banyak pula didirikan masjid dan tempat persinggahan di berbagai kota. Beliau adalah seorang yang amat sederhana dan lembut hati yang tidak pernah goyah dalam integritas, kejujuran dan kesalehannya.

Beliau selalu menunjukkan sifat toleransi dan kesabaran yang luar biasa bahkan sampai akhir masa Khilafat beliau, ketika berbagai faksi berupaya menggulingkan beliau. Beliau menolak meletakan kedududkan sebagai khalifah yang dititipkan Allahswt, tetapi pada saat yang sama juga tidak mau melawan mereka agar tidak sampai mengalirkan darah Muslim yang tidak berdosa.

Sayidina Utsmanra kemudian disyahidkan pada tanggal 17 Juni 656 M, pada usia delapan puluh dua tahun, saat beliaura sedang membaca Al Quran. Beliaura jelas mengorbankan hidupnya untuk keutuhan Khilafat dan demi kepentingan Islam.

Pembunuhan Hadhrat Usmanra merupakan salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Kesatuan dan persatuan umat Muslim terpecah sudah. Pertikaian internal menjadi bumbu kehidupan sehari-hari dimana umat Islam saling bermusuhan satu sama lain.

Sayidina Utsman bin Affanra megang amanat sebagai Khulafaur Rasyidin selama 13 tahun, (tahun 23-35 H atau 644-656 M).

Baca juga: Biografi Utsman Bin Affan, Seorang Kaya Yang Baik Hati

Khulafaur Rasyidin yang Keempat  

Pada tanggal 23 Juni, 656 M enam hari setelah wafatnya Hadhrat Utsmanra, Hadhrat Ali bin Abi Thalibra terpilih sebagai Khalifatur Rasyidin yang keempat.  

Sama seperti para khalifah pendahulunya, beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat  yang diberkati akan masuk surga. Mengenai biografi Hadhrat Ali bin Abi Thalibra selengkapnya bisa dibaca di sini.

Beliaura memaklumkan bahwa prioritas utamanya adalah mengembalikan hukum dan ketertiban dalam negeri dan untuk tujuan ini beliau amat menahan diri guna menghindari pertumpahan darah meski beberapa sahabat Rasulullahsaw yang berpengaruh besar telah memintanya untuk mengadili para pembunuh Hadhrat Usmanra.

Ketika kota Madinah kemudian merosot menjadi masyarakat tidak berhukum, Hadhrat Alira memindahkan ibukota dari Madinah ke Kufah, Irak. Sayangnya masa kekhalifahan beliaura digrogoti oleh kekacauan dan perpecahan.

Beliaura mencoba menenangkan Umat namun rupanya gejala penyakit anti-Khilafah sudah meruak dan tidak bisa diobati lagi. Muncul beberapa perang saudara dan seluruh kerancuan itu memuncak pada saat disyahidkannya Hadhrat Alira.

Hadrat Alira terluka parah oleh seorang penyerang, saat beliau hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Dua hari setelah itu, Khalifah yang berani dan saleh ini meninggal dunia pada 20 Ramadhan, 40 H.

Tidak diragukan lagi, Hadhrat Ali bin Abi Thalibra mengorbankan hidupnya untuk mempertahankan Khilafat dan persatuan umat Islam.

Dengan terbunuhnya Hadhrat Alira maka mercu suar cemerlang dari bimbingan dan persatuan, sumber mata air berkat dan rahmat, semuanya menjadi punah. Umat Islam telah membuang lembaga khilafah dan besertanya segala rahmat ikutan.

Memang terjadi perelisihan-perselisihan sehingga menyebabkan Hadhrat Ali disyahidkan, akan tetapi secara keseluruhan Islam masih dalam satu kesatuan. Meskipun lembaga kekhalifahan telah berubah total.

Hadhrat Ali bin Abi Thalibra memangku jabatan sebagai Khulafaur Rasyidin selama 6 tahun, (tahun 35-40 H atau 656-661 M)

Baca juga: Biografi Ali Bin Abi Thalib, Sang Singa Allah

Kekhalifahan Setelah Khulafaur Rasyidin

Demikianlah masa pertama kekhalifahan setelah kenabian (khilafah ‘ala minhajinubuwah) atau khulafaur rasyidin yang berlangsung selama 30 tahun.

Empat Khalifah yang terpilih setelah wafatnya Rasulullahsaw adalah orang-orang yang saleh dan bertaqwa. Mereka menjalani kehidupan suci dan sederhana seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullahsaw. Mereka sepenuhnya membaktikan diri untuk kepentingan Islam dan kesejahteraan serta kebahagiaan rakyat.

Tentu saja dimasa Khulafaur Rasyidin ini muncul adanya masalah-masalah dan perselisihan-perselisihan, tetapi apabila Khalifah turun tangan dan mengambil keputusan, maka perselisihan itu dapat diredakan kembali.

Sebagai pengganti Khilafah, ditegakkanlah sistem kerajaan yang luput dari keluhuran ruhani dimana muncul berbagai dinasti atau wangsa dalam rentang masa sekian abad.

Perang saudara dan pertengkaran keluarga amat melemahkan umat Islam.

Sekalipun mereka menyebut dirinya khalifah, format dan bentuknya sangat jauh berbeda dengan Khulafaur Rasyidin, empat khalifah setelah Rasulullahsaw. Tak ada proses pemilihan, tak ada suro, ditegakan dengan sistim kerajaan, turun temurun, dari bapak diwariskan ke anak dan seterusnya. Orientasinya tidak lagi mengutamakan masalah kerohanian melainkan lebih kepada masalah dunia.

Janji Allah Tentang Khilafah

Mengenai khilafah ini, Allahswt berfirman dalam Al Quran:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah di antara orang-orang sebelum mereka; dan Dia pasti akan menguatkan bagi mereka agama mereka yang Dia ridhai bagi mereka; dan Dia pasti akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sesudah ketakutan mereka: Mereka akan beribadah kepada-Ku, dan mereka tidak akan menyekutukan sesuatupun dengan Aku. Maka barang siapa yang ingkar sesudah itu, mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Surah An Nur, 24: 56).

Dalam ayat ini Allahswt menjanjikan, Islam akan tetap dipelihara dan diperkuat melalui dedikasi para Khalifah sehingga musuh tidak lantas bisa bergembira bahwa setelah wafatnya Rasulullahsaw, Islam akan melayu dan lenyap dalam relung-relung sejarah.

Kita bisa membaca dalam ini janji tentang akan ditegakkannya Khilafah disini jelas dan tidak bisa diragukan lagi.

Ayat di atas, jelas meletakkan mandat khilafat. Mandat khilafat ini bukan untuk membangun kerajaan dan mencari kemuliaan duniawi, akan tetapi untuk menjaga kecintaan kepada Allah dalam hati kaum Muslimin untuk terus dan tetap menyembah-Nya dan mereka terus mendekatkan diri kepada-Nya. Ini memang merupakan tanggung jawab yang besar, bahwa Allahswt telah menempatkan tanggung jawab ini di pundak Khalifah.

Orang-orang beriman telah diberi khabar suka bahwa selama mereka tetap berada pada jalan ketakwaan, Allahswt akan memberikan ganjaran kepada mereka dalam bentuk tegaknya Khilafah.

Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa seorang Khalifah diangkat sendiri oleh Allahswt. Orang-orang Mukmin diberi kesempatan untuk mengungkapkan pilihan mereka namun dapat saja terjadi keraguan apakah benar mereka sepakat dan setuju atas seseorang yang memang telah menjadi pilihan Allah Taala. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan